
"Kakek, ada yang ingin kubicarakan." Whana berkata.
"Oh, kemarilah! Apa yang ingin kau bicarakan?" jawab patriak Rahngu sambil mengarahkan Whana ke kursi di sebelahnya.
Sebelum Whana berbicara untuk menyampaikan apa yang dia maksudkan. Panatua pertama dan panatua kedua tiba di aula.
Whana langsung berdiri membungkuk dan berkata, "Salam panatua, dan selamat telah menerobos."
"Ini berkat kamu, cucu. Jika tidak, entah sampai kapan aku tetap di ranah Penyempurnaan Roh." jawab panatua pertama dan diaminin oleh panatua kedua dengan anggukan.
Whana langsung menyampaikan maksudnya kepada ketiga lelaki tua itu. Awalnya mereka terkejut dan menolak, namun setelah mendengar penjelasan Whana, akhirnya mereka sangat menyetujui permintaan Whana. Bahkan mereka memandang Whana dengan mata berapi - api.
"Panatua, apakah tanaman obat ini juga bisa di jual di kota Distrik?" tanya Whana sambil mengeluarkan tiga jenis tanaman obat.
"Sangat laku, bahkan terlalu laris. Semakin tua usianya semakin mahal dan semakin dicari. Dari mana kamu mendapatkannya?" jawab panatua kedua.
"Ini berumur hampir sepuluh tahun." seru panatua pertama memegang tanaman obat yang dikeluarkan Whana.
"Aku punya sedikit. Panatua bisa menggunakannya untuk tambahan pendapatan usaha keluarga kita." Whana mengeluarkan cincin penyimpanan dan menyerahkannya kepada panatua pertama.
Ketika panatua melihat isi cincin itu, mulutnya langsung terbuka lebar.
"Cucu, ini sangat banyak. Bahkan bisa mengalahkan kamar dagang di kota Distrik." seru panatua pertama.
Karena penasaran, baik panatua kedua maupun patriak Rahngu juga melihat ini cincin penyimpanan dari panatua pertama. Ekspresi mereka sama persis dengan panatua pertama. Terutama sang patriak yang merasa agak bingung dengan cucunya ini. Ia merasa cucunya lebih kaya dari keluarganya yang sudah ia pimpin selama seratus tahun.
"Cucuku, darimana kamu mendapatkannya? Tidak mungkin merampok bandit lagi kan?" tanya patriak Rahngu.
Mendengar ucapan kakeknya Whana tertawa.
__ADS_1
"Kakek dan panatua. Rahasiakan ini! Dan darimana aku mendapatkannya, cepat atau lambat Anda bertiga akan tahu dan aku yakin Anda bertiga akan tersenyum indah. Hahaha." Whana menjawab dan tertawa riang dengan melangkah keluar dari aula utama.
Ketiga lelaki tua itu saling pandang dan menggelengkan kepalanya tapi mereka sangat bersemangat.
..............
KOMPETISI KELUARGA RAHNGU -
Para generasi muda dan para orang tua sudah berkumpul di sebuah lahan lapang milik keluarga Rahngu. Posisinya berdekatan dengan aula latihan. Di tengah lapangan didirikan arena pertandingan sederhana setinggi satu meter dan luas dua ratus dua puluh lima meter persegi.
"Harap tenang semuanya! Kompetisi keluarga tahun ini akan segera dimulai. Saya akan menjelaskan beberapa hal terkait kompetisi kali ini." panatua pertama berkata dan berhenti sejenak.
"Pertama, seperti biasa yang dapat mengikuti kompetisi ini adalah generasi muda yang berada di Tahap Pembentukan Tubuh hingga Penyempurnaan Qi dan tentu saja belum menikah."
"Kedua, dilarang membuat cacat lawan bertarung apalagi membunuh. Ketiga, ada hadiah bagi kalian yang bisa berada pada lima besar." panatua pertama hendak melanjutkan penyampaiannya namun sorakan kontestan dan penonton sudah terdengar riuh. Karena bagi mereka ini pertama kalinya ada hadiah dalam kompetisi keluarga.
"Oke, saya lanjutkan. Dalam kompetisi kali ini, Whana tidak bisa mengikutinya karena dialah yang mengeluarkan hadiah. Untuk peringkat 5 mendapat 100 koin emas, 5 butir Pil Pemulihan \*2, dan Pedang Fana kualitas rendah." ketika panatua menyebutkan hadiah untuk peringkat kelima, semua yang hadir kembali riuh namun penuh ekspetasi dan semangat.
