Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 7


__ADS_3

\[Ding! Selamat Tuan. Telah mendapatkan tehnik Mata Dewa, apakah Tuan akan mempelajarinya?\]



\[Ding! Selamat Tuan. Anda belum beruntung.\]



"Pelajari Mata Dewa!" pinta Whana dengan suara pelan.



\[Ding! Selamat Tuan. Telah mempelajari tehnik Mata Dewa. Tehnik Mata Dewa adalah tehnik mata yang dapat melihat objek secara detail meskipun jaraknya sangat jauh. Dapat melihat kondisi dalam kegelapan maupun kondisi berkabut. Ketika pada level yang cukup, tehnik Mata Dewa dapat menciptakan ilusi yang dapat membunuh lawan hanya dengan memandangnya. Level saat ini adalah 0/10.\]



"Wuuuiiiihhh ... Keren! System memang yang terbaik. Ini bisa membunuh lawan tanpa bergerak. Mantab coy!" Whana berteriak dengan gembira.



Segera setelah itu, mata Whana terasa gatal dan sakit tak tertahankan. Whana memejamkan matanya dan merapatkan giginya menahan rasa sakit yang dialaminya.



Sekitar dua atau tiga menit, rasa sakit mulai mereda dan Whana merasakan perubahan pada matanya. Pandangannya semakin cerah, bahkan ia dapat melihat jumlah sayap seekor nyamuk yang terbang di depannya.



Namun karena levelnya sangat rendah, Whana hanya dapat melihat detail objek pada jarak lima meter di depannya. Ia mulai berlatih tehnik Mata Dewa berulang kali sesuai dengan pengetahuan yang masuk ke dalam fikirannya.



Setelah beberapa kali berlatih akhirnya levelnya meningkat ke level 1. Dengan begitu Whana dapat melihat objek secara detail pada jarak satu kilo meter. Tehnik Mata Dewa juga dapat menciptakan ilusi ringan pada level 1 ini, yang mampu bekerja dengan baik pada tahap Transformasi ke bawah.



Kriuuuukkkk



Terdengar suara dari perut Whana. "Aduh ... Lapar sekali!" Whana memegang perutnya. "Ah bukannya banyak daging di luar celah, hehehe." Whana terkekeh sambil menatap ke arah luar celah.


'Mata Dewa, penglihatan malam." Whana berucap di dalam hati. Segera pandangan visual berubah dari gelap menjadi hijau terang. Whana mengambil pedangnya dan mengalirkan energi alam ke bilah pedangnya, menebas kearah gerombolan Srigala Api.



Slash



Langsung salah satu dari Srigala Api terbelah menjadi dua.



\[Ding! Selamat Tuan. Telah membunuh Srigala Api level Ketiga. Poin Pengalaman bertambah 7 ....\]



Kemudian Whana menebas lagi, lagi dan lagi tanpa mempedulikan suara notifikasi system di benaknya.



Dengan cepat Whana menuju bangkai Srigala Api yang di tebasnya, mengambil bagian binatang yang berguna dan dapat di jual, termasuk daging Srigala Api.

__ADS_1



Begitu selesai, Whana kembali ke dalam celah batu dan memanggang daging Srigala Api untuk mengisi perutnya yang keroncongan.



\*\*\*



KELUARGA RAHNGU



Hari sudah menjelang pagi, namun Whana belum juga kembali. Hal ini membuat Ayudiah semakin cemas akan keselamatan putranya. Apalagi Rimo juga tidak menemukan keberadaan Whana di Pinggiran Hutan Kematian bahkan di area Pinggiran Dalam.



Pagi hari, Ayudiah bergegas ke ayah mertuanya untuk memberitahu situasi putranya saat ini. "Ayah, Whana belum kembali dari Hutan Kematian." Ayudiah berkata kepada kakek Whana sambil menangis.



"Apa? Kapan Whana pergi ke Hutan Kematian? Kenapa dibiarkan pergi sendiri?" tanya kakek Whana terkejut mendengar Ayudiah yang menangis.



"Whana mencari Rumput Awan untuk cedera Wahyu. Kami tidak memiliki cukup koin emas untuk membelinya. Jadi, tanpa sepengetahuanku Whana pergi ke Pinggiran Hutan Kematian untuk mendapatkannya. Maafkan aku, ayah." papar Ayudiah yang menangis dengan menyesal.



