
"Ka, ka, kamu ingin membuat menara kultivasi? Menara kultivasi hanya ada di sekte besar daratan Waja dan itu membutuhkan formasi array yang sangat banyak." patriak langsung berseru dan mengucapkan banyak kalimat keraguan.
"Kakek, apakah kau meragukanku?" Whana mengerutkan kening seolah tidak suka dengan kalimat kakeknya.
"Tidak, tidak, tidak. Bukan meragukanmu. Tapi di mana mencari ahli formasi. Bahkan di daratan Liba ini, Kakek belum pernah mendengar ada yang memiliki menara kultivasi." jawab patriak dengan cepat.
"Tenanglah, Kakek. Serahkan saja padaku. Menara yang akan dibuat tidak setinggi menara kultivasi yang pernah Kakek ketahui atau lihat. Bentuknya pun lebih mirip dengan lumbung padi. Jadi orang luar tidak akan curiga bahwa keluarga kita memiliki menara kultivasi." setelah mengatakan itu, Whana langsung membuat gerakan jari yang amat rumit dan muncul cahaya biru keunguan di ujung jarinya.
Wuuusss...
"Apakah Kakek percaya padaku sekarang?" lanjut Whana yang telah melemparkan sebuah formasi array.
"Cucuku, ka, ka, kamu bisa membuat formasi???" rahang patriak jatuh, mulutnya terbuka lebar dan matanya melotot hampir keluar dari rongganya. Bagaimana dia tidak terkejut, belum ada satu pun anggota keluarga Rahngu yang pernah atau mampu menjadi ahli formasi array.
Whana hanya tersenyum dan mengangguk.
Hahaha... Hahaha...
"Cucuku, kamu benar - benar akan mewujudkan impian keluarga kita." patriak yang tertawa sekaligus matanya memerah menatap Whana dengan penuh arti.
Selang beberapa saat, Mori, Moni, Noya, Wina dan Diman datang ke aula utama. Mereka semua adalah saudara sepupu Whana.
"Kenapa kalian datang? Apakah ada yang perlu dibicarakan?" tanya patriak dengan senyum ceria di wajahnya.
"Aku yang meminta mereka datang, Kakek." Whana berkata sebelum para sepupunya menjawab.
"Aku dan Kakak sepupu akan berlatih di Hutan Kematian. Mungkin 2 atau 3 bulan untuk mengasah keterampilan dan meningkatkan kultivasi." imbuh Whana.
Patriak tercengang mendengar apa yang dikatakan Whana. Biasanya, keluarga Rahngu pergi ke Hutan Kematian untuk mencari tanaman obat yang berada di pinggiran luar. Tetapi kali ini mereka, yang generasi muda pergi untuk berlatih. Ia kembali menatap Whana dengan penuh syukur karena telah membangkitkan semangat saudara sepupunya.
"Kalian semua harus berhati - hati. Ingat kuat itu penting, tapi hidup jauh lebih penting." patriak berkata menasehati.
__ADS_1
----- HUTAN KEMATIAN -----
"Adik, di area mana kita akan berlatih?" Tanya Noya.
"Sebaiknya di area pinggiran dalam dulu, jika terlalu mudah kita masuk ke area pinggiran perbatasan." Mori menjawab sebelum Whana mengucapkan apa pun.
Sekitar satu jam kemudian, mereka telah sampai di pinggiran Hutan Kematian dan langsung bergegas ke area pinggiran dalam. Baru 30 langkah, mereka telah bertemu sekelompok binatang buas level 1 dan 2. Ada sekitar 10 ekor yang langsung menatap ke arah mereka.
"Adik, awasi kami. Serahkan ini pada kami!" ucap Mori yang sudah mengetahui kekuatan Whana.
Whana mengangguk dan langsung melompat ke atas pohon. Sedangkan Noya dan Diman yang berada di Tahap Transformasi tingkat 9 mengerutkan kening.
"Kenapa adik tidak ikut membantu kita?" Tanya Noya kepada Mori yang diamini oleh Diman.
"Huh, dia lebih kuat dari kita semua. Ayo serang!" jawab Mori dan langsung menyerang sekelompok binatang buas di depannya.
