
"Apakah kemunduran keluarga kita ada kaitannya denga keluarga Dege?" tanya Whana memastikan.
"Tidak dapat dipungkiri ini memang ada kaitannya dengan keluarga Dege. Selain itu, kekuatan di belakang keluarga Dege ada keluarga kelas satu. Menurut informasi yang kakek dapat, kekuatan di belakang keluarga Dege ini juga merupakan keluarga teratas di kerajaan," jawab kakek Whana dengan helaan nafas panjang.
"Apalagi sekarang Patriak Dege sudah setengah langkah menuju Tahap Prajurit Alam. Maka kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan tindakan arogansi mereka." kakek Whana melanjutkan keluh kesahnya tentang keluarganya.
"Bagaimana dengan Tuan Kota, Ayah?" Wahyu Rahngu bertanya.
"Haaah .... Tuan Kota juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jabatannya tergantung kepada Kepala Distrik. Meskipun mendiang ayahnya adalah adik seperguruanku, tapi pengaruh keluarga kelas satu di Distrik Nabrajem sangat besar," sahut lelaki tua itu yang lagi-lagi mendesah.
"Kakek, tenanglah! Suatu hari nanti tidak ada yang akan mengganggu dan menindas keluarga kita lagi. Kakek, aku memiliki ini, gunakan untuk meningkatkan kekuatanmu menerobos ke Tahap Prajurit Alam." Whana langsung mengeluarkan dua rumpun Rumput Merah dan satu Pil Mida Bintang Delapan.
"Ini Rumput Awan Merah? Pil Mida Bintang Delapan? Ini sangat langka. Cucuku, dari mana kamu mendapatkan harta karun ini?" seru sang kakek dengan bergetar memandang ke arah Whana.
Whana tersenyum dan menjawab dengan tenang. "Sudah aku katakan sebelumnya, aku mendapat keberuntungan."
Lalu Whana mengeluarkan enam rumpun lagi Rumput Awan merah. Kakek, berikan ini kepada para Pamanku, masing-masing dua rumpun. Dalam waktu singkat, mereka pasti akan menerobos ke tingkat yang lebih tinggi."
Kakek Whana hanya ternganga menatap jumlah elixir langka yang dikeluarkan Whana dengan santainya. Ia telah berusia sekitar dua ratus tahun, namun belum pernah menggunakan elixir langka yang ada di depan matanya.
Melihat itu untuk keluarganya yang diberikan cucunya, lelaki tua itu gemetar dengan mata memerah menatap cucunya. "Whana, terima kasih. Terima kasih."
"Ayah, jangan sampai hal ini tersebar keluar. Cukup kita yang tahu." Wahyu langsung berkata kepada ayahnya.
"Aku mengerti," sahut lelaki tua itu.
Ia memahami jika hal ini sampai diketahui oleh pihak lain, maka bisa menyebabkan bencana bagi keluarganya.
"Patriak, kabar buruk. Rombongan Tuan Mistur diserang bandit." lapor penjaga dengan tergesa-gesa.
Sontak suasana menjadi tegang.
"Apa? Dari mana kamu tahu?" teriak Patriak terkejut.
"Salah satu penjaga yang bersama Tuan Mistur ada di depan dan dia terluka parah," jawab penjaga itu dengan cepat.
__ADS_1
Patriak, Wahyu dan Whana segera bergegas ke luar aula menuju gerbang keluarga. Tampak seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun berlumuran darah sedang dibantu oleh pelayan keluarga.
"Patriak, Tuan Mistur sedang bertarung di perbatasan Kota Ragane. Kami disergap bandit ketika kami akan kembali," lapor pria yang berlumuran darah itu dengan terbata-bata.
"Bawa dia ke dalam dan berikan dia perawatan secepatnya!" perintah Patriak kepada beberapa pelayan.
"Aku akan berangkat ke perbatasan bersama zakat, Ayah." Wahyu langsung menanggapi situasi.
"Bawa beberapa penjaga!" sang Patriak mengangguk dan mengiyakan kalimat Wahyu.
Ketika ayah dan paman ketiganya berangkat ke perbatasan kota Ragane. Whana segera menuju bukit belakang rumahnya. Untuk menghindari kecurigaan, Whana menyampaikan kepada ibunya bahwa ia akan berlatih.
