Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 64


__ADS_3

"Hahaha. Putriku, terima kasih. Terima kasih. Jendral, terima kasih. Terima kasih. Semua racun di tubuhku hilang tanpa jejak." Sang Raja berteriak dan memeluk putrinya yang tidak siap dengan tindakan ayahnya yang tiba - tiba.



"Ayah? Ayah benar - benar sudah pulih?" Dayu yang tadinya masih tertegun tidak percaya bertanya kepada sang Raja untuk memastikan.



"Ayah terbebas. Ayah terbebas, nak. Ini semua berkatmu dan Jendral Pon." ucap sang Raja dengan penuh semangat tapi matanya sudah memerah memandang putrinya. Jika bukan karena usaha putrinya yang tidak mengenal lelah untuk mencari obat penawar untuknya, mungkin tahun ini adalah hari kematiannya.



"Ayah, usahaku tidak sia - sia." Dayu menangis dan memeluk ayahnya denga erat.



"Katakan padaku, dari mana atau keberuntungan apa sehingga kamu mendapatkan obat mujarab ini?" tanya sang Raja yang masih diliputi ketidakpercayaan sekaligus kebahagiaan di wajahnya.



"Ayah, kami mendapatkannya dari seorang pemuda di kota itu. Nanti aku dan Jendral Pon akan menjelaskan semuanya. Sekarang yang terpenting adalah mengumumkan kesehatan Ayah yang baik - baik saja agar Kerajaan tidak terus bergejolak dari para pengkhianat itu." jawab Dayu dengan serius.



"Baiklah, apa yang kamu katakan benar." sang Raja berkata menganggukkan kepalanya.



Tidak lama kemudian sang Raja mengumpulkan seluruh menteri, Jendral dan pejabat tinggi kerajaan untuk berkumpul di aula istana. Melihat sang Raja dalam keadaan yang segar bugar, seluruh pejabat tinggi kerajaan menunjukkan kegembiraan dan senyum cerah muncul di wajah mereka terutama bagi mereka yang kesetiaannya tidak perlu lagi di pertanyakan. Ucapan selamat dengan penuh antusias bergema di aula istana hingga terdengar di seluruh lingkungan istana.



"Paduka, selamat atas karunia kesembuhan paduka Raja. Jika diperkenankan, siapa tabib yang beruntung itu?" Tanya seorang menteri dengan hormat.



"Suatu saat kalian akan mengetahui siapa orang yang telah menyelamatkanku dari jeratan racun ganas ini. Hari ini, umumkan kepada seluruh kota Distrik bahwa untuk tahun ini, pajak mereka akan di potong 50% dari seharusnya." sang Raja menjawab dan memberi perintah.



..........



Di bagian belakang istana terdapat taman yang di hiasi bunga - bunga yang indah, tampak asri dan menyegarkan. Di tengah taman, berdiri sebuah bangunan dengan 6 tiang dan dibatasi dengan dinding setinggi 1 meter di sekelilingya. Kolam yang mengitari bangunan itu juga menambah suasana alami namun dengan kesan yang mewah.



Di bangun seluas 30 meter per segi, dua orang wanita dan seorang pria muda sedang berbincang dan terlihat sangat serius.



"Seperti dugaan ibu, ada keterkaitan dengan keluarga Tigas. Hanya saja aku belum menemukan cara untuk membuka kedoknya. Dayu menyampaikan hasil penyelidikannya.

__ADS_1



"Selir ini sangat licik. Aku sudah mencurigainya sejak awal." jawab Ibunda Dayu yang juga permaisuri kerajaan.



"Bagus, kamu harus berhati - hati. Sekarang Ayahmu telah terbebas dari racun terkutuk itu maka kemungkinan besar mereka akan terus melakukan serangan diam - diam, terutama padamu sebagai putra mahkota." permaisuri memperingatkan putranya.



"Ibu, aku akan mengingatnya." Bagus menjawab dengan penuh perhatian.



"Kalian di sini rupanya." suara Raja terdengar di pintu masuk taman dan diikuti oleh dua orang di belakangnya.



"Ayo, duduk semuanya. Kalian berdua juga." Raja menyuruh mereka semua duduk termasuk Jendral Pon dan ajudannya yang masih berdiri di bakang Sang Raja.



"Ceritakan padaku bagaimana kamu bisa mendapat obat mujarab itu?" Raja bertanya sambil menatap ke arah Dayu.



