
"Hei, kenapa kamu begitu bersemangat setelah mendengar nama Whana? Apakah kamu mengenalnya?" Wandira berkata curiga dengan sikap aneh yang ditunjukkan Dayu.
"Oh, tidak. Tidak ada. Tidak ada. Aku tidak mengenalnya. Yang aku tahu dia sering membantu anak - anak di Rumah Asuh yang ada di kota ini," entah mengapa Dayu menjadi tergagap seolah tertangkap basah.
"Jangan bilang kau menyukainya," cecar Wandira yang menunjukkan ekspresi tidak senang.
"Tidak! Apa kau menyukainya?" Dayu balik bertanya dengan ekspresi yang hampir sama.
"Tidak!" jawab Wandira singkat.
Hahaha ... Semua orang yang hadir tertawa terbahak - bahak melihat aksi kocak dari kedua gadis remaja di depan mereka.
"Jika kalian tidak ada yang menyukainya, maka bibi masih punya kesempatan. Kebetulan bibi sudah lama menjadi janda," ledek perisa dengan senyum mempesona.
Di luar dugaan semua orang yang hadir, kedua gadis itu berteriak serempak. "TIDAK!!!"
"Hahaha ... Hahaha ... Hahaha ...," gelak tawa semua orang semakin keras atas tindakan tidak terduga itu.
\*\*\*
Tiga hari berlalu dengan cepat. Wandira dan kelompoknya telah kembali ke daratan Waja dua hari yang lalu. Mereka meninggalkan Kota Ragane dengan menunggangi elang raksasa dengan pengawalan ketat ratusan prajurit elit pimpinan Jendral Banyu.
Dayu dan Jendral Pon juga kembali ke penginapan makmur. Sedangkan Whana tetap di kediaman keluarga Rahngu membantu pembangunan rumah baru bagi anak - anak di Rumah Asuh.
KELUARGA RAHNGU
"Adik, terima kasih atas bantuanmu beberapa hari yang lalu. Dengan koin emas yang kamu berikan, aku bisa membeli Pil Mida Bintang Dua untuk mengatasi kemacetanku," Mori yang baru saja selesai menerobos ke Tahap Transformasi tingkat Kelima berkata dengan penuh semangat.
Whana langsung meletakkan batangan kayu dan menyerahkannya kepada pekerja yang ada di sebelahnya.
"Baguslah, aku ikut senang. Apa Kak Mori sudah menstabilkan kultivasi? Jika belum, besar kemungkinan kultivasimu tidak akan kokoh," ujar dan tanya Whana dengan tersenyum, lalu duduk di gubuk bambu yang berada di dekat area pembangunan rumah.
__ADS_1
"Belum. Mungkin butuh satu bulan untuk menstabilkannya. Tapi bagaimana pun aku sangat berterima kasih. Jika bukan karenamu, kemacetan terobosanku akan mencapai dua tahun di bulan depan," sahut Mori dengan ekspresi penuh syukur.
Sebelum Whana akan membuka mulutnya, Mori melanjutkan kalimatnya lagi. "Adik, aku minta maaf atas tindakanku di masa lalu. Aku terlalu serakah."
"Hahaha ... Tidak perlu minta maaf. Aku sudah melupakannya. Lagi pula tidak ada seorang pun yang tidak pernah melakukan kesalahan, termasuk diriku sendiri. Ini untuk pondasimu," Whana tertawa ringan dan menyerahkan botol giok yang berisi lima butir Pil Penguat Tubuh Bintang Tiga.
Mori tertegun mendengar jawaban Whana. Karena menurutnya, adik sepupunya terasa lebih dewasa dari pada dirinya sendiri. Bahkan terkesan bijak dalam kata - katanya.
Melihat botol giok yang berisi lima butir Pil Bintang Tiga. Mori terasa ingin menangis dan semakin menyesali tindakannya di masa lalu terhadap Whana.
"Ini, ini, ini terlalu berharga. Adik, aku tidak bisa ...."
Sebelum selesai dengan ucapannya, Whana menyela sambil tersenyum. "Tidak apa - apa, pakailah dan jika beruntung, cukup dua butir dalam tiga hari pondasimu sudah kuat dengan kultivasimu yang sekarang."
"Jika Kak Moni sudah keluar dari pelatihan tertutupnya dan pil ini masih ada sisa, berikan padanya untuk memperkuat pondasinya!" imbuh Whana.
