Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 39


__ADS_3

'Anak muda ini sungguh luar biasa. Ia mampu mengontrol Api Chaos dengan sempurna,' tetua Bagata memperhatikan api yang menyala dari kayu bakar yang tampak seperti api biasa pada umumnya.



"Nah sudah matang," ucap Whana sembari memindahkan daging rusa ke sebuah daun talas yang lebar.



\*\*\*



PENGINAPAN MAKMUR



"Ada berita penting?" tanya Dayu kepada pimpinan telik sandinya.



"Benar, Tuan Putri. Semua pengawal dari keluarga Nylon dan keluarga Dege lenyap kurang dari sepuluh menit dan ini baru saja terjadi," lapor sang telik sandi dengan hormat.



"Lenyap? Kurang dari sepuluh menit? Apakah kamu tahu siapa yang melakukannya?" rasa penasaran Dayu semakin kuat dengan laporan yang baru saja di dengarnya.



"Kami tidak tahu, Tuan Putri. Orangku telah mengawasi seluruh pintu masuk yang menuju Hutan Kematian sebelum pemuda dari keluarga Rahngu itu datang untuk berburu."



"Beberapa saat kemudian kelompok keluarga Nylon sebanyak dua belas orang datang dan tujuh belas orang dari keluarga Dege menyusul. Sore harinya, Tuan Muda Nylon dan Tuan Muda Dege meninggalkan Hutan Kematian. Setelah itu tidak ada lagi yang masuk atau keluar," pimpinan telik sandi menjawab rinci situasinya.



'Siapa pelakunya? Begitu banyak orang dengan kultivasi tidak rendah, tidak mungkin pemuda itu pelakunya. Apakah ada orang lain yang melindungi pemuda itu?' segala macam pertanyaan muncul dari benak Dayu.



\*\*\*



HUTAN KEMATIAN



Mereka berempat menikmati daging panggang Rusa Tanduk Hijau dengan antusias, terutama Wandira. Yang porsi makannya lebih banyak dari ketiga pria lainnya.



"Teman Kecil, kami belum mengetahui namamu. Aku dipanggil Bagata, ini Iyon dan gadis yang selalu di sebelahmu di panggil Wandira," ucap tetua Bagata dan memperkenalkan kedua orang yang bersamanya kepada Whana.



"Panggil aku Whana, Tetua!" balas Whana yang juga memperkenalkan namanya dan agak membungkukkan badannya sedikit.

__ADS_1



Whana kemudian melanjutkan. "Kenapa kalian bisa sampai area dalam hutan ini? Apakah kalian dikejar para kawanan bandit itu sampai kesini?"



Sebelum menjawab, mereka bertiga saling memandang satu sama lain. Whana yang pura - pura tidak memperhatikan dan tengah asyik menikmati daging panggang, jelas mengetahui gerak - gerik ini. Tapi dia tetap diam karena itu merupakan hak privasi mereka. Tidak elok baginya untuk turut campur.



"Kami dari daratan Waja. Kami kesini mewakili sekte kami untuk menghadiri undangan dari sebuah akademi guna membahas pertandingan persahabatan. Namun, siapa sangka kami dijebak oleh seseorang sebelum kami sampai di akademi, kami diserang oleh sekelompok orang yang bertarung dengan kami tadi," jawab Iyon dengan sedikit menjelaskan.



"Awalnya jumlah kami terdiri dari lima puluh orang, tapi selain karena adanya serangan mendadak, kekuatan kami juga kalah jumlah. Kami berhasil mengirim pesan untuk meminta bantuan dari Sekte kami dan akan bertemu di Kediaman Tuan Kota Ragane yang tepatnya adalah esok hari," tetua Bagata melanjutkan penjelasan Iyon.



"Aku kira mereka para kawanan bandit. Apakah berarti mereka yang bertarung dengan kalian tadi adalah rekan satu Sekte?" Whana bertanya kembali tapi tetap dengan menikmati daging panggang seolah tidak terlalu mendalami hal yang terjadi kepada mereka bertiga.



"Benar. Kebetulan kami dengan orang - orang berpakaian hitam itu selalu berselisih pendapat, jadi mungkin mereka ingin membalas dendam," kali ini Iyon yang menjawab, mengamini apa yang diucapkan Whana.



