
Satu Poin System sama dengan seribu koin emas, jika dua ribu Poin System berarti itu adalah dua juta koin emas. Whana menghela nafas tapi ini tidak sebanding dengan Air Kehidupan yang diperolehnya.
Setelah air kehidupan dipindahkan ke ruang penyimpanan system, Whana melihat enam tanaman aneh di dasar telaga dan langsung meminta system untuk menganalisa.
\[Ding! Laos Urip Jagad : Laos Urip Jagad adalah elixir yang sangat berguna baik kultivator Tahap Akhir Penyempurnaan Roh dan Prajurit Alam untuk menerobos ke tahap selanjutnya. Sehingga kemacetan di tahap akhir akan terabaikan. Selain itu, elixir ini juga dapat memperpanjang usia hingga lima ratus tahun ditambah usia kultivasi. Nilai : 40 Pts.\]
"Ah, tanaman langka," seru Whana gembira. Segera ia memanen elixir tersebut dan menyimpannya.
Whana mengambil salah satu elixir yang baru saja di panennya dan meminta system untuk menyerapnya. "System, serap elixir ini!"
\[Ding! Proses penyerapan segera dimulai.\]
Whana melihat elixir itu hancur menjadi partikel jernih dan menuju tubuhnya.
\[Ding! Penyerapan selesai.\]
\[Ding! Selamat, Tuan. Tehnik Pemulihan telah naik level. Level saat ini adalah level 5/10.\]
"Eh?" Whana terkejut mendengar notifikasi system.
"Apa jika aku menyerap lagi akan meningkatkan terobosan lagi pada tehnik pemulihan," gumamnya pelan.
\[Ding! Tidak, Tuan. Penyerapan Laos Urip Jagad sebelumnya hanya menambah poin tehnik Pemulihan ketika Tuan berendam pada Air Kehidupan.\]
"Oh." Whana langsung mengurungkan niatnya untuk menyerap elixir lagi. Ia kemudian berjalan menuju reruntuhan mulut gowa dan memindahkannya sedikit demi sedikit.
Dengan menyebarkan persepsinya, Whana tidak merasakan keberadaan ular piton maupun monster lain pada radius lima ratus meter dari tempatnya. Ia mengintip dari celah reruntuhan dan betapa terkejutnya ketika melihat ular piton itu mati tergeletak dua ratus meter dari mulut gowa.
'Sepertinya ular itu kalah dalam pertempuran.' ucap Whana di dalam hati.
Whana kemudian memperlebar celah reruntuhan dan langsung mengaktifkan sayap angin, meluncur dengan kecepatan tercepatnya ke udara. Ia takut akan bertemu monster yang lebih kuat seperti hari sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, tiba di dasar jurang. Whana berjalan santai menelusuri jurang dan terus menyebarkan persepsinya. Tidak terduga, Whana bertemu dengan sekawanan Srigala Api lagi dan kali ini jumlahnya lebih banyak. Ada sekitar lima puluh ekor Srigala Api yang sedang memakan bangkai monster.
Melihat ada manusia yang muncul di dekatnya, Srigala Api segera berlari ke arah Whana.
'Telapak Dewa!'
Whana mengaktifkan tehnik Telapak Dewa dan aliran energi alam terkonsentrasi di telapak tangannya.
Bam
Bam
Dua ledakan terdengar, tepat mengenai dua Srigala Api yang akan menerkamnya.
Whana terkejut melihat serangannya menghasilkan dua ledakan sekaligus dengan sasaran yang berbeda.
__ADS_1
\[Ding! Selamat, Tuan. Tehnik Telapak Dewa telah naik level. Level saat ini adalah 2/10.\]
Mendengar notifikasi system membuat Whana semakin bersemangat. Dengan memadukan tehnik Langkah Angin dan Telapak Dewa, Whana bergerak dengan cepat ke arah Srigala Api lainnya.
Bam, bam
Dua Srigala Api lainnya mati.
Bam, bam
Dua lagi terbunuh di tangan Whana. Setiap kali ia berpindah tempat, akan ada dua Srigala Api yang tergeletak mati. Kurang dari lima menit, semua Srigala Api dibantai.
Segera Whana bergegas mengambil bagian tubuh Srigala Api yang dapat dijual. Sedangkan dagingnya ia simpan untuk keluarganya.
Naik dari jurang, Whana tidak mengaktifkan sayap angin. Ia tidak ingin dilihat beberapa orang secara tidak sengaja. Whana melompat dari pohon ke pohon lainnya menuju bukit belakang rumahnya.
