
----- KELUARGA RAHNGU -----
Whana keluar dari kamarnya dan menuju ruang aula keluarga untuk bertemu kakeknya. Namun ketika memasuki pintu, Whana sedang melihat kakeknya sedang berdiskusi dengan panatua utama pertama dan kedua yang juga merupakan adik sepupu dari kakeknya. Merasa tidak enak, Whana berbalik.
"Kenapa berbalik? Cucuku, ada yang ingin Kakek diskusikan denganmu!" patriak Rahngu langsung memanggil Whana untuk duduk di meja diskusi.
Whana langsung menuju ketiga lelaki tua itu.
"Salam panatua utama." Whana membungkuk memberi hormat.
"Ini putra Wahyu?" Tanya panatua pertama kepada patriak.
"Benar sekali, dia adalah cucu lelaki termuda keluarga kita." jawab patriak dengan senyum.
"Lama tidak bertemu, nak. Oh, penyakitmu sudah sembuh?" ucap panatua utama kedua terkejut.
Whana hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
"Cucuku, kedua Kakekmu ini mewakili keluarga kita untuk mengurus usaha keluarga di kota Distrik. Usaha kita semakin terpuruk sejak adanya pihak lain membuka usaha yang sama. Selain itu, ada pihak yang sengaja mengganggu usaha kita dengan memonopoli barang. Bahkan melakukan intimidasi dengan pelanggan kami. Inilah salah satu penyebab mengapa kekuatan keluarga kita menurun. Karena kita tidak mampu membeli sumber daya dan berkultivasi dengan tenang." patriak Rahngu menjelaskan kepada Whana.
"Kita tidak bisa berbuat apa - apa. Pihak lain adalah keluarga kelas satu dan memiliki hubungan yang baik dengan piha Kerajaan di Ibu Kota." imbuh panatua pertama.
Mendengar penjelasan dari kakek dan panatua, Whana mengerutkan kening lalu berkata, apakah pihak lain ada hubungannya denga keluarga Dege?"
Pertanyaan Whana mengejutkan ketiga kakenya.
"Kamu benar, cucuku. Keluarga kelas satu memiliki hubungan dengan keluarga Dege. Lagipula cucu tertua menjadi murid dalam di akademi Seribu Langit." patriak Rahngu menjawab.
"Bagaimana kamu bisa menebaknya dengan tepat?" tanya panatua kedua dengan heran.
"Hanya menebak, bukankah keluarga Dege selalu mencari kesalahan keluarga kita sejak dulu?!!" jawab Whana merahasiakan apa yang diketahuinya.
"Oya, aku tidak begitu tahu tentang usaha kita di kota Distrik." Whana mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Kita menyediakan bahan obat, seperti tanaman obat, bahan dari binatang buas atau monster dan senjata." jawab panatua pertama.
"Selain itu, kita juga memiliki usaha pengiriman barang, namun sayang, setiap kali melakukan pengiriman kurir kami terbunuh dan juga barang hilang. Akhirnya kami menghentikan usaha itu." panatua kedua menambahkan.
"Senjata? Senjata tingkat apa?" tanya Whana sedikit penasaran.
"Senjata tingkat Fana kualitas Rendah. Sedangkan kualitas menengah termasuk jarang karena kemampuan penempa. Namun karena ada pihak lain yang mau membayar lebih tinggi kepada penempa, kami tidak bisa berbuat apa - apa." jawab panatua pertama dengan raut penyesalan di wajahnya.
"Aku memiliki ini, apakah bisa membantu?" Whana mengeluarkan selusin Pedang Fana kualitas Menengah dan tiga Pedang Fana kualitas Tinggi.
Mata ketiga lelaki tua itu langsung melotot melihat Whana mengeluarkan begitu banyak senjata Fana kualitas Menengah dan Tinggi dengan begitu santainya.
"Ka, ka, kamu memiliki semua ini?" Tanya patriak dengan terkejut.
"Apakah itu bisa sedikit membantu?" Whana bertanya dengan serius.
"Sangat membantu. Sangat membantu. Kamu luar biasa, nak." ucap panatua pertama.
Ketiga lelaki tua itu lagi terpana dengan banyaknya senjata yang dikeluarkan Whana. Mereka bertanya - tanya dari mana cucunya yang masih muda belia mendapatkan puluhan senjata yang bahkan mereka tidak memilikinya.
