Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 23


__ADS_3

"Apa kalian sudah dengar kalau Keluarga Dege disusupi pencuri?" kata seorang pria muda di meja lainnya.



"Pencuri? Yang benar?" kata teman - teman pemuda itu dengan raut tidak percaya.



"Apa kalian hanya tidur selama ini? Berita ini sudah beredar seminggu yang lalu," ucap sang pemuda.



"Menurut apa yang aku dengar, ruang harta Keluarga Dege dikuras habis oleh pencuri itu. Bahkan tidak menyisakan apapun," lanjut pemuda itu seolah ia mengetahui kejadiannya dengan persis.



"Apakah Keluarga Dege memprovokasi pihak lain sehingga hartanya disapu bersih?" tanya seorang temannya.



"Mungkin saja. Yang jelas, Patriak Dege sangat marah karena kerugiannya sangat besar. Mungkin akan berpengaruh dengan ekonomi dan kekuatan keluarga," pungkas pemuda yang menyebarkan berita.



"Apakah keluarga Dege tidak menyelidikinya?" tanya teman lainnya.



"Yang kudengar Patriak Dege menyewa beberapa orang Ahli dan didukung oleh keluarga kelas satu dari Kota Distrik," sahut sang pemuda.



Tiba - tiba seorang berbadan kekar berteriak di luar restaurant. "Hei bocah! Jangan mendekat! Kalian anak miskin dilarang mendekati kami. Cepat menjauh!"



"Kami tidak mendekatimu. Kami akan membeli makanan," jawab seorang anak lelaki berusia sebelas tahun.



Plak



Anak lelaki itu terjatuh karena tamparan si pemuda kekar.



"Kalian bertiga, cepat menyingkir! Jika tidak, akan kupatahkan kakimu," lanjut pemuda kekar itu dengan mata melotot.



Dua anak lelaki dan seorang anak perempuan ketakutan mendengar apa yang dikatakan pemuda kekar itu.



Melihat kejadian ini Whana langsung bergegas menuju tiga bocah itu, "Adu, Bagus, Mila, kalian disini? Ayo masuk, biar Kakak yang mentraktir."



"Kakak Wha!" teriak gadis kecil berusia sekitar lima atau enam tahun.



"Jadi kamu Kakaknya?! Bagus sekali. Aku perlu memberimu pelajaran agar kamu bisa mengajari adik - adik miskinmu ini." setelah bicara, pemuda kekar itu langsung memukul dada Whana denga keras.



Melihat Whana tidak menghindar, pemuda kekar itu tersenyum penuh kemenangan.



"Kakak! Awas!" teriak ketiga bocah memperingatkan Whana.



Namun selanjutnya yang terjadi tidak seperti yang mereka bayangkan.


__ADS_1


Bam



Krak



Suara ledakan tabrakan antara pukulan dan dada Whana terdengar cukup keras, diikuti dengan suara tulang yang patah.



"Aahhhggg...."



Pemuda kekar itu berteriak dengan kencang, terlihat tangannya berbuah posisi dengan aneh.



Baik ketiga bocah maupun pengunjung restaurant semuanya tercengang. Rahang mereka jatuh dan mulut mereka terbuka lebar hingga dapat dimasuki dua telur ayam utuh.



"Pemuda ini sangat kuat, siapa dia dan darimana asalnya?" tanya seorang pengunjung.



"Apa kau tidak tahu? Dia Whana Rahngu. Putra Wahyu Rahngu," jawab pengunjung lainnya.



"Lihat! Orang kekar itu setidaknya sudah berusia dua puluh lima tahun, tapi lengannya patah karena memukul pemuda ini. Seberapa kuat tubuhnya? Apakah dia melatih keterampilan tubuh?" tanya pengunjung yang berbeda dengan keheranan.



\*



Whana hanya melihat dadanya yang dipukul sebentar dan mengibaskan tangan di dadanya seolah membersihkan debu yang menempel.




"Siapa kau? Kenapa kau ikut campur dengan urusan kami? Tanya Hamid Nylon yang merupakan Tuan Muda dari keluarga Nylon.



"Ikut campur? Apa aku tidak salah dengar? Kalian ini sudah dewasa, mereka bertiga hanyalah seorang bocah. Apa kalian hanya mampu menggertak orang - orang lemah?" sahut Whana dengan dingin.



