Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 61


__ADS_3

Aaahhhrrrggg



"Siapa yang menaruh sumpit disini? Apa kau tidak punya mata?" si pemuda gendut kembali berteriak kesakitan karena sebatang sumpit telah menembus telapak tangannya.



Yap! Ketika pemuda gendut itu membanting telapak tangannya, tanpa disadari pengawal di sebelahnya sedang memegang satu sumpit ditangan kirinya dengan posisi batang sumpit berdiri tegak.



"Tuan Muda, aku tidak tahu jika Tuan Muda akan..." belum selesai pengawal itu bicara, si pemuda gendut langsung berteriak lagi.



"Kamu sengaja kan? Apakah kamu ingin membunuhku?" pemuda gendut itu berdiri dan bertanya dengan membentak dan mundur sedikit keluar dari tempat duduknya.



Aaahhhrrrggg



"Kenapa kau menusuk pantatku?" si pemuda gendut kembali berteriak kesakitan merasakan ada benda tajam yang menusuk pantatnya.



"Ah, aku tidak tahu bahwa Tuan Muda akan mundur ke arah ku." Jawab pengawal yang memegang pedang pendek dan belum menyarungkannya.



Darah berceceran dari bokong pemuda gendut itu. Seketika seorang pengawal yang terkuat memberi perintah kepada bawahannya untuk mengangkat Tuan Muda mereka agar segera mendapatkan perawatan. Namun, tepat sampai di ujung tangga, salah satu tangan pengawal terlepas mengakibatkan keseimbangan menjadi tidak setabil.



Aaahhhrrrggg



Tuan Muda gendut itu kembali berteriak. Ia menggelinding jatuh dari tangga hingga di depan receptionist dan berteriak mengutuk para pengawalnya dengan marah.



Setelah si pemuda gendut dan para pengawalnya pergi, seluruh pengunjung lantai dua tertawa terbahak - bahak.



"Benar - benar sial. Kenapa nasibnya begitu sial. Hahaha." ucap seorang pengunjung yang masih tertawa lepas.



"Aduh, sampai sakit perutku menahan tawa. Hahaha." pengunjung lainnya juga berkomentar yang nyaris serupa.



Tidak berbeda di meja Whana, semua tertawa terpingkal - pingkal. Bahkan Wina tertawa sampai air matanya keluar.



"Mimpi apa orang itu semalam?! Kenapa dia bisa sesial itu?!" ucap Wina sambil mengusap air matanya karena tawa.



Dari semua pengunjung tidak ada yang tidak tertawa. Hanya seorang lelaki tua berambut putih yang duduk di sudut ruangan tersenyum dan mengangguk ke arah Whana. Melihat sapaan sopan pihak lain, Whana pun tersenyum dan mengangguk sebagai balasan.


__ADS_1


'Anak ini benar - benar tidak sederhana seperti yang disampaikan Jendral Pon.' gumam lelaki tua berambut putih itu di dalam hatinya.



..............



Seperti biasanya, Whana selalu menyempatkan diri berkunjung ke Rumah Asuh dengan banyak makanan.



"Kakak Whana datanga." teriak Mila, gadis cilik berusia enam tahun langsung melompat kepelukan Whana.



Moni dan Wina sempat tertegun melihat keakraban Whana dan anak - anak di Rumah Asuh. Pasalnya, mereka pertama kalinya berkunjung ke Rumah Asuh di Kota Ragane.



"Kakak, apakah mereka berdua kekasihmu yang lain?" Tanya Mila dengan polosnya.



Sambil mencubit hidung Mila yang mungil, Whana tersenyum dan berkata, "mereka Kakak perempuanku."



Mila kemudian memandang Dira, "Kakak senior, apakah hari ini akan memberiku koin perak lagi?"



Mendengar pertanyaan Mila, Dira langsung memegang dan menarik lengan Whana dengan wajah memohon.




"Tuan Muda, Anda kembali." ucap putri pertama dari paman Wiji.



Sebelum Whana menjawab, suami istri Wiji dan kedua anaknya yang lain keluar dari ruang depan dan menyapa dengan hormat.



"Kita masuk dulu dan berikan makanan ini untuk adik - adikku." ucap Whana kepada Wiji sekeluarga.



"Adik, kamu sering kesini?" Tanya Moni penasaran.



"Iya, mereka sudah seperti keluargaku sendiri." jawab Whana tersenyum.



