
"Selamat datang, Tuan Kota. Mengapa tidak memberi tahu kami bahwa Anda akan berkunjung agar kami bisa mempersiapkan segala sesuatunya." ucap patriak menyambut kedatangan Tuan Kota.
"Tidak apa - apa patriak. Karena saya mendengar ada kompetisi di keluarga Rahngu hari ini, jadi saya ingin melihat kemajuan generasi muda kota saya." Jawab Tuan Kota dengan senyum ramah.
Mendengar jawaban Tuan Kota yang menurut patriak dan beberapa lainnya aneh, mereka mengerutkan kening.
"Apakah ada sesuatu yang mendesak atau penting untuk dibicarakan, Tuan Kota?" Tanya patriak dengan serius.
"Hahaha, tidak. Patriak adalah saudara mendiang ayahku. Apa aku tidak boleh melihat saudara ayahkmu?" Tuan Kota tersenyum main - main.
"Lagi pula, aku ingin bertemu Whana? Apakah dia ada?" imbuh Tuan Kota sambil melanjutkan.
"Ingin bertemu Whana? Apakah ada masalah dengannya?" Wahyu langsung merespon dengan kekhawatiran.
"Temanku, jangan khawatir. Saya hanya akan menyampaikan pesan kepadanya dari istana Kerajaan." jawab Tuan Kota yang semakin tersenyum cerah.
"Istana Kerajaan?" patriak, panatua dan tetua yang mendengar berseru serempak.
Sesaat kemudian, Whana muncul dari sudut aula pelatihan. Ia berjalan santai tanpa mengetahui apa yang terjadi.
"Ah, ini dia." ucap Tuan Kota melihat Whana yang muncul dari arah depannya.
Semua orang berdebar - debar takut ada sesuatu yang buruk terjadi kepada Whana. Terutama Ayudiah yang sudah meneteskan air mata sambil memegangi lengan suaminya dengan erat.
"Hei Teman Kecil, kita bertemu lagi." Tuan Kota menyapa Whana dengan senyum sambil membungkuk sedikit.
Melihat adegan ini semua keluarga Rahngu tercengang tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Seorang Tuan Kota membungkuk dengan hormat di depan pemuda belia dari keluarga biasa. Hal ini adalah mustahil tapi kenyataan sedang terjadi di depan mata mereka.
"Ah, Tuan Kota. Selamat datang di kediaman keluarga kecil saya." Whana juga menyapa dengan ramah dan membungkuk sedikit.
"Saya datang ke sini untuk menyampaikan pesan dari Kerajaan untukmu." Tuan Kota menyampaikan maksud kedatangannya kepada Whana.
"Kerajaan?" Whana bingung dan menoleh ke arah patriak.
"Keluarga Kerajaan memberikan ini untukmu." Tuan Kota memberikan sebuah kotak kecil terbuat dari kotak kayu berwarna emas.
Penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak, Whana langsung membukanya pada saat itu juga.
__ADS_1
"Token Keluarga Kerajaan?" seru patriak dan kedua panatua bahkan Tuan Kota juga tidak ketinggalan terkejut.
"Kenapa kerajaan memberikan ini padaku?" Tanya Whana yang masih kebingungan.
"Aku tidak mengetahui detailnya. Lebih baik Tuan Muda menanyakannya langsung ke Kerajaan. Dengan Token ini, Tuan Muda tidak akan menemui hambatan untuk masuk ke istana Kerajaan." Tuan Kota menjelaskan dengan tatapan takjub.
"Oya, untuk kompetisi keluarga Rahngu kali ini, keluarga Kerajaan juga ingin berpartisipasi dalam memberi hadiah kepada semua kontestan. Setiap peserta akan mendapat 100 koin emas." Tuan Kota melanjutkan dan menyerahkan cincin ruang kepada patriak Rahngu.
Patriak tidak bergerak, ia bingung harus melakukan apa. Ia menoleh ke arah Whana untuk bertanya apa yang terjadi. Tapi Whana hanya mengangkat bahunya tanda bahwa ia juga tidak tahu menahu.
"Patriak tidak perlu bingung, terima saja. Suatu hari pihak Kerajaan mungkin akan berkunjung ke keluarga Rahngu." ucap Tuan Kota sambil menoleh ke arah Whana.
Patriak akhirnya menerima cincin penyimpanan itu dengan jantungnya yang masih berdebar.
