
Aisyah akhirnya pulang, sekalipun Revan tidak mau terima dia merasa Aisyah tidak menghargainya juga keluarganya. Revan meminta Aisyah ada lebih lama lagi. Sebab keluarga dari Bapak nya Alan belum semua datang.
Namun bukan Aisyah tidak mau, Aisyah ingat anaknya yang baru pulang dari rumah sakit. Dia tidak tega meninggalkan batita dengan sepupunya. Aisyah berusaha menolak dengan halus, sekalipun Revan terus menuntutnya.
Alan datang menengahi perdebatan mantan suami istri itu. Alan bicara dengan bijak.
" Mas jangan tahan Aisyah, kamu juga sebagi Bapaknya Asri mestinya ikut memikirkan kesehatan anakmu " ucap Alan dia sedikit jengkel dengan ketidakpedulian Revan tentang anak keduanya.
" Lan bukan aku tidak memikirkan, Astri kan ada yang menjaga sementara kita agi berduka, apakah dia memang sudah tidak peduli lagi dengan keluarga kita " kata kata Revan semakin ngaco. Sebab dia diliputi rasa cemburu dan tidak terima karena anaknya lebih dekat kepada orang lain ketimbang dirinya yang nota bene dia adalah Ayah kandungnya.
" Aisyah sudah kamu boleh pulang, g pa pa nanti urusan yang lain saya yang menghandle nya " ujar Alan akhirnya, meng akhiri perdebatan mantan suami istri tersebut.
Aisyah pun pulang, tidak nunggu lama lama, Aisyah sudah sangat gelisah karena tidak biasa meninggalkan anaknya yang lagi sakit.
Dwi pun ikut pulang dia berusaha membujuk agar Aisyah mau bareng pulang. Aisyah jelas menolak sekalipun rasa itu hadir kembali, namun Aisyah bukan orang seperti itu. Aisyah tau batasan tidak menggunakan kesempatan itu.
Dan akhirnya Aisyah sampai dirumah. Astri sudah tertidur, Hasan masih menunggu dia, Hasan diam sambil memeluk lututnya. Hasan menangis saat dia terbangun dari mimpinya.
Aisyah dengan rasa sayang, dipeluknya Hasan, dielus kepalanya " Ada apa sayang, maafkan mamah ya, tadi mamah ke rumah Kakek , tadi Kakek meninggalkan kita " ucap Aisyah kepada anaknya.
" Berarti kita g punya kakek lagi, kemarin nenek meninggal, sekarang Kakek, lalu Ayah g sayang sama Hasan " ucap Hasan sambil menangis dalam pelukan Aisyah.
" Hasan kenapa ? apakah Hasan kangen dengan Ayah nak ? " tanya Aisyah.
Hasan tidak menjawab hanya meng anggukkan kepalanya, lalu dia berkata " mamah tidak marah kan kalau Hasan mau ketemu Ayah " tanya Hasan kecil yang takut membuat Ibunya marah.
" Tidak sayang mamah tidak marah, kalau Hasan mau ketemu nanti mamah telpon Ayah ya, tapi tidak sekarang sebab Ayah masih berduka, kan Hasan tau Kakek baru saja meninggal, jelas Ayah sedih " jawab Aisyah.
Berbanding terbalik dengan perkataan Aisyah Revan boro boro menampilkan rasa sedih, yang ada raut mukanya itu diliputi kemarahan, sebab dia tidak mampu menahan Aisyah.
Revan mau bersama Aisyah, ya sama dengan kata pepatah kalau sudah tiada baru terasa. Itu sangat berlaku bagi Revan hari harinya diliputi rasa penyesalan.
Sekarang keadaan Dwi saat pulang ke rumah. Uci jengkel kepada Dwi yang seolah selalu me nomor satukan Aisyah, kurang peduli padanya juga anaknya. Padahal Uci mengurus mertua yang sedang sakit.
__ADS_1
" Assalamualaikum " salam Dwi.
" Walaikumsalam, akhirnya kamu ingat pulang juga Mas " seru Uci marah.
" Kenapa kamu berteriak, kalau suami pulang sambut dengan baik, bukannya marah marah " jawab Dwi balik marah.
