
"Nihil, Ayah! Aku sudah memeriksanya dua kali. Tidak ada jejak pertarungan sama sekali. Lagi pula, jika ada pun Whana pasti terbunuh. Tapi yang aku tahu bocah sialan itu masih hidup segar bugar," jawab Hamid dengan ekspresi kesal di wajahnya.
"Ayah akan mengirim telik sandi untuk mengikuti bocah itu, dan jika ada kesempatan muncul, biarkan dia mati tanpa mengirim kabar ke keluarganya," pungkas ayah Hamid dengan santai agar putranya menjadi tenang.
"Ini Ayahku!" sambil mengacungkan jempol kanannya, Hamid menyeringai.
---\*\*\*---
-----KELUARGA RAHNGU-----
Pagi kembali datang, sinar mentari menyinari Kota Ragane, tidak terkecuali kediaman keluarga Rahngu.
Whana bangkit dari tidurnya dan merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otaknya yang kaku. Sekali pun ia sudah menjadi seorang kultivator yang bisa tidak tidur sepanjang waktu, namun kebiasaan tidak bisa ia lepaskan begitu saja. Lagi pula, dengan tidur yang cukup, dapat meningkatkan energi di dalam tubuh.
\[Ding! Proses upgrate ke versi 2 telah selesai.\]
\[Ding! Panel toko pertukaran telah terbuka.\]
\[Ding! Peningkatan tehnik ke tingkat selanjutnya telah mencapai batas level.\]
Mendengar notifikasi system yang tiba - tiba, Whana tersenyum cerah. Ia langsung membuka panel toko yang merupakan bagian versi 2 dari system.
Whana melihat banyak tombol dengan nama yang berbeda. Dari tombol senjata, pil, array hingga pakaian dan bumbu masakan.
'System ini luar biasa, sampai bumbu masakan pun ada,' gumam Whana di dalam hati dengan takjub.
Whana menekan tombol senjata pada panel system dan muncul berbagai jenis senjata dari tingkat Fana hingga tingkat Legendaris. Ia terus menggeser layar panel hingga ke bagian bawah untuk melihat tingkat Legendaris.
Namun sebelum mencapai kolom yang diinginkan, Whana berhenti di kolom senjata tingkat Surgawi. Begitu melihat harga pertukaran yang dibutuhkan, ia langsung merasa pusing. Begitu banyak dan panjang nilai Poin System yang harus disediakan.
"System, harga tukarnya kenapa sangat mahal?" tanya Whana yang merasa tertekan.
\[Ding! Jika Tuan tidak memiliki Poin tukar yang cukup, system sarankan agar tidak memaksakan diri.\]
__ADS_1
Mendengar jawaban system yang amat sangat mengangumkan itu, Whana langsung ingin muntah darah. Bagaimana ia tidak kesal, karena jawaban itu sama dengan mengatakan bahwa jika dia miskin jangan berpura - pura kaya.
'Ah, sudahlah! Tidak ada bedanya dengan versi 1,' desah Whana di benak.
Berikutnya, Whana membuka ruang penyimpanan system, memeriksa tas ruang dan cincin penyimpanan dari para bandit yang dibantainya tempo hari. Namun, ketika melihat ada dua cincin penyimpanan, ia teringat bahwa salah satunya adalah milik tetua yang jenazahnya merupakan rekan dari tetua Bagata dan Wandira.
Whana mengambil cincin penyimpanan dari tetua tersebut. Melihat beberapa barang di dalamnya, ia mengambil sebuah buku bersampul hitam.
\[Ding! Tehnik penempa: adalah tehnik dalam pembuatan senjata. Semakin tinggi level tehnik, maka semakin tinggi pula tingkat dan kualitas senjata yang dihasilkan. Tingkat keberhasilan juga dipengaruhi oleh alat membuat senjata (tungku senjata), semakin tinggi dan kualitas tungku, maka semakin tinggi pula tingkat keberhasilannya.\]
\[Ding! Apakah Tuan akan mempelajarinya? Ya/Tidak.\]
"Ya!" Whana langsung menjawab tanpa ragu - ragu.
\[Ding! Selamat Tuan. Telah berhasil mempelajari tehnik penempa. Level saat ini adalah 0/10.\]
Seketika aliran pengetahuan tentang menempa mengalir ke otaknya. Dari pengetahuan yang ia terima, Whana langsung mengetahui apa yang disebut tungku senjata.