Tiba di bukit belakang rumahnya, Whana langsung menukar 500 Pts dengan kupon undian.
\[Ding! Selamat Tuan. Anda belum beruntung....\]
\[Ding! Selamat Tuan. Anda mendapatkan lima Mutiara Kesialan ....\]
\[Ding! Selamat Tuan. Anda belum beruntung....\]
Sambil mendengar notifikasi system, Whana melompat dari pohon ke pohon dengan kecepatan penuh layaknya seekor kera.
Waktu tempuh ke perbatasan dengan kecepatan ayah Whana bisa memakan waktu sehari. Namun, Whana yang memiliki elemen angin dan tehnik langkah angin pada level 4, hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam.
"System, apa kegunaan Mutiara Kesialan?" sambil melompat dan berlari terus menerus, Whana meminta system menjelaskan apa yang ia dapat dari undian.
\[Ding! Mutiara kesialan : jika diletakkan pada seseorang dan diaktifkan. Maka orang tersebut akan mengalami kesialan terus menerus selama enam puluh detik.\]
"System, pelajari tehnik Pemulihan," pinta Whana.
\[Ding! Selamat Tuan. Telah mempelajari tehnik Pemulihan tingkat Legendaris. Level saat ini adalah 0/10\]
Seketika segala pengetahuan tentang tehnik pemulihan memasuki otak dan tubuhnya. Tiba - tiba notifikasi system kembali terdengar.
__ADS_1
\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Langkah Angin telah naik level ke level 5 : dapat menciptakan sayap angin untuk terbang.\]
Whana langsung berhentu di sebuah dahan pohon. Ia segera menggunakan elemen angin untuk memadatkan sayap angin dengan fikirannya. Dalam satu tarikan nafas, sepasang sayap angin berwarna hijau muda muncul dari punggungnya. Sayap angin yang lebarnya masing - masing dua meter langsung mengepak.
Whana sangat gembira, tepat ketika dibutuhkan, tehnik langkah anginnya mengalami terobosan ini.
Dengan mengepakkan sayapnya, Whana terbang tinggi ke angkasa. Namun, cara terbang Whana tergolong aneh. Ia terbang ke kanan dan ke kiri. Bahkan kadang - kadang terbang mundur. Mirip dengan pesawat terbang yang dikemudikan oleh pilot yang mabuk.
"Sialan! Ini pertama kalinya aku terbang. Jadi belum terbiasa," gerutu Whana sedikit kesal.
Whana kembali menyesuaikan cara terbangnya. Tiba - tiba ...
Bruuuuaaakkk
Whana menabrak batang pohon yang besar dan jatuh ke tanah.
"Aduh! Aduh! Sialan! Brengsek!" Whana mengelus kepala dan langsung memuntahkan seteguk darah.
Ini kali pertama Whana terluka semenjak ia terlahir kembali ke dunia ini.
'Tehnik Pemulihan!' Whana mengucap di dalam hati. Tampak luka - luka kecil dan luka dalam akibat menabrak pohon dan jatuh ketanah sembuh dengan sendirinya secara perlahan. Sekitar lima menit kemudian, luka yang dialami Whana sembuh total.
\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Pemulihan telah naik level. Level saat ini 1/10\]
"Eh?" Whana tertegun sejenak. Ia tidak menyangka setelah menabrak pohon dan terjatuh, tehniknya mengalami terobosan.
Dengan cepat ia pulih, dan langsung terbang kembali menuju perbatasan.
Perkiraan awal, ia membutuhkan waktu sekitar satu jam tapi dengan terbang dan dengan kecepatan yang cepat, Whana sampai tujuan hanya dengan waktu tiga puluh menit.
Perlu diketahui bahwa hanya kultivator Tahap Prajurit Alam yang memiliki kemampuan untuk terbang. Itupun harus beristirahat untuk memulihkan energinya setiap menempuh jarak satu kilo meter. Namun, Whana yang memiliki sayap angin dari elemen angin, ia mampu terbang hingga seratus mil tanpa istirahat.
Whana bersembunyi di dahan pohon yang lebat dengan dedaunan dan menyembunyikan keberadaannya. Ia melihat sekitar dua ratus kawanan bandit sedang mengepung rombongan pamannya yang hanya berjumlah lima puluh orang.
__ADS_1
Sebagian besar para bandit ini berada pada Tahap Transformasi tingkat Ketiga hingga tingkat Kesembilan dan Penyempurnaan Qi. Kultivasi tertinggi pada Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Kedelapan. Sama dengan kultivasi pamannya.