
Setelah melihat isi cincin, tetua Bagata mendesah dan berkata penuh terima kasih. "Teman Kecil, terima kasih atas segalanya. Kami tidak akan pernah melupakan semua bantuanmu hari ini," setelah mengucapkan kalimat itu, tetua Bagata membungkuk sedikit.
"Kami tidak akan mampu membayar kebaikanmu," Iyon menimpali ucapan tetua Bagata dan juga membungkukkan badannya sedikit.
Tuan Kota terkejut melihat kedua orang di depannya membungkuk ke arah Whana. Tuan Kota tahu betul bahwa dua orang ini adalah Pejabat Tinggi Kerajaan di daratan Waja Timur, tapi rela membungkukkan badan ke arah bocah berusia lima belas tahun yang hanya berasal dari keluarga kelas dua di Kota Ragane yang kecil ini.
'Apakah keluarga Rahngu ini memiliki latar belakang lain?' sebuah pertanyaan muncul di benak Tuan Kota.
"Kakak Whana, bawalah token ini jika kamu pergi ke daratan Waja bagian timur! Dan kau harus mencariku! Ingat! Kau harus mencariku! Membuatkanku daging panggang, mengantarku jalan - jalan, membantu ...," Wandira mengucapkan kalimat panjang seperti sedang berpidato di depan para hadirin.
Wanita dewasa yang sebelumnya berpelukan dengan Wandira tersenyum melihat ini.
Mendengar Wandira yang dia kenal sebagai gadis pendiam tiba - tiba berceloteh melebihi adik perempuannya, Whana benar - benar terpana.
"Nona, itu banyak sekali. Apakah tidak ada jeda untuk mandi?" Whana menanggapi panjangnya kalimat Wandira.
"Aku tidak peduli! Ingat! Kau harus mencariku!" ucap Wandira seolah memberi perintah keras kepada seorang bawahan.
"Uhuk, uhuk, uhuk," tetua Bagata terbatuk kering tapi matanya melihat ke atas seolah tidak memperhatikan tindakan Wandira.
Mendengar ini, Wandira segera menyadari tindakannya dan pipinya langsung memerah hingga ke telinga. Ia bergegas melangkah mundur dan memelototi tetua Bagata.
Whana hanya menggaruk bagian belakang kepalanya dan tersenyum.
\*\*\*
PENGINAPAN MAKMUR
"Ada berita penting?" Tanya Dayu kepada bawahan telik sandinya.
__ADS_1
"Benar, Tuan Putri. Tuan Muda Rahngu telah kembali ke Kediaman Keluarga Rahngu setelah sebelumnya singgah ke Rumah Asuh menemani anak - anak itu makan dan bermain," lapor sang bawahan dengan hormat.
Setelah menarik napas untuk beberapa saat, bawahan itu melanjutkan laporannya. "Namun sebelum dari Rumah Asuh, kami melihatnya datang ke Kediaman Tuan Kota bersama tiga orang. Dua orang pria dan seorang gadis sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun."
"Yang mengejutkan kami, mereka disambut oleh Tuan Kota dan dua orang lainnya yang merupakan Pejabat Tinggi Kerajaan Hipajama di daratan Waja Timur. Salah satunya adalah seorang pria, dia adalah Jendral Gerbang Timur dan seorang wanita yang merupakan adik dari Permaisuri Kerajaan Hipajama," imbuh sang bawahan.
Dayu dan seorang Jendral yang bersamanya saling memandang, dan meminta sang bawahan untuk melanjutkan informasi.
"Ketiga orang yang bersama Tuan Muda Whana juga merupakan pejabat Kerajaan Hipajama. Namun Tuan Muda Whana tidak ikut masuk ke kediaman Tuan Kota dan langsung pergi ke restaurant untuk membeli makanan yang akan dibawanya ke Rumah Asuh," lanjut sang bawahan melengkapi laporannya.
"Apa ada berita keberadaan kedua kelompok keluarga yang lenyap di Hutan Kematian?" Dayu melanjutkan ke pertanyaan lain.
"Tidak ada, Tuan Putri. Kami sudah memeriksa ke tempat mereka sebelumnya. Tapi tidak menemukan jejak apa pun. Bahkan tidak ada jejak pertarungan," sang bawahan memastikan.
"Kamu boleh pergi!" perintah Dayu singkat.