" Mas kamu ini tidak peka ya! Aku seharian mengurus ibu, belum anakmu masih bayi, itu Anggi baru embuh, coba mas sedikit saja kamu mengerti tentang kondisi aku " tukas Uci lagi, dia bener jengkel, bukan tidak mau mengerti cuma dia idah mencoba bersabar tapi tidak dihargai sama sekali oleh suaminya.
" Ci tau g ? kamu tuh jauh banget sama Aisyah, dia itu lembut, kalau bicara menyejukkan, tidak kaya kamu, suami pilang malah marah marah, bukan dibawain minum " jawab Dwi tidak kalah keras.
Uci bukan tidak ikhlas untuk mengurus rumah tangganya, cuma Uci merasa di nomor duakan setelah tau Aishah bercerai. Dwi lebih memperhatikan anak anaknya Aisyah.
Sementara Dwi merasa tidak salah, dia seolah membenarkan sikapnya tersebut, sedikitpun tidak merasa berdosa sama istrinya. Sekalipun Uci sudah berkali kali mengingatkan.
Pertengkaran selalu menghiasi rumah tangga Dwi. Dan itu semua sampai ke telinga Aisyah.
Aisyah menjadi sangat merasa berdosa dengan semua itu, sehingga Aisyah mengambil keputusan tidak mengikuti wasiat Ibunya untuk mendiami rumah peninggalan Ibunya, Ibunya melarang menjualnya.
Aisyah akhirnya kembali kerumahnya. Rumah Ibunya dia titipkan kepada Kakak sepupunya, kebetulan Kakak sepupunya belum punya rumah, masih satu rumah sama orang tuanya.
Ratiman membantu Aisyah untuk kembali pulang ke rumahnya. Disaat Ratiman lagi ngangkut barang Aisyah kebetulan Revan datang dan kaget melihat barang diangkut ke mobil bak, Dia berfikir kalau Aisyah mau pindah dan menghindari dirinya. Revan kesal lalu langsung ke rumah Ibunya Aisyah.
Namun sangat disayangkan Aisyah sudah pergi dengan taxi, Aisyah sengaja pergi habis sholat subuh dengan memboyong kedua anaknya. Dia tidak ingin ketemu sama Revan ataupun Dwi.
Revan masuk rumah dengan wajah yang murka, namun dia tidak mendapatkan siapapun, warungnya tutup, Kakaknya Aisyah lagi membereskan barang barang yang mau Aisyah bawa peninggalan Ibunya.
Tidak semua barang di bawa cuma yang penting penting saja selebihnya dibiarkan supaya di pakai Kakak sepupunya.
Jauh di lubuk hatinya Aisyah berat meninggalkan rumah Ibunya, namun dia tidak mau menjadi duri dalam daging, tidak dipungkiri perhatian perhatian Dwi padanya dan juga anak anaknya, membuat Aisyah meleleh dan menghangat hatinya dan menyuburkan rasa yang pernah ada.
Aisyah menyadari semua itu tidak benar, dia saja menerima perselingkuhan suaminya sangat menyakitkan, maka dari itu dia sebisa mungkin menghindarinya.
Revan murka melihat Aisyah sudah pergi, namun dia sadar ada Ratiman yang belum pergi masih angkut angkut barang,dengan cepat dia berlari mengejar Ratiman dengan harapan Ratiman belum menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Namun disayangkan Ratiman baru saja berangkat, Revan dengan cepat mengendarai motornya buat mengejar Ratiman.
Namun Revan salah, yang dikejar mobil yang dikendarai Ratiman padahal barang barang Aisyah diangkut oleh jasa angkutan.
Ratiman pergi ngirim barang, Revan mengikuti terus namun akhirnya dia paham kenapa Ratiman tidak berhenti berhenti, dan tidak mungkin rumah Aisyah sejauh itu. Ratiman menghentikan mobilnya di toko yang pesan barang yang diproduksi Aisyah.
Revan sungguh tambah marah, jauh jauh mengikuti malah ke toko. Jengkel berlipat lipat. Ratiman bukan tidak tau, dia tau cuma dia membiarkan Revan mengikuti sengaja supaya Revan tidak tau rumah Aisyah yang sekarