Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 13


__ADS_3

Namun ketika mendengar jumlah Poin System untuk upgrate system matanya langsung membelalak tak percaya. "System, kenapa begitu mahal? Apa kau ingin merampokku?" Whana menggerutu dengan tidak puas.



\[Ding! Itu sudah ketentuan system untuk upgrate ke versi 2.\]



Mendengar jawaban system, Whana hanya bisa menghela nafas panjang. Dan berlatih penggunaan formasi array. Whana juga mengetahui tingkatan array berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari buku usang di dalam celah batu.



Dalam keterampilan formasi array dibagi menjadi sepuluh tingkatan yaitu Master Array, Grandmaster Array, Scholar Array, Accentor Array, Master Four Beast Array, Halt Immortal Array, Immortal Array, Fate Calamity Array, Saint Array dan Dewa Array. Masing-masing tingkatan dibagi menjadi sepuluh level.



\*\*\*



KELUARGA DEGE



"Bagaimana? Apa kau sudah memverifikasi kebenaran berita tentang Whana?" tanya Baimu Dege kepada seorang mata-mata yang di utusnya untuk menyelidiki berita yang terbesar.



"Berita itu benar, Tuan Muda," jawab sang mata-mata.



"Terus pantau pergerakannya! Sampaikan padaku setiap saat!" perintah Baimu Dege dengan ekspresi kesal.



'Bagaimana mungkin dia masih hidup? Sangat jelas dia di lemparkan ke jurang. Lalu, bagaimana pula kultivasinya langsung meningkat? Keuntungan macam apa yang didapat bocah itu?' Baimu Dege berfikir keras dengan wajah kusut. Ia langsung menuju ke aula tamu untuk mencari kakeknya.



"Kakek, Whana memang kembali. Dan semua berita yang tersebar benar adanya." Baimu Dege menyampaikan informasi sesuai yang di dapatnya dari mata-mata.



"Anak itu mungkin mendapatkan keberuntungan. Terus awasi! Ketika ada kesempatan baik, kakek akan membunuhnya," ujar Patriak Dege.



"Apakah kakek akan membunuhnya secara langsung?" tanya Baimu Dege dengan tatapan ingin tahu.



"Bodoh! Tentu saja tidak! Kakek akan menyewa Geng Harimau Hitam untuk membunuhnya," lanjut sang Patriak.



\*\*\*\*



KELUARGA RAHNGU



Pagi hari, keluarga rahngu bangun dengan suasana yang ceria. Semua telah menerobos ke tingkat yang lebih tinggi.

__ADS_1



Awalnya mereka kesulitan untuk meningkatkan kultivasinya meskipun sudah berada pada tahap akhir. Namun mengingat waktu dan sedikitnya sumber daya, mereka mengalami kemacetan yang cukup lama.



Bagi Wahyu Rahngu, terobosan ini merupakan hal yang paling membahagiakan. Selain tingkat kesulitan dari tingkat Keenam ke tingkat Ketujuh, sumber daya langka yang diberikan putranya telah memberikan tingkatan yang luar biasa. Bahkan terobosan Wahyu sudah mencapai tingkat Ketujuh Akhir dari Tahap Penyempurnaan Qi hanya dalam waktu satu malam.



Ayudiah juga tidak terkecuali. Malahan, ibu Whana ini telah mencapai Penyempurnaan Qi tingkat Kelima Menengah dalam satu malam. Jika berita ini tersebar, bisa menyebabkan kegemparan besar di Kota Ragane.



Tok, tok, tok



"Whana! Apa kamu sudah bangun?" panggil Wahyu Rahngu sambil mengetuk pintu kamar putranya.



"Ayah! Tunggu sebentar," jawab Whana yang sedang berpakaian.



Setelah beberapa saat, Whana membuka pintu kamarnya dan melihat ayahnya berdiri di depan pintu sambil melotot ke arahnya seolah melihat hantu.



"Whana! Bagaima kultivasimu langsung ke Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kedelapan?" tanya Wahyu dengan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.



"Oh, kebetulan tadi malam aku juga menerobos," jawab Whana santai.




Apalagi mengingat beberapa tehniknya telah mengalami berbagai terobosan, cukup sulit untuk menekan kultivasinya. Selain itu, Tubuh Kekosongan juga menyerap energi alam secara otomatis yang menyebabkan kekuatan tubuhnya terus bertambah.