"Seperti yang pernah aku katakan, bocah ini tidak sesederhana kelihatannya. Ayo pergi ke kediaman Tuan Kota, sudah lama aku tidak bertemu Jendral Banyu."
Mereka berdua bergegas ke kediaman Tuan Kota Ragane begitu sang Jendral berkata.
\*\*\*
KEDIAMAN TUAN KOTA RAGANE
Di Aula Kediaman Tuan Kota, Wandira menceritakan semua pristiwa yang menimpa mereka kepada Jendral Gerbang Timur dan wanita dewasa itu sampai mereka diselamatkan Whana dari kepungan musuh.
Wandira dan kedua pria yang bersamanya juga menanyakan tentang asal usul Whana kepada Tuan Kota.
Tuan Kota yang awalnya terkejut tak percaya bahwa Whana yang menyelamatkan ketiga orang itu, merasa bahagia dan bangga. Bagaimana pun Whana adalah pemuda kotanya, yang tentunya akan ada efek baik dan akan berimbas pada Kota Ragane yang dipimpinnya.
"Baiklah, silahkan beristirahat. Saya harus menyelesaikan beberapa urusan," Tuan Kota berkata dengan hormat lalu meninggalkan ruangan aula.
__ADS_1
"Aku kira Whana sengaja berbohong padaku tentang asal usulnya," desah Wandira setelah mendengarkan penjelasan Tuan Kota tentang Whana dan keluarga Rahngu.
"Oleh sebab itu aku dan Iyon tidak mengungkap bahwa kita dari pihak Kerajaan Hipajama daratan Waja tapi dari Sekte Sewu Wangi," tetua Bagata menimpali kalimat Wandira.
"Apa pun latar belakangnya, tidak masalah. Tanpa adanya pemuda itu, mungkin aku tidak duduk di sini hari ini," Iyon melanjutkan. Terdapat rasa syukur yang mendalam pada nada suaranya.
"Pemuda itu tidak sesederhana kelihatannya," Jendral Banyu berkata setelah hening untuk beberapa saat.
"Paman benar. Kemarin petang dia berada di Tahap Transformasi tingkat Keempat, namun malamnya dia sudah berada di tingkat Keenam. Ketika kami bertanya padanya, apakah paman tahu jawabannya? Dengan santai ia menjawab 'ah, tidak sengaja menerobos'. Paman, memangnya ada menerobos dengan tidak sengaja?" Wandira menceritakan tentang kultivasi Whana kepada Jendral Banyu yang juga adik dari ayahnya.
Melihat tetua Bagata dan Iyon mengangguk sebagai komfimasi apa yang disampaikan Wandira, Jendral Banyu tidak terkejut dan berkata dengan tenang. "Apa kalian tahu kultivasinya sekarang?"
"Transformasi tingkat Keenam?" Wandira langsung menjawab.
Tetua Bagata dan Iyon mengangguk lagi begitu melihat sang Jendral menatap ke arah mereka.
"Jendral Muda Bagata, apa kau yakin pemuda itu berada di Tahap Transformasi tingkat Keenam?" Jendral Banyu langsung memandang tetua Bagata dengan serius.
"Aku yakin, Jendral. Ada apa?" melihat tatapan serius Jendral Banyu, tetua Bagata segera menjawab, tetapi pikirannya penuh dengan pertanyaan yang membuatnya sedikit bingung akan ekspresi sang Jendral.
"Bocah yang luar biasa. Anak muda itu berada pada Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Kedua," ucap Jendral Banyu selanjutnya.
"Apa?" empat orang yang mendengar ucapan Jendral Banyu seketika berseru serempak. Mereka benar - benar terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Bagaimana bisa?" tiga orang berkata serempak kecuali Wandira.
"Inilah mengapa aku menyebutnya luar biasa. Anak muda itu mampu menyembunyikan napas kultivasi bahkan hingga lima tingkat. Aku yakin kalian semua tahu bahwa orang yang bisa menyembunyikan napas kultivasi, minimal harus berada pada Tahap Kaisar Alam. Itu pun hanya tiga tingkat, jika aku tidak berada pada Tahap Ksatria Suci, mungkin aku juga akan tertipu olehnya," papar Jendral Banyu menjelaskan.
"Benar - benar jenius. Dengan tingkat energi alam yang tipis di daratan Liba dan sedikitnya sumber daya di Kota ini, rasanya sangat sulit untuk percaya," Wanita dewasa yang sedari awal diam di sebelah Wandira ikut angkat bicara.
__ADS_1