
"Adik, bagaimana kamu bisa bergerak secepat itu?" Noya bertanya dengan penasaran.
"Aku memiliki elemen Angin, sama dengan Kak Wina. Hanya saja Kak Wina belum bisa menggunakannya." jawab Whana santai.
"Aku memiliki elemen Angin? Yang benar? Bagaimana kamu mengetahuinya? Apakah kamu bisa membantuku menggunakannya? Apakah belajarnya cukup sulit?" Wina terkejut dan langsung menyerang Whana dengan pertanyaan yang cepat.
Baik Whana, Noya, Moni dan Mori tertegun menatap Wina yang mengucapkan berbagai kalimat tanpa henti dan tanpa ada kesalahan kata.
"Apakah lidahmu tidak terkilir mengucapkan begitu banyak kata dalam sekali nafas?" Noya bertanya dengan heran.
"Huh. Adik, jangan dengarkan dia! Apakah kau bisa membantuku?" Wina mendengus pada Noya dan langsung memeluk lengan kanan Whana.
Belum sempat Whana menjawab, aura Penyempurnaan Qi yang terasa langsung memenuhi area mereka.
Bam
Suara teredam terdengar di telinga semua orang.
"Dia menerobos ke Penyempurnaan Qi." seru Mori.
"Ya, dia memaksimalkan potensinya ketika melawan beruang tadi. Kalian pun akan mendapat hal yang sama jika memaksimalkan potensi diri kalian sendiri." Whana menjelaskan untuk memicu semangat para sepupunya.
Diman membuka matanya dan melihat ke arah Whana.
"Adik, terima kasih. Jika kamu tidak memberi tahuku, aku tidak akan menerobos hari ini." ucap Diman kepada Whana dengan tulus.
"Ayo, kita lanjutkan ke selatan! Sebentar lagi sore." ucap Whana kepada semua sepupunya.
Sore hari, Whana dan kelompoknya tiba di tepi tebing tertentu. Whana langsung teringat bahwa di dasar tebing itu lah ia menemukan pohon jiwa.
"Di depan kita ada jurang yang sangat dalam. Kita istirahat di dasarnya." ucap Whana dengan santai.
"Adik, bagaimana cara kita ke dasar? Apalagi itu sangat dalam?! Apakah di dasar tidak berbahaya?" Wina bertanya heran dengan ajakan Whana.
Whana langsung mengaktifkan sayap angin dan melayang setinggi 5 meter di atas mereka, "Aku akan membawa kalian secara bergantian."
Dari atas, jurang itu tampak gelap gulita namun ketika sudah mencapai dasar, semuanya tampak normal. Mereka memasuki gowa di dinding tebing yang sebelumnya pernah di buat Whana.
__ADS_1
"Adik, apa kau pernah ke tempat ini sebelumnya?" Moni bertanya penasaran karena merasa Whana sangat mengenal tempat yang di lihatnya.
Whana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum.
.............
----- Kota Distrik Nabrajem -----
Hampir 10 hari perjalanan, 2 ekor burung raksasa muncul di atas kota distrik Nabrajem.
"Itu burung kerajaan, apakah ada sesuatu yang terjadi?" seorang penjual makanan ringan berseru melihat burung raksasa lewat di atasnya.
"Mungkin memang ada sesuatu. Sangat jarang orang kerajaan ke kota distrik kita." jawab pedagang lainnya.
Burung raksasa itu turun perlahan tepat di depan gerbang kediaman ketua Distrik.
"Kami utusan kerajaan Liba dan ingin bertemu ketua Distrik untuk menyampaikan perintah Raja." Komandan utusan berbicara kepada penjaga gerbang sambil menunjukkan token emas yang di tengahnya terdapat lambang kerajaan Liba berwarna ungu.
Melihat token yang di tunjukkan komandan utusan, penjaga gerbang langsung berlutut dengan satu kaki memberi hormat. Segera membawa rombongan utusan kerajaan ke aula ketua Distrik.
"Ketua Distrik, mari berbicara santai. Ini juga yang disampaikan paduka Raja kepadaku." ucap komandan utusan.
Ketua Distrik tertegun sejenak, karena biasanya ketika mendengar titah raja maka posisi harus tetap berlutut sebagai tindakan menerima perintah raja. Namun ketua distrik akhirnya mengikuti ucapan komandan utusan.
