Perjalanan Penguasa Terkuat

Perjalanan Penguasa Terkuat
BAB 65


__ADS_3

"Aku semakin tertarik dengan pemuda ini." gumam sang Raja yang masih bisa di dengar oleh seluruh orang di sekitarnya.



"Ajudan, catat perintahku! Mulai hari ini, sampaikan kepada kepala Distrik Nabrajem bahwa kota Ragane di bebaskan dari pajak selama 100 tahun. Keuda, lipat gandakan gaji penguasa kota. Ketiga, kirim 10 orang dari Tahap Prajurit Alam tingkat Menengah dan tingkat Tinggi dengan pimpinan Tahap Jendral untuk melindungi keluarga Rahngu." sang Raja langsung mengeluarkan titahnya.



"Dimengerti, paduka." sang ajudan menjawab dan segera meninggalkan tempat untuk mengeksekusi perintah Raja.



.............



----- KELUARGA TIGAS -----



"Tuan Menteri, kami mensinyalir kesembuhan Raja ada kaitannya dengan Jendral Pon." seorang ajudan menteri mennyampaikan kecurigaannya.



"Sial, bagaimana bisa dia sembuh dari racun itu? Rencanaku akan sia - sia dan jika Raja sampai mengetahui semua ini sebelum kita siap, maka ini sangat berbahaya." keluh sang menteri dengan situasi yang tidak terduga.



"Tuan Menteri, selama kita bisa menangkap putra mahkota maka cepat atau lambat sang Raja akan menyerahkan kekuasaan di bawah ancaman kita." ajudan menteri mengusulkan.



"Suamiku, aku akan menghubungi keluargaku untuk menyiapkan racun perusak. Jika putra mahkota menjadi sampah, maka mau tidak mau posisi putra mahkota akan beralih ke tangan keponakan kita." isteri menteri langsung menyampaikan rencananya.



"Kamu memang istriku yang paling cerdas dari pada yang lainnya." sang menteri tersenyum memuji.



................



----- KELUARGA RAHNGU -----



Hari ini adalah hari dimana seluruh penghuni Rumah Asuh telah berada di keluarga Rahngu dan siap untuk menempat rumah yang baru.



Seperti biasa ketika melihat Whana, Mila langsung meluncur ke pelukan Whana.



"Whana, siapa gadis cantik ini?" Ayudiah langsung tertarik melihat Mila yang imut di gendongan Whana.



"Aku Mila dan aku akan menjadi istri yang baik untuk Kak Whana." sebelum Whana menjawab, Mila langsung menyela.



Mendengar apa yang diucapkan Mila, sontak semua orang tertawa.



"Mila, aku ibu kakak Whana." Ayudiah memperkenalkan dirinya.


__ADS_1


"Ibu Kak Whana? Kak Whana karena aku adikmu apa ibu Kak Whana juga ibuku?" tanya Mila dengan matanya yang besar berkedip - kedip tampak seperti bonek yang lucu.



"Tentu saja." Whana mengangguk dan tersenyum.



"Sini, peluk Ibu!" ajak Ayudiah kepada Mila dan mengulurkan tangannya.



Di dalam aula rumah, Whana menyampaikan kepada keluarga Wiji untuk mengatur segalanya.



"Paman dan semuanya, rumah ini memang untuk paman sekeluarga dan adik - adikku. Ibuku akan membantu kalian sebisa mungkin." ucap Whana dengan tersenyum.



"Terima kasih, Tuan Muda." ucap paman Wiji.



"Kakak, rumah ini sangat besar. Aku ingin di kamar ini." seru seorang anak sambil memandang sekeliling rumah.



Malam harinya, seluruh keluarga Rahngu berkumpul berkumpul di rumah baru yang sekarang disebut Rumah Harapan Rahngu. Nama ini sengaja diusulkan Whana agar semua keluarga Rahngu memperhatikan dan peduli terhadap anak - anak yang menghuni rumah itu.



Para sepupu Whana membuat api unggun di depan halaman rumah dan memanggang banyak daging yang Whana berikan sebelumnya. Suasana cukup meriah. Anak - anak tak henti - hentinya tertawa dan berseru takjub dengan kisah - kisah yang di ceritakan para sepupu Whana.



Melihat ini, Whana yang duduk di sudut tersenyum. Sedangkan istri paman Wiji yang duduk di sebelah Ayudiah telah meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan, namun air mata kebahagiaan melihat keceriaan anak - anak yang mereka rawat sejak lama.




Ayudiah menoleh dan tersenyum, lalu memegang tangan istri paman Wiji.



