
Tidak ada hari yang paling berat untuk Wulan, yaitu hari ini dimana suaminya lagi melakukan pernikahan kedua. Dan disaksikan oleh orang tua Dwi.
Wulan hancur sehancur hancurnya, tapi dia bisa apa. Dulu orang tuanya sempet mengingatkan padanya. Wulan tidak mau menuruti saran orang tuanya, sekarang dia menerima akibatnya.
Di lain tempat Aisyah lagi siap siap mau pergi ke rumah temannya. Alea sudah telpon dari tadi, dia ingin ngasih tau sesuatu. Aisyah pergi mengunakan ojeg online.
Sampai lah Aisyah dirumah Alea. Langsung mereka menuju ruang kerja Alea.
"Syah kamu tau g, berita tentang tetanggamu itu" Tanya Alea
"Siapa? tetanggaku banyak" jawab Alea.
" Itu yang dulu ngejar ngejar kamu waktu dulu".
"Oh Kak Dwi, kenapa emang, aku udah lama g denger kabarnya semenjak dia menikah. Yang aku tau baik baik saja sama istrinya. itu yang aku tau".
"Dia hari ini sedang melangsungkan pernikahan sama tetanggaku. Aku kaget pas tau cowoknya tetangga kamu Syah"
" Masa sih, dia kan udah nikah, apa kamu g salah?, emang siapa tetanggamu itu"
" Itu si Uci, yang tempo hari hamil, tapi g tau Bapaknya".
" Oh pantes, yang dulu pernah ke rumah Kak Dwi, bareng Wulan. Temen kencan Kak Dwi
Itu sih yang aku dengar dulu. Tapi aku g begitu jelas juga".
" Kasihan istrinya ya, untung g jadi nikah sama kamu Syah"
" Alhamdulillah, aku terhindar dari masalah mereka. Allah sayang sama aku"
" Syah mau g temenin aku kondangan yu, aku belum datang. Soalnya males g ada temennya".
" G mau ah, lagian aku g baw baju juga, masa pake baju kaya gini ke undangan malu atuh".
" Tenang aja, aku ada baju, kita kan g beda jauh badannya. Mau yah Syah" Alea sedikit memaksa Aisyah, namun Aisyah merasa g enak datang karena g diundang.
" Baiklah tapi jangan lama ya, soalnya nanti aku mau nge makeup tetanggaku"
" Ok, sekarang kita ganti baju dulu yu"
Mereka pun sampai ditempat pernikahan Uci, Aisyah ragu mau masuk. Di tempat yang agak jauh dari Aisyah ada sepasang mata melihat terus kepada Aisyah.
" Halo, Syah kamu datang juga," Tanya Alan. Ya dia Alan yang menatap Aisyah dari pertama Aisyah datang.
" Eh Kak Alan, diundang juga sama Kak Dwi"
" Kamu ini gimana, ya pasti diundang, aku yang nyiapin semuanya ini. jawab Alan.
" Oh Kak Alan jadi WO nya, hebat banget, bisa dong kerja sama sama saya"sahut Aisyah.
" Emang usaha kamu apa, kalau nyambung hayu kerjasama".
" Saya lagi menekuni dunia MUA, siapa tau kalau ada yang butuh MUA, bisa Kak Alan kasih ke saya"
" Serius Syah bagus dong. Ok lah nanti Aku hubungi kamu ya. Nomor mu masih yang itu kan".
" Masih Kak"
" Ok aku masuk dulu ya, takut ada sesuatu di dalam, silahkan kalau kamu mau masuk. Maaf ganggu waktunya ya" ujar Alan sambil tersenyum manis dan diapun berlalu.
__ADS_1
Aisyah masuk sama Alea, Pertama yang melihat Aisyah Kakaknya Dwi.
" Syah kamu diundang siapa, ko bisa datang kesini. Jangan bilang kamu mau bikin kacau disini" seru Kakaknya Dwi
" Ya ampun Kak, saya diajak temen saya, g mungkin lah bikin kacau, orang saya g ada hubungan apa apa sama Dwi" sahut Aisyah.
" Udah yu Syah ke pelaminan aku mau mengucapkan selamat sam Uci" Alea berujar sambil menarik tangan Aisyah.
