
"Cahaya itu dikeluarkan pemuda itu ketika membawaku kesini. Memangnya ada apa dengan cahaya itu?" tanya Wandira dengan bingung.
"Luar biasa! Luar biasa! Luar biasa!" gumam Iyon pelan namun dapat didengar oleh kedua orang lainnya.
"Pemuda itu yang mengeluarkan cahaya itu?" tetua Bagata bertanya kepada Wandira seolah ingin mengkonfirmasi kebenaran yang diucapkan tadi.
Wandira mengangguk sebagai tanggapan.
"Luar biasa! Luar biasa! Luar biasa!" tetua Bagata mengucapkan kalimat yang sama dengan yang diucapkan Iyon. Hal ini makin membuat Wandira penasaran dengan cahaya yang dilihatnya.
"Cahaya ini adalah Api Chaos. Seumur aku hidup, baru kali ini aku melihatnya. Selama ini aku hanya mendengar dan membaca. Menurut catatan kuno, Api Chaos adalah leluhur dari segala api di seluruh alam semesta. Tidak berwarna, tidak berbau, tidak panas, tidak bisa padam, kecuali atas kehendak tuannya."
"Catatan kuno juga menyebutkan bahwa Api Chaos tidak bisa ditaklukkan, tidak bisa diwariskan, tidak bisa dipinjamkan, tidak bisa diambil dengan kekuatan terkuat sekali pun."
"Api Chaos akan memilih tuannya sendiri tanpa harus ditunggu. Anak muda ini benar - benar tidak sederhana," tetua Bagata menjelaskan sekaligus kagum dan bertambah rasa hormat kepada pemuda belia yang bahkan belum dikenalnya.
Kali ini Wandira yang ternganga, ekspresinya persis sama dengan Iyon.
"Apa yang Tetua katakan benar. Aku juga mengetahui hal ini melalui catatan kuno dan cerita dari guruku. Kitalah yang beruntung karena bertemu dengan pemuda ini," sahut Iyon yang pandangannya belum lepas dari Api Chaos di langit - langit ruangan.
"Aku merasakan ruangan ini juga terlihat istimewa," Tetua Bagata berdiri dan melangkah menuju dinding kayu, tiba - tiba muncul cahaya biru keunguan dengan larik formasi yang sangat rumit.
"Ini formasi array dan anehnya formasi ini menumpuk. Yang satu seperti formasi pertahanan, dan yang satu lagi seperti formasi kedap suara," setelah mengatakan itu, tetua Bagata mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan namun tidak menemukan yang ia cari.
"Ada apa, Tetua?" tanya Iyon yang melihat tetua Bagata seolah mencari sesuatu.
"Aku mencari Batu Roh atau harta lain yang menghidupkan formasi array ini. Tapi kenapa tidak ada sama sekali?" tetua Bagata mengelus jenggot putihnya dan menyipitkan matanya memperhatikan larik formasi yang berkedip - kedip.
'Jenis formasi array apa ini sebenarnya? Kenapa aku belum pernah melihatnya?' tetua Bagata berkata di dalam hati penuh tanya.
\*\*\*
Pada saat yang sama, Whana sampai di tepi jurang dimana ia mendapat pohon jiwa sebelumnya. Whana melompat ke dasar jurang dan turun perlahan.
\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Pernapasan telah naik level. Level saat ini adalah 5/10.\]
Whana membuka panel pengalamannya dan menemukan angka yang cukup membuatnya pusing. Dengan pikirannya ia menekan tanda (\+) di belakang Poin Pengalaman sebanyak dua kali.
\[Ding! Selamat Tuan. Kultivasi Anda telah naik level. Level saat ini adalah Penyempurnaan Qi tingkat Pertama....\]
\[Ding! Selamat Tuan. Kultivasi Anda telah naik level. Level saat ini adalah Penyempurnaan Qi tingkat Kedua....\]
__ADS_1
Tanpa memeriksa panel system lagi, Whana langsung mengedarkan persepsinya.
"Hmm ... Sebelas orang di selatan dan enam belas orang di utara. Sepertinya keluara Nylon lebih profesional dengan mengatur jarak. Keluarga Dege ini masih berkelompok," Whana terkekeh melihat ia dihadang di dua area berbeda dan dari dua keluarga berbeda pula.
Mengaktifkan saya angin, Whana terbang ke atas.
'Mata Dewa!'
'Kelihatannya memang profesional, sungguh sayang kau bertemu denganku,' gumam Whana di dalam hati.
