Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 35


__ADS_3

Kedua orang pria itu terkejut ketika pemandangan di depan mereka berubah seketika.



"Paman! Tetua!" gadis muda yang tiba lebih dulu di dalam pohon berseru gembira dan langsung menangis.



Melihat gadis itu kindisinya telah pulih bahkan luka - lukanya mulai berkurang, lelaki tua itu terkejut. "Lukamu?"



"Pemuda ini memberiku Pil Pemulihan, Tetua." jelas gadis muda itu mengerti dengan pertanyaan si lelaki tua.



Namun sebelum lelaki tua itu berbicara lagi. Iyon, pria paruh baya yang bersama lelaki tua itu memuntahkan seteguk darah dan jatuh tidak sadarkan diri. Sontak gadis muda itu berteriak melihat keadaan pamannya yang juga adik kandung dari ayahnya.



Whana langsung memegang nadi di leher pria yang pingsan itu dan merasakan detak jantungnya melambat.



'System, adakah yang bisa aku lakukan?' tanya Whana di benaknya.



\[Ding! Tuan memiliki Air Kehidupan yang berlimpah. Cukup setetes, selagi masih bernafas, maka akan tertolong bahkan dengan vitalitas yang lebih baik.\]



Whana langsung mengeluarkan botol kristal bening yang telah diatur system berisi tiga tetes.



"Tetua, tolong buka mulutnya semoga ini bisa membantu," pinta Whana kepada lelaki tua di sebelahnya.



Whana kemudian meneteskan setetes Air Kehidupan ke mulut pria yang tidak sadarkan diri. Sekitar lima detik berikutnya, cahaya hijau keluar dari seluruh pori - pori tubuh pria yang pingsan itu. Tak lama berselang, si pria paruh baya membuka matanya perlahan dan langsung mengambil posisi duduk tegak.



Mengetahui situasinya yang terbebas dari kematian, ia langsung berlutut di depan Whana. Namun sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, Whana memegang bahu pria yang berlutut itu dan membantunya untuk berdiri.



"Paman, maaf jika sebelumnya aku memanggilmu dengan sebutan paman. Jujur saja aku tidak suka dan tidak akan berlutut pada siapa pun kecuali kepada kedua orang tuaku. Begitu juga sebaliknya, aku tidak ingin siapa pun berlutut di depanku, apalagi orang yang lebih senior dariku." Whana berkata sambil tersenyum.



"Terima kasih, Teman Kecil. Jika bukan karena bantuanmu, kami bertiga mungkin sudah mati." ucap lelaki tua dengan tulus dan membungkuk di depan Whana yang diikuti oleh pria paruh baya dan si gadis.


__ADS_1


"Apakah ada seorang lelaki tua dengan jubah hijau bersama kalian sebelumnya?" tanya Whana yang teringat pada orang tua yang ia temukan sebelumnya.



"Benar, apa kau tahu di mana dia sekarang?" tanya si gadis.



"Ah, maaf. Aku menemukan jenazahnya sekitar tiga kilo meter dari sini. Dan meletakkannya di atas pohon agar tidak dimakan binatang buas atau monster," jawab Whana menyesalkan hal yang terjadi.



Mendengar apa yang dikatakan Whana, ketiga orang itu langsung terduduk di lantai kayu sambil menghela nafas panjang dengan ekspresi sedih.



"Anda bertiga beristirahat disini untuk memulihkan energi. Mereka tidak akan menemukan tempat ini. Ketika situasi aman, anda bertiga dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang," sambil tersenyum Whana berkata memberi saran.



"Terima kasih, Teman Kecil. Apakah ini tempat tinggalmu?" sahut pria paruh baya.



"Ini hanya tempat persinggahan sementara, kebetulan aku menemukannya ketika sedang berlatih di hutan ini." Whana menjawab dengan ramah.



"Tetua, di botol ini masih ada dua tetes. Gunakan ini untuk menyembuhkan luka dalammu dan setetes lagi bisa menyembuhkan luka - luka Nona." sambil menyerahkan botol kristal bening yang berisi Air Kehidupan, Whana berkata dengan singkat.