"Adik, terima kasih," ucap Mori dengan sungguh - sungguh.
Mori langsung kembali, namun beberapa saat kemudian ia kembali lagi ke tempat Whana dengan lima orang laki - laki yang seumuran dengan Mori, usia sembilan belas hingga dua puluh satu tahun.
Karena kebaikan Wahna dengan membagikan koin emas yang menurut mereka tidak kecil, antusiasme mereka tergerak ketika mendengar ajakan Mori untuk membantu Whana membangun rumah yang begitu besar sesuai dengan arahan dari arsiteknya.
\[Ding! Proses penyerapan telah selesai.\]
\[Ding! Selamat Tuan. Energi Jiwa telah bertambah 100 poin.\]
'Akhirnya ...,' ucap Whana di dalam hati dengan kegembiraan.
'System, upgrate ke versi 2!' perintah Whana di benaknya.
\[Ding! Proses ugrate versi 1 ke versi 2 membutuhkan waktu tujuh kali dua puluh empat jam. System akan dinonaktifkan. Harap Tuan untuk berhati - hati! Proses dimulai 0,1% ....\]
\*\*\*
__ADS_1
KELUARGA NYLON
Keesokan harinya, Hamid Nylon telah kembali ke kediaman keluarga Nylon bersama ayahnya.
Sebelumnya, mereka pergi untuk memeriksa lahan keluarga Nylon di pegunungan Embuh. Pegunungan ini terletak di sebelah selatan pusat kota Ragane, tepatnya di perbatasan antara Kota Ragane dan Kota Yalame, dua ratus lima puluh kilo meter dari Hutan Kematian.
Lahan keluarga Nylon di pegunungan ini telah dijaga ketat oleh keluarga Nylon. Bahkan salah satu tetua dari akademi Surgawi yang juga merupakan kakak dari patriak keluarga Nylon telah mengerahkan sejumlah besar murid. Belum lagi sejumlah ahli yang telah disewa oleh keluarga Nylon sendiri.
Penjagaan ketat ini akibat telah di temukannya batu berharga yang disebut Batu Gudig. Ukuran dan bentuknya sama dengan Batu Roh. Yang membedakan adalah warna dan kualitas energi alam yang terkandung di dalamnya.
batu Gudig yang berwarna hijau cerah dan terdapat bintik - bintik hitam di dalamnya. Nilai energinya adalah setengah dari Batu Roh tingkat Rendah atau jika dikonversi menjadi koin emas, nilainya lima ratus koin emas untuk satu Batu Gudig.
Untuk saat ini, hampir setengah dari salah satu gunung di pegunungan Embuh adalah calon lahan tambang bagi keluarga Nylon. Dapat dibayangkan betapa kaya rayanya keluarga Nylon jika Batu Gudig tersebut adalah satu gunung utuh.
Penemuan ini telah membuat patriak dan seluruh anggota keluarga Nylon terbang kelangit. Mereka akan menjadi keluarga kelas satu bahkan kelas teratas di Kota Distrik Nabrajem. Tentu saja hal ini akan membuat keluarga Nylon semakin arogan dari sebelumnya.
"Kenapa mereka belum kembali dari Hutan Kematian?" gumam Hamid yang tidak menemukan keberadaan para pengawal pribadinya begitu tiba di kediamannya.
"Coba periksa!" ayah Hamid yang mendengar gumaman anaknya segera menanggapi.
\*\*\*
Pada waktu yang sama
KELUARGA RAHNGU
Seperti hari kemarin, pagi - pagi sekali Whana sudah ikut membantu para pekerja dalam membuat rumah yang cukup besar, dan terbesar dari seluruh rumah yang ada di kediaman keluarga Rahngu.
Selain itu, sejumlah kamar pribadi juga telah ditambahkan dalam perencanaan oleh patriak Rahngu yang tidak lain adalah kakek Whana sendiri.
Lima belas menit kemudian, Mori dan beberapa orang lainnya datang, tetapi hari ini ada tambahan tiga orang lagi yang juga termasuk saudara sepupu Whana.
Melihat Whana dan para saudaranya ikut bekerja, sang mandor pun keheranan. Pasalnya ini adalah kali pertama dirinya melihat keluarga pemberi kerja juga ikut bekerja. Bahkan tanpa mengurangi biaya kontrak kerja.
__ADS_1