"Raja telah menyampaikan 3 perintah bahwa yang pertama, mulai tahun ini distrik Nabrajem akan membayar pajak 50% dari sebelumnya selama 100 tahun." ucap komandan utusan sesuai perintah raja.
Mendengar ini, ketua distrik sangat gembira. Ia benar - benar tidak menyangka bahwa pihak kerajaan sebenarnya memperhatikan wilayah yang dipimpinnya.
"Kedua, kota Ragane akan dibebaskan dari pajak selama 100 tahun mulai dari tahun ini." komandan utusan melanjutkan.
Ketua Distrik tertegun, dan bertanya di dalam hatinya, 'apakah semua ini ada hubungannya dengan kota Ragane?'
"Ketiga, nilai tunjanganmu sebagai ketua distrik akan disetarakan dengan pejabat pengawas distrik yang artinya naik 2 kali lipat mulai tahun ini." imbuh sang komandan.
Hati ketua distrik semakin berbunga - bunga dan wajahnya tersenyum cerah.
__ADS_1
"Apakah ada yang perlu ditanyakan?" melihat wajah ceria sekaligus bingung dari ketua distrik, komandan utusan segera bertanya.
"Apakah semua hadiah ini ada kaitannya dengan kota Ragane, komandan?" Tanya ketua distrik dengan penasaran.
"Ya, tapi aku tidak berhak menyampaikan alasannya. Tugasku hanya menyampaikan dan menjalankan perintah raja." jawab sang komandan.
"Aku tidak akan berlama - lama dan segera melaksanakan perintah selanjutnya." imbuh sang komandan yang lansung berdiri dari duduknya.
Komandan utusan dan rombongannya segera berangkat menuju kota Ragane.
"Apa yang terjadi di kota Ragane hingga distrikku menerima hadiah sebesar ini? Sepertinya aku harus menyelidikinya dan mulai memperhatikan kota ini." gumam ketua distrik.
......................
----- Hutan Kematian -----
Selama beberapa hari ini, Whana menemani para sepupunya berlatih di pinggiran perbatasan Hutan Kematian. Semuanya sudah mulai merasakan manfaat dari pelatihan singkat ini.
"Adik, terima kasih telah membawa kami dalam pelatihan ini. Jika bukan karenamu. Kami tidak akan mengalami peningkatan yang luar biasa ini." Noya berkata sambil memotong daging binatang buas untuk dipanggang.
"Noya benar, jika bukan karenamu selain terobosan aku tidak akan bisa merasakan elemen Angin." Wina juga menujukkan terima kasihnya.
"Apakah aku juga memiliki elemen?" Mori, Moni, Noya dan Diman tiba - tiba bertanya dengan serempak seolah telah mengatur waktu untuk bekerja sama.
"Eh? Kenapa bisa bersamaan?" Moni tersenyum canggung dan malu - malu. Akhirnya semua orang tertawa terbahak - bahak.
"Kak Moni juga punya elemen cahaya, tapi setelah tingkat 9 baru bisa dirasakan. Kak Mori punya elemen api sama dengan Kak Noya. Sedangkan Kak Diman memiliki elemen tanah. Tapi untuk kalian bertiga baru bisa merasakan ketika sudah berada pada Tahap Penyempurnaan Qi tingkat Tinggi, minimal tingkat 8 awal." Jawab Whana menjelaskan.
"Adik, bagaimana kamu tahu semua ini?" Tanya Diman yang keheranan.
"Aku tidak tahu. Aku hanya bisa merasakannya dari nafas kalian. Aku harap kalian tidak mengatakan apapun kepada orang lain baik tentang elemen yang kalian miliki maupun kemampuanku ini." pinta Whana dengan ekspresi serius.
"Ya, aku mengerti. Ini bisa menyebabkan bencana bagi keluarga kita jika sampai tersebar." Diman langsung mengerti yang dimaksud Whana.
"Ya, aku juga setuju. Kekuatan keluarga kita masih jauh dari kata mampu jika bertemu dengan orang atau kelompok yang serakah." Mori melanjutkan pernyataan Diman.
__ADS_1
Semua orang mengangguk dengan serius untuk merahasiakannya.