Sambil menonton pertandingan, Tuan Kota mengobrol dengan patriak dan panatua pertama. Sedangkan panatua kedua menjadi wasit pertandingan.
"Oya, apakah keluarga Dege masih sering menyulitkanmu?" Tanya Tuan Kota kepada patriak.
"Kemarin, kebun obat milik keluarga Dege distroni bandit. Semua habis tak tersisa," Tuan Kota mengungkapkan.
'Kebun obat? Whana, kamu bocah nakal. Ternyata ini yang kamu bicarakan tadi pagi denganku. Hahaha. Cucu yang cerdas.' patriak Rahngu berseru dalam hati.
"Kebun obat? Kenapa bandit mengambil kebun obat?" patriak bertanya seolah itu aneh.
Tuan Kota tidak menjawab dan hanya mengangkat bahunya sebagai tanggapan.
Panatua pertama juga tersenyum dan berbicara dalam hatinya, 'Bocah ini pintar. Ia tidak menggunakan kekuatan untuk membalas, caranya lebih menakutkan dari pada dengan kekuatan.'
Di sore hari, kompetisi berakhir dengan ceria karena semua orang mendapatkan hadiah yang tidak pernah mereka bayangkan. Tuan kota juga telah kembali dari acara.
"Baiklah sebelum bubar, patriak akan mengumumkan beberapa hal penting. Harap semuanya tenang!" teriak panatua pertama kepada hadirin.
"Baik, mulai sekarang setiap peningkatan kultivasi dari seluruh keluarga Rahngu akan diberikan hadiah sesuai dengan tahapannya. Sekali lagi dari seluruh keluarga Rahngu, baik itu pelayan, penjaga, generasi muda, tua akan mendapatkan hadiah jika berhasil meningkatkan tingkat kultivasinya."
__ADS_1
Patriak kemudian menjelaskan secara rinci tentang hadiah yang akan diberikan kepada semua orang jika berhasil menaikkan kultivasi dalam satu bulan ke tingkat kecil. Misalnya dari tingkat pertama awal meningkat ke tingkat menengah, dari menengah ke tingkat akhir dan dari tingkat akhir ke tingkat puncak.
Semua anggota keluarga sangat antusias dengan beriya yang mengejutkan ini. Terutama pelayan dan penjaga yang mendengar mereka langsung berlutut mengucapkan terima kasih.
"Adik sepupu, kapan kita berlatih?" Mori tiba - tiba muncul dari belakang Whana bersama 4 orang lainnya.
"Kalian semua juga akan ikut?" Tanya Whana kepada 4 orang yang mengikuti Mori.
"Benar, saudara. Aku tidak ingin mengecewakanmu. Aku harus menjadi lebih kuat agar bisa melindungi keluarga kita." Noya menjawab dengan tegas dan diikuti anggukan saudara sepupu lainnya.
"Apa kalian tidak takut mati?" Whana berkata dengan senyum main - main.
"Jika harus mati, maka matilah. Tapi kalau bisa jangan mati." Jawab Noya.
Semua orang yang mendengar jawaban Noya tertawa terbahak - bahak.
"Aku juga ikut." Moni berteriak ingin ikut serta.
"Baiklah. Mungkin lima hari lagi kita berangkat. Aku ingin memindahkan anak - anak dari Rumah Asuh ke rumah baru itu." Whana berkata sambil menunjuk rumah baru di sebelah rumahnya.
...............
Menunggu pembuatan rumah selesai. Whana terus berlatih meningkatkan tehnik keterampilannya di bukit belakang rumahnya, terutama tehnik formasi array yang sangat sulit untuk ditingkatkan.
"Jika aku bisa meningkatkan ke level 4, maka ranah Prajurit Alam tidak akan mampu menembus array pertahanan." gumam Whana pelan.
Whana kemudian memiliki ide untuk membuat array pertahanan yang dibentangkan di antara dua pohon. Lalu menyerangnya dengan keterampilan aktifnya.
'Telapak Dewa'
Bam ...
Suara ledakan keras terdengar hingga mengejutkan para pekerja di rumahnya.
Bam ...
__ADS_1
Mori bergegas ke area bukit belakang setelah suara ledakan kedua. Ketika ia melihat asal suara ternyata dari latihan adik sepupunya, seketika itu juga Mori langsung terpana.