Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 9


__ADS_3

Whana berdiri di depan celah batu. Kemudian ia mulai melakukan gerakan yang sangat rumit dengan jari-jari tangannya.



Yap! Yang Whana lakukan adalah proses membuat formasi array. Formasi array yang Whana buat sangat berbeda dari kebanyakan array yang ada di daratan Liba. Bahkan, grand master array akan sulit mengenal atau memecahkan formasi array buatan Whana. Hal ini dikarenakan formasi array yang Whana buat merupakan Array Kuno yang keberadaannya sudah dianggap hilang dari dunia ini.



"Array ilusi," teriak pelan Whana sambil melemparkan seberkas cahaya keunguan ke arah celah batu. Seketika celah batu itu tidak nampak lagi bahwa disitu ada celah. Seolah-olah batu itu adalah batu yang utuh.



\[Ding! Selamat Tuan. Level Array Master telah naik level. Level saat ini adalah 1/10\]



Mengabaikan notifikasi system di benaknya, Whana berjalan ke seberang sungai, dimana arah itu adalah menuju ke luar dari Hutan Kematian. Whana ingin segera pulang untuk memberikan obat kepada ayahnya. Selain itu, Whana takut orang tuanya terlalu mengkhawatirkannya sehingga melakukan hal-hal yang tak terduga.



Whana memanjat dinding tebing dengan menggunakan tehnik Langkah Angin. Dalam sekejap, ia sudah berada di atas tebing.



Dalam perjalanan kembali, Whana telah bertemu dengan berbagai binatang buas yang tentunya dapat Whana tangani denga mudah. Selain bagian berharga dari binatang buas yang dibunuhnya, Whana juga mendapat berbagai tanaman obat yang mungkin berguna untuk orang tuanya atau ia tukarkan dengan poin system.



Ketika sampai di pinggiran hutan luar, kultivasi Whana telah mencapai Transformasi tingkat Keenam. Berbagai tehnik juga mengalami peningkatan yang signifikan dan tentu saja sangat berguna untuk Whana.



Tepat hampir menuju tepi hutan, Whana mengaktifkan tehnik pernafasan dan menyembunyikan kultivasinya di Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kelima. Hal ini di lakukannya agar tidak terjadi kegemparan di seluruh Kota Ragane bahkan di seluruh daratan Liba.



Dengan menyembunyikan kultivasi sampai Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kelima saja, sebenarnya akan membuat keributan di Kota Ragane. Bagaimanapun, dalam waktu dua hari, Whana telah menembus dari Tahap Kelahiran tingkat Kedelapan langsung ke Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kelima. Enam tahap dalam dua hari adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Namun Whana dapat menemukan alasan yang masuk akal jika nanti orang tuanya bertanya.



Melihat matahari telah condong ke barat, menunjukkan hari sudah sore, Whana langsung menuju kota Ragane, ke kios yang menerima bahan berharga dari binatang buas dan monster.



Whana melihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan mata terpejam di dalam kios.



"Permis, Paman. Saya mau menjual bahan dari binatang buas dan monster," Whana segera mengutarakan tujuannya.

__ADS_1



"Oh, sini! Bawa sini aku ingin melihatnya," sahut pria paruh baya itu dengan malas. Ia berfikir bahwa bocah usia lima belas tahun dengan kultivasi Pembentukan Tubuh tingkat Kelima, paling banter hanya untuk beberapa puluh koin perak atau satu koin emas paling banyak.



"Disini, Paman?" Whana ragu-ragu sejenak karena biasanya tempat untuk meletakkan bahan-bahan dari binatang buas atau monster adalah di ruang bagian dalam. Namun itu justru di lobi kios yang dapat dilihat oleh pengunjung kios.



"Iya, disini!" sahut pria paruh baya itu dengan acuh tak acuh.



Tanpa mengucapkan apa pun lagi, Whana langsung mengeluarkan hasil buruannya di tempat. Seketika tumpukan bahan dari binatang buas dan monster menggunung di lobi kios.