System juga menjelaskan bahwa setelah tehnik pernafasan mencapai level delapan keatas, maka akan efektif menyembunyikan hingga sepuluh tingkat. Sedangkan untuk saat ini maksimal hanya lima tingkat. Karena penyesuaian penggunaan maka tingkat kultivasi yang di sembunyikan lebih dari lima tingkat akan muncul setiap tiga hari.



"Kebetulan? Memangnya ada menerobos tiga tingkat adalah kebetulan?" gumam Wahyu dengan heran.



Namun ia juga senang dengan terobosan putranya. Dengan usianya kali ini, putranya termasuk dalam kategori jenius di Kota Ragane.



Wahyu kemudian berkata. "Kita ke tempat kakekmu agar ia tidak khawatir tentang keadaanmu kemarin."



Whana hanya mengangguk sebagai jawaban



Mereka berdua berjalan berdampingan menuju aula utama keluarga. Sesampainya di aula utama, mereka melihat lelaki tua sekitar tujuh puluhan tahun sedang mondar-mandir seolah sedang mencemaskan sesuatu.

__ADS_1



"Ayah!" Wahyu Rahngu memanggil.



"Bagaimana dengan Wha ..." belum selesai ia bicara, lelaki tua itu menoleh dan melihat ada Whana yang ada di belakang putra sulungnya.



"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja? Kultivasimu?" Yang awalnya cemas seketika digantikan dengan keheranan.



Tiga hari sebelumnya ia tahu bahwa cucunya ini masih berada pada Tahap Kelahiran tingkat Kedelapan, namun sekarang di Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kedelapan. Ini benar-benar di luar imajninasinya.



"Aku baik-baik saja, kakek. Kebetulan aku mendapat keberuntungan," jawab dan sapa Whana sambil tersenyum.



Lelaki tua itu langsung berjalan menuju cucunya, memegang tangannya, dan menyentuh pipi cucu lelakinya itu. Ia tertawa terbahak-bahak sampai air liurnya muncrat kemana-mana.



"Akhirnya .... Akhirnya jenius keluargaku kembali." Lelaki tua itu segera mengajak putra dan cucunya duduk di dalam ruang aula.



"Ceritakan pada kakek! Apa yang terjadi padamu!" pinta kakek Whana dengan penasaran disertai raut wajah penuh kegembiraan.



Whana menceritakan sebagian kecil apa yang ia alami di Hutan Kematian. Namun system, celah batu dan tindakan pembunuhan yang dilakukan keluarga Dege tetap ia simpan di dalam hatinya.



"Hm, jadi kamu menemukan pil dan elixir di hutan itu. Ini sungguh keberuntunganmu, Nak. Keberuntungan Keluarga Rahngu kita," ujar sang kakek dengan gembira.



Sebelum kakek Whana akan melanjutkan pertanyaan lain, ia memandang Wahyu sejenak. "Kamu sudah menerobos?"



"Iya, Ayah. Ini berkat Whana yang memberiku elixir," jawab Wahyu dengan antusias.



Lelaki tua itu lalu memandang Whana dan Wahyu secara bergantian. Lalu ia berkata setelah menghala nafas. "Whana, mungkin aku harus menyampaikan ini agar kamu tidak salah paham terhadap Kakek, dan para Pamanmu."



"Paman pertama dan Keempat selama ini selalu mendesak Kakek untuk mengambil sebagian penghasilan mereka sebagai tetua keluarga agar diserahkan kepada ayahmu. Namun ayahmu menolak dengan alasan ia merasa tidak layak untuk menerimanya," lanjut kakek Whana dengan ekspresi tidak berdaya.



"Selain itu keluarga kita juga mengalami kemunduran dua sampai tiga tahun terakhir. Sehingga sulit untuk meningkatkan jumlah sumber daya yang berkualitas untuk meningkatkan kekuatan keluarga kita. Paman Ketigamu juga sama dengan ayahmu, semenjak ia mengalami kemacetan di Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Keenam, Paman Ketigamu tidak ingin menerima sumber daya lebih. Alasannya sama, yakni tidak ingin membebani keluarga," desah kakek Whana.



Mendengar apa yang dikatakan kakeknya, Whana merasakan kehangatan akan keluarga. Ia tidak menyangka bahwa pamannya yang terlihat acuh tak acuh ternyata cukup menyayangi ayahnya. Hal ini membuatnya semakin bertekad untuk meningkatkan kekuatan keluarganya.


__ADS_1


"Apakah kemunduran keluarga kita ada kaitannya denga keluarga Dege?" tanya Whana memastikan.


__ADS_2