
"Oh, untuk anak-anak di Rumah Asuh." Jawab Whana santai.
"Aku dan tetua juga akan ke Rumah Asuh." ucap Dayu bersemangat.
"Kita pergi bersama." Whana tersenyum.
-----KELUARGA RAHNGU-----
"Tuan dan Nyonya, kami dari cabang rumah dagang kota distrik. Kami ditugaskan untuk mengantarkan koin emas ini kepada Anda berdua. Seharusnya ini sampai dua hari yang lalu namun karena ada kendala di perjalanan, baru hari ini kami bisa berikan." salah satu pria paruh baya yang datang berbicara kepada orang tua Whana.
Wahyu menjawab, "Koin emas? Siapa yang mengirimkannya?"
"Seorang pemuda bernama Whana lima hari yang lalu menjual bahan obat dan kultivasi dari hasil buruannya dan kami kekurangan koin emas sebagai pembayaran. Tuan Muda Whana memberi tahu kami untuk mengirimkan sisa pembayaran kepada Anda berdua." Jawab pria paruh baya lainnya.
"Oh, itu putra kami." seru Ayudiah tersenyum bangga.
"Anda berdua memiliki putra yang sangat berbakat. Sebagai kompensasi atas keterlambatan, manager kami telah menambahkan 100 koin emas di dalamnya." jawab pria paruh baya yang menerima penjualan dari Whana sambil menyerahkan tas ruang.
Setelah kedua orang tamu pergi, Wahyu dan Ayudiah mengeluarkan isi tas ruang secara langsung tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Ketika melihat tumpukan koin emas di depan mata mereka, mulut mereka langsung terbuka lebar.
"Monster apa yang diburu anak ini sampai menghasilkan koin emas sebanyak ini?" ucap Wahyu yang masih terpana dengan tumpukan koin emas.
"Jangan mengambil uang ini! Kita tunggu dia pulang!" ucap Ayudiah yang masih merasa bangga terhadap putranya.
"Ibu, bolehkah aku mengambil satu?" Dira memohon sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Tunggu kakakmu terlebih dahulu." sahut Ayudiah dengan sabar.
........
-----RUMAH ASUH-----
"Kakak Whana datang." Mila, gadis kecil yang berusia lima sampai enam tahun yang melihat Whana di pintu gerbang segera berteriak berlari dan melompat ke pelukan Whana.
"Hei, gadis cantik. Aku membawa makanan kesukaanmu." ucap Whana sambil mengusap kepala Mila yang masih berada di gendongannya.
"Benarkah? Hore!" teriak Mila sangat gembira.
__ADS_1
"Hallo Kakak cantik, apakah kamu sudah menjadi kekasih Kak Whana?" ucap Mila menatap Dayu.
Mendengar perkataan Mila, semua orang tertegun. Rona merah kembali tampak di pipi Dayu dan tanpa mengucapkan apa pun Dayu tersenyum canggung.
"Hei, apa yang kamu bicarakan?" Whana mencubit hidung kecil Mila.
"Kakak cantik ini sering datang menemani Mila bermain, Kak." ucap Mila kepada Whana.
"Terima kasih." Whana memandang Dayu yang berada di sebelahnya dengan penuh terima kasih.
"Aku juga menyukai anak-anak." sahut Dayu yang masih merasa malu.
Sesaat kemudian suami istri Wiji dan ketiga anaknya muncul dari dalam rumah.
"Tuan Muda, terima kasih atas bantuan Anda yang entah keberapa kali. Tadi ada petugas yang mengantarkan koin emas kepada kami atas nama Anda. Karena keterlambatan pengiriman mereka menambahkan 50 koin emas dan beberapa pakaian untuk anak-anak. Jadi jumlah yang kami terima 24.050 keping koin emas." ucap paman Wiji dengan hormat kepada Whana.
"Syukurlah sudah sampai. Gunakan untuk kebutuhan adik-adikku dan juga jangan lupakan kebutuhan keluarga paman." ucap Whana dengan tersenyum.
"Terima kasih, Tuan Muda. Tapi ini terlalu banyak." ucap paman Wiji yang merasa tidak enak karena mereka baru dua minggu di beri 10 ribu koin emas.
