
"Kamu punya adik perempuan?" tanya Wandira.
Whana mengangguk dan menjawab. "Ya, namanya Dira Rahngu, usianya baru sepuluh tahun."
"Baiklah, kita istirahat dulu. Besok kita berangkat ke Kediaman Tuan Kota. Oya, maaf. Tempatnya seperti ini," lanjut Whana seraya tersenyum menunjukkan sekeliling ruangan.
"Oh! Tidak, Teman Kecil. Ruangan ini sangat luar biasa. Kami sangat berterima kasih denganmu," ucap tetua Bagata dengan tatapan tulus.
"Sama - sama," Whana mengangguk dan tersenyum. Kemudia berjalan mendekati lubang oval di dinding ruang pohon, bersandar sambil memejamkan matanya.
Sesaat kemudian, cahaya Api Chaos yang terang seperti neon perlahan mulai meredup. Membuat suasana semakin nyaman dan terkesan romantis. Ini membuat Wandira semakin terpana akan pemuda yang baru saja menyelamatkannya dari kematian.
'Tidak hanya tampan. Dia juga sangat sopan,' Wandira berkata di dalam hatinya dan tidak mengalihkan tatapannya dari wajah Whana.
Berbeda dengan tetua Bagata dan Iyon. Mereka terkejut menyaksikan cahaya itu meredup berubah warna menjadi sedikit kekuningan.
"Kontrol yang luar biasa. Jika aku tidak melihatnya sendiri hari ini, aku tidak akan percaya bahwa kejadian ini nyata," bisik tetua Bagata kepada Iyon.
Iyon mengangguk sebagai tanggapan bahwa dia pun memiliki pemikiran yang sama dengan tetua Bagata.
Di dalam pikirannya, Whana mulai memeriksa cincin penyimpanan hasil panennya selain milik lelaki tua dan Jendral bodoh itu.
Whana benar - benar terkejut dengan isi dari cincin penyimpanan yang diperiksanya. Bagaimana tidak, dari sekian banyak cincin penyimpanan, ia memiliki kekayaan yang dapat membeli sebagian Kota Ragane. Whana mulai menginventarisasi harta yang diperolehnya.
Terdapat seratus juta koin emas, lima ratus ribu batu roh tingkat rendah, sepuluh ribu batu roh tingkat menengah, sembilan puluh lima baju besi lapis emas tingkat Bumi kualitas Menengah, sembilan puluh lima pedang tingkat Bumi kualitas Menengah, lima puluh keterampilan tingkat Bumi dan masih banyak lagi.
'Aku kaya! Aku kaya! Hahaha ...,' Whana bersuka cita di dalam pikirannya. Selain itu, ada berbagai jenis pil dengan berbagai tingkatan. Dari Pil Bintang Tiga hingga Pil Bintang Enam yang seluruhnya hampir dua belas ribu pil.
Berikutnya, Whana beralih pada cincin penyimpanan yang tersisa dari kelompok orang yang berpakaian hitam.
'Kira - kira apa yang dibawa oleh dua orang bodoh ini,' Whana mulai membuka cincin penyimpanan milik keduanya.
__ADS_1
Whana langsung membelalakkan matanya melihat tumpukan koin emas dari lelaki tua dan seorang Jendral yang dibunuhnya. Terdapat satu milyar koin emas, satu juta Batu Roh tingkat Rendah dan seratus ribu Batu Roh tingkat Menengah. Dan yang membuat Whana segera ingin melompat adalah ada seratus Batu Roh tingkat Tinggi.
1 batu roh tingkat tinggi \= 1.000 batu roh tingkat rendah.
1 batu roh tingkat menengah \= 100 batu roh tingkat rendah.
1 batu roh tingkat rendah \= 1.000 koin emas
1 koin emas \= 100 koin perak
Karena Whana belum pernah memiliki harta sebanyak ini, baik dia yang sekarang maupun pemilik tubuh sebelumnya, dengan mata masih terpejam tanpa sadar Whana berkata. "Ya, Tuhan ...."
Mendengar ucapan Whana, Wandira menghampiri Whana yang sedari awal tidak memalingkan tatapannya ke arah lain selain ke arah Whana.
"Hei, ada apa?" tanya Wandira yang sudah berjongkok dihadapan Whana dan membangunkan tidurnya.
