Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 60


__ADS_3

----- KELUARGA RAHNGU -----



Patriak dan kedua saudara sepupunya yaitu panatua pertama dan panatua kedua sedang duduk di ruang aula.



"Aku benar - benar tidak menyangka, bocah nakal itu akan merampok habis kebun obat keluarga Dege." ucap patriak dengan senyum ceria.



"Hahaha. Hahaha. Hahaha." kedua panatua tertawa tebahak - bahak.



"Tindakan anak ini benar - benar gila. Tanaman obat berumur 10 tahun diembat semua, hahaha. Aku ingin tahu seperti apa wajah patriak Dege." panatua berkata dan masih tertawa.



"Yang membuatku heran, bagaimana cucu kita membuat alibi bahwa kebun obat itu diserbu kawanan bandit? Sungguh rencana yang brilian." kali ini panatua kedua berkata dengan penuh kekaguman.



"Aku tidak tahu. Sejak ia sembuh dari penyakitnya, bocah itu banyak mengalami perubahan. Tempramennya lebih dewasa dan cara berpikirnya sangat bijak. Yang lebih membuatku penasaran adalah cucuku semakin misterius." patriak Rahngu berkata sambil mengelus janggutnya yang sudah memutih.



"Ya kamu benar. Cucu kita semakin misterius. Bagaimana bisa ia mendapat Token keluarga Kerajaan? Bayangkan, ini keluarga Kerajaan bukan keluarga kelas satu atau keluarga teratas." ucap panatua pertama.



"Nah, itu dia yang semakin membuatku tidak mengerti. Tapi semuanya akan kembali kepada keluarga Rahngu kita. Bahkan berkat cucu kita, keluarga kerajaan kini memperhatikan keluarga kita. Tidak lama lagi, keluarga kita akan keluar dari keterpurukan ini." patriak Rahngu berkata dengan semangat berapi - api.



"Belum lagi dengan semua barang yang diberikan olehnya, usaha keluarga kita akan semakin menanjak." kata panatua kedua dengan gembira.


... "Ingat apa yang dikatakan cucuku, jangan sampai mencolok, pandai - pandailah memilih pelanggan." patriak Rahngu mengingatkan....


.................


Di rumah Whana, Ayudiah dibantu beberapa orang pelayan keluarga sedang mengatur dan menyiapkan prabot yang akan digunakan pada rumah yang baru.



"Dua hari lagi anak - anak dari Rumah Asuh akan tinggal di sebelah kita. Bantu aku merawat mereka." ucap Ayudiah pada ketiga pelayannya.



"Saya mengira Tuan Muda yang akan tinggal di rumah itu, Nyonya." sahut istri Rimo.



"Tidak. Whana membangun rumah itu memang untuk anak - anak asuh. Berharap bisa membantu dan memberikan perlindungan kepada mereka." Jawab Ayudiah dengan tersenyum.



"Nyonya, Tuan Muda sangat baik dan memiliki hati yang welas asih. Kami beruntung bisa dipertemukan dengan Tuan Muda dan Nyonya sekeluarga." ketiga pelayan itu langsung membungkuk dihadapan Ayudiah.



Ayudiah tersenyum dan berkata, "Dia memang anak yang baik dan agak berbeda dari saudara lainnya. Karena itu, kami selaku orang tuanya selalu mendukung keputusannya dan membantunya semampu kami."


__ADS_1


"Aku sudah menganggap kalian bertiga seperti saudaraku sendiri dan begitu juga suamiku. Anggap Whana sebagai putra kalian juga." imbuh Ayudiah dengan tersenyum.



"Terima kasih, Nyonya. Kami akan selalu mengingatnya." ucap salah seorang pelayan.


............


Sambil menunggu hidangan yang telah dipesan, Whana dan yang lainnya mengobrol ringan tentang beberapa hal di kota Ragane. Tiba - tiba ada suara gaduh di depan restaurant. Whana melihat ada sekelompok orang yang sepertinya juga hendak masuk ke restaurant.



Selang beberapa saat, sekitar 7 orang masuk di lantai dua. Tampak seorang pemuda dengan tubuh gendut mengenakan pakaian berwarna kuning dengan jubah berwarna hitam. Sedangkan yang lainnya sepertinya adalah pengawal dari pemuda gendut itu.



