
"Paman benar. Sesampainya di Kerajaan aku akan menceritakan semuanya kepada Ayah. Jika dia tidak membawaku kesini, mungkin aku sudah mati," Wandira melanjutkan ungkapan terima kasih Iyon.
"Biasanya, inilah yang disebut cinta pada pandangan pertama, hahaha ...," ledek lelaki tua itu pada gadis bernama Wandira yang langsung menghilangkan suasana sedih dan haru.
"Tetua! Apa yang kau bicarakan?!!" ketus Wandira dengan menyolot, namun ada rona merah di pipinya, menandakan hatinya merasa senang dan berbunga - bunga.
\*\*\*
Pada saat yang sama, Whana berteleportasi dari pohon ke pohon dengan waspada penuh. Mengapa? Karena dari sepuluh orang yang diserang racun, notifikasi system hanya memastikan delapan orang yang telah tewas. Artinya masih ada dua orang lagi yang masih hidup.
Pada jarak dua kilo meter dari tempat pertempuran sebelumnya, Whana berhenti dan duduk di dahan pohon yang tinggi sambil memasukkan mayat seorang lelaki tua ke tas ruang.
Mengingat masih ada empat orang yang mengejarnya ketika ia membawa gadis yang bernama Wandira, untuk berjaga - jaga, Whana mulai mengumpulkan embun seukuran bola basket dan meneteskan racun jiwa ditambah dengan elemen kegelapan.
Sambil memandangi bola embun beracun buatannya, Whana berkata di dalam hati. 'Ini bisa menjadi bom nuklir ketika di Bumi. Karena ini buatanku, seharusnya menggunakan namaku. Whaklir? Naklir? Ah, kenapa tidak enak didengar?!'
Seketika Whana tersenyum konyol. 'Kenapa pikiranku jadi koplak?! Hahaha ....'
Selesai dengan pikiran konyolnya, Whana membagi bola embun beracun buatannya menjadi sepuluh bagian menjadi kecil, lalu membungkusnya dengan energi mental seperti sebelumnya.
'Ini bisa menjadi cadangan jika bertemu dengan hal sial,' mengatakan itu di benak, Whana menyimpan sepuluh senjata barunya itu.
\[Ding! Selamat Tuan. Karena telah mampu menciptakan senjata sendiri, Tuan mendapatkan hadiah satu Kupon Undian.\]
"Eh?" Whana tertegun sejenak tetapi langsung bersemangat gembira mendengar notifikasi System di benaknya.
Kembali fokus, Whana menyebarkan persepsinya lebih luas dan mengetahui bahwa ada delapan orang dalam jangkauan persepsinya. Dua dalam keadaan lemah dan enam lainnya masih dalam kondisi segar bugar.
Perlu diketahui, bahwa sekali pun Whana menyebarkan persepsinya, hal ini tidak akan disadari oleh orang lain, kecuali orang tersebut berada pada Tahap Kaisar Alam tingkat Tinggi. Ini dikarenakan Tehnik Pernapasan yang dimiliki Whana. Yang disebut tinggi adalah tingkat Ketujuh, Kedelapan dan Kesembilan dalam setiap tahap kultivasi.
'Kenapa orangnya bertambah? Apa masih ada yang tiba sebelumnya.' gumam Whana di hati.
'Mata Dewa!'
Sesuai dengan persepsinya. Whana melihat keenam orang ini sedang berlutut di depan seorang lelaki tua. Lelaki tua itu sedang menyandarkan tubuhnya dengan lemah pada sebuah batu besar di tepi lahan agak lapang.
__ADS_1
'Bagaimana aku akan melemparkan embun beracun ini? Jika aku langsung melawan mereka berenam yang berada pada Tahap Prajurit Alam, aku bisa dicekik sampai mati,' otak Whana terus berputar mencari cara menyerang secara diam - diam.
Tiba - tiba dua orang terbang dengan santai ke arahnya. Whana menyeringai dan bergumam di dalam hati. 'Pucuk dicinta, ulam pun tiba.'
Whana kemudian menuju dahan pohon dengan dedaunan yang sangat lebat. Mencari posisi yang akan dilewati dua orang yang sedang menuju ke arahnya.
Tepat ketika jarak kedua orang itu dengan Whana sekitar lima meter, Whana langsung melemparkan embun beracun ke arah mereka. Seketika mereka jatuh dari udara.
Gedebuk, gedebuk
Whana tetap diam menunggu reaksi racun empedu.
"Ah, kenapa kepalaku sakit sekali secara mendadak," kata orang pertama.