"System, buka profile!" ucap Whana pelan.
Nama : Whana
Ras : Manusia
Kultivasi : Transformasi \*7
Poin Pengalaman : 3.610/65.000 (\+)
(+)
Energi Mental : 12/10.000
Keterampilan Aktif :
- Tinju Bumi (9/10),
- Pedang Surgawi (2/10),
- Telapak Dewa (2/10).
Keterampilan Pasif :
- Tehnik Pernafasan (3/10),
- Tehnik Mata Dewa (2/10),
- Langkah Angin (5/10),
- Tehnik Pemulihan (5/10).
Pekerjaan : Array Master (1/10)
Elemen : Api Chaos, Angin
Kupon Undian : 0
Ruang Penyimpanan : 100 meter kubik (\+)
- 5 Pedang tingkat Bumi kualitas Tinggi,
__ADS_1
- 1 Pasang Belati tingkat Bumi kualitas
Tinggi,
3 Baju Pelindung tingkat Bumi kualitas
Tinggi,
1 Topeng Siluman tingkat Surgawi,
1 Pedang Surgawi tingkat Legendaris,
95 Rumput Awan Merah,
10 Daun Tumpang Lawang,
51 ribu Batu Roh tingkat Rendah ....
Poin System : 1.730 Pts
Versi System : 1.0
"Benar saja, jika mengikuti proses kultivasi, entah kapan aku bisa meningkatkan kekuatan," desah Whana setelah melihat Poin Pengalaman di layar panel system.
[Ding! Selamat, Tuan. Penukaran berhasil. Poin System bertambah 1.000 Pts dan Poin Sytem saat ini 2.730 Pts.]
Whana langsung menekan tanda (\+) dibelakang icon Tubuh Naga Kuno sebanyak tiga kali.
\[Ding! Selamat, Tuan. Tubuh Naga Kuno naik level ke level 15. Poin System berkurang 1.800 Pts.\]
"System, kenapa mahal sekali? Bukankah tiap level bertambah 50 Pts?" Whana bertanya dan terkejut melihat Poin Systemnya terkuras.
[Ding! Level 1 sampai 10 selisih tiap level adalah 50 Pts. Level 11 sampai 20 selisih tiap level adalah 100 Pts. Level 21 sampai 30 selisih tiap level adalah 200 Pts. Untuk keterangan selisih selanjutnya tunggu kemampuan Tuan untuk memiliki Poin System.]
"Huh!" Whana hanya bisa pasrah dengan mahalnya Poin System. Kemudian ia menekan level 15 pada Tubuh Naga Kuno untuk membaca keterangannya.
'Level 15 Tubuh Naga Kuno : Dapat menahan pukulan dari kultivator yang memiliki kultivasi lebih tinggi (tiga tingkat). Kebal terhadap senjata tingkat Fana terlepas dari kualitasnya. Dapat membunuh dengan tangan kosong hanya dengan satu pukulan pada kultivasi yang lebih tinggi (90% kekuatan : 2 tingkat).'
Setelah membaca deskripsi level, Whana tersenyum puas.
"Harganya sebanding dengan yang didapt," gumam Whana.
"Kakak, ternyata kamu disini." Dari kejauhan, Dira tampak bersemangat menuju ke arah Whana.
"Tadi aku masuk ke kanar kakak, tapi Kak Whana tidak ada di dalam," lanjut Dira.
Whana tersenyum dan mengetahui bahwa sepertinya ada yang diinginkan adiknya kepadanya. "Ada Apa?"
"Eemmm ...." Dira langsung menunjukkan wajah sedihnya dan duduk di samping Whana.
"Ayo, Bicara!" pungkas Whana pura - pura tidak memperhatikan adiknya.
"Aku bosan di rumah terus. Aku ingin jalan - jalan tapi Ibu dan Ayah masih berkultivasi, jadi...." ujar Dira sambil memutar - mutar tangan kecilnya dan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Jalan - jalan ke toko pakaian, terus makan di restaurant, pasti menyenangkan." Whana melanjutkan seolah tahu apa yang difikirkan adiknya.
"Bagaiman Kakak tahu? Apakah Kakak akan mengajakku sekarang?" seru Dira sambil mengedipkan matanya yang besar penuh semangat.
"Huuaaaaeeemmm, maunya sih ... Tapi Kakak ngantuk." Setelah bicara sambil pura - pura menguap , Whana neninggalkan adiknya kembali ke rumahnya.
"Kakak!" Dira langsung menggembungkan pipinya dengan kesal dan menghentakkan kakinya di tanah beberapa kali.
__ADS_1