Dayu dan Jendral Pon mendengar koin emas yang di sebutkan paman Wiji sedikit terkejut. Meskipun nilai itu tidak ada sepotong kuku bagi Dayu yang merupakan seorang Tuan Putri Kerajaan yang menguasai daratan Liba, nilai dua puluh empat ribu koin emas adalah nilai yang cukup fantastis untuk dikeluarkan tanpa adanya imbalan.
Whana dan lainnya tinggal bersama anak-anak di Rumah Asuh hingga sore hari. Bermain dan berlatih beladiri bagi yang sudah berusia 7 tahun ke atas.
Whana duduk di sudut halaman dan tampak termenung. Melihat ini Dayu yang menggendong Mila langsung menghampirinya.
"Apa yang membuatmu termenung?" tanya Dayu yang penasaran.
"Ah, tidak ada." Whana menjawab dengan tersenyum.
"Bolehkah aku tahu mengapa kamu begitu peduli dengan anak-anak ini?" mengingat jumlah koin emas yang diberikan oleh Whana, Dayu penasaran dengan alasan utama Whana.
"Hmm, hanya peduli saja. Mereka adalah anak-anak yang kurang beruntung." sambil menatap Mila yang asyik dengan bonekanya.
"Mereka tidak pernah berencana untuk terlahir menjadi anak yang tidak beruntung. Bahkan mereka tidak tahu siapa orang tua mereka, apakah mereka menginginkannya? Aku rasa tidak. Aku yang terlahir beruntung merasa punya kewajiban untuk membantu mereka keluar dari ketidakberuntungan mereka." lanjut Whana menjelaskan.
__ADS_1
Dayu yang mendengar jawaban Whana diam terpana lalu, "Kamu pemuda yang baik."
"Terima kasih atas pujiannya. Kamu juga gadis yang baik." Whana tersenyum mendengar perkataan Dayu.
"Berikan ini pada ayahmu, mungkin bisa menghancurkan racun di tubuhnya." Whana berkata dan memberikan sebuah botol Kristal kecil yang transparan di dalamnya terdapat cairan berwarna hitam pekat.
Dayu terkejut melihat Whana tiba-tiba mengeluarkan botol Kristal kecil itu.
"Apakah kamu yakin bisa menyembuhkannya?" tanya Dayu penuh harap dan penasaran.
"Panggil Tetua Pon. Dia akan menjawabnya." jawab Whana dengan tersenyum.
"Benarkah yang dikatakan Dayu, Teman Kecil?" tanya Jendral Pon penasaran.
"Tetua, buka tutup botol ini dan hirup aromanya! Jika sisa racun di tubuhmu hilang, mungkin ini bisa membantu ayah Dayu." jawab Whana yang masih tetap dengan tersenyum.
"Bagaimana kau tahu jika masih ada sisa racun di tubuhku?" seru Jendral Pon keheranan.
"Sudahlah, coba dulu!" Whana mengabaikan pertanyaan Jendral Pon.
Tutup botol di buka dan Jendral Pon menghirupnya secara perlahan. Sekitar 10 detik kemudian, Jendral Pon melompat-lompat seperti anak kecil karena kegirangan.
"Racunnya hilang. Racunnya hilang. Hahaha." Jendral Pon tertawa terbahak-bahak.
Melihat tingkah laku Jendral Pon yang aneh, semua orang jadi terdiam. Terutama Dayu yang mengetahui ada sisa racun di tubuh Jendral Pon, mulutnya terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Ia kemudian memandang Whana tanpa mengucapkan apapun.
"Apakah aku begitu tampan?" goda Whana karena ditatap oleh Dayu.
"Tampan." tanpa sadar Dayu menjawab dengan jujur, namun sesaat kemudian ia tersadar telah mengatakan sesuatu yang salah membuatnya semakin merah merona di pipinya.
"Teman kecil, terima kasih. Terima kasih." Jendral Pon membungkuk sedikit di depan Whana.
----- PENGINAPAN -----
Menjelang sore tiba, Dayu dan Jendral Pon kembali ke penginapan dan bersiap untuk ke ibu kota kerajaan.
"Sungguh aku tidak menyangka, di kota kecil ini aku bisa menghilangkan sisa racun yang mematikan itu." ucap Jendral Pon kepada Dayu.
__ADS_1