Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 51


__ADS_3

"Sungguh aku tidak menyangka, di kota kecil ini aku bisa menghilangkan sisa racun yang mematikan itu." ucap Jendral Pon kepada Dayu.



"Guru aku akan kembali ke kerajaan untuk memberi obat ini kepada ayahanda." Dayu memberi tahu rencananya.



"Baiklah, kita akan kembali lagi untuk menjemput pemuda itu ketika pendaftaran akademi." sahut Jendral Pon.



Dayu beserta rombongan segera meninggalkan penginapan menuju ibu kota kerajaan. Sebelum terbang menunggangi burung raksasa kerajaan, Dayu tetap meninggalkan beberapa pengawalnya untuk menjaga kediaman keluarga Rahngu di balik bayang-bayang tanpa sepengetahuan Whana.



-----KELUARGA NYLON-----



"Patriak, hasil tambang dalam beberapa hari sudah siap." Panatua ketiga melaporkan hasil penambangan Batu Gudig kepada patriak Nylon.



"Bagus, berapa Batu Gudig yang di dapat pada penambangan pertama?" Tanya patriak.



"Lima juta, Patriak. Kami juga menemukan Batu gudig yang sangat besar di dalam tambang yang tidak perlu proses pembersihan." jawab panatua ketiga.



"Seberapa besar? Apakah itu Batu Gudig yang utuh?" Tanya patriak dengan mata berbinar.



"Lebarnya 7 meter dan tinggi 5 meter sedangkan panjangnya 8 meter dan itu masih bisa bertambah karena penggalian belum mencapai akhir panjangnya." jawab panatua ketiga.



"Luar biasa, keluarga kita akan makmur dalam setahun. Tidak akan ada yang berani menentang keluarga kita di kota distrik bahkan di ibu kota kerajaan. Besok kita berangkat ke area pertambangan." ucap patriak Nylon dengan hati berbunga-bunga.


..........


'Sudah saatnya aku menyapa keluarga Nylon.' senyum licik muncul di sudut bibirnya.



Cling



Whana menghilang dari kamarnya dan muncul di bukit belakang rumahnya. Membuka sayap angin dan terbang dengan kecepatan penuh menuju hutan kematian. Setelah jeda tiga puluh detik dari durasi teleportasi pertama ia kembali menghilang dan terbang lagi hingga muncul di batu besar tempat ia pertama kali hadir di dunia kultivator ini.


__ADS_1


\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik teleportasi telah naik level. Level saat ini 2/10. Jangkauan teleportasi saat ini adalah 2 kilo meter dan tambahan 60% sehingga total jangkauan adalah 3,2 kilo meter.\]



Saat hendak terbang, Whana mendengar notifikasi system di benaknya yang membuatnya hampir tertawa terbahak-bahak karena gembira. Ia kemudian terbang ke atas dan melihat pohon besar yang ia gunakan sebagai pos kecilnya dengan mengaktifkan mata dewa.



'Masih belum terlihat, berarti lebih dari lima kilo meter.' gumam Whana dalam hati.



Sampai di atas pohon besar yang dituju. Melihat ke arah selatan yang merupakan letak pegunungan Embuh. Dengan teleportasi ia muncul dan terbang melewati medan pertempuran tetua Bagata sebelumnya.



'Ternyata ini pegunungan Embuh. Gunung yang mana daerah tambang keluarga Nylon ini?' pikirannya mulai bertanya - tanya.



\[Ding! Selamat Tuan. Tenik Mata Dewa telah naik level. Level saat ini adalah 4/10.\]



'Naik level di waktu yang tepat.' Whana tersenyum mendengar notifikasi system.



Whana mengamati deretan gunung yang ada di depannya dan menemukan aktifitas sekelompok orang di gunung ketiga. Secara perlahan ia mendekati gunung itu dengan hati - hati.




Sebagai tindakan pencegahan Whana mengumpulkan embun dari udara tipis dan menyuntikkan racun empedu dari monster ular iblis serta menambahkan elemen kegelapan. Tidak hanya itu, Whana juga mengubah penampilannya seperti Hamid sang Tuan Muda keluarga Nylon.



