
Whana mengaktifkan tehnik pernafasan, namun kemudian ia menyadari bahwa kultivasinya hanya bisa disembunyikan lima tingkat. Artinya orang lain dapat melihat kultivasinya pada Tahap Transformasi tingkat Kedua.
"Tidak masalah, sebaiknya aku berlatih tehnik Telapak Dewa. Tehnik ini sangat sulit untuk ditingkatkan," fikir Whana di dalam hati.
Beranjak dari duduknya dan mulai berlatih tehnik Telapak Dewa.
\*\*
Menjelang petang, rombongan keluarga Rahngu tiba di kediaman keluarga. Segera empat orang menuju aula utama untuk melaporkan apa yang terjadi kepada patriak keluarga.
"Ayah," sapa Mistur dan yang lainnya kepada patriak Rahngu.
"Bagaimana? Apa yang terjadi sebenarnya?" Patriak Rahngu langsung pada pokok pertanyaan.
"Kami selamat, Ayah. Ketika sedang dalam posisi terdesak, ada seseorang yang membantu kami dan membunuh semua kawanan bandit. Dari dua ratus orang kawanan bandit, hanya beberapa saja yang berhasil melarikan diri ...," jawab Mistur dan menceritakan kejadian yang mereka alami.
"Seseorang? Siapa? Apakah kamu mengenalnya?" tanya patriak dengan penasaran.
Zaleh langsung menjawab. "Tidak, Ayah. Senior itu menutup seluruh wajahnya dan hanya bagian matanya yang terlihat."
"Kami juga diberi koin emas. Sebagian sudah kami bagikan kepada prajurit keluarga kita. Senior itu meminta kita memberikan lima puluh koin emas per orang dan masih tersisa dua ratus ribu koin emas." Mistur menimpali dan memberikan tas ruang yang berisi koin emas kepada patriak Rahngu.
Menerima dan melihat isi tas ruang yang diberikan oleh Mistur, patriak Rahngu terdiam sesaat. Dia merasa bingung, siapa senior yang melindungi keluarganya.
"Ayah, apakah itu kultivator dari Tuan Kota?" tanya Wahyu yang juga penasaran dengan kejadian ini.
Sebelum patriak menjawab, Zaleh Rahngu menyela. "Jika melihat efektifitas tempurnya, aku rasa tidak mungkin itu prajurit Tuan Kota. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, hampir semua bandit terpenggal tanpa suara."
Mendengar perkataan Zaleh, patriak Rahngu kembali tercengang. 'Siapa sebenarnya senior ini?' patriak Rahngu semakin penuh tanya dalam pikirannya.
"Kalau begitu kalian semua duduk dulu! Ada yang ingin kusampaikan," pinta patriak kepada keempatnya.
"Hari ini keluarga Rahngu kita telah diberikan keberuntungan yang berlimpah oleh Dewa. Selain kalian kembali dengan selamat bahkan dengan banyaknya koin emas, keluarga kita akan bangkit dari keterpurukan," ujar patriak Rahngu dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Jika dilihat dari kekuatan, sebenarnya keluarga Rahngu kita sudah setahun yang lalu turun dari keluarga kelas dua di Kota Ragane. Karena belum ada peningkatan kekuatan yang dapat mengimbagi kekuatan keluarga kelas dua lainnya. Hari ini kita akan bangkit," lanjut patriak Rahngu sambil mengeluarkan Rumput Awan Merah.
"Rum- Rum- Rumput Awan Merah?" Zaleh berseru melihat enam Rumput Awan Merah di tangan patriak.
"Ya! Kamu benar. Ini Rumput Awan Merah yang sangat langka. Bahkan keluarga kelas satu harus berdarah - darah untuk mendapatkan satu rumpun. Tapi sekarang, keluarga kita memilik enam," sahut patriak Rahngu dengan senyum bahagia.
"Ayah, dari mana ayah mendapatkannya?" tanya Mistur yang masih terkagum dengan elixir di depannya.
Sebelum patriak Rahngu menjawab pertanyaan Mistur ia berkata. "Kalian masing - masing mendapat dua rumpun. Sedangkan wahyu sudah lebih dulu menerimanya."
"Elixir ini dari Whana, entah keberuntungan apa dalam pertemuannya di Hutan Kematian dan ia memberikannya padaku untuk kalian semua agar bisa meningkatkan kekuatan," imbuh patriak Rahngu.
