Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 26


__ADS_3

Mendengar jumlah koin emas dari kakeknya, Whana tersenyum. Segera ia mengeluarkan delapan ratus ribu koin emas dari ruang penyimpanan dan menyerahkannya sambil berkata. "Apa ini cukup?"



Sang patriak membuka mulutnya lebar. Ia tidak menyangka bahwa cucunya lebih kaya dari pada dirinya sendiri bahkan seluruh keluarganya. "Cucuku, bagaimana kamu bisa lebih kaya dari pada Kakekmu?"



Whana tidak menjawab dan mengeluarkan seratus ribu batu roh tingkat rendah, lalu berkata lagi. "Ini untuk biaya perabotan dan biaya tidak terduga lainnya."



Rahang patriak Rahngu jatuh ke bawah. Pasalnya, ia sudah lama tidak memiliki batu roh dan sekarang cucunya mengeluarkan seratus ribu batu roh dengan santainya.



"Katakan pada Kakek, apakah kamu menemukan harta karun?" tanya patriak Rahngu dengan penasaran.



"Hahaha ... Tidak. Itu adalah harta rampasan yang aku dapat dari para kawanan bandit kelas teri di dekat Hutan Kematian," jawab Whana dengan tersenyum.



"Kamu merampok kawanan bandit??" sang patriak terkejut dengan aksi cucunya. Sungguh di luar dugaannya.



"Hahaha ... Kamu memang cucuku yang pintar, hahaha ...." Patriak Rahngu tertawa terbahak - bahak dan air liurnya muncrat kemana - mana.



\*



Menjelang siang, Whana menuju Hutan Kematian.



"Hei cantik .... Ayolah .... Temani Tuan Muda ini untuk satu malam saja, maka masalah ini akan aku anggap selesai," ucap seorang pemuda dengan nada sombong.



"Menjijikkan! Kalian yang menabrak kami kenapa seolah kami yang bersalah?!" sahut sang gadis dengan ketus.



"Gadis itu dari keluarga Rahngu, Tuan Muda," bisik seorang pengawal kekar kepada pemuda sombong itu.



"Oh, Kamu dari keluarga Rahngu? Perkenalkan! Aku Tuan Muda dari keluarga Nylon. Kamu cukup beruntung menemaniku meski hanya semalam," kata pemuda keluarga Nylon dengan mengangkat dagunya tinggi - tinggi.



"Kakak, cepat lari! Jangan hiraukan aku!" seorang pemuda sekitar sembilan belas atau dua puluh tahun berbicara dengan paksa meminta kakak perempuannya untuk segera pergi.



"Mori, apa yang kamu katakan! Aku tidak akan meniggalkanmu dalam keadaan terluka parah seperti ini," sahut gadis itu.



"Tapi kamu bukan lawan mereka. Dua orang pengawal itu berada pada tingkat Keenam Tahap Transformasi," lanjut Mori yang sudah memuntahkan darah beberapa kali.



Dari kejauhan Whana melihat kerumunan orang. "Bukankah itu Mori dan Moni? Apa yang terjadi? Dan itu bukannya pemuda yang tempo hari di restaurant dari keluarga Nylon?" Whana bergumam pelan dan bergegas menuju ke arah kerumunan.


__ADS_1


Whana bergegas menghampiri Mori dan Moni. "Apa yang terjadi?"



Melihat kondisi Mori yang memprihatinkan, Whana langsung memberinya Pil Pemulihan Bintang Tiga yang ia peroleh dari para kawanan bandit sebelumnya.



"Telan ini! Kondisimu akan segera pulih," ucap Whana kepada Mori.



"Terima kasih." meskipun sedikit terkejut karena Whana mengeluarkan Pil Bintang Tiga dengan santai dan memberikannya begitu saja, Mori hanya bisa mengangguk. Setelah menelan Pil yang diberikan Whana, kondisinya segera membaik secara perlahan.



Mori menundukkan kepalanya, merasa malu terhadap Whana. Bukan malu karena terluka akibat kalah bertarung dari pengawal Nylon, namun malu karena selama ini ia menjadikan Whana sebagai pesaingnya di keluarga. Bahkan pernah mempermalukannya di keluarga.



"Terima kasih." Mori kembali mengucapkan kalimat ini dengan kepala tertunduk.



"Santai saja, kamu adalah saudaraku. Jadi aku wajib membantumu," ucap Whana sambil tersenyum.