Membuka matanya dan melihat Wandira yang sedang menatapanya. Tanpa pikir panjang, Whana menjawab. "Ah, aku bermimpi melihat gadis yang sangat cantik."
Mendengar ini Wandira langsung tersipu, pipi dan telinganya memerah, hatinya terasa terbang ke angkasa. Dengan pura - pura kesal, Wandira berbalik ke tempatnya semula sambil berkata dengan ketus. "Dasar!"
Whana hanya tersenyum dan melanjutkan menginvetarisir harta rampasan yang diperolehnya. Ada beberapa item yang menarik perhatian Whana pada cincin penyimpanan lelaki tua berbaju hitam. Dua gulungan dari kulit binatang buas. Dengan pikirannya, gulungan itu dibukanya.
'Peta akademi Seribu Langit?' gumam Whana dalam hati penuh tanya.
Whana memperhatikan setiap detail gambar pada peta yang menunjukkan seluruh ruang dan bangunan di akademi Seribu Langit. Terdapat jalur yang berliku di bawah tanah dan mengarah ke Kerajaan Liba, tepatnya di wilayah Ibu Kota Sarpaden.
'Apakah akademi ini akan menyerang Kerajaan? Atau merupakan bagian dari Kerajaan? Ah, sudahlah. Bukan urusanku. Tapi jika menggangguku, akan aku buat mereka miskin,' pikiran Whana kembali dipenuhi pertanyaan, dan pada akhirnya mengabaikannya saja.
\*
Malam telah berlalu dan matahari telah muncul menyinari dedaunan yang rimbun di Hutan Kematian. Whana dan ketiga orang lainnya keluar dari ruang pohon.
__ADS_1
Melihat sebenarnya mereka bermalam di sebuah batang pohon, apalagi selain terpana dengan besarnya batang pohon di depan mereka.
Hanya tiga puluh menit dengan terbang, Whana dan tiga orang yang bersamanya sampai di tepi Kota Ragane, dan langsung menuju Kediaman Tuan Kota.
"Berhenti! Tuan Kota sedang menerima tamu penting. Tidak ada yang diperbolehkan masuk," seorang penjaga dengan suara tegas menghentikan langkah Whana dan ketiganya.
"Apakah tamu penting Tuan Kota menunjukkan ini sebelumnya?" Wandira bertanya sambil menunjukkan token emas berbentuk segi tiga sama sisi.
Setelah memperhatikan dengan seksama, pimpinan penjaga yang juga orang yang menghentikan Whana dan lainnya segera berlutut, diikuti oleh lima penjaga lainnya.
"Maafkan kami, Nona Muda. Kami akan segera melapor. Mohon tunggu sebentar," kata penjaga itu dengan suara bergetar.
"Bangkit! Kami akan menunggu," balas Wandira selanjutnya.
Dalam beberapa tarikan napas kemudian, dua orang pria paruh baya dan seorang wanita dewasa berparas cantik, elegan, berusia sekitar tiga puluhan tahun menuju arah gerbang. Ketika melihat wanita ini berjalan ke arahnya, Wandira segera berlari memeluk wanita itu dan menangis seketika.
"Bibi, akhirnya kami sampai di sini," ucap Wandira sambil terisak.
"Mari kita berbicara di dalam," ajak Tuan Kota segera mempersilahkan semuanya untuk masuk ke kediamannya.
"Maaf! Saya hanya mengantar Nona Muda ini. Saya harus segera kembali," Whana tiba - tiba berbicara begitu rombongan akan berbalik masuk ke Kediaman Tuan Kota.
Mendengar ini, Tuan Kota menoleh ke arah Whana.
"Apakah kamu Whana? Whana dari keluarga Rahngu?" tanya Tuan Kota memastikan.
"Benar, Tuan Kota. Lama tidak bertemu," jawba Whana dengan tersenyum, lalu membungkuk sedikit.
"Hei, maafkan aku tidak memperhatikan kehadiranmu," ucap Tuan Kota dengan ekspresi sedikit menyesal.
"Tetua, ini jenazah lelaki tua yang kutemukan kemarin," Whana memberikan cincin penyimpanan kepada tetua Bagata.
__ADS_1
Setelah melihat isi cincin, tetua Bagata mendesah dan berkata penuh terima kasih. "Teman Kecil, terima kasih atas segalanya. Kami tidak akan pernah melupakan semua bantuanmu hari ini," setelah mengucapkan kalimat itu, tetua Bagata membungkuk sedikit.