"Untuk peringkat lima saja sudah begitu banyak hadiahnya. Adik sepupu kita sangat murah hati. Darimana dia mendapat begitu banyak harta?" kata salah seorang sepupu Whana yang juga kontestan.
"Kamu tidak tahu? Adik sepupu sering berburu dan hasilnya ia kumpulkan dan sekarang ia gunakan untuk hadiah ini. Aku bangga memiliki saudara seperti dia." jawab saudara sepupu yang lain.
"Kak Moni yang memberitahuku. Jika tidak percaya kamu bisa tanyakan sendiri." sahut seorang saudara sepupu yang bangga dengan Whana.
"Oke, sudah bisa saya lanjutkan?" teriak panatua mencoba menenangkan penonton yang hadir.
"Untuk peringkat ke-4
-> Mendapat 200 koin emas
-> 5 butir Pil Pemulihan *3,
-> 5 butir Pil Peningkat Energi *3 dan
-> Pedang Fana kualitas Rendah.
"Peringkat ke-3
-> Mendapat 300 koin emas,
-> 5 butir Pil Pemulihan *4,
-> 5 butir Pil Peningkat Energi *4 dan
-> Pedang Fana kualitas Menengah.
__ADS_1
"Peringkat ke-2
-> Mendapat 400 koin emas,
-> 5 butir Pil Pemulihan *5,
-> 5 Pil Peningkat Energi *5 dan
-> Pedang Fana kualitas Menengah.
"Peringkat ke-1
-> Mendapat 600 koin emas,
-> 5 butir Pil Pemulihan *5,
-> 5 butir Pil Peningkat Energi *5,
-> 5 butir Pil Penguat Tulang *5,
-> 5 butir Pil Darah *5 dan
-> Pedang Fana kualitas Tinggi."
Semua orang bersorak gembira bahkan ada yang melompat - lompat tidak bisa menahan diri. Wahyu dan Ayudiah memandang putranya yang duduk tidak jauh darinya. Mata mereka memerah karena haru. Wahyu segera menghampiri Whana dan berteriak, "Berdiri!"
Segera Whana berdiri dan terkejut dengan bentakan ayahnya, ia langsung dipeluk oleh Wahyu dengan erat. Bagaimanapun Wahyu telah mengalamai masa - masa sulit yang bahkan tidak terbayangkan bagi saudara yang lainnya karena ia adalah putra pertama dari patriak keluarga Rahngu.
Melihat kejadian ini, suasana gembira seketika berubah menjadi haru dan hening. Bahkan sebagian besar keluarga Rahngu yang merupakan orang tua dari generasi muda juga bermata merah yang tanpa sadar air mata menetes ke pipi.
"Ayah, aku putramu. Aku putra keluarga Rahngu kita." ucap Whana dengan tersenyum sambil melepaskan pelukan ayahnya.
Wahyu tidak mengucapkan apapun. Dia hanya kembali ke tempat duduknya dengan menyeka air matanya.
Moni yang bersebelahan dengan Mori pun tidak luput dari suasana yang mengharukan ini. Air matanya mengalir deras membasahi pipi dan pakain bagian atasnya.
"Adikku yang pertama, maka kita harus yang berikutnya." gumam Mori dengan mata yang juga memerah.
"Baiklah, masih ada satu hal lagi tentang hadiah." ucap panatua utama yang juga menyeka air matanya.
"Setiap peserta akan mendapatkan cincin penyimpanan dan sepuluh koin emas." panatua pertama melanjutkan. Keadaan yang tadinya haru dan hening berubah menjadi heboh lagi.
"Ya Dewa, surga menolong keluarga kita hari ini." ucap seorang pria paruh baya yang merupakan putra dari panatua kedua.
Pertandingan dalam kompetisi keluarga terus berlangsung dengan baik dan persaingan antar individu sangat sehat dan saling menghormati. Hingga babak semi final akan dimulai, Tuan Kota Ragane berkunjung ke kediaman keluarga Rahngu.
Kunjungan Tuan Kota ini sangat mengejutkan seluruh anggota keluarga. Pasalnya, ini adalah kali pertama bagi mereka.
"Selamat datang, Tuan Kota. Mengapa tidak memberi tahu kami bahwa Anda akan berkunjung agar kami bisa mempersiapkan segala sesuatunya." ucap patriak menyambut kedatangan Tuan Kota.
__ADS_1