Kelompok pemuda gendut itu duduk di meja yang dekat dengan pintu masuk lantai dua.



"Pelayan, sediakan semua makanan yang paling enak dan paling mahal di restaurant ini! Dan juga jangan lupa 7 kendi anggur bawa kesini dengan cepat!" ucap pria gendut itu dengan nada yang arogan.



"Baik, Tuan Muda." sang pelayan segera menjawab dengan hormat dan pergi untuk menyiapkan semuanya.



'Kenapa si gendut ini mirip dengan Tuan Muda Rustam? Apakah mereka bersaudara atau hanya kebetulan?' Whana berkata di dalam hatinya.



Sang pemuda gendut menoleh ke seluruh ruangan dengan tatapan jijik. Tapi ketika ia melihat ke arah meja Whana, tatapannya berhenti pada Moni.




Pemuda gendut itu beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah meja Whana.



"Hei Nona cantik, aku mengundangmu untuk makan di mejaku." Pemuda gendut itu menyapa dan mengajak Moni sambil mengulurkan tangannya.



"Maaf, aku sedang makan dengan para sepupuku." Jawab Moni dengan sopan.



"Berani sekali kamu menolak undangan Tuan Muda tertua dari keluarga Rustam. Dari keluarga mana kamu? Harusnya kamu bersyukur bisa mendapat kehormatan di undang Tuan Muda." teriak seorang pengawal Tahap Penyempurnaan Roh kepada Moni sambil mengacungkan pedang pendek yang dihunusnya.



"Kak Moni, apa kau mengenalnya?" Tanya Whana kepada Moni.



Moni hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu sebagai jawaban.



Whana langsung berdiri dan berkata, "Maaf, Tuan Muda. Kakakku tidak bisa memenuhi undanganmu. Saya harap Tuan Muda bisa mengerti."


__ADS_1


"Aku tidak bicara denganmu, bodoh. Jangan ikut campur urusanku atau kupatahkan kakimu." teriak si pemuda gendut itu dengan sinis sambil menunjuk ke arah Whana.



"Tuan Muda, ingat tujuan kita ke sini kali ini!" seorang pengawal Tahap Prajurit Alam mengingatkan pemuda gendut yang sudah penuh dengan emosi.



Si pemuda gendut tidak menjawab dan hanya mendengus lalu berbalik ke mejanya.



Whana yang melihat ini agak kesal dan secara diam - diam dia melemparkan sebuah mutiara transparan ke punggung pemuda gendut itu tanpa ada yang menyadarinya.



'Mutiara Kesialan, aktifkan.'



Whana memberi perintah pengaktifan Mutiara Kesialan yang ia dapatkan dari undian.



Si pemuda gendut langsung menyeret kursinya dan duduk dengan wajah cemberut.



Bruuuaaakk



Terdengar suara agak keras. Semua pengunjung di lantai dua mengalihkan pandangannya dan melihat bahwa pemuda itu telah jatuh telentang dengan kursi yang hancur tertindih tubuhnya yang gemuk. Tidak ada yang tertawa, namun hampir semua pengunjung menutup mulut mereka agar tawa mereka tidak terdengar.



"Sial." kutuk pemuda gendut dengan marah.



Ketika pemuda gendut itu hendak bangun, seseorang pengawal yang berjaga di luar pintu lantai dua langsung bergegas masuk tanpa melihat ke bawah.



Aaahhhrrrggg



"Kurang ajar. Kamu si bodoh sial. Kenapa menginjak selangkanganku, bodoh?!!" si pemuda gendut berteriak kesakitan karena burung perkututnya terinjak oleh pengawalnya.



"Ah, maafkan aku Tuan Muda. Aku tidak sengaja." Jawab pengawal dengan gemetar ketakutan.



Si pemuda gendut mengabaikan ucapan pengawalnya dan segera berdiri sambil menahan sisa rasa sakit di area selangkangannya. Ia langsung duduk di kursi yang lain.



"Restaurant macam apa ini? Bagaimana bisa kursinya serapuh itu?!" teriaknya dengan keras sambil membanting telapak tangannya di meja makan.



Aaahhhrrrggg

__ADS_1



"Siapa yang menaruh sumpit disini? Apa kau tidak punya mata?" si pemuda gendut kembali berteriak kesakitan karena sebatang sumpit telah menembus telapak tangannya.


__ADS_2