"Aku hanya membantu putraku. Mulai sekarang, nyonya Wiji sekeluarga adalah bagian dari keluarga Rahngu kami. Anak - anak ini juga anak - anak kami." ucap Ayudiah menanggapi istri paman Wiji.



..............



Pagi tiba kembali, kicauan burung ramai terdengar dan memeriahkan suasana. Sinar keemasan mentari memasuki jendela kamar dan mengenai wajah Whana.



Whana langsung beranjak dari ranjang tidurnya untuk membersihkan diri. Selesai mandi dengan pakaian serba putih ia menuju ke Rumah Harapan.



"Bagaimana malam ini? Apakah tidur anda nyenyak?" Tanya Whana yang muncul di ruang aula rumah kepada paman Wiji.



"Tuan Muda, sangat nyaman. Terima kasih, Tuan Muda." ucap paman Wiji sambil membungkuk.



"Paman, di dalam cincin ini ada beberapa hal yang mungkin bisa membantu paman dan bibi untuk meningkatkan kultivasi. Selain itu ada beberapa daging seperti yang di panggang tadi malam. Setidaknya adik - adikku harus tetap sehat. Jika ada kebutuhan lain, paman bisa memberi tahu ibu dah ayahku." ucap Whana sambil memberikan cincin penyimpanan.

__ADS_1



"Tuan Muda, saya rasa ..." sebelum melanjutkan kalimatnya, Whana langsung menyela.



"Tidak perlu menolak! Kemudian ini untuk putra dan putri paman. Aku ingin paman sekeluarga menjadi lebih kuat sehingga bisa membimbing adik - adikku untuk berkultivasi." imbuh Whana dan menyerahkan tiga cincin penyimpanan lagi.



Berdiri dari duduknya, paman Wiji langsung membungkuk memberi hormat, "Terima kasih, Tuan Muda."



Keluar dari Rumah Harapan, Whana menuju aula keluarga untuk bertemu kakeknya.



"Whana, akhirnya kamu datang. Pak Nyoman sudah menunggumu." patriak yang melihat Whana langsung memanggilnya.



Melihat Pak Nyoman yang tepat waktu, Whana tersenyum.



"Bagaimana Pak Nyoman, apakah sudah mengetahui perhitungan pembuatan menara yang aku sampaikan?" Tanya Whana langsung pada pokok permasalahan.



"Sudah, Tuan Muda. Untuk menara 7 lantai dengan ukuran dan bahan kualitas tinggi, biayanya mencapai 4 juta koin emas. Dan untuk membangun balai latihan yang ukuran 2 kali lipat dari yang sudah ada serta dengan bahan kualitas tinggi, biayanya mencapai 2,5 juta koin emas." Jawab Pak Nyoman merinci biaya.



"Berapa hari waktu yang di butuhkan untuk membangun menara sesuai seketsa gambarku?" Whana kembali bertanya.



"40 hari, Tuan Muda. Tapi jika tenaga kerjanya lebih banyak, maka bisa kurang dari 40 hari." Pak Nyoman segera menjawab.



"Baik. Aku ingin membuat 2 menara 7 lantai dan 1 balai latihan. Perbanyak tenaga kerjanya." setelah mengucapkan itu, Whana mengeluarkan 15 juta koin emas dan menyerahkannya kepada Pak Nyoman.



Melihat Whana mengeluarkan jutaan koin emas dengan santai, mulut Pak Nyoman terbuka lebar. Dia tidak pernah berharap apa yang dikatakan pemuda ini sebelumnya untuk membangun menara benar - benar terjadi.



"Tuan Muda, ini terlalu banyak." ucap Pak Nyoman yang sedikit gugup.



"Pak Nyoman atur saja. Untuk selanjutnya silahkan konsultasi dengan Kakekku." Jawab Whana sambil tersenyum.



Setelah Pak Nyoman meninggalkan kediaman keluarga Rahngu, patriak yang masih penasaran dengan menara yang dibangun oleh Whana segera bertanya.



"Cucuku, untuk apa kamu ingin membangun meenara? Bahkan 2 menara." Tanya patriak.



"Untuk meningkatkan kekuatan keluarga kita." Jawab Whana tersenyum.



"Ka, ka, kamu ingin membuat menara kultivasi? Menara kultivasi hanya ada di sekte besar daratan Waja dan itu membutuhkan formasi array yang sangat banyak." patriak langsung berseru dan mengucapkan banyak kalimat keraguan.

__ADS_1


__ADS_2