Suara dentingan pedang dan cakar binatang buas yang menyerupai harimau terdengar berulang kali. Setelah 25 menit, 10 ekor binatang buas itu mati di bawah tusukan dan sabetan pedang kelompok Mori.
"Hahaha, kita panen. Ini mudah. Huh, huh, huh." Mori tertawa senang namun nafasnya terengah - engah.
"Simpan hasil buruan, nanti kita ambil yang berguna darinya. Ayo lanjut!" Whana turun dari pohon dan melangkah ke arah dalam hutan.
Di tengah perjalanan menuju area pinggiran perbatasan, mereka telah bertemu dua kelompok binatang buas dengan level yang hampir sama.
"Ternyata berburu begini sangat menyenangkan. Hasil panen kita lumayan banyak." Noya berseru setelah membunuh 3 kelompok binatang buas.
Semua orang mengangguk setuju, hanya Mori yang tersenyum kecut. Bagaimana pun ia tahu dengan jelas seperti apa hasil buruan Whana. Jika dibandingkan, maka hasil buruan mereka tidak cukup untuk menutupi celah gigi adik sepupunya itu.
"Ah, aku lupa. Ini untuk kalian." Whana mengeluarkan 5 botol giok berwarna putih susu dan memberikannya kepada 5 saudara sepupunya.
__ADS_1
"Pil Pemulihan \*4?! Ini sangat langka di kota Ragane." Noya berseru setelah membuka tutup botol giok.
Semua orang juga membuka tutup botol giok untuk memastikan apa yang diucapkan Noya. Mencium aroma dan melihat isi botol giok, mereka juga tercengang.
"Adik, terima kasih." ucap mereka ber-5 serempak.
"Ayo, masuk lebih dalam." Whana hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.
Sampai di area pinggiran perbatasan, kelompok Whana segera waspada.
"Kita akan masuk terus hingga bertemu dengan jurang. Nah, kita akan berlatih ke arah selatan di pinggiran jurang sampai sore hari. Apakah ada yang keberatan?" Whana menyampaikan rencananya.
"Adik, kenapa kita tidak ke utara tapi harus ke selatan?" Diman kali ini bertanya penasaran.
"Di utara ada Monster Hijau besar di seberang jurang, yang sewaktu - waktu dapat melompat dengan mudah. Apakah kita akan ke utara?" Whana menjelaskan dengan serius sehingga suasana menjadi sedikit tegang.
"Tidak, tidak, tidak, kita ke selatan saja." Noya langsung memilih arah selatan setelah mendengar perkataan Whana.
Di perjalanan menuju jurang, mereka bertemu 1 atau 2 ekor binatang buas level 3. Namun karena mereka menang jumlah, binatang buas yang mereka temui dapat dengan mudah mereka kalahkan.
"500 meter lagi kita sampai di tepi jurang." Whana memberi tahu kelompoknya.
Baru melangkah 100 meter, 20 Srigala Api level 4 menatap Whana dan kelompoknya. Whana tersenyum melihat gerombolan Srigala Api ini. Dia mengingat bahwa Srigala Api adalah binatang buas pertama yang ia temui ketika ia tiba di dunia ini.
Sebelum kelompok Mori menyerang, gerombolan Srigala Api telah lebih dulu melompat dan menerkam. Mori dan yang lain bertarung sekuat tenaga dan terlihat sangat kewalahan.
Noya dan Diman yang memiliki kultivasi terkuat berteriak dengan keras sambil mengayunkan pedangnya ke arah Srigala Api. Satu Srigala Api terbunuh, namun Noya terluka di bagian punggungnya karena cakaran Srigala Api.
Sedangkan Mori juga sudah terlihat lelah, bahkan belum membunuh satu pun. Begitu juga dengan Moni dan Wina yang terdesak oleh 4 ekor Srigala Api. Melihat ini, Diman melompat dan menebaskan pedangnya ke arah Srigala Api yang hendak menerkam Wina. Srigala Api itu terjatuh tapi hanya mendapatkan luka sayatan.
__ADS_1
Whana yang melihat situasi saudara sepupunya sudah tidak memungkinkan, langsung melompat dari atas pohon. Dengan satu pukulan telapak tangan, 3 Srigala Api langsung terlempar dan mati seketika. Whana beralih dengan cepat ke arah Mori dan memukul ke arah gerombolan Srigala Api yang menyerang.