"Luka dalam? Dari nafasmu, Tetua. Dan ini memang Air Kehidupan. Aku menemukannya tanpa sengaja tiga bulan lalu," jawab Whana dengan santai seolah tidak ada yang istimewa dengan air kehidupan yang di perolehnya.



"Tapi ini sangat berharga, bahkan bisa menyebabkan perang besar hanya untuk setetes," tetua itu berkata dengan enggan. Ia merasa telah menerima sesuatu yang tidak tergantikan.



"Tidak apa - apa. Mungkin benda yang aku temukan ini berjodoh dengan kalian bertiga," kata Whana seraya melambaikan tangannya.



\[Ding! Berhasil membunuh kultivator Tahap Prajurit Alam tingkat Ketiga. Poin Pengalaman bertambah ....\]



\[Ding! Berhasil membunuh kultivator Tahap Prajurit Alam tingkat Kesembilan. Poin Pengalaman bertambah ....\]



\[Ding! Berhasil membunuh kultivator Tahap Raja Alam tingkat Keempat. Poin Pengalaman bertambah ....\]

__ADS_1



Mendengar notifikasi system di benaknya, Whana berkata kepada ketiganya sambil menunjuk ke arah lubang kayu berbentuk oval. "Aku akan memeriksa keadaan di luar. Anda bertiga akan aman disini selama tidak keluar ke lubang itu."



"Maafkan aku, Tetua dan Paman, bukan maksudku meremehkan kekuatan Anda berdua. Sekali pun Anda berdua berada pada Tahap Kaisar Alam dan Raja Alam, monster di area hutan ini juga memiliki kekuatan yang sama bahkan lebih tinggi. Aku pergi dulu."



Cling



Melihat Whana yang menghilang secara tiba - tiba, kedua orang itu tertegun cukup lama, lalu saling memandang satu sama lain dengan gerakan yang serentak.



"Iyon, apa kau melihat gerakan kecepatannya?" tanya lelaki tua kepada pria paruh baya yang di sebelahnya, Iyon.



Iyon hanya menggelengkan kepalanya, tapi ketika mereka melihat gadis di sebelahnya telah menutup mulutnya karena menahan tawa, mereka tidak bisa untuk tidak bertanya. "Kenapa kamu tertawa?"



"Hahaha ..... Aku kira hanya aku yang mengalami kondisi tercengang melihat pemuda tampan itu menghilang. Ternyata Tetua dan Paman juga sama, bahkan ekspresinya lebih parah dariku, hahaha ...," si gadis menjawab dan masih tertawa.



Lelaki tua itu memutar matanya mendengar jawaban konyol dari gadis muda itu.



"Pemuda ini tidak sesederhana kelihatannya. Dengan kultivasinya yang sangat rendah, ia mampu mengetahui tingkat kultivasi kita berdua. Hampir enam ribu tahun aku hidup, ini pertama kalinya aku bertemu orang seaneh ini. Apalagi dia masih sangat muda," ujar lelaki tua kepada kedua orang di sebelahnya. Tampak ada kekaguman dalam nada suaranya.



"Benar, Tetua. Kecepatannya melebih kecepatanku. Apakah anak muda ini sebenarnya seorang kultivator ranah Dewa?" Iyon menimpali ucapan lelaki tua itu.



"Tidak mungkin! Usia tulangnya berumur lima belas tahun dan usia tulang tidak dapat disembunyikan setinggi apa pun tahap dan ranahnya," sanggah sang lelaki tua.



"Lima belas tahun? Berati dia lebih muda dariku?" seru si gadis begitu mendengar usia Whana yang disebutkan oleh lelaki tua itu.



"Tetua, sebaiknya lekas gunakan Air Kehidupan ini untuk menyembuhkan lukamu dan luka Wandira. Ini adalah rahmat dari pemuda itu. Aku dan seluruh keturunanku tidak akan pernah melupakan kebaikannya," Iyon berkata dengan mata merah dan berkaca - kaca. Tanpa kehadiran pemuda itu, mungkin nyawanya bahkan keluarganya akan musnah.



"Paman benar. Sesampainya di Kerajaan aku akan menceritakan semuanya kepada Ayah. Jika dia tidak membawaku kesini, mungkin aku sudah mati," Wandira melanjutkan ungkapan terima kasih Iyon.

__ADS_1


__ADS_2