
Semua orang mengangguk dengan serius untuk merahasiakannya.
"Apakah selama di dasar jurang ini kalian tidak merasa aneh?" Whana bertanya kepada semua sepupunya tanpa ekspresi.
"Ada apa?" Mori dan yang lainnya segera waspada.
"Hahaha, tenang. Tidak ada musuh."
"Di depan kanan kita ada kabut berwarna hitam pekat. Jika kalian memasukinya maka jiwamu akan diuji. Di dalamnya banyak roh jahat dengan bentuk dan rupa yang mungkin belum pernah kalian bayangkan. Jika kalian ingin memperkuat jiwa, aku akan menemani kalian satu persatu untuk memasukinya." Whana menjelaskan.
"Memperkuat jiwa? Ini luar biasa. Ayahku pernah bilang jika seseorang memiliki jiwa yang kuat maka akan sangat sulit terpengaruh oleh ilusi dan penindasan aura." Moni berseru.
"Besok kita mulai." ucap Whana tersenyum.
Whana kemudian melangkah ke tempat yang lebih luas tempat dimana ia menemukan pohon jiwa kala itu. Jari Whana melakukan gerakan aneh dan rumit. Dalam beberapa tarikan nafas, cahaya biru keunguan muncul dia ujung jari telunjuknya dan Whana melemparkannya.
"Apakah kalian bisa menggunakan perisai energi?" Tanya Whana kepada semua sepupunya.
Semua orang mengangguk. Melihat ini Whana segera mengambil beberapa batu kerikil di bawahnya dan berkata, "gunakan perisai energi, pentalan batu kerikil mungkin dapat melukai."
Meski mereka bingung dengan apa dan mengapa dari yang di maksudkan adik sepupunya, mereka tetap melakukan apa yang dikatakan Whana.
Whana melemparkan batu kerikil di tangannya ke larik formasi array yang ia buat.
Duar
Benar saja, setelah batu kerikil yang di lemparkan Whana mengenai formasi array, formasi itu menyala dan mengeluarkan tekanan yang mengakibatkan batu kerikil yang ada di bagian dalam formasi terlempar ke segala arah dengan kecepatan cepat seperti peluru.
'Hahaha, ini bisa untuk menjebak musuh atau pertahanan.' Whana tertawa senang di dalam hati melihat hasil uji cobanya berhasil.
__ADS_1
Sepupu Whana terdiam tak mampu berbicara apa pun. Mereka selalu terkejut dengan keajaiban yang di lakukan Whana. Dan kali ini mereka bersiap untuk tidak terkejut lagi. Tapi usaha mereka sia - sia.
----- Kediaman Tuan Kota Ragane -----
Rombongan utusan kerajaan telah tiba di kota Ragane dan langsung menuju kediaman Tuan Kota. Sama halnya dengan Ketua Distrik Nabrajem, Tuan Kota sangat gembira bahwa kotanya di bebaskan dari pajak selama 100 tahun. Selain itu gajinya juga menjadi 2 kali lipat. Berita yang sangat luar biasa ini membuat jantung Tuan Kota berdegub kencang menahan kegembiraan serasa ingin melompat dan berteriak melampiaskan isi hatinya.
"Tuan Kota, apakah kau tahu tentang keluarga Rahngu di kota ini?" Komandan utusan bertanya.
"Di kota ini memang ada keluarga yang bermarga Rahngu. Apakah ada yang perlu saya lakukan terkait keluarga ini?" jawab Tuan Kota sekaligus menawarkan diri.
"Beri aku informasi tentang keluarga Rahngu ini!" pinta komandan utusan.
"Baik. Keluarga Rahngu adalah keluarga kelas dua di kota kami dan tidak begitu menonjol dibandingkan keluarga kelas dua lainnya. Patriak keluarga benama Dimas Rahngu. Mendiang ayah saya adalah saudara seperguruan dengannya ..." Tuan Kota menceritakan semua apa yang dia ketahui tentang keluarga Rahngu kepada komandan utusan tanpa ada yang ditutupi.
"Antar kami ke keluarga Rahngu!" pinta komandan utusan.
Rombongan dari utusan kerajaan meminta Tuan Kota mengantar mereka ke kediaman keluarga Rahngu dengan berjalan kaki. Mereka ingin mengenal lingkungan kota dan wilayah yang menjadi bagian kota Ragane.