"Aku juga, seluruh tulangku juga sangat nyeri," orang kedua menimpali.
Detik berikutnya ....
Buk, buk
Kepala kedua orang itu langsung terpisah dari badannya.
Whana mendarat secara perlahan dari atas pohon, dan memeriksa tubuh kedua orang yang baru saja dipenggalnya dalam senyap.
'Baju besi Kerajaan?' Whana terheran karena kedua orang yang dipenggalnya menggunakan baju besi Kerajaan, ditutupi baju dari kain pada umumnya.
Tanpa banyak berpikir lagi, Whana langsung melepas dan mengambil semua benda berharga dari kedua tubuh mayat. Mengeluarkan Topeng Siluman dan langsung mengubah penampilannya menjadi salah satu dari orang yang dipenggalnya barusan.
'Masih ada puluhan mayat, berarti harta masih tersebar. Mari panen,' sambil tersenyum, Whana berlari menuju orang yang tersisa seraya berteriak dan mengubah ekspresinya seolah tak berdaya. "Kami terkena racun, kami terkena racun."
Melihat rekan mereka yang berlari terseok - seok dan berteriak karena keracunan, keempat orang yang masih segar bugar bergegas menghampiri Whana yang sedang menyamar.
__ADS_1
"Dimana kamu terkena racun?" tanya salah seorang dari mereka berempat.
Whana berpura - pura ketakutan dengan kondisi lemah, dan berkata sambil tergagap. "Di- di- di- di- ...."
"Tenangkan dirimu! Katakan di mana orang yang meracunimu!" Orang yang sama bertanya lagi.
"Di sini!" berbarengan dengan kata itu Whana langsung memecahkan embun beracun, lalu menghilang dari tempatnya seketika.
Keempat orang yang sedang mengelilingi Whana barusan saling memandang satu sama lain. Mereka tertegun dengan sorot mata penuh kebingungan dengan perubahan peristiwa yang begitu tiba - tiba.
"Sial! Kita ditipu. Aarrgghh ... Kepalaku sakit," teriak mereka berempat, jatuh ke tanah dan berguling - guling kesakitan.
Sedangkan Whana, langsung muncul di belakang dua orang yang sedang bersandar di sebuah batu di tepi lahan lapang. Keduanya sudah terkena racun jiwa milik Whana sebelumnya.
Dengan masih menggunakan penyamarannya, Whana berkata dengan nada mengejek. "Apakah kamu tidak bisa menggunakan energimu? Betapa malangnya ...."
"Kamu? Kamu penghianat?" pekik seorang lelaki tua yang langsung memarahi Whana begitu melihat bahwa suara itu berasal dari bawahannya sendiri.
Whana tersenyum main - main. "Oh, penghianat? Aku suka julukan itu. Apakah kamu tidak suka?"
"Aku akan melipatgandakan upahmu dalam misi ini. Berikan aku penawarnya!" lelaki tua itu berkata sambil mengadahkan tangan kanannya.
Whana semakin penasaran dengan kejadian ini. Dan ini adalah misi. Misi untuk apa? Untuk mengobati rasa penasarannya, Whana terus memancing dalam kalimat rubah tua di depannya.
"Hanya melipatgandakan? Ah, sebentar saja pasti habis," balas Whana dengan senyum mengejek. Seolah ia sama sekali tidak tergiur dengan nilai yang di tawarkan.
"Tentu saja tidak hanya itu. Sejak kamu membantuku melengserkan Raja Hipajama, kau akan aku jadikan salah satu Menteri Utama. Bagaimana?" lelaki tua itu kembali memberi penawaran tambahan.
"Hmm ... Dari melihat tampangmu, sepertinya sulit untuk dipercaya. Tidak ada jaminan bahwa nantinya kau tidak akan membunuhku," sahut Whana dengan santai, seakan tidak peduli dengan tawaran uang maupun jabatan.
Lelaki tua itu berpikir dalam benaknya. 'Bajingan tengik ini ternyata lebih sulit dari yang aku bayangkan.' Ia kemudian mengeluarkan sebuah benda berbentuk bintang dengan enam sudut, terbuat dari emas seukuran telapak tangan seorang balita.
__ADS_1
"Ini adalah kunci sekaligus peta ruang hartaku. Semua harta adalah harta rampasan perang dan entah berapa kali aku telah berperang. Bawa ini sebagai jaminan bahwa aku tidak akan membohongimu," selesai mengatakan itu, si lelaki tua melemparkan kunci berbentuk bintang kepada Whana.