"Apa kau tahu siapa aku? Aku adalah Tuan Muda dari keluarga kelas dua terkemuka di Kota Ragane ini. Jika kamu berlutut sekarang, aku akan menganggap masalah ini selesai sampai disini, kata Hamid Nylon dengan mimik wajah sombong.



Whana melengkungkan sudut bibirnya sedikit keatas. "Kalian ini lucu sekali. Bagaiman jika tidak?"



"Maka kamu akan menyesalinya. Kalian semua! Hajar dia!" perintah Hamid kepada tiga pengawalnya yang semuanya berbadan kekar.



Whana tersenyum dan menggelengkan kepalanya.



'Mata Dewa, Mata Ilusi!'



Whana mengaktifkan tehnik Mata Dewa ketika melihat tiga orang akan menyerangnya.



Semua orang sudah membayangkan akhir yang tragis bagi Whana. Diserang oleh tiga orang berbadan kekar adalah tidak mungkin bagi Whana yang berusia lima belas tahun untuk melawan. Apalagi melihat perawakan Whana yang kurus.

__ADS_1



"Sudah berakhir," kata seorang pengunjung berkata dengan simpati terhadap Whana.



Namun, kejadian berikutnya membuat rahang semua orang jatuh kebawah, mulut mereka terbuka lebar, dan mata mereka melotot hendak keluar dari rongganya. Semua orang melihat bahwa ketiga pemuda kekar itu hanya berdiri diam, tidak melakukan apapun terhadap Whana. Tiga detik berikutnya, mereka berlutut dan mengeluarkan keringat dingin di sekujur tubuhnya.



"Apa yang terjadi? Kenapa mereka berlutut?" tanya seorang pengunjung denga heran.



"Aku tidak tahu. Yang jelas pemuda itu tidak melakukan apa pun dan hanya memandang ketiganya," sahut pengunjung lainnya.



'Seranga jiwa?' ucap hati lelaki tua yang tadi menganggukkan kepalanya kepada Whana.



'Dari mana asal pemuda ini? Di usia semuda ini ia mampu melakukan serang jiwa dengan sangat baik. Setahuku tehnik serangan jiwa telah hilang jutaan tahun yang lalu. Kenapa anak ini bisa melakukannya?' lelaki tua itu berfikir keras di dalam benaknya.



"Maafkan kami, Tuan Muda. Kami terlalu lancang. Mata kami buta," ucap salah satu pemuda kekar yang akan menyerangnya.



"Hehehe ... Apakah Tuan Muda mu juga akan memberiku pelajaran?" Whana kemudian menoleh ke arah Hamid Nylon.



"Tidak, tidak, tidak. Ini sungguh kesalahpahaman. Aku minta maaf! Aku minta maaf!" tanpa menunggu jawaban Whana, Hamid langsung berlari kencang ketakutan.



"Kalian pergilah! Lain kali jangan pernah merendahkan orang lain," seru Whana dengan santai sembari melambaikan tangannya sebagai tanda agar orang - orang itu pergi.



"Terima kasih, Tuan Muda." mereka langsung berdiri dan berlari menyusul Tuan Muda mereka.



"Ayo, kalian bertiga kesini! Kakak akan mentraktirmu hari ini," panggil Whana kepada ketiga bocah yang masih tercengang akan kejadian yang baru saja mereka lihat.



\*\*\*



RUMAH ASUH



Setelah Whana, Dira dan ketiga bocah itu makan dengan kenyang, Whana memesan banyak makanan untuk teman - teman ketiga bocah itu.



"Kakak Whana, kenapa Kakak tidak pernah datang ke rumah kami? Aku sangat merindukanmu." suara kecil Mila terdengar ketika mereka berjalan pulang.



Dalam ingatan Whana sebelumnya, ia sering berkunjung ke Rumah Asuh di Kota Ragane. Rumah Asuh ini menampung setidaknya dua puluh anak. Ada anak yang yatim piatu maupun yang ditinggalkan oleh orang tua mereka.



Pengelola Rumah Asuh ini adalah sepasang suami istri paruh baya dengan tiga orang anak yang sudah dewasa. Keluarga ini mengabdikan dirinya untuk merawat anak - anak yang kurang beruntung ini.



"Ayah, Ibu, Kakak Whana datang." teriak Mila di pintu gerbang Rumah Asuh.



Mendengar teriakan Mila, sontak anak - anak lainnya keluar rumah. Melihat Whana dan yang lainnya, anak - anak itu berlari ke arah Whana dan bersorak dengan gembira.

__ADS_1


__ADS_2