Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 15


__ADS_3

Sebagian besar para bandit ini berada pada Tahap Transformasi tingkat Ketiga hingga tingkat Kesembilan dan Penyempurnaan Qi. Kultivasi tertinggi pada Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Kedelapan. Sama dengan kultivasi pamannya.


Mengingat banyaknya jumlah bandit, jelas rombongannya kewalahan dan terdesak. Bahkan sudah ada yang tewas. Tanpa fikir panjang, Whana langsung mengganti pakaiannya dengan warna hitam dan mengganti wajahnya. Hanya terlihat kedua matanya.


Dalam kondisi ini, Whana bingung memikirkan siapa ya ia akan tiru dengan Topeng Siluman. Jadi, cara tercepat adalah dengan menutupi wajahnya.


Whana, mengambil sepasang belati dari ruang penyimpanan system dan melompat ke medan pertemperuan langsung menebas dua orang bamdit. Seketika bandit itu terjatuh dengan kepala terpisah dari badannya.


Tanpa menunggu lagi, Whana mengarah kepada prajurit keluarga yang terdesak. Dengan kecepatan yang cepat, ia melemparkan belati di tangannya.


Buk, buk, buk ...


Lima kepala bandit terlepas dari badannya. Setiap kali ia bergerak, akan ada lima hingga delapan bandit yang terpenggal. Efektivitas pertempurannya sangat luar biasa.


Menyaksikan kekejaman yang dilakukan orang yang tidak dikenal, baik pihak kawanan bandit dan prajurit keluarga Rahngu sama - sama tercengang. Mereka belum pernah melihat seseorang yang bertempur dengan kecepatan dan keganasan seperti itu.


Namun hal ini membuat prajurit keluarga Rahngu menjadi bersemangat. Bagaimana tidak, belum sepuluh menit Whana bergabung dalam pertempuran, lebih dari seratus bandit terpenggal tanpa mengetahui penyebab kematiannya.


Sebaliknya, para bandit yang tersisa seolah mereka melihat dewa kematian sedang berdiri dihadapan mereka. Whana tidak peduli dengan anggapan mereka. Ia langsung memasukkan belati ke ruang penyimpanan system.


Dengan tangan kanan menjulur ke samping, sebilah pedang kusam muncul dari udara tipis ke genggaman tangan Whana.


'Gerakan kedua, tebasan maut!' ucap Whana dalam hati.


Whana melompat setinggi sepuluh meter dan menebas langsung ke arah kawanan bandit.


Slash, slash, slash


Buk, buk, buk

__ADS_1


Dalam sekali tebasan, tiga kepala bandit terguling di tanah. Whana menebas lagi dan lagi hingga muncul notifikasi system.


[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Pedang Surgawi telah naik level. Level saat ini adalah 2/10.]


Sebenarnya, entah berapa kali notifikasi system terdengar dibenaknya setiap kali ia memenggal kepala bandit. Namun Whana tidak memperdulikannya. Ia kembali muncul di antara kawanan bandit dan memenggal kepala bandit yang ada di dekatnya.


Dari dua ratus bandit yang mengepung, hanya tersisa sekitar tiga puluh orang bandit. Mereka langsung mundur bahkan ada yang melarikan diri.


Melihat situasi berbalik, para pemimpin bandit yang sedang bertarung dengan paman kedua dan paman keempat Whana mencoba melarikan diri. Namun naas, ketika mereka lengah karena tertegun dengan pembalikan situasi, mereka terkena serangan fatal dari paman Whana.


Whana langsung bergerak cepat untuk membunuh pemimpin bandit ini. Baginya, ini adalah Poin Pengalamannya yang berharga. Dengan sekali tebasan, kedua kepala pemimpin bandit jatuh ke tanah. Tidak berhenti di situ, Whana juga langsung membantai para bandit yang belum sempat melarikan diri.


"Senior, terima kasih atas bantuan senior." melihat Whana yang sedang mengumpulkan tas ruang dari para bandit, paman kedua Whana langsung membungkuk hormat seraya mengucapkan terima kasih.


"Beri mereka masing - masing lima puluh koin emas! Sisanya untuk biaya perawatan yang terluka dan kebutuhan keluargamu!" Whana melemparkan satu tas ruang yang berisi setumpuk koin emas kepada paman keduanya.


