
Rahang semua orang jatuh, mulut mereka semakin terbuka lebar. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Apalagi pada gerakan kedua ini, mereka tidak melihat gerakan Whana dengan pasti. Hanya orang - orang tertentu saja yang memiliki kultivasi tinggi yang dapat melihat gerakannya.
"Maafkan aku, kawan. Ini ... Ini ... Kesalahpahaman." Tuan Muda Nylon berkata dengan tergagap dan ketakutan. Ia langsung berbalik dan berlari untuk kabur dari tempat itu.
Melihat Tuan Muda Nylon dan keempat pengawal kekarnya hendak melarikan diri, Whana melempar lima batu krikil ke arah mereka, dan tepat mengenai sendi dibagian belakang tempurung lutut. Seketika mereka berlima tersungkur di tanah, merintih kesakitan.
Whana berjalan selangkah demi selangkah menuju arah kelima orang ini dengan senyum main - main.
"Kakak! Saudara! Tuan Muda! Maafkan aku! Maafkan aku!" Tuan Muda Nylon yang sudah menangis memohon belas kasihan dengan suara bergetar.
"Lihat! Saudaraku dihajar olehmu. Pasti aku akan keluar biaya banyak untuk membeli obat." Whana berkata dengan tidak senang.
"Aku punya koin perak. Bukan, bukan, bukan. Koin emas. Tuan Muda bisa menggunakannya," ucap Tuan Muda Nylon dengan ketakutan.
"Ah, aku tidak ingin disebut merampok Tuan Muda Nylon," kata Whana pura - pura mendesah dengan ekspresi tidak berdaya.
"Tidak, tidak, tidak! Semua orang disini dapat menjadi saksi bahwa aku memberimu koin emas dengan sukarela," kata Tuan Muda Nylon yang masih gemetaran dan langsung menyerahkan tiga ratus koin emas yang dimilikinya.
"Tiga ratus? Pil apa yang akan kubeli dengan tiga ratus ini?!" Whana mengerutkan kening sambil menyipitkan matanya kearah Tuan Muda Nylon.
"Aku salah! Aku salah! Aku salah! Aku akan mengambil lagi kekurangannya," sahut sang Tuan Muda dengan cepat, takut Whana berubah fikiran.
"Hmm ... Dari pada harus menunggumu mengambilnya lagi, apa lebih baik kupotong saja salah satu lenganmu?! Bukankan pengawalmu juga punya koin emas," bisik Whana ke telinga Tuan Muda Nylon dan mengangkat salah satu alisnya.
"Benar! Benar! Benar! Kalian semua! Kumpulkan koin emas kalian semua untuk membantu pengobatan Tuan Muda," teriak Tuan Muda Nylon kepada pengawalnya.
"Tuan Muda ..." belum selesai para pengawal berucap, Tuan Muda Nylon langsung mebentak dengan mendelik. "Tidak ada tapi - tapi! Cepat kumpulkan semua!"
Segera satu orang pengawal mengambil koin emas dari semua pengawal yang ada, termasuk yang sedang pingsan di dekat batu besar.
Whana kemudian menerima koin emas dan menghitungnya. "Hanya dua puluh lima koin emas? Kenapa kalian begitu miskin dan menggertak orang lain dengan sebutan miskin?" seru Whana heran dengan tingkah laku mereka yang menyebalkan.
__ADS_1
Baik Tuan Muda Nylon maupun pengawal menunduk malu. Sedangkan semua orang yang melihat, menutupi mulut mereka dengan tangan, tidak bisa menahan tawa termasuk Mori dan Moni.
"Sialan, Bocah ini! Lidahnya sangat tajam. Setelah bebas, tunggu pembalasanku." Tuan Muda Nylon berkata dengan marah di hatinya.
Tapi, bagaimana mungkin Whana tidak tahu pemikiran Tuan Muda Nylon yang menyebalkan ini. Jadi dia berkata dengan santai. "Hei, Bocah Tua! Terima kasih banyak atas bantuanmu. Akhirnya aku dapat membeli obat untuk luka - luka saudaraku yang disebabkan olehmu. Hari ini aku akan berburu di Hutan Kematian, apakah kau ingin ikut denganku?"
"Tidak, tidak, tidak, aku akan kembali pulang, mandi dan tidur," jawab Tuan Muda Nylon dengan tergesa - gesa.
