
"Apa? Bukankan ini baru saja sebulan yang lalu? Bagaimana bisa menerobos bertubi - tubi?" mata Dayu membelalak tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jendral Pon.
"Baru saja aku menyaksikannya membantai lima belas kawanan bandit hanya dalam waktu lima menit. Enam bandit diantaranya ada yang berada pada tingkat Keempat dan Kelima Tahap Penyempurnaan Qi. Jika aku tidak melihatnya sendiri, aku tidak akan mempercayainya," imbuh Jendral Pon.
"Apa yang terjadi? Ini bukan jenius tapi monster!" seru Dayu
"Bagaimana kita mendekatinya?" tambah Dayu dengan tatapan berapi - api.
-----KELUARGA RAHNGU-----
"Dari mana kau mendapatkannya? Ini sangat banyak? Dan cincin ruang ini?" Moni terpana dengan jumlah koin emas dan cincin penyimpanan yang diberikan oleh adiknya, Mori.
"Hahaha ... Jika kau jadi aku, mungkin kamu akan jatuh pingsan karena terkejut. Semuanya diberikan oleh Whana. Aku juga menerima hal yang sama seperti di tanganmu," jawab Mori dengan tawa ringan bahagia.
Mori menceritakan pengalaman pertamanya keluar bersama Whana. Semakin Mori bercerita, semakin lebar mulut Moni terbuka.
"Whana meminta kita untuk tidak menceritakan kepada siapa pun," imbuh Mori mengakhiri ceritanya.
Moni mengangguk dan berkata dengan heran. "Tidak kusangka, adik sepupu ini menyembunyikan dirinya begitu dalam."
"Kakak benar. Aku masih ingat ketika mengejek ucapannya yang ingin membuat keluarga Rahngu menjadi kuat. Ternyata ucapan itu bukanlah omong kosong belaka. Aku dan kita semua sudah mulai merasakannya dan hebatnya ini murni dari keringatnya adik sepupu kita. Aku tidak akan mengecewakannya," desah penyesalan dan semangat bercampur di benak Mori.
\*
Di ruang tamu kediaman pribadi Wahyu Rahngu, Rimo menjelaskan semua kejadian yang menimpa mereka kepada Ayudiah ibu Whana. Hal ini membuat ibu Whana terkejut dan memandang putranya dengan tatapan cemas.
"Whana, lain kali harus selalu berhati - hati!" ucap Ayudiah dengan nada khawatir.
Whana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Paman Rimo dan Bibi semuanya, mulai sekarang, ini adalah rumah kalian juga. Dan kamu Lawi, mulai sekarang jangan panggil aku Tuan Muda, panggil aku Kakak!" ujar Whana sambil tersenyum hangat kepada semuanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Whana, Rimo dan istrinya yang merupakan orang tua dari Lawi, anak lelaki dua belas tahun langsung terharu, terutama ibu Lawi yang seketika menetes air mata.
Beribu uacapan terima kasih terpancar dari sorot mata Rimo dan ketiga wanita paruh baya. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa hidup mereka akan diselamatkan hingga diperlakukan layaknya anggota keluarga.
"Tuan Muda, terima kasih," ucap Rimo dan istrinya dengan tulus yang kemudian diikuti oleh kedua wanita paruh baya di detik berikutnya.
Ibu Whana memandang Whana dengan berjuta makna. Putranya penuh welas asih. Bukan hanya kepada keluarganya tapi juga kepada orang - orang terdekatnya. Ada rasa kebanggaan tersendiri di hati Ayudiah terhadap putranya itu.
---\*---
Tanpa terasa empat hari lagi berlalu. Whana, Mori dan sebagian besar generasi muda keluarga Rahngu bergotong - royong membangun Rumah Asuh yang di prakarsai Whana.
Di aula utama, patriak keluarga Rahngu bersama Wahyu Rahngu memandang kegiatan generasi muda mereka. Kebetulan letak aula utama mereka dengan Rumah Asuh yang dibangun segaris tanpa penghalang pandangan. Sehingga semua yang dilakukan pada Rumah Asuh dapat terlihat jelas meski berada di agak jauh.
"Ini adalah pertama kalinya aku melihat keluarga Rahngu bekerja sama. Meskipun usianya yang termuda dari para cucu lelaki, putramu memiliki kemampuan memimpin," ujar patriak Rahngu yang tidak mengalihkan pandangannya ke arah Rumah Asuh.