"Besok pagi, aku akan mengantar kalian ke Kediaman Tuan Kota Ragane," ucap Whana dengan tersenyum.



"Teman Kecil, bolehkah aku bertanya yang bersifat pribadi?" tetua Bagata mengajukan permohonan.




"Bolehkah aku tau asal Teman Kecil ini?" tanya tetua Bagata dengan penasaran.



"Kenapa tidak? Asalku dari Kota Ragane ini dan terlahir di Kota ini lima belas tahun yang lalu. Aku hanya berasal dari Keluarga Kelas Dua, bahkan hampir Kelas Tiga di Kota Ragane. Margaku Rahngu. Semua orang di Kota ini pasti tahu dengan Keluarga Rahngu," jawab Whana dengan santai.



'Apa iya dari kota kecil ini? Dan dari Keluarga Kelas Dua pula. Dengan energi alam yang tipis bahkan kultivasinya ... Kultivasinya?' Wandira berseru di dalam hatinya begitu memperhatikan kultivasi Whana yang telah berubah dari sebelumnya.



"Whana! Eh bukan. Kakak Whana. Bukankah tadi kultivasimu berada di tingkat Keempat? Apa kau baru saja menerobos?" tanya Wandira yang bingung mengatur kata.



Mendengar apa yang dikatakan Wandira, baik tetua Bagata maupun Iyon baru menyadari bahwa kultivasi Whana sudah berbeda.



"Ah, iya, tadi tidak sengaja," Whana menjawab sambil tersenyum.

__ADS_1



"Tidak sengaja???" Wandira mengulangi kalimat terakhir Whana, ia menjadi bingung dengan jawaban yang tidak jelas itu.



"Nona, cukup panggil aku Whana saja! Lagi pula usiaku lebih muda. Supaya yang mendengar tidak salah paham," lanjut Whana tersenyum menoleh ke arah Wandira.



Mereka bertiga seolah tidak mendengar apa yang diucapkan Whana terakhir kali. Mereka masih tertegun menatap Whana dengan heran.



"Hallo?" Whana menyapa dengan melambaikan tangannya lagi.



"Teman Kecil, bagaimana bisa menerobos dua tingkat sekaligus karena tidak sengaja?" tetua Bagata sangat penasaran sekaligus keheranan.



Ini adalah kali pertama tetua Bagata mengetahui bahwa menerobos dengan tidak sengaja apalagi dua tingkat sekaligus. Sudah ribuan jenius yang pernah ia lihat, tapi ini melebihi jenius yang terjenius.



Whana mengangkat bahu acuh tak acuh, lalu menjawab dengan santai seolah hal itu adalah hal yang biasa. "Itu yang terjadi. Apa yang harus aku tutupi?!"



Mendengar jawaban Whana yang dengan santainya bahwa terobosannya memang secara tidak sengaja, membuat mereka benar - benar tercengang. Otak mereka seolah berhenti bekerja.



Mereka berpikir bahwa pengetahuannya tentang kultivasi selama ini seperti tidak berguna di depan pemuda yang baru berusia lima belas tahun ini. Jika mereka hanya mendengarnya, mungkin mereka tidak akan percaya. Tapi sekarang, kenyataannya ada di depan mereka. Ini membuat tetua Bagata semakin bingung. Apakah para Dewa sedang bercanda dengannya?



"Eh, Tanduk ini bagus untuk Tahap Penyempurnaan Qi akhir. Apa Nona tidak menginginkannya? Oya, ngomong - ngomong tubuhmu cukup berat," Whana bertanya kepada Wandira untuk mengalihkan fokus pembicaraan.



"Jangan meledekku!" Wandira protes dengan senyum malu, telinganya sudah memerah ketika teringat dipeluk erat oleh Whana. Selain itu, Whana adalah pria pertama yang memeluknya selain ayahnya sendiri.



Whana kemudian menyerahkan tanduk rusa kepada Wandira.



"Jangan memanggiku Nona! Cukup panggil Dira saja," pinta Wandira yang masih tersipu dengan ledekan Whana barusan.



"Dira? Kenapa nama panggilanmu sama dengan adikku?" gumam Whana namun masih dapat didengar oleh semua orang.


__ADS_1


"Kamu punya adik perempuan?" tanya Wandira.


Whana mengangguk dan menjawab. "Ya, namanya Dira Rahngu, usianya baru sepuluh tahun."


__ADS_2