
Ketika aura wakil ketua tim melakukan penindasan terhadap Whana, suara notifikasi system terus berdering di benaknya.
Menghadapi tekanan aura, Whana tetap berdiri seolah tidak ada yang terjadi.
"Bocah ini menggunakan artefak untuk menahan penindasan aura. Begitu banyak harta di tubuhmu dan tentu saja akan menjadi milik kami. Hahaha, kedua pengintai itu tertawa terbahak - bahak.
Whana hanya tersenyum sambil menyeka darah di sudut mulutnya.
'Sepertinya hanya dengan embun beracunku agar bisa mengalahkan kedua anjing tua ini.' gumam Whana di benaknya dan segera bersiap menyiapkan embun beracun miliknya.
Hahaha
'Mata Dewa, pedang jiwa.'
Whana mengaktifkan mata dewa dengan jurus terbaru dari kenaikan level tehniknya itu. Kedua pengintai terakhir langsung merasakan pandangannya kabur dan melihat ada banyak pedang yang masuk dan menusuk di kepalanya. Rasa sakit yang luar biasa menyerang jiwa mereka seolah dicincang oleh ribuan pedang.
Namun bagaimana pun tingkat kultivasi juga sangat berpengaruh terhadap penerapan tehnik.
"Sialan, bocah ini menggunakan serangan jiwa. Cepat bunuh dia!" ucap ketua tim yang masih dengan keringat dingin.
Tepat ketika ucapan pengintai itu selesai, Whana muncul 5 meter dari mereka dan melemparkan bola kristal bening dengan banyak bintik hitam ke arah mereka.
Wuuusss
Kedua pengintai langsung melihat suasana yang sebelumnya terang benderang menjadi gelap gulita. Mereka menyerang ke segala arah dengan harapan dapat mengenai Whana. Namun Whana telah terbang kembali dengan cepat ke area aman dari serangan.
"Ah, kepalaku sakit!!!"
Arrrggghhh, tulangku serasa sangat nyeri. Apa yang di lemparkan bocah itu? Arrrggghhh."
Kedua pengintai berteriak dan berguling - guling di tepi sungai.
Melihat serangan embun beracunnya berhasil, Whana yang wajahnya sudah pucat terbang mendekati dan berdiri sekitar 5 atau 6 meter dari kedua pengintai.
'Lukaku cukup parah. Jika aku tidak memiliki tehnik pemulihan, bisa modar diriku.' Whana mendesah melihat dadanya yang cekung akibat pukulan dan mulai kembali seperti semula secara perlahan.
\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Tinju Bumi telah naik level. Level telah penuh dan ditingkatkan menjadi Tehnik tingkat Bumi. Level saat ini adalah 0/20\]
\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Pemulihan telah naik level. Level saat ini adalah 6/10\]
\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Pernapasan telah naik level. Level saat ini adalah 5/10\]
__ADS_1
Meskipun Whana gembira mendengar notifikasi system, ia masih fokus pada dua orang yang sudah melemah di depannya.
"Kenapa kalian mengikutiku?" Tanya Whana dengan dingin.
"Kamu menggunakan cara tercela. Bunuh saja kami! Kami tidak akan memberi tahumu!" geram sang ketua tim pengintai.
"Hehehe, aku akan memberi penawar ini jika kau bersedia bekerja sama dengan baik." Whana terkekeh dan mengeluarkan botol giok yang berisi pil.
"Lagi pula kalian tidak akan bisa mati meskipun kalian menginginkannya. Selama sisa hidupmu kamu akan merasa kesemutan dan nyeri di seluruh tubuhmu. Hahaha." lanjut Whana dengan tertawa.
Mendengar apa yang di ucapkan Whana, mereka ketakutan setengah mati. Bagaimana tidak, penderitaan yang Whana bicarakan sedang mereka alami sekarang dan lebih buruk dari pada mati.
'Setelah terbebas dari racun sialan ini, ku bunuh bocah ini segera.' ketua tim pengintai berencana di dalam hatinya.
"Apakah kamu tidak akan membohongi kami?" ucap ketua tim pengintai.
"Tentu saja tidak." Jawab Whana tanpa mengubah ekspresinya.
"Kami di sewa untuk membunuhmu oleh Tuan Muda Loro Wade dari keluarga kota Distrik." ketua tim pengintai berkata.
"Apakah ucapanmu dapat di percaya?" sahut Whana sambil mengerutkan kening.