"Ayah, aku sendiri tidak menyangka. Ini keberuntunganku menjadi ayahnya," Wahyu menimpali perkataan patriak Rahngu.
"Bukan hanya kamu yang beruntung, tapi keluarga Rahngu kita," sahut patriak Rahngu dengan wajah berseri.
---\*---
"Seharusnya tiga bulan, Tuan Muda. Namun karena Tuan Muda dan begitu banyak orang yang turut membantu, perkiraan saya empat belas hari lagi sudah selesai," jawab Pak Nyoman dengan hormat.
"Oh! Baiklah, kalau begitu. Sebelum pulang, bolehkan aku mengumpulkan para pekerja dari Pak Nyoman? Ada yang ingin aku sampaikan," pinta Whana mengajukan permohonan setelah mendengar waktu pembangunan rumah yang singkat.
"Sangat boleh, Tuan Muda," jawab Pak Nyoman seraya menganggukkan kepalanya.
"Oya, aku ingin membuat bangunan seperti ini. Apakah Pak Nyoman dapat mengerti dengan gambar sederhanaku?" Whana menyerahkan kertas yang berisi gambar sebuah menara tujuh tingkat.
"Apakah ini gambar menara?" tanya pak Nyoman yang sepertinya mengerti dengan gambar yang di serahkan Whana.
"Ya, tepat sekali!" jawab Whana singkat.
__ADS_1
"Kenapa Tuan Muda ingin membangun menara?" Pak Nyoman merasa aneh dengan keinginan Whana.
Karena sepanjang yang ia ketahui, Pak Nyoman belum pernah melihat ada keluarga yang membangun menara seperti kuil maupun seperti yang ditunjukkan oleh gambar pada kertas, bahkan keluarga teratas di Kota Distrik tidak ada yang membuat bangunan seperti itu.
"Ini hanya untuk menyiasati kurangnya tempat," sahut Whana sebagai alasan.
"Berapa biaya yang dibutuhkan untuk menara ini?" tanya Whana kemudian.
"Jika melihat ukuran gambar ini, tidak membutuhkan banyak bahan. Hanya saja kualitas bahan haruslah dengan kualitas yang tinggi karena terdiri dari tujuh lantai. Perkiraan saya sekitar dua juta keping koin emas," jawab Pak Nyoman setelah berpikir sejenak.
"Jika dengan kualitas super?" Whana bertanya lagi.
"Mungkin menembus angka tiga juta," Pak Nyoman menggelengkan kepalanya. Ia merasa tidak mungkin bagi Whana maupun keluarga Rahngu untuk mengeluarkan uang yang sangat besar.
---\*---
Sore menjelang, Whana kemudian mengumpulkan para pekerja dan membagikan koin perak sebagai hadiah. Setiap orang mendapatkan lima puluh keping koin perak.
"Terima kasih, Tuan Muda," para pekerja membungkukkan badannya. Mereka tidak menyangka akan mendapat hadiah yang begitu besar menurut mereka.
Setelah para pekerja meninggalkan tempat dan kembali ke rumah masing - masing. Giliran saudara - saudara sepupunya mendapatkan lima keping koin emas per orang.
"Saudara sepupu, terima kasih. Akhirnya aku bisa membeli Pil," beberapa saudara sepupu Whana mengungkapkan kegembiraannya.
"Tujuanku memang untuk membuat keluarga kita kuat," sahut Whana sambil tersenyum.
\*\*\*
-----KELUARGA NYLON-----
"Ke mana mereka sebenarnya? Kenapa pergi begitu saja? Sialan!" Hamid mengutuk para pengawalnya. Ia berpikir bahwa para pengawal yang ditugaskan untuk menghadang Whana telah meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
"Bagaimana hasil pemeriksaanmu?" ayah Hamid langsung mempertanyakan hasil pemeriksaan putranya di Hutan Kematian beberapa hari yang lalu.
"Nihil, Ayah! Aku sudah memeriksanya dua kali. Tidak ada jejak pertarungan sama sekali. Lagi pula, jika ada pun Whana pasti terbunuh. Tapi yang aku tahu bocah sialan itu masih hidup segar bugar," jawab Hamid dengan ekspresi kesal di wajahnya.