Satu jam dengan berjalan kaki, Tuan Kota dan rombongan tiba di gerbang kediaman keluarga Rahngu.
"Patriak, Tuan Kota ada di gerbang kediaman dan ingin bertemu dengan Anda." lapor penjaga gerbang kepada patriak.
Mendengar laporan itu, patriak segera menuju gerbang.
"Tuan Kota, selamat datang. Mari ke dalam," sambut patriak Rahngu.
Di ruang aula utama
"Patriak, kedatanganku hari ini adalah untuk mengantar para tamu ini bertemu denganmu. Mereka adalah utusan kerajaan Liba." ucap Tuan Kota menyampaikan tujuan kunjungannya.
Ketika patriak mendengar ini dia segera hendak berlutut namun dihentikan oleh komandan utusan.
__ADS_1
"Tidak perlu berlutut, patriak silahkan duduk kembali!" ucap komandan utusan tersenyum bahkan menunjukkan rasa hormat.
Baik Tuan Kota mau pun patriak tertegun melihat sikap Komandan utusan. Pasalnya seorang utusan kerajaan memiliki status yang sama dengan raja itu sendiri ketika sedang melaksanakan tugasnya. Dan kali ini komandan utusan bersikap hormat kepada patriak Rahngu.
'Apakah aku sedang bermimpi?' patriak Rahngu bertanya dalam hatinya.
"Patriak, apakah Tuan Muda Whana ada di sini?" Tanya komandan utusan melanjutkan ucapannya.
"Whana? Cucuku? Dia sedang berlatih di Hutan Kematian bersama para sepupunya. Apakah komandan utusan memiliki sesuatu yang harus dilakukan dengan cucuku?" patriak menjawab dan terkejut dengan pertanyaan singkat Komandan Utusan.
"Oh, tidak. Kedatangan kami di sini adalah atas perintah langsung dari paduka raja untuk melindungi keluarga Rahngu. Dengan kata lain kami akan menjadi bagian dari pengawal keluarga Rahngu dan menerima perintah dari Tuan Muda Whana. Komandan utusan langsung menyampaikan tujuannya sambil menyerahkan gulungan kertas yang berisi perintah langsung sang Raja kepada patriak Rahngu.
Mendengar apa yang di katakan Komandan Utusan, patriak Rahngu menjadi kaku, bingung harus menjawab apa atau berkata apa. Tidak pernah sama sekali dalam mimpinya bahwa prajurit kerajaan akan menjadi pengawal kediamannya.
Begitu juga dengan Tuan Kota yang tercengang dengan apa yang ia saksikan di depan matanya. Ia langsung teringat dengan token kerajaan yang dititipkan padanya dalam sebuah kotak kayu berwarna emas untuk di serahkan kepada Whana.
"Tuan Kota, ini ..." patriak masih dalam keadaan linglung dan ingin ada penjelasan masuk akal dari Tuan Kota.
"Jangan bertanya padaku! Aku juga tidak tahu." Tuan Kota segera merespon.
"Patriak, mulai hari ini kami akan bergabung dengan pengawal keluarga Anda. Sambil menunggu Tuan Muda Whana dari latihan, maka kami akan tetap berada di area kediaman keluarga." Komandan Utusan berkata.
"Ini adalah hadiah dari paduka Raja untuk keluarga Rahngu. Harap di terima!" imbuk Komandan Utusan sambil menyerahkan cincin penyimpanan kepada patriak Rahngu.
Ketika melihat isi cincin, mulut patriak Rahngu terbuka lebar. Ia melihat koin emas sekitar 100 juta menumpuk di dalamnya dan juga sekitar 10 ribu Batu Roh tingkat Menengah tertata rapi.
"Tuan Utusan, jika aku boleh bertanya apa yang dilakukan cucuku hingga kerajaan memberi hadiah yang begitu besar kepada keluarga kami?" Tanya patriak Rahngu yang sangat penasaran.
"Mulai hari ini aku adalah pengawal keluarga Rahngu, jadi cukup panggil aku Dasa. Tuan Muda Whana telah menyelamatkan kerajaan Liba, selebihnya aku tidak memiliki hak untuk menyampaikan." Jawab Komandan Utusan dengan tersenyum hormat.
__ADS_1