"Tuan Muda, ini ..." putri pertama yang seumuran dengan Moni bertanya kepada Whana tentang Moni dan Wina.



"Ini Moni dan Wina, mereka kakak sepupuku, dan ini Lawi, adikku." Jawab Whana sambil menunjuk ke masing - masing orang yang diperkenalkan.



'Terima kasih, Tuan Muda.' Lawi kembali berucap di dalam hatinya dengan penuh syukur. Bahkan di depan orang lain ia disebut sebagai adik Whana.

__ADS_1



"Paman, Bibi dan semuanya aku ingin menyampaikan suatu hal pada kalian sekeluarga dan untuk seluruh adik - adikku yang berada di Rumah Asuh ini." ucap Whana sedikit serius.



"Aku sedang membangun rumah dengan kamar yang banyak dan dalam dua hari lagi sudah siap untuk dihuni. Pamana sekeluarga dan adik - adikku akan pindah ke rumah itu. Kalian tidak perlu khawatir tentang biaya sewa, tidak perlu lagi khawatir keamanan adik - adikku dan tidak perlu khawatir lagi tentang makanan mereka." Whana melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.



"Tuan Muda, maksud Tuan Muda kami pindah ke rumah Tuan Muda?" Tanya paman Wiji.



"Iya. Dan itu akan menjadi rumah Paman Wiji sekeluarga dan adik - adikku. Whana menjawab sambil tersenyum namun matanya sedikit memerah yang menunjukkan kesedihan di dalamnya. Dengan mengatakan itu, entah mengapa Whana mengingat ketika dia di usir dan dihina sewaktu masih di bumi yang membuat hatinya berontak untuk melindungi orang seperti nasibnya ketika nantinya ia diberi kesempatan ketika mampu melakukannya.



Moni, Wina dan Lawi terkejut bahwa rumah besar yang dibuatnya dengan ratusan ribu koin emas ternyata untuk anak - anak yang tidak beruntung ini.



Begitu juga dengan paman Wiji sekeluarga, mereka langsung berdiri dan membungkuk hampir 90 drajat di hadapan Whana. Bahkan Nyonya Wiji dan dua putrinya telah meneteskan air mata atas kemurahan hati pemuda di depannya.



"Tidak perlu berterima kasih. Kalian sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Bahkan yang benar - benar keluargaku belum ada yang mampu melakukan perbuatan mulia seperti yang kalian lakukan." ucap Whana melanjutkan.



"Tuan Muda. Dari hati kami yang terdalam, terima kasih." ucap paman Wiji dengan tulus.



"Dua hari lagi, beberapa saudara sepupu akan datang membantu dan membawa kalian ke keluarga Rahngu." Whana menyampaikan rencanya dengan tersenyum.



"Adik, kenapa kamu tidak pernah bercerita denganku masalah ini?" Moni dan Wina menatap Whana.



"Sekarang akhirnya kalian tahu kan?" Jawab Whana dengan santai.



"Adik, jika kamu bukan sepupuku. Aku akan memaksamu menjadi suamiku." kali ini Wina berkata dengan cemberut.



"Apakah aku terlihat tampan hari ini?" Whana tersenyum main - main.



Suasana haru teralihkan dengan gelak tawa semua orang di dalam ruangan.



Di perjalanan pulang, Whana merasakan ada beberapa orang yang mengikutinya dari balik bayang - bayang. Whana meminta Moni dan Wina untuk segera kembali membawa Dira dan Lawi.



Setelah memastikan keempatnya memasuki gerbang keluarga Rahngu, Whana melanjutkan langkahnya ke arah timur mendekati pinggiran hutan Ralge. Hutan Ralge adalah hutan luas yang terletak di bagian timur Kota Ragane. Hutan Ralge tidak seperti Hutan Kematian yang berada di selatan Kota Ragane, dimana Hutan Kematian dipenuhi binatang buas dan monster berbahaya. Sedangkan Hutan Ralge tergolong Hutan rakyat karena banyak masyarakat yang memanfaatkan Hutan Ralge baik untuk membuka ladang maupun mengambil hasil kayunya.



'Lima orang Penyempurnaan Qi tingkat Menengah, dua tingkat tinggi dan dua orang lagi Penyempurnaan Roh tingkat Menengah. Apa aku harus menggunakan embun beracun lagi?' gumam Whana di dalam hatinya dan terus berjalan ke dalam hutan.

__ADS_1


__ADS_2