Whana mengambil kertas dari tangan ketua tim pengintai dan membukanya.
'Jenis kertas dan goresan tinta mirip dengan yang aku dapatkan dari bandit di rumah Rimo. Siapa itu Loro Wade? Kenapa dia ingin membunuhku?' Whana berpikir di dalam hatinya.
"Kapan kalian tiba di kota Ragane? Berapa orang yang bersamamu?" Whana kembali bertanya.
"Kami tiba kemarin dan langsung ke keluarga Dege dan jumlah kami 9 orang." Jawab sang ketua tim pengintai.
"Ini untuk kalian. Tarik napas sebanyak 21 kali secara berurutan sebelum menelan penawarnya." Whana melemparkan botol giok dan berkata.
Whana kemudian berjalan menjauh dan kembali ke batu besar tanpa memperhatikan lagi kedua orang pengintai.
Sesaat kemudian ...
Aaaarrrggghhh
"Obat apa yang kau berikan padaku? Kenapa meridianku serasa mau pecah?"
Aaaarrrggghhh
__ADS_1
Kedua pengintai itu jungkir balik berteriak kesakitan dan menatap Whana dengan sangat marah.
"Ah, maaf. Aku salah mengambil pil." Whana menjawab sambil tersenyum.
"Kau bajingan!!!" setelah kalimat itu terucap, kedua pengintai terakhir tewas mengenaskan.
Whana langsung mengambil cincin penyimpanan semua pengintai dan membakar mayat mereka menjadi abu.
"Loro Wade, keluarga Dege." Whana mengucapkannya dengan penuh rencana di benaknya.
...............
----- ISTANA KERAJAAN LIBA -----
"Ayahanda, aku kembali." Dayu berlutut di depan ayahnya yang terbaring di ranjang besar dan mewah.
"Jendral Pon, menghadap kepada Yang Mulia." Jendral Pon membungkuk di samping kanan Dayu.
"Ah, bangkitlah! Kemana saja kau selama ini? Ibumu mengkhawatirkanmu." Sang Raja menegur putrinya yang sudah dua bulan bepergian.
"Ayah, aku menyelidiki beberapa keluarga teratas dan mengarah pada keluarga Tigas. Aku menemukan keterkaitan keluarga itu dengan keluarga Wade dari Distrik Nabrajem." Dayu kemudian menghela napas.
"Ayah, aku juga mencari obat untuk ayah." imbuh Dayu.
"Putriku, sudah semua tabib di daratan Liba kita datangkan bahkan beberapa dari daratan Waja tapi tidak ada hasil dan jawaban mereka semua hampir sama. Mereka tidak mengetahui jenis racun jiwa yang menggrogoti tubuhku." Raja Liba mencoba menenangkan diri sendiri dan menghibur putrinya.
"Ayah, coba ini!" Dayu berkata dan mengeluarkan botol Kristal kecil bening berisi cairan hitam pekat.
"Apa ini?" Sang Raja mengerutkan kening dan bertanya.
"Aku mendapatkannya di kota kecil bernama Ragane di bawah Distrik Nabrajem. Ayo Ayah, coba dulu!" Dayu menjawab dan membujuk ayahnya untuk segera meminum obat itu.
"Ijin berbicara Yang Mulia. Saya pribadi sudah mencoba obat itu. Hanya dengan menghirupnya sisa racun di tubuhku selama ratusan tahun langsung lenyap seketika." ucap Jendral Pon dengan hormat.
"Benarkah? Semanjur itu?" Raja bertanya dengan heran.
Dayu dan Jendral Pon menganggukkan kepalanya serempak sebagai jawaban. Setelah melihat keduanya, Raja Liba menarik napas dan membuka penutup botol kristal. Tanpa ragu - ragu dia langsung menelan bersih cairan itu tanpa tersisa.
Suasana sedikit tegang dan tidak ada yang bersuara. Sepuluh detik kemudian, Sang Raja yang semula bersandar di dipan ranjang untuk minum obat, langsung duduk dengan tegak. Kemudian turun dari ranjang dan berdiri.
"Hahaha. Putriku, terima kasih. Terima kasih. Jendral, terima kasih. Terima kasih. Semua racun di tubuhku hilang tanpa jejak." Sang Raja berteriak dan memeluk putrinya yang tidak siap dengan tindakan ayahnya yang tiba - tiba.
__ADS_1