Pria paruh baya itu langsung berkata. "Oh, bahan monster da-...." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, matanya membelalak dengan kaget. Tatapannya secara bergantian antara hasil buruan dengan wajah Whana beberpa kali.



Begitu juga dengan beberapa orang pengunjung yang sedang mencari sesuatu di kios itu. Rahang mereka terbuka lebar. Bahkan mungkin lima telur ayam dapat langsung masuk ke mulut mereka.




"Dari Hutan Kematian," jawab Whana singkat dan santai.



"Cepat masukkan kembali! Kita hitung di dalam!" pinta pria paruh baya itu dengan sopan. Seketika sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat terhadap Whana.



Setelah dilakukan perhitungan, pria paruh baya itu berbicara kepada Whana. "Setelah dihitung, semuanya dua puluh ribu koin emas. Bagaimana teman kecil?"



"Oke." Whana mengangguk setuju. Lalu ia mengambil setumpuk koin emas dan memasukkan nya ke dalam tas ruang.



"Teman Kecil, jika kamu berburu lagi, jangan sungkan untuk datang ke kiosku. Aku akan memperhatikan harga untuk Teman Kecil," ucap pria paruh baya itu dengan antusias.



"Oke, terimakasih." Whana membungkuk sedikit kepada pria paruh baya itu dan langsung kembali ke keluarga Rahngu.

__ADS_1



"Bocah yang luar biasa. Tehnik apa yang digunakan untuk berburu? Semua binatang buas hasil buruannya jelas jauh di atas kultivasinya. Apalagi dua belas monster itu. Apa dia dibantu oleh orang lain?" desah dan tanya pria paruh baya itu sambil memandangi punggung Whana yang semakin menghilang dari pandangannya.



\*



"Bukankah itu Whana Rahngu? Bukankah berita yang tersebar bahwa dia diterkam binatang buas?" tanya seorang pejalan kaki kepada rekannya.


Di perjalanan banyak pasang mata yang menatap ke arah Whana dengan penuh tanya, heran, terkejut dan takjub.



"Hei! Dia sudah berada di Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kelima! Siapa yang bilang Tuan Muda Whana masih berada pada Tahap Kelahiran?" pejalan kaki lainnya juga mengajukan tanya.



Whana tidak menanggapi tatapan dan ucapan beberapa pejalan kaki yang di dengarnya dan dilihatnya. Ia terus melangkahkan kakinya dengan santai menuju rumahnya. Sesampainya di pintu gerbang keluarga Rahngu, dua orang penjaga langsung terkejut.



"Tuan Muda, anda kembali. Tuan dan Nyonya sangat cemas." seorang penjaga berkata kepada Whana.



Whana hanya menanggapinya dengan senyuman dan memberi mereka masing-masing satu koin emas. "Ini untukmu"



"Terimakasih, Tuan Muda. Terima kasih." sambil menatap punggung Whana yang meninggalkan mereka dari pintu gerbang, dua penjaga itu saling memandang dengan penuh syukur.



Bagaimana tidak, satu koin emas itu sama dengan seratus koin perak. Sedangkan upah mereka dalam sebulan hanya sepuluh koin perak. Dengan satu koin emas, dapat menghidupi keluarga kecil mereka selama sepuluh bulan. Tanpa sepengetahuan Whana mereka diam-diam menetapkan hati untuk selalu setia kepada Whana dan keluarganya.



Whana langsung menuju rumahnya yang sederhana. Semenjak ayahnya tidak lagi menjabat sebagai panatua di keluarga Rahngu, mereka dipindahkan pada fasilitas biasa di keluarga.



Sesampainya di depan pintu, Whana melihat ibunya duduk di kusi sambil menangis. Dira, adik Whana, juga menangis terisak di sebelah ibunya. Hanya Rimo yang terdiam sedih, berdiri agak jauh dari ibu dan adiknya.



Merasa ada seseorang di depan pintu, Rimo langsung menatap ke arah pintu. Kebetulan posisi Rimo tepat menghadap pintu. "Nyonya, Tuan Muda Wha ..." sebelum kalimat Rimo selesai, ibu dan adik Whana semakin menangis sedih.

__ADS_1


__ADS_2