Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 25


__ADS_3

"Kakak cantik, ini untukku? Indah sekali. Kalau begitu, Kakak boleh menyukai Kakak Whana." Dengan senyum bahagia Mila menerima gelang giok pemberian gadis muda itu.



"Nona Muda, ini terlalu berharga, kami ..." belum selesai paman Wiji berbicara, gadis muda itu langsung menyela. "Tidak apa - apa, Paman. Gelang ini dapat menjaga Mila jika menghadapi bahaya."



"Apakah Tuan Muda Whana dari keluarga terkemuka?" tanya lelaki tua itu kepada paman Wiji.



"Sepengetahuanku tidak, Tetua. Tuan Muda Whana dari keluarga kelas dua dan tidak ada yang menonjol dari keluarganya," jawab paman Wiji dengan hormat.



"Pemuda yang berbakat," gumam lelaki tua itu.



"Tetua benar, Tuan Muda Whana adalah pemuda yang berbakat dan penuh kasih. Sebelumnya, ia sering berkunjung ke Rumah Asuh untuk membantu kami. Bahkan ketika ia menderita penyakit yang tidak di ketahui dan menyebabkan kultivasinya menurun, Tuan Muda masih datang membantu kami," ujar paman Wiji sambil mengingat kebaikan Whana terhadap dirinya dan anak asuhnya.



"Oh penyakit yang menyebabkan kultivasi menurun?" tanya gadis muda itu penasaran.



"Benar, Nona Muda. Tepatnya dua tahun lalu, Tuan Muda Whana telah berada pada Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kedua. Namun karena penyakit yang tidak diketahui itulah kultivasi Tuan Muda menurun ke Tahap Kelahiran tingkat Kedelapan," jelas paman Wiji.



Mendengar apa yang dikatakan oleh paman Wiji, gadis muda dan lelaki tua itu saling memandang.



"Baiklah, Paman. Kami masih ada keperluan. Jadi kami mohon pamit," ucap gadis muda itu dan meninggalkan Rumah Asuh dengan lelaki tua yang bersamanya.



\*



Dalam perjalanan kembali ke penginapan, gadis muda itu bertanya kepada lelaki tua yang bersamanya. "Guru, jika mendengar apa yang dikatakan pria paruh baya di Rumah Asuh tadi, kenapa bertolak belakang dengan keadaan pemuda itu?"



"Dayu, itulah aku menyebut bahwa pemuda itu tidak sederhana. Kamu tahu kenapa?" setelah diam sejenak lelaki tua itu melanjutkan. "Pertama, dengan tingkat kekuatanku seharusnya mudah bagiku untuk melihat kedalaman tubuh dan jiwa seorang kultivator di bawah Raja Alam. Tetapi khusus untuk pemuda itu, aku tidak bisa melihatnya, seolah terhalangi oleh kekuatan misterius yang luar biasa."



"Benarkah?" mulut gadis muda yang bernama Dayu itu terbuka lebar.



"Kedua, pemuda itu mampu melakukan Serangan Jiwa dengan baik. Sepanjang yang aku ketahui, tehnik serangan jiwa berasal dari jaman kuno dan telah hilang sejak jutaan tahun yang lalu."

__ADS_1



Mendengar alasan kedua dari lelaki tua itu, mulut Dayu terbuka lagi.



"Ketiga, pemuda itu mampu menyembunyikan kultivasinya hingga lima tingkat. Kultivasi sebenarnya berada pada Tahap Transformasi tingkat Ketujuh dan yang ia tunjukkan adalah tingkat Kedua. Jika aku tidak berada di Tahap Kesatria Suci, maka aku akan tertipu olehnya. Lagi pula, setahuku yang bisa menyembunyikan tingkat kultivasi harus berada di tahap yang sama dengan Master Akademi. Itupun hanya mampu tiga tingkat," lanjut lelaki tua itu dengan penuh kekaguman.



Mulut Dayu semakin terbuka lebar mendengar alasan yang ketiga.



"Apakah keluarganya dari keluarga kuno, Guru?" tanya Dayu dengan sangat penasaran.



"Kamu bisa menggunakan aset ayahmu untuk menyelidikinya. Jika kita mampu menjaga dan memberdayakannya mungkin pemuda ini akan menjadi penolong bagi Kerajaan ayahmu kelak. Lagi pula, pemuda ini bukan hanya misterius tapi juga memiliki hati yang baik. Sangat jauh dari pemuda lain yang seumuran dengannya," pungkas lelaki tua itu.



\*\*\*



Dua hari kemudian, Whana berencana untuk kembali ke Hutan Kematian guna meningkatkan keterampilan dan kekuatannya.