Mendengar apa yang disampaikan patriak, Mistur, Zakat dan Zaleh memandang Wahyu bersamaan dan baru menyadari bahwa kekuatan Wahyu telah mencapai tingkat Ketujuh dari Tahap Penyempurnaan Qi.
Melihat tatapan ketiganya, Wahyu hanya mengangguk membenarkan apa yang dikatakan patriak.
"Kakak, terima kasih." ucap mereka bertiga kepada Wahyu.
Wahyu dan ketiga saudaranya bergegas ke kediaman Wahyu untuk menemui Whana.
"Ayah, Kakak sedang pelatihan tertutup." Dira menyampaikan apa yang Whana kepadanya ketika melihat Wahyu dan ketiga pamannya berdiri di depan pintu kamar Whana.
"Hei! Gadis Kecil, rajin berlatih ya rupanya. Sekarang sudah berada pada Tahap Kelahiran tingkat Keempat," sapa Zaleh ketika melihat kultivasinya yang telah meningkat.
"Tentu saja aku rajin berlatih," jawab Dira dengan bangga.
Melihat tingkah lucu Dira, ketiga pria paruh baya itu tertawa.
"Baiklah, saya harus latihan tertutup juga," ucap Mistur kepada yang lain.
Ketiganya meninggalkan rumah Wahyu dengan semangat yang berapi - api untuk meningkatkan kekuatan karena mendapat elixir langka yang sebelumnya hanya ada di dalam mimpi.
__ADS_1
"Suamiku, tadi Whana memberikan ini sebelum latihan tertutup." Ayudiah keluar dari bilik rumah dan menunjukkan dua botol giok berwarna putih.
Wahyu mengambilnya dan memandangi botol giok putih itu di tangannya. Wahyu membuka tutup botol dan semerbak aroma obat memenuhi ruangan. Wahyu dan Ayudiah sangat terkejut dan mereka saling memandang, lalu kembali menatap ke arah botol giok.
"Ini adalah Pil Mida Bintang Empat dan ada lima butir di setiap botol giok ini." Ayudiah langsung berseru.
"Darimana putra kita mendapat harta semewah ini? Harta ini hanya bisa dinikmati keluarga kelas satu," lanjut Wahyu menimpali.
"Sudahlah! Ayo, gunakan dengan baik. Jangan kecewakan putra kita," kata Ayudiah.
\*\*
Di dalam kamarnya, Whana kembali merasakan bahwa dirinya sedang di awasi. Sebenarnya. Sehari semenjak ia kembali dari Hutan Kematian, Whana telah merasakan perasaan ini tapi ia tidak menghiraukannya. Whana langsung memperluas persepsinya, dan benar saja, ia menemukan ada empat orang yang sedang mengawasi rumahnya dari empat posisi yang berbeda.
"Siapa orang - orang ini?" setelah bergumam penuh tanya, Whana keluar melalui jendela kamarnya dan melompat kekuar. Ia akan memancing orang - orang yang sedang mengawasinya.
Ketika Whana pergi pada jarak satu kilo meter dari rumahnya, dua orang mengikutinya secara diam - diam. Whana tetap berlari dengan kecepatan sedang hingga sampai pada pinggiran Hutan Kematian. Dalam sekejap, Whana menghilang dari pandangan orang yang mengintai dan mengikutinya.
"Sial! Kemana anak itu pergi?" salah satu pengintai mengutuk dengan kebingungan.
"Apakah kalian mencariku?" Whana muncul di belakang dua orang yang sedang mengintainya dan berkata dengan tersenyum.
"Kamu, kamu, bagaiman kamu bisa muncul dibelakang kami?" tanya seorang pengintai yang terkejut dengan kata - kata Whana yang muncul secara tiba - tiba.
Whana tidak menjawab dan balik bertanya. "Kenapa kalian mengawasi kediaman keluarga Rahngu? Siapa yang menyuruh kalian?"
"Hahaha .... Bocah! Kamu tidak perlu tahu. Hari ini adalah hari kematianmu," ejek salah satu pengintai dengan arogan.
"Benarkah?" sahut Whana dengan santai dan dengan tangan terlipat dibelakang punggungnya.
"Sebaiknya kau ikut kami! Kamu tidak akan bisa melawan kami berdua," kata pengintai lainnya dengan menghunus pedangnya.
__ADS_1
Tentu saja mereka merasa bahwa Whana akan mudah untuk di tangkap, karena mereka melihat kultivasi Whana yang berada pada Tahap Transformasi tingkat Kelima.