Mendengar apa yang diucapkan menantu perempuannya, kakek Whana langsung terduduk. Ia benar-benar terkejut dan merasa bersalah karena perhatiannya mulai berkurang kepada cucunya itu. Hal ini juga bukan tanpa alasan. Semenjak Whana tersumbat meridiannya, usaha keluarga Rahngu juga mulai menurun.



Usaha keluarga Rahngu berbasis pada obat-obatan dan bambu. Ada juga sebagian usaha dari penjualan kayu bermutu dan berbagai bahan lainnya. Namun, akibat dampak dari berita bahwa Whana tidak mampu lagi berkultivasi, telah mengakibatkan pelanggan beralih ke pengusaha lain. Bahkan ada rumor yang mengaitkan kesialan jika berbisnis dengan keluarga Rahngu yang sial.




"Iya, ayah. Aku mengerti." jawab Ayudiah dan mengambil koin emas dari ayah mertuanya.



Ayudiah bergegas menuju toko obat untuk membeli ramuan yang diperlukan suaminya, Wahyu Rahngu.



\*



"Apakah kamu sudah mendengar bahwa Whana Rahngu sudah mati?" ucap seorang pejalan kaki paruh baya kepada rekannya.



"Dari mana kamu mendengarnya?" sahut rekan paruh baya itu.



"Berita itu sudah menyebar. Menurut berita yang beredar, Whana Rahngu diterkam binatang buas dan mayatnya dicabik-cabik oleh binatang itu." lanjut pria paruh baya seolah dia mengetahui kejadiannya dengan mata kepalanya sendiri.


__ADS_1


"Jangan mengada-ngada! Kita tidak tahu kejadian yang sebenarnya," sanggah rekannya.



Perbincangan ditengah jalan itu semakin membuat ibu Whana khawatir. Ia berlari ke rumahnya dari toko obat.



"Ayah, berita yang disampaikan Rimo kemarin sudah jadi perbincangan orang banyak. Aku takut .... Aku takut ...." Ayudiah langsung menangis di samping suaminya.



"Bu ... Whana anak yang cerdas. Tidak mungkin anak itu melakukan tindakan gegabah. Aplagi melawan binatang buas yang bukan tandingannya. Kamu ibunya, pasti lebih tahu bagaimana Whana kan?!" sahut Wahyu Rahngu memegang tangan Ayudiah, mencoba menenangkan kekhawatirannya. Padahal, di dalam hatinya, Wahyu Rahngu juga sangat khawatir akan keselamatan putranya. Namun ia tidak menampakkannya diluar.



Ayudiah mengangguk dan menyeka air matanya. Ia memberi tahu suaminya tentang apa yang disampaikan kakek Whana.



\*\*\*



KELUARGA DEGE



"Hahaha ..., biarkan orang tahu bahwa Whana telah dimakan binatang buas. Biarkan Keluarga Rahngu semakin terpuruk, lalu kita akan menawarkan bantuan dengan jaminan yang tinggi," ucap Rakuti Dege sambil tertawa di depan tetua keluarga.



Rakuti Dege adalah patriak dari Keluarga Dege. Kekuatannya setara dengan kakek Whana, yakni pada Tahap Penyempurnaan Roh tingkat Kesembilan. Selangkah lagi menuju Tahap Prajurit Alam.



"Baimu, kamu benar-benar bekerja dengan baik kali ini. Kakek akan memberimu hadiah nanti," sanjung Patriak Dege kepada Baimu.



"Terimakasih, kakek. Ini semua karena rencana kakek yang luar biasa," sahut Baimu dengan gembira, karena akan menerima hadiah dan juga mendapat sanjungan langsung dari Patriak di depan semua tetua keluarga.



\*\*\*


HUTAN KEMATIAN



Setelah istirahat, Whana melihat Poin Pengalamannya sudah mencapai dua ratus lebih. Segera ia meminta system untuk meningkatkan kultivasinya.



\[Ding! Selamat Tuan. Kultivasi telah naik level. Level saat ini adalah Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kedelapan ....\]



\[Ding! Selamat Tuan. Kultivasi telah naik level. Level saat ini adalah Tahap Pembentukan Tubuh tingkat Kesembilan ....\]



\[Ding! Selamat Tuan. Kultivasi telah naik level. Level saat ini adalah Tahap Transformasi tingkat Pertama ....\]

__ADS_1



\[Ding! Selamat Tuan. Kultivasi telah naik level. Level saat ini adalah Tahap Transformasi tingkat Kedua ....\]


__ADS_2