Ada empat lubang di gunung itu sebagai pintu masuk ke area pertambangan. Whana muncul dari pohon ke pohon yang lain dengan teleportasi hingga mendekati lubang keempat yang dijaga lima belas orang Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Kelima dan Penyempurnaan Roh tingkat Ketujuh.



'Bagaimana aku bisa masuk jika yang berjaga begitu kuat?!!' pikiran Whana mulai berputar mencari cara untuk memasuki area tambang.



Whana melihat bahwa pintu masuk keempat tergolong dekat dengan pintu masuk ketiga yang berjarak sekitar delapan ratus meter dengan penjagaan yang sama. Whana muncul di pohon yang berdekatan dengan pintu ketiga dan mengamati sebentar untuk memetakan situasi.



Seringai licik kembali muncul di sudut mulut Whana. Dengan energi mental, Whana mengarahkan bola embun beracun buatannya ke atas kerumunan penjaga pintu ketiga dan memecahkannya tanpa suara.



"Kenapa kepalaku tiba - tiba sakit." keluh seorang penjaga sambil memegang kepalanya.

__ADS_1



"Ah, aku juga sama. Seorang penjaga lain mengikuti dan sesaat kemudian diikuti oleh seluruh penjaga di pintu ketiga. Whana langsung ke pohon yang dekat dengan pintu keempat menunggu reaksi penjaga di pintu ini.



Mendengar teriakan kesakitan dari pintu ketiga, beberapa penjaga di pintu keempat bergegas ke pintu ketiga. Melihat ini, Whana melakukan hal sama seperti di pintu ketiga. Whana langsung mendekati pintu keempat dan memenggal tiga penjaga yang tersisa yang sedang kesakitan karena racun yang dilemparkan Whana.



Setelah memasukkan ketiga mayat penjaga, Whana meniru penampilan salah satu penjaga tersebut dan berjalan memasuki lubang yang merupakan pintu keempat.



Berjalan menyusuri lorong yang tenang dan tetap waspada, Whana mengarah ke bagian dalam area tambang.



"Hei, bantu aku memasukkan batu ini ke ruang penyimpanan." seorang penjaga yang sedang mendorong keranjang besar yang dipenuhi hasil tambang memanggil Whana.



Whana langsung bergegas ikut membantu mendorong keranjang menuju sebuah ruangan yang dijaga dua orang murid akademi Surgawi.



Sambil memindahkan Batu Gudig ke dalam keranjang, penjaga itu berkata dengan berbisik, "Orang - orang dari akademi Surgawi sangat sombong. Kamu antar batu ini, aku harus ke ruang pertama untuk melapor."



Whana mengangguk sebagai jawaban. Setelah penjaga itu pergi, Whana menoleh ke dua puluh peti harta yang berisi Batu Gudig hasil tambang. Whana langsung mengosongkan seluruh isi peti dan mendorong keranjang kosong ke luar ruangan.



Sampai pada area tambang dengan keranjang dorongnya, Whana melihat ada puluhan orang pekerja yang sedang menambang Batu Gudig. Sedangkan penjaga rendahan bertugas mengawasi dan mengangkat hasil tambang.



Whana masuk ke salah satu lorong dan melihat Batu Gudig yang menempel di setiap dinding lorong.



"System, bisakah kamu memindahkan Batu Gudig yang menempel di dinding ini?" Tanya Whana pelan.



\[Ding! Bisa Tuan. Dalam jarak sepuluh meter dari posisi Tuan, sepanjang Tuan dapat melihatnya maka system bisa memasukkannya ke ruang penyimpanana system.\]



"Oke, ambil semua Batu Gudig yang ada di dinding!" perintah Whana.



Batu Gudig yang menempel di dinding lorong seketika bersih tanpa sisa dengan jarak sepuluh meter yang dilihat Whana.

__ADS_1



Sampai di ujung lorong, Whana melihat Batu Gudig yang sangat besar dan masih ada peralatan pekerja yang tergeletak di tanah. Tanpa pikir panjang, Whana langsung memindahkan Batu Gudig berukuran super besar di depannya.


__ADS_2