Sesampainya diatas pelaminan Dwi kaget melihat Aisyah, dia tidak mau terlihat buruk dimata Aisyah, dia berharap Aisyah tidak tau kebejatan dia diluar sana. Tapi apa mau dikata Aisyah sudah ada di depannya. Pandangan Dwi sedikit nanar, Dia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya.
"Selamat ya Kak, cukup dua saja istrinya jangan nambah lagi" sindir Aisyah.
" Syah kenap kamu bisa sampai sini, siapa yang ngasih tau" tanya Dwi, dia seakan tidak rela kehilangan Aisyah yang semakin kesini semakin cantik.
" Allah yang menuntun saya kesini, jadi saya bersyukur sekali g menerima pinangan kamu Kak" sahut Aisyah sambil tersenyum manis.
" Dan untuk Kak Uci makasih ya sudah menyadarkan, dan mengambil Kak Dwi akhirnya saya bisa bernafas lega, dan melangkah pasti tanpa dibayangi Kamu Kak Dwi" ucap Aisyah lagi.
Setelah mengucapkan selamat sama mereka Aisyah dan Alea melangkah pulang, mereka tidak makan dulu. Sebab mendengar perkataan keluarga Dwi bikin panas hati Aisyah.
Dwi langsung gelisah, dia khawatir Aisyah membocorkan kepada Wulan, padahal Wulan sudah tau, karena ada yang ngirim vidio disaat ijab kabul tadi.
"Wi kamu kenapa kok gelisah banget. Kamu masih cinta sama dia" tanya Uci sambil marah. Dia sungguh tidak rela kehilangan lagi Dwi. Kalau sama Wulan Uci tidak takut sebab Uci sangat tau hati suaminya condong sama siapa.
" Engga Ci, cuma aku khawatir Aisyah ngomong sama Wulan. Kasihan Wulan pasti sedih banget kalau tau aku khianatin dia.
" Jadi kamu lebih suka nyakitin aku ya, kalau nyakitin Wulan kamu g tega" seru Uci. Hatinya sangat sakit. Dia begitu mencintai Dwi. Segala macam cara dia lakukan hanya satu tujuannya menjadikan Dwi miliknya.
Kembali ke rumah Wulan, Dia mengurung diri di kamarnya. Dia tidak mau makan, minum. Sudah dibujuk sama bi Lastri juga tetep dia g mau. Dia menangis terus. Sampai matanya bengkak.
Dia berusaha menghubungi orang yang ngirim dia vidio. Panggilan ke satu, kedua tidak diangkat, begitu panggilan ke tiga baru diangkat.
" Kamu Heru kan, kamu ada dimana, kenapa
kamu bisa ngirim vidio itu" tanya Wulan sambil terisak.
" Aku tidak sengaja nganter temen, katanya Saudaranya menikah. Aku kaget pas ngelihat mempelainya suami kamu. Makanya aku rekam" jawab Heru lagi.
" Kamu sekarang masih disitu, apa sudah pulang?" tanya Wulan lagi
" Masih, soalnya temenku juga belum pulang" jawab Heru lagi .
" Maukah kamu tolongin aku Ru, jemput aku disini. Aku pengen pergi ke suatu tempat. Aku tidak kuat disini" seru Wulan, hatinya sungguh hancur, air matanya tidak berhenti mengalir.
" Baik, aku kesitu sekarang. Kamu siap siap ya, mungkin agak lama, rumahmu cukup jauh dari sini" jawab Heru lagi. Sungguh dia tidak tega Sahabatnya disakiti suaminya.
Singkat cerita sampailah Heru dirumah Wulan. Wulan sudah menunggu dan siap dengan koper dan tasnya. Merekapun meninggalkan rumah Dwi. Wulan menulis dulu surat buat Dwi, dan dia titipkan pada bi Lastri.
" Bi saya pamit dulu ya, saya mau pulang ke rumah Mamah, maafkan Wulan selama disini selalu merepotkan bibi. Dan ini tolong kasih tau kepada Dwi".
" Neng Wulan kenapa pulang, disini rumah Neng Wulan. Bibi nanti sama siapa tidak ada temen ngobrol neng" jawab bi Lastri sambil menitikkan air mata. Bi Lastri merasa kasihan sama Wulan. Sebab Wulan selalu ditekan dan diintimidasi sama keluarga Dwi. Yang dikarenakan belum bisa mengandung.
