
Keduanya sama - sama terpental akibat tabrakan pukulan sejauh dua puluh meter. Whana berhasil menstabilkan dirinya dan berlari ke arah monster beruang itu.
Roooaaarrr....
Monster beruang itu mengaum dan bergegas menghantam Whana dengan cakarnya yang besar dan tajam dengan kecepatan yang cepat. Tapi Whana justru lebih cepat.
"Telapak Dewa!"
Whana berteriak di dalam hati dan megarahkan telapak tangannya ke dada monster berung.
Bam
Buk
Monster beruang itu terpental tiga puluh meter jauhnya, terjatuh menghantam batang pohon besar. Dada monster Beruang tampak cekung, berbentuk talapak tangan manusia. Yap! Itu adalah telapak tangan Whana yang mengenai beruang.
\[Ding! Selamat Tuan. Telah membunuh Monster Beruang \*7, Poin Pengalaman bertambah 75...\]
Tepat setelah notifikasi system terdengar, ada aura yang sangat ganas menuju Whana dengan cepat. Whana mengaktifkan sayap anginnya namun terlambat. Ia merasakan tubuhnya di hantam besi baja yang sangat keras dan dikirim terbang terbalik menghantam pohon besar di belakangnya.
Rooaaarr ...
Monster Beruang lainnya mengaum keras ketika melihat monster yang sama dengannya sudah mati. Ia menoleh ke arah Whana dengan tatapan tajam.
Sambil mengaktifkan tehnik Pemulihan, Whana juga mengaktifkan Langkah Angin dan berlari menghindari kejaran Monster Beruang yang ternyata lebih besar dan lebih tinggi dari sebelumnya.
"Sialan! Apakah itu ayah monster beruang? \*\*\*\*! Monster level 8 \*2. Ini setara Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Kedua." Whana mengutuk Monster Beruang itu.
Sesekali Whana meluncurkan serangan jarak jauh dari Tehni Telapak Dewa dan Tinju Bumi. Namun Monster Beruang itu sangat gesit dan dengan mudah menghindari serangan Whana.
Lima menit kemudian, saling kejar itu berhenti di area yang agak lapang. Whana melihat bahwa Monster Beruang itu tidak lagi mengejarnya dan hanya berdiri di tepi tanah lapang itu.
__ADS_1
Melihat ini, Whana juga berhenti berlari dan berdiri di atas batu besar yang warnanya hijau gelap.
'Apakah Monster ini sudah kelelahan dan menyerah mengejarku?' Whana berfikir di benaknya.
"Ayo! Kita bertarung!" Whana maju satu langkah. Namun Whana melihat Monster Beruang itu mundur selangkah.
"Sepertinya kau takut padaku." Whana langsung memanfaatkan kesempatan dari ketakutan Monster Beruang itu dengan berteriak dan meninju batu di bawahnya berulang kali. Ia melirik ke arah Monster Beruang itu dan melihat wajah Monster Beruang itu tampak sangat ketakutan.
"Hahaha ... Kau takut akan kekuatanku kan? Biar kutunjukkan tinjuku." Begitu Whana mengangkat tangan dan akan memukul batu di bawahnya lagi, tiba - tiba bumi bergetar dan batu hijau gelap tempat Whana berpijak mulai bergerak. Whana melompat ke samping.
Dalam beberapa tarikan nafas, batu hijau gelap itu berdiri dan menatap ke arah Whana dengan marah.
Whana melihat bahwa batu hijau gelap itu ternyata adalah Monster yang berbaring di tanah lapang. Bentuknya seperti Gorila namun seluruh tubuhnya berwarna hijau seperti Goblin. Besar tubuhnya seukuran tangki air tower rumah di Bumi yang tingginya sekitar delapan meter.
Pantas saja Monster Beruang itu berhenti mengejarnya. Monster itu memegang kepalanya yang tampak ada benjolan yang agak memerah.
'Sial! Berarti yang kupukul tadi adalah jidad kingking ini.' Whana mengutuk di dalam hati.
Monster hijau menggeram dan terus menatap Whana dengan semakin marah. Ketika Whana melihat ke arah tangannya yang menunjuk, ternyata tidak ada siapa - siapa. Monster Beruang itu telah menghilang dari tempatnya semula.