Kemudian Whana langsung mengalihkan pandangannya ke arah Tuan Muda keluarga Nylon dan para pengawalnya. Tampak bahwa pengawalnya bertambah dua orang dengan kekuatan tingkat Kelima dan Keenam Tahap Transformasi.



"Kam- kam- kamu lagi...? " Teriak Tuan Muda Keluarga Nylon sambil menunjukkan ketakutan ke arah Whana.



"Hei. Tuan Muda. Apa ini akan menjadi kesalahpahaman?" tanya Whana sambil tersenyum main - main.




Mendengar apa yang dikatakan pemuda itu, Whana melengkungkan sudut bibirnya keatas.



"Jelaskan padaku! Bagaimana kedua saudaraku ini mencari masalah denganmu?" tanya Whana santai tapi tatapannya tidak lepas dari Tuan Muda Nylon.



"Hahaha .... Mereka menghalangi jalan Tuan Muda ini dan membuat Tuan Muda ini hampir terjatuh, bukankah itu mencari masalah?!!" ucap pemuda Keluarga Nylon dengan arogan penuh kesombongan.



"Siapa yang menghalangi jalanmu? Kamu yang menabrak kami dari belakang," pekik Moni tidak menerima apa yang di dengarnya barusan.



"Heeeeii, jika kamu tidak menghalangi jalan, bagaimana mungkin Tuan Muda ini menabrakmu?!" sanggah pemuda itu dengan nada tinggi.



'Orang ini.' Whana berkata di dalam hatinya dengan kesal.



"Hmmm ... Itu artinya sekarang kamu sedang mencari masalah denganku, karena menghalangi pandanganku. Sehingga membuat mataku terasa sakit," ucap Whana yang masih dengan tersenyum tenang.



Semua orang yang mendengar perkataan Whana tercengang. Mereka tidak menyangka bahwa Whana akan mengembalikan kata - kata Tuan Muda keluarga Nylon semudah itu.

__ADS_1



"Anak ini cukup pintar, tapi sayang sebentar lagi akan dihajar oleh Tuan Muda Nylon," kata seseorang di kerumunan.



"Bocah sialan! Rasakan ini!" seorang pengawal Tuan Muda Nylon melesat ke arah Whana dengan pukulan.



Whana tetap ditempatnya, tidak bergerak sedikit pun.



"Whana, hati - hati!" teriak Moni dengan khawatir.



"Selesai sudah. Anak itu pasti mati," ucap seorang penonton.



Banyak orang dikerumunan menatap Whana dengan iba. Karena mereka semua tahu bagaimana kejam dan arogannya Tuan Muda Nylon.



Ketika pukulan pengawal itu mempersempit jarak kurang dari satu meter, Whana mengepalkan tangannya dan meninju ke arah kepalangan tangan pengawal yang menyerangnya.



Bam



Kriek



Terdengar suara ledakan keras disertai tulang yang patah.



"Aaaahhhggg..."



Pengawal yang menyerang Whana berteriak, tubuhnya terlempar, dikirim terbang terbalik sejauh lima puluh meter, berhenti ketika menabrak batu besar di pinggir jalan.



Terlihat ada beberapa retakan yang berpusat dari tubuh pengawal itu. Pengawal itu langsung memuntahkan darah segar dan tidak sadarkan diri seketika.



Melihat hal ini, Mori, Moni, Tuan Muda Nylon dan semua orang yang menonton tercengang. Mulut mereka terbuka lebar. Terutama Mori dan Moni, mereka berdua menatap Whana dan pengawal yang terpental secara bergantian. Seberapa kuat Whana? Ini lah yang ada di benak mereka berdua dan semua orang yang hadir.



Melihat rekannya tidak sadarkan diri, seorang pengawalnya lainnya yang baru dibawa oleh Tuan Muda Nylon segera bereaksi. Ia langsung mencabut pedang dari sarungnya dan melesat ke arah Whana. Namun sebelum dia sempat melesat, dengan cekatan Whana menendangnya dengan kecepatan yang sangat cepat.



Krieek



"Aaaahhhgg ..."



Terdengar suara retakan tulang yang patah, dan pengawal itu dikirim terbang menabrak batu yang sama dari pengawal sebelumnya. Pingsan setelah beberapa teguk darah keluar dari mulutnya.

__ADS_1



Rahang semua orang jatuh, mulut mereka semakin terbuka lebar. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Apalagi pada gerakan kedua ini, mereka tidak melihat gerakan Whana dengan pasti. Hanya orang - orang tertentu saja yang memiliki kultivasi tinggi yang dapat melihat gerakannya.


__ADS_2