" Saya menepi sebentar, mau menenangkan diri dulu. Nanti saya balik lagi dengan situasi yang berbeda" ujar Wulan. Wulan memeluk Bi Lastri yang selama ini sayang sama Wulan.
Wulan pergi meninggalkan rumah kediaman Dwi dan keluarganya. Tujuan Wulan kampung Kakeknya dulu, dia tidak mau ke rumah orang tuanya. Sebab dia malu karena dulu merasa yakin dengan Dwi . Tapi ternyata rasa sakit yang selalu dia terima.
Kita kembali ke situasi Pernikahan Dwi. Para tamu sudah bubar, orang tua Dwi pun langsung pulang. Tinggallah Dwi dirumah Uci.
" Wi mau mandi dulu, aku siapkan airnya ya " tanya Uci.
__ADS_1
" Iya Ci sebentar aku telepon dulu bi Lastri, mau tau kabar Wulan" jawab Dwi tanpa perasaan.
" Wi bisa tidak kalau lagi bersama aku, jangan kamu sebut wanita lain" seru Uci sambil membanting pintu kamar. Uci bener bener gondok, marah dia .
" Ci kenapa kamu harus marah, kamu kan tau
aku punya istri yang lain. Dan dia belum tau aku nikah lagi" sahut Dwi sambil balik marah
Malam pun tiba, seharusnya menjadi malam membahagiakan buat pengantin baru. Tapi apa yang terjadi. Dwi menerima telepon dari Ibunya mengabarkan Wulan pergi.
Dwi menjadi syok, Dia khawatir setengah mati bagaimanapun Wulan istri yang baik, tidak pernah nuntut apa apa sama Dwi. Dan selalu ada buat Dwi disaat Dwi lagi ada masalah. Wulan selalu buat Dwi nyaman. Namun tidak bisa dipungkiri anak Uci juga membuat kepikiran sana Dwi, dia menyayangi Uci dan anaknya. Dwi sungguh dilema.
Tanpa pamit sama Uci, Dwi pergi mencari Wulan, dia pulang dulu ke rumah orang tuanya. Dia ingin memastikan apa bener Wulan pergi. Sesampainya dirumah orang tuanya. Dwi langsung masuk kamar, dia ingin memeriksa sendiri. Dibukanya lemari dan disitu terlihat kosong, baju wulan tidak ada satupun.
Dwi menangis, dia tidak menyangka Wulan akan pergi. Dia berfikir Wulan akan bersabar dan mau menerima Uci jadi madunya. Karena pada satu kesempatan pernah membahas anaknya Uci, Wulan pernah menyarankan agar Dwi bertanggung jawab dengan anaknya.
Makanya Dwi nekad menikahi Uci. Dwi salah mengartikan arti kata tanggung jawab yang diucapkan Wulan. Maksud Wulan Dwi harus membiayai anaknya Wulan. Bukan malah menikahinya.
Bi Lastri mengetuk pintu kamar Dwi, setelah dibuka Bi Lastri menyerahkan titipan dari Wulan untuk Dwi. Dwi membacanya tidak terasa tetesan air mata Dwi terus menetes dengan derasnya. Dia menyesali semuanya, kebodohannya. Seandainya waktu bisa diputar, dia akan membicarakannya dahulu sama istrinya. Semua sudah terjadi. Harus kemana Dwi harus mencari
Untuk Suamiku Kak Dwi
Kak, sebelumnya Wulan minta maaf selama ini Wulan belum menjadi istri yang baik, Wulan ijin pergi sebentar ya. Mau menepi sementara, hati ini sungguh tiada sanggup untuk berbagi. Kak semoga Kakak bahagia bersama istri dan anak Kakak, jangan mencari Wulan, biarkan Wulan menata hati dulu. Seandainya hati ini sudah mantap Wulan akan menemui Kakak. Mohon Kakak jangan mencari Wulan. Terima kasih untuk kebersamaan kita, Wulan cukup berbahagia selama jadi istri Kakak. Wasalam dari istrimu yang banyak kekurangan. Wulan.
Setelah membaca surat dari Wulan Dwi lulur ke lantai, kaki nya lemas, Dia menangis menyesali semua nya. Dia tidak tau apa yang harus di perbuat nya.