"Sial! Berengsek kau Monster Beruang sialan!" Whana kembali mengutuk Monster Beruang yang sudah melarikan diri.
Whana tersenyum canggung dihadapan Monster Hijau dan langsung mengaktifkan sayap angin hendak melarikan diri. Bagaimana pun tidak mungkin baginya menjadi lawan Monster yang setara Tahap Penyempurnaan Roh tingkat Menengah.
Mengepakkan sayap anginnya, Whana segera meluncur melarikan diri, tapi kecepatan Monster Hijau itu lebih cepat. Ia memukul tubuh Whana dengan genggaman tangan kanannya yang besar.
Bam
Whana langsung diluncurkan menabrak bukit kecil di depannya, dan memuntahkan seteguk darah.
\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Pemulihan telah naik level. Level saat ini adalah level 2/10.\]
__ADS_1
Dengan terobosan Tehnik Pemulihan ke level 2, yang tadinya memerlukan waktu sepuluh menit untuk pulih ke puncak, kini Whana hanya membutuhkan waktu delapan menit untuk pulih kembali hingga puncaknya.
Whana segera bangkit, berdiri dan terbang kembali dengan cepat. Tapi sayang, Whana menabrak sesuatu yang sangat keras hingga ia terpental sejauh satu kilo meter dan kembali memuntahkan seteguk darah.
Ternyata Whana menabrak tubuh Monster Hijau yang telah berdiri di sampingnya sebelumnya. Ia kemudian berdiri lagi untuk terbang lagi, tapi sayap anginnya tidak sempurna karena kondisi Whana yang belum pulih lima puluh persen.
Mengambil gerak cepat, Whana langsung berlari dan melompat ke kanan dan ke kiri sambil sesekali melihat ke belakang.
'Monster ini sangat cepat. Sial! Mimpi apa aku semalam bisa dikejar monster seperti ini.' Whana mendesah kesal di dalam hatinya.
Whana terus berlari secara zigzak menuju pinggiran Hutan Kematian namun Monster Hijau semakin menutup jarak dengannya.
"Sial, sial, sial." Whana terus mengutuk dan berfikir dengan cepat. Tepat ketika sedang putus asa, ia melihat ada lubang gowa kecil sekitar satu setengah kilo meter di depannya. Whana langsung menuju mulut gowa itu dan meluncur dengan cepat ke dalamnya.
Bam
Terdengar suara ledakan keras. Monster Hijau itu menghancurkan mulut gowa dan reruntuhan batu menutupi seluruh mulut gowa. Tidak berhenti disitu, Monster Hijau itu seperti sangat marah. Ia memukul terus menerus ke arah mulut gowa, menyebabkan setengah gowa hancur luluh lantah.
Di dalam gowa, Whana ketakutan dengan nafas terengah - engah. Ia duduk di sudut bagian dalam gowa dan mengatur nafasnya agar dapat pulih kembali.
Beberapa saat kemudian, tidak ada lagi suara amukan Monster Hijau yang mengejarnya.
'Sebaiknya aku beristirahat dulu disini. Dasar monster sialan! Benjol sedikit saja sudah sangat marah.' Dengan kesal dan marah Whana bergumam di benaknya.
Keesokan paginya, Whana mulai memindahkan reruntuhan batu yang menutupi mulut gowa. Ia memindahkan dengan pelan agar tidak menimbulkan suara maupun fluktuasi energi.
Setelah beberapa saat, muncul cahaya dari celah reruntuhan. Whana mengeluarkan kepalanya dari lubang celah reruntuhan itu. Ia tidak melihat apa pun di luar gowa, namun ada perasaan bahaya di dalam benaknya.
Tiba - tiba ia melihat ular piton sebesar pohon kelapa di Bumi sedang menatapnya dari atas kepalanya. Tanpa fikir panjang, Whana mengurungkan niatnya untuk keluar gowa. Ia kembali masuk sambil mengutuk di dalam hatinya.
"Sialan! Ular itu besar sekali! Kekuatannya setara Monster Gorila tadi malam," desahnya pelan.
__ADS_1
Untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan, Whana mengeluarkan daging dari ruang penyimpanan system dan mulai membuat api unggun.