"Cucuku, bagaimana kami harus membayar ini semua?" panatua pertama bertanya.
"Hahaha. Panatua atur saja, bagaimana baiknya. Buat setengah harga untukku dari harga normal panatua membeli kepada penempa. Berikan kepada ibuku." ucap Whana santai.
"Cucuku, Terima kasih. Kontribusimu sangat besar untuk keluarga Rahngu kita." sang patriak memandang Whana dalam - dalam.
"Ah, Kakek. Ini belum seberapa dibandingkan dengan ketiga Kakekku ini yang sudah berjuang untuk keluarga kita selama hampir 200 tahun. Cita - cita kalian bertiga pasti sama dan aku wajib mewujudkannya." jawab Whana dengan tersenyum.
"Ini tanaman obat yang kudapatkan di Hutan Kematian, semoga ini juga bisa membantu." Whana mengeluarkan cincin penyimpanan dan menyerahkannya kepada panatua pertama.
Ketika panatua pertama melihat isi cincin dengan kesadarannya, dia tertegun, mulutnya terbuka lebar.
__ADS_1
"Apa isinya?" tanya panatua kedua dan langsung mengambil cincin dari tangan panatua pertama.
Tidak jauh berbeda dengan panatua pertama, panatua kedua juga terkejut dengan ekspresi sama persis dengan panatua pertama.
"Kalian berdua, kenapa begitu terkejut?" tanya patriak kepada kedua saudara sepupunya.
"Meskipun sebagian besar tanaman obat ini tidak langka, tapi semua adalah kualitas terbaik dan ada beberapa jenis yang mengharuskan kita ke ibu kota untuk mendapatkannya." jawab panatua pertama kemudian dia memandang Whana penuh arti.
"Cucuku, berapa bulan kamu.mengumpulkan semua tanaman obat ini?" tanya panatua pertama.
"Seminggu yang lalu." jawab Whana dengan santai.
"Seminggu yang lalu?" ketiga lelaki tua itu berbicara serempak. Lalu mereka tertawa bersama terbahak - bahak tapi dengan air mata yang mengalir di pipi keriputnya.
"Cucuku, terima kasih, terima kasih." tiga lelaki tua itu berdiri dan membungkuk serempak di depan Whana.
Whana melihat ini langsung terpana dan berucap, "Sudah kewajibanku."
Whana juga berdiri dan membungkuk dengan hormat kepada ketiga kakeknya.
"Panatua, aku punya ini untuk kalian berdua. Semoga langsung bisa menerobos ke ranah Prajurit Alam dalam seminggu." Whana mengeluarkan dua Pil Mida yang sama dengan Pil Mida yang diterima oleh patriak Rahngu.
Melihat Pil yang diberikan Whana, mereka berdua terdiam tidak mampu berkata - kata lagi. Rasa terkejutnya belum hilang dan sekarang sudah terkejut lagi.
"Tidak perlu bertanya maupun menolak. Aku juga telah menembus Tahap Prajurit Alam." patriak kemudian melanjutkan dan alasan Whana memberikan Pil itu kepada kedua saudaranya.
"Kakek, cari tahu harga lahan disebelah utara keluarga kita. Aku ingin membangun aula pelatihan yang lebih besar," pinta Whana kepada patriak.
... Whana dan ketiga kakeknya terus berbicang selama tiga jam....
...............
-GERBANG TIMUR DARATAN WAJA -
Daratan Waja terletak di sebelah barat daratan Liba. Lautan luas dan berbahaya memisahkan kedua daratan ini. Daratan Waja sebelas kali lebih besar dari daratan Liba dan terbagi menjadi tiga bagian yang masing - masing merupakan wilayah Kerajaan. Waja timur, Waja tengah dan Waja barat. Daerah Waja timur dikuasi oleh Kerajaan Hipajama dan memiliki wilayah terluas dari pada dua kerajaan lainnya.
__ADS_1
Menyeberangi lautan yang memisahkan kedua daratan ini memerlukan waktu satu hingga dua minggu dengan tunggangan terbang dan harus mengambil jalur khusus. Hal ini disebabkan banyak angin tornado di sepanjang lautan dan monster terbang yang cukup mematikan.