Akhirnya Dwi berlari, dia dengan cepat meraih kunci motornya, dia berusaha mencari keberadaan Wulan ke tempat teman teman Wulan. Dwi tidak berani menyusul ke rumah orang tuanya. Ada hal yang Dwi takutkan. Orang tua Wulan bukan orang sembarangan.Dwi khawatir seandainya orang tua nya Wulan sampai marah, bisnisnya yang selama ini dia bangun takut hancur. Karena sebagian besar modalnya dari Orang tua Wulan.
Sementara di rumah Uci, dia marah marah sebab dia ditinggalkan di malam pengantinnya. Yang seharusnya mereguk nikmatnya malam pengantin malah dia mendapat nestapa. Hancur hatinya, dia pikir dia sudah berhasil merebut Dwi. Tapi apa yang dia dapat kesakitan seorang diri. Anak Uci sudah dititip di orang tuanya. Uci tinggal di rumahnya sendiri hadiah dari orang tuanya . Ada sesal dalam hati, namun semua sudah terjadi, Uci bertekad untuk menyingkirkan Wulan dalam hidup Dwi. Dia juga ingin menyingkirkan Aisyah. Padahal Aisyah tidak ada hubungan dengan Dwi lagi semenjak dia menjebak Dwi. Karena Dwi menjauh tanpa kata perpisahan.
Wulan sampai dirumah Kakeknya jam 2 dini hari, perjalan cukup jauh. Kampung Kakeknya berada di Pangandaran, cukup melelahkan.
Sesampainya di kampung, Wulan disambut dengan baik oleh Kakeknya. Kakeknya tidak banyak tanya sebab dijalan tadi sudah menjelaskan secara garis besar apa yang terjadi dengan pernikahannya. Saat di telpon tadi Kakeknya sempat emosi namun Wulan bisa meredam segala amarah Kakeknya. Wulan tidak menyalahkan Dwi sedikitpun, dia tidak mau Kakeknya benci sama Suaminya. Dia terlalu mencintai dan menyayangi suaminya.
" Sebaiknya kalian istirahat dulu, kalian kelelahan perjalanan cukup jauh" kata Kakek Wulan. Dia tidak mau nanya apa apa dulu sama cucu tersayangnya.
" Baik Kek, Wulan tidur dikamar Nenek ya "
" Heru tidur sama Kakek di kamar tamu" kebetulan kamar dirumah Kakek cuma 2
Kakeknya Wulan hidupnya sangat sederhana, tapi jangan salah sawah dan kebunnya luas. Cuma Kakeknya wulan tidak suka berlebihan lagian beliau cuma hidup bersua saja sama neneknya. Ada yang selalu membantu tapi selalu pulang kalau sudah beres kerjaannya.
Pagi tiba, Wulan sudah rapih, dan Heru pun sudah rapih juga mereka duduk bertiga sementara Nenek dan pembantunya lagi menyiapkan makan buat sarapan mereka.
" Lan coba ceritakan apa yang sebenernya terjadi" kata Kakeknya meminta Wulan buat menceritakan kebenaran tentang rumah tangganya.
" Kek semua salah Wulan, Wulan belum bisa jadi istri yang baik, dan Wulan belum bisa ngasih anak sama Kak Dwi. Mungkin Kak Dwi kesepian tidak ada anak diantara kami" jawab Wulan sambil menunduk dia tidak berani menatap Kakeknya. Dia khawatir air matanya akan keluar. Dia berusaha menahan semua lara nya.
" Pernikahanmu belum begitu lama, Kakek merasa janggal kalau hanya itu yang menjadi sebab. Apa ada penyebab lainnya?" tanya Kakeknya lagi. Sungguh keluarga Wulan tidak ada yang tau kalau Dwi sudah punya anak dari wanita lain. Wulan menutupinya dengan rapih.
" G ada Kek, hanya itu alasannya. Dan orang tua Dwi ingin sekali segera punya cucu. karena Ayahnya Dei sudah sakit sakitan itulah alasannya. Sampai sampai ibu mertua selalu menuntut Wulan segera hamil Kek" sahut Wulan lagi.
Wulan bener bener tidak sanggup menceritakan yang sebenarnya. Dia ingin menyelesaikan semua dengan tidak ada keributan. Makanya dia pergi untuk menata hatinya.
Berhasilkah Wulan melupakan Suaminya
Kita tunggu di bab selanjutnya........
B e r s a m b u n g......
__ADS_1
"