Tanpa menunggu jawaban paman keduanya, Whana melompat ke atas pohon dan menghilang dari pandangan keluarganya.


Belum lagi bagi para prajurit keluarga yang mendapatkan lima puluh koin emas adalah sesuatu yang tidak pernah mereka impikan sebelumnya. Upah mereka dalam pengawalan ini hanya berkisar tiga sampai lima koin emas.


***


Di tempat lain di hutan dekat perbatasan kota Ragane, tampak tujuh orang terengah - engah duduk di batang pohon besar.


"Siapa sebenarnya orang itu? Apakah keluarga Rahngu menyewa kultivator kuat?" tanya seorang bandit kepada rekan - rekannya.


"Mungkin saja. Tetapi dengan melihat efektifitas tempurnya, apakah keluarga Rahngu mampu membayarnya? Aku tidak menyangka keluarga Rahngu memiliki pelindung yang kuat," sahut bandit yang terkuat di antara merka.


"Siapa?" Seorang bandit langsung berteriak karena merasa bahwa dirinya sedang di awasi oleh sesorang.

__ADS_1


Mereka semua segera berdiri dan melihat seseorang dengan tubuh kurus dibalut dengan pakaian serba hitam seperti ninja sedang berdiri sepuluh meter di hadapan mereka. Orang itu berdiri dengan tenang dan tangan diletakkan di belakang pinggangnya.


"Siapa kamu sebenarnya? Berapa keluarga Rahngu membayarmu? Kami bisa melipatgandakannya jika kamu berada di pihak kami," bujuk seorang bandit Tahap Transformasi tingkat Kedelapan.


Mendengar itu, Whana mengerutkan kening dan pura - pura bertanya. "Benarkah? Tidak tertarik."


"Kamu tidak bisa mengalahkan kami seketika kami bekerja sama. Ayo! Serang dia secara bersamaan!" bandit terkuat langsung memberi perintah.


Namun, ketika hendak menyerang, mereka hanya berdiri diam di tempat. Lima detik berikutnya, keenam orang jatuh berlutut dan memutahkan seteguk darah, tewas seketika setelahnya.


Yap! Whana telah mengaktifkan tehnik Mata Dewa untuk membuat ilusi penyiksaan pada jiwa mereka.


Melihat keenam rekannya tewas tanpa tahu sebabnya, bandit yang memberi perintah sebelumnya gemetar tidak terkendali. Ia langsung berlutut di tanah.


"Senior, tolong jangan bunuh aku senior! Aku hanya menjalankan perintah," rengek bandit itu dengan penuh airmata memohon belas kasihan.


Melihat bandit yang menangis, Whana sebenarnya ingin tertawa terbahak - bahak. Bagaimana tidak, tampang bandit bertubuh kekar itu terlihat sangar dengan bekas luka sabetan pedang secara diagonal di wajahnya. Belum lagi pedang yang dibawanya cukup besar. Tapi kini sedang menangis memohon belas kasihan, bahkan terdapat ingus dari hidungnya.


"Oh, menjalankan perintah? Tugas dari siapa? Apa kamu fikir aku peduli?!" sahut Whana dengan dingin.


"Senior, anda tidak bisa membunuhku. Jika tidak, Tuan Muda saya akan membuat anda dalam kesulitan." melihat ada keraguan di mata Whana, bandit itu memberanikan diri untuk bangga dengan identitas kekuatan di belakangnya.


"Tuan Muda? Jangankan Tuan Muda, bahkan jika Tuan Tua aku tidak peduli." Whana melangkah maju ke arah bandit itu secara perlahan.


"Senior, tolong ampuni hidupku! Keluarga Wade akan berterimakasih untuk ini dan ..." sebelum bandit itu menyelesaikan kalimatnya, kepalanya sudah terlepas dan jatuh di tanah dengan mata membelalak seolah ingin tahu apa penyebab kematiannya.


'Keluarga Wade? Bukankan ini keluarga kelas satu?! Kenapa keluarga ini memusuhi keluarga Rahngu? Apakah ini kekuatan di belakang keluarga Dege yang dimaksud kakek?' Whana bertanya di dalam hatinya.


Whana bergegas memeriksa tubuh para bandit dan mengambil tas ruang milik mereka. Sebelum meninggalkan tempat, Whana membakar tubuh para bandit dengan Api Chaos dan musnah menjadi abu.

__ADS_1


****


__ADS_2