Whana kemudian membuka panel toko untuk melihat harga tungku. Begitu barang yang diinginkannya tampil di layar panel, alangkah terkejutnya Whana. Harga yang ditampilkan akan membuatnya miskin dalam sekejap. Tungku tinggkat Legendaris yang ia harapkan bernilai lima milyar Poin System.
Whana menarik napas dalam - dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri dari harga yang menjulang tinggi. Ia beralih pada cincin penyimpanan salah satu bandit. Terdapat dua ribu koin emas, seratus ribu Batu Roh tingkat Rendah dan beberapa Pil Pemulihan Bintang Tiga.
Kemudian Whana mengambil satu -satunya kertas berwarna kuning, ketika membukanya, Whana langsung mengerutkan kening.
'Kenapa ada gambar wajahku? Apakah bandit ini juga bagian dari keluarga Dege?' muncul kecurigaan dalam benak Whana.
Mengabaikan pikirannya, Whana segera membersihkan isi tas ruang dari para kawanan bandit.
'Sepertinya aku harus berkeliling untuk menyapa para bandit,' Whana tersenyum licik dengan berbagai ide di pikirannya.
---\*---
__ADS_1
Menjelang siang, Whana pergi ke kios tempat menjual bahan monster. Karena hingga hari kelima, sisa koin emasnya belum juga diantarkan ke rumahnya. Whana berjalan kaki melewati gang sempit yang diapit bangunan pertokoan.
Ketika hendak berbelok ke kiri, Whana ditabrak seseorang secara tiba-tiba, menyebabkan kakinya tergelincir oleh sebatang bambu kecil dan pendek, tepat di bawah kakinya. Akibatnya, ia terjatuh dan berguling di tanah dengan orang yang menabraknya, dimana posisi Whana berada di bawah dan orang menabraknya berada di atas.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya seseorang yang berada di atas Whana, yang ternyata adalah seorang gadis.
"Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kamu lakukan di atasku?" Whana balik bertanya dimana wajahnya yang hanya berjarak satu jari dengan wajah gadis yang berada di atasnya.
Ketika ia memperhatikan pemuda yang bertanya balik padanya, gadis itu menjadi tertegun, pipinya langsung memerah hingga ke telinga di saat berikutnya. Lalu berbicara ketus seolah ia sedang marah. "Tanganmu memegang dadaku!"
"Eh? Maaf!" Whana menjawab dengan malu, tersenyum canggung seraya melepaskan kedua telapak tangannya dari dua gundukan dada gadis itu.
Mereka berdua segera bangkit berdiri dan membersihkan pakaian masing -masing.
"Kamu di sini?" Jendral Pon langsung muncul dari sudut gang.
Gadis yang menabrak Whana tidak lain dan tidak bukan adalah Dayu. Dayu hanya mengangguk sebagai jawaban dan masih ada rona merah di wajahnya.
Jendral Pon mengerutkan kening tapi begitu melihat ke arah Whana, dia langsung tersenyum dan mengangguk ramah.
"Maaf, Nona. Aku tidak sengaja memegangnya," ucap Whana sambil menyatukan telapak tangannya dengan ekspresi menyesal.
"Ada apa?" tanya Jendral Pon yang merasa situasinya agak aneh.
"Begini Tetua, saya tidak sengaja memegang ...," sebelum Whana melanjutkan perkataannya tangan Dayu langsung menyambar mulut Whana untuk menutupnya.
Whana yang mulutnya tertutup tangan Dayu dengan reflek cepat itu hanya tertegun dalam diam.
"Tidak apa -apa, Guru. Hanya terjatuh karena tidak sengaja saling menabrak," sahut Dayu mencari alasan tapi rona merah di pipinya kian melebar.
Whana kemudian menunjuk tangan Dayu yang menutup mulutnya dengan ekspresi minta melepasnya. Seketika Dayu tersadar dan menarik tangannya dengan cepat. Rona merah di pipinya semakin tampak, nyaris semerah tomat.
__ADS_1
"Nona, aku sungguh -sungguh minta maaf," Whana mengulangi permohonan maafnya sambil membungkuk sedikit.