Whana memanggil Mori dan Moni, kemudian menyerahkan koin emas di tangannya kepada moni. "Bagikan kepada seluruh saudara - saudara kita secara merata," bisik Whana kepada Moni saudaranya.
"Tapi Wha?"
Whana langsung melambaikan tangannya dan berkata sambil berbisik. "Tidak apa - apa. Anggap rejeki nomplok."
"Rejeki nomplok? Apa itu?" tanya Moni dan Mori dengan kebingungan.
"Keberuntungan," jawab Whana dengan tersenyum.
"Oya, aku akan berburu di Hutan Kematian, tolong perhatikan Dira! Jangan biarkan dia pergi keluar sendirian dan membuat masalah!" pinta Whana dan kembali menuju Tuan Muda Nylon.
Whana menotok kembali sendi dibagian belakang kaki Tuan Muda Nylon dan para pengawalnya yang lain. Awalnya mereka ketakutan karena mengira akan disiksa oleh Whana. Namun ketika mendapati bahwa kaki mereka tidak pincang lagi, perasaan lega muncul.
"Jika aku masih nelihatmu membuat masalah yang tidak masuk akal, maka kreekkk." Whana berkata sambil menggesekkan tangan di lehernya sendiri, yang menggambarkan menggorok leher seseorang.
Melihat cara Whana menggesekkan tangannya, mereka menggigil ketakutan dan segera menjawab dengan anggukan cepat. "Baik, Tuan Muda. Kami berjanji! Kami berjanji!
Whana kemudian berbalik kehadapan kerumunan dan berkata dengan keras. "Maaf telah mengganggu aktifitas kalian semua." Kemudian Whana membungkukkan badannya sedikit dan berjalan menuju Hutan Kematian.
__ADS_1
"Pemuda yang sopan. Sangat jarang ada pemuda di usia itu memiliki sikap rendah hati meskipun ia kuat," kata seorang wanita paruh baya yang menjadi salah satu penonton dikerumunan.
"Iya, dia juga tampan. Aku pasti beruntung jika menjadi ibu mertuanya," seorang wanita lainnya dengan tubuh bak gentong berbicara.
Mendengar kata - kata wanita gemuk itu, semua orang langsung membubarkan diri ingin muntah. Karena mereka tahu betapa menakutkannya tubuh anak gadisnya yang gembrot.
\*\*\*
PENGINAPAN MAKMUR
"Masuk!" mendengar seseorang sedang berdiri di depan pintu kamarnya, Dayu langsung mengintruksikan untuk segera masuk.
"Bawahan menghadap kepada Tuan Putri." seorang pria setengah baya langsung berlutut dengan hormat ketika memasuki pintu.
"Bangunlah! Bagaimana hasil penyelidikanmu?" tanya Dayu langsung pada pokok permasalahan.
"Pemuda bernama Whana Rahngu dari keluarga Rahngu berusia lima belas tahun dan memiliki seorang adik perempuan bernama Dira Rahngu. Ayahnya bernama Wahyu Rahngu, putra pertama dari Dimas Rahngu yang sekarang sebagai patriak keluarga Rahngu."
"Pemuda itu agak berbeda dari kebanyakan pemuda lainnya, ia sangat peduli terhadap orang miskin dan orang yang lemah. Dia sering membantu orang - orang sekitar dengan uangnya sendiri dari hasil berburu. Terutama Rumah Asuh anak di Kota Ragane."
Setelah menarik beberapa nafas, bawahan itu melanjutkan.
"Pemuda itu dikenal jenius di Kota Ragane, dengan tingkat energi alam yang tipis di wilayah ini. Ia mulai berkultivasi di usia tujuh tahun dan pada usia sepuluh tahun, tepatnya dua tahun yang lalu, ia telah mencapai tingkat Kedua dari Tahap Pembentukan Tubuh."
"Kemudian pemuda ini mengalami penyakit yang aneh yang menyebabkan kultivasinya terus menurun. Namun, dari informasi kami menyebutkan bahwa penyakit pemuda ini adalah penyumbatan meridian dan menuju penghapusan meridian atau sejenis korosi terhadap meridian."
Mendengar ini, baik Dayu maupun lelaki tua yang berada di sebelahnya berseru serempak. "Racun Perusak!"
__ADS_1
"Kenapa dia bisa terkena Racun Perusak? Lanjutkan!" Perintah Dayu kepada bawahannya.