Cling
Whana muncul sekitar dua ratus meter dari pengawal pertama Nylon. Tanpa banyak bicara, Whana langsung menebas dengan energi mental.
Slash
Buk, celepuk
Terdengar dua suara jatuh dari ketinggian. Yap! Itu adalah suara jatuhnya kepala yang diikuti tubuhnya kemudian.
Seperti biasa, Whana langsung melucuti mayat pengawal pertama yang telah pergi ke alam baka.
Whana muncul di pengawal kedua dan langsung memenggalnya. Setelah itu, sama seperti sebelumnya yang dilakukan Whana, melucuti hasil buruan dan memusnahkannya menjadi abu.
Ketika hendak berteleportasi ke pengawal ketiga, Whana mendapati bahwa pengawal ini tidak sendirian.
'Hah, orang ini lagi,' Whana berkata dalam hatinya bahwa pengawal Tuan Muda Nylon ikut serta bersama pengawal elit.
Cling
Slash, slash
Buk, celepuk
Buk, celepuk
Setelah membersihkan, Whana menuju pengawal lainnya. Dalam waktu lima menit, semua pengawal keluarga Nylon yang akan menghadangnya musnah, lenyap dari muka bumi.
Whana kembali ke dasar jurang, tepat di batu besar yang selalu membuatnya bernostalgia mengingat kedatangannya di dunia ini. Ia kemudian melakukan gerakan jari rumit untuk membuat formasi array pertahanan pada celah batu dan menumpuknya dengan array ilusi. Ia juga meninggalkan tanda energi mental pada batu itu.
\[Ding! Selamat Tuan. Tehnik Formasi Array telah naik level. Level saat ini adalah 2/10.\]
__ADS_1
\*\*\*\*
Sepuluh kilo meter jauhnya, dua orang prajurit kerajaan (praja) mengerutkan kening.
"Apa kamu juga merasakannya?" tanya praja pertama untuk memastikan yang ia rasakan.
"Aku merasakannya. Seluruh pengawal keluarga Nylon menghilang dan lenyap dalam sekejap," jawab praja kedua menanggapi.
"Apa yang terjadi? Siapa yang membunuh mereka begitu cepat? Jika itu aku, tidak mungkin bisa secepat itu dengan jarak yang berjauhan," praja pertama berkata penuh penasaran.
"Eh, dari keluarga Dege juga menghilang?!" Seru praja kedua keheranan.
Mereka saling memandang dengan bingung.
"Ayo! Kita harus melaporkan ini kepada Tuan Putri!" kedua prajurit kerajaan segera melesat ke penginapan.
\*\*\*
Pada saat ini, tetua Bagata dan kedua orang lainnya sedang membahas nasib sial yang mereka alami.
Cling
Melihat Whana yang muncul secara tiba-tiba, mereka bertiga bukannya menyapa, tapi tertegun lama dengan mata melebar tidak berkedip.
"Hallo?" Whana tersenyum dan melambaikan tangannya untuk menyadarkan ketiga orang yang menatap kosong ke arahnya.
"Teman Kecil, kamu sangat cepat! Bahkan aku tidak bisa melihat gerakanmu," seru Iyon memandang Whana dengan keheranan.
Whana tidak menanggapi ucapan Iyon. Dia tetap tersenyum dan bertanya hal lain untuk mengalihkan pembicaraan. "Apa kalian lapar? Kebetulan aku menangkap seekor rusa."
Seekor Rusa Tanduk Hijau dikeluarkan Whana dari cincin penyimpanan.
"Wah ... Rusa Tanduk Hijau! Dagingnya sangat banyak mengandung energi dan keberadaannya cukup langka," seru Wandira melihat rusa yang dikeluarkan Whana.
Whana segera membuat api dari kayu bakar yang telah ia siapkan sebelumnya. Daging rusa yang telah dibersihkan sebelumnya, diolesi bumbu buatan ibunya. Begitu daging rusa mulai matang, aroma yang tak tertahankan mulai menyebar ke seluruh ruangan.
"Hei ... Kamu pandai membuat daging panggang," kata Wandira memuji.
Whana hanya menanggapinya dengan senyum.
'Anak muda ini sungguh luar biasa. Ia mampu mengontrol Api Chaos dengan sempurna,' tetua Bagata memperhatikan api yang menyala dari kayu bakar yang tampak seperti api biasa pada umumnya.
__ADS_1