Mendengar pertanyaan ayahnya, Dayu menceritakan kejadian bagaimana Whana memberinya obat itu dengan santainya. Namun ia tidak menceritakan ketika dia dan Whana bertabrakan di sebuah gang. Ketika cerita Dayu sampai pada ekspresi Jendral Pon yang menguji obat, semua orang menatap Jendral Pon dengan aneh.




"Hahaha. Hahaha. Hahaha."



Spontan semua orang tertawa melihat reaksi Jendral Pon yang malu - malu.



"Aku berhutang nyawa dengan pemuda itu. Apakah kamu menyelidiki asal usulnya?" tanya sang Raja penasaranan.



"Ya, Ayah. Sebelum pemuda itu memberikan obat padaku, aku sudah menyelidikinya dengan harapan dapat merekrutnya di akademi Buana Raya karena pemuda ini tidak sesederhana kelihatannya." Jawab Dayu menjelaskan.



"Maksudnya tidak sesederhana kelihatannya?" sang Raja semakin penasaran.



Dayu menatap Jendral Pon, melihat ini Jendral Pon angkat bicara.

__ADS_1



"Anak itu memiliki kemampuan serangan jiwa, dan paduka juga tahu bahwa tehnik serangan jiwa sudah lama hilang sejak jutaan tahun yang lalu. Selain itu ia mampu menyembunyikan kultivasinya hingga 5 tingkat. Kita semua tahu bahwa kultivator yang bisa menyembunyikan tingkat kultivasi minimal harus berada di ranah Kaisar dan itu pun hanya 3 tingkat." Jendral Pon menjelaskan.



"Itulah sebabnya kami tertarik untuk merekrutnya sebelum pihak lain." imbuh Jendral Pon.



"Pemuda yang luar biasa. Berapa usianya?" Sang Raja kembali bertanya.



"15 tahun, paduka. Dan kultivasinya telah mencapai Penyempurnaan Qi tingkat 2." Jendral Pon segera menjawab.



"15 tahun? Bukankah seumuran dengan Bagus?" seru Raja sambil menoleh ke arah putranya.



"Ayah benar. Pemuda ini bernama Whana Rahngu dari keluarga Rahngu. Keluarga ini bukanlah keluarga tekemuka di kota kecil itu. Satu hal yang penting, dia tidak tahu bahwa ayahku adalah seorang Raja Liba dan dia mengatakan bahwa jika suatu hari bisa bertemu dengan ayahku, maka mungkin rasa nyeri dan kesemutan yang merupakan efek traumatik racun bisa di hilangkan secara total." Dayu berkata menjelaskan dengan semangat.



"Aku memberinya token keluarga kerajaan melalui penguasa kota Ragane di hari kompetisi keluarganya. Jika suatu hari ia datang ke ibu kota kerajaan paling tidak token itu bisa menghindarinya dari kesulitan." imbuh Dayu kepada Ayahnya.



Jendral Pon juga memberi tahu tentang bagaimana keluarga Dege yang meracuni Whana dengan racun yang mirip dengan racun yang menyerang sang Raja. Ia juga menyampaikan analisanya tentang keterkaitan keluarga Dege, keluarga Wade dan keluarga Tigas.



"Aku ingin bertemu dengan pemuda ini." ucap sang Raja tegas.



"Ayah, kurang dari 3 bulan ada pembukaan pendaftaran akademi. Kami sudah sepakat menjemputnya setelah acar itu. Dan ada satu hal yang mungkin membuat ayah tidak akan menyukainya." jawab Dayu dengan ekspresi takut - takut.



"Apa?" Tanya sang Raja.



"Dia tidak akan berlutut di depan siapa pun dan begitu pula sebaliknya dia tidak ingin orang lain berlutut di depannya." Jawab Dayu sambil menatap ayahnya ragu - ragu.



"Hahaha, aku kira apa. Apakah kamu kira aku suka orang lain berlutut di depanku? Jika bukan karena aturan dan tradisi kerajaan, maka semua pejabat tinggi tidak perlu melakukannya." sang Raja tertawa mendengar apa yang di sampaikan putrinya.


__ADS_1


"Aku semakin tertarik dengan pemuda ini." gumam sang Raja yang masih bisa di dengar oleh seluruh orang di sekitarnya.


__ADS_2