"Tuan Muda, Patriak memanggil Anda di ruang aula," sapa seorang pelayan keluarga menyampaikan apa yang diinstruksikan Patriak Rahngu kepadanya.




"Kakek memanggilku?" sapa Whana yang melihat sang Patriak sedang duduk di sebuah kursi utama dengan wajah gembira.



Patriak Rahngu mengangguk dan memandangi cucunya dengan penuh kasih, lalu berkata dengan hangat. "Whana, satu bu ...." belum selesai ia melanjutkan kalimatnya, matanya seketika melotot memandangi cucunya itu dan berseru. "Kultivasimu....?"



"Hanya kebetulan," sahut Whana menanggapi dengan santai.



Mendengar apa yang diucapkan Whana dengan santai itu, membuat patriak sangat ingin menampar cucunya itu berulang kali. Bagaimana tidak, sepuluh hari yang lalu dia masih ingat dengan benar bahwa kultivasi cucunya masih pada tingkat Kelima Pembentukan Tubuh dan sekarang meroket ke Tahap Transformasi tingkat Kedua.



"Ngomong - ngomong kakek juga sudah menerobos ke Tahap Prajurit Alam," lanjut Whana memperhatikan kakeknya yang masih tercengang menatapnya.



"Ini berkat elixir dan Pil Mida yang kamu berikan, cucuku." Patriak Rahngu tersadar dan menjawab dengan tersenyum.

__ADS_1



"Satu bulan lagi pertandingan keluarga akan dilaksanakan, kakek harap kamu melakukan yang terbaik," imbuh patriak Rahngu melanjutkan.



"Iya aku mengerti kakek, siapa pun yang menang tidak masalah. Toh juga bagian dari keluarga kita," jawab Whana dengan hormat.



Memikirkan anak - anak di Rumah Asuh, Whana menyampaikan keinginannya kepada kakeknya. "Kakek, bolehkah aku mengajukan satu permintaan?"



Sang Patriak merengutkan kening, karena ini pertama kalinya Whana mengajukan permintaan kepadanya. "Jika Kakek mampu, Kakek akan menyanggupinya."



"Aku ingin membawa anak - anak yang ada di Rumah Asuh ke keluarga kita. Setidaknya mereka lebih aman dari bahaya di luar sana. Sedangkan keluarga yang mengasuh bisa jadi pekerja atau menjadi pelayan di keluarga kita dengan pendapatan yang minimal sama dengan sebelumnya. Bagaimana menurut Kakek?" jelas Whana penuh harap.



Mendengar permintaan cucunya, sang patriak sedikit terkejut dan berkata di dalam hatinya. 'Anak ini memiliki hati yang baik, sangat mirip dengan Ayah.'



Yap! Ayah yang dimaksud dalam benak patriak rahngu adalah mendiang ayah patriak itu sendiri yang artinya adalah kakek buyut Whana.



"Kakek tidak keberatan, hanya saja dimana akan di tempatkan? Kediaman kita sudah terisi semua," jawab sang kakek dengan menyesal.



"Bagaimana jika membangun rumah lagi dan tentunya harus lebih besar. Setidaknya harus ada dua puluh lima kamar, satu ruang tamu, satu ruang makan besar untuk dua puluh lima orang dan satu ruang dapur," usul Whana dengan semangat.



"Dua puluh lima kamar? Satu ruang makan besar? Kamu ingin mendirikan sekte?" seru sang kakek terkejut.



"Hahaha ... Tidak. Aku fikir kita masih mempunyai lahan yang cukup luas di sebelah rumahku," pungkas Whana meyakinkan kakeknya.



"Kamu benar, lahan kita memang masih sangat luas dan tidak akan kesulitan untuk membuat sepuluh rumah dengan ukuran yang kamu sebutkan. Hanya biayanya sangat tinggi. Sekali pun seluruh koin emas keluarga dikumpulkan, itu tidak akan mencukupi," desah sang kakek.



"Berapa kira - kira biayanya?" tanya Whana dengan penasaran.



"Setidaknya enam ratus ribu koin emas, jika ingin mempercepat pembangunan, maka paling sedikit butuh delapan ratus ribu koin emas," jawab patriak Rahngu dengan berat. Terdapat nada tidak berdaya pada suaranya.


__ADS_1


Mendengar jumlah koin emas dari kakeknya, Whana tersenyum. Segera ia mengeluarkan delapan ratus ribu koin emas dari ruang penyimpanan dan menyerahkannya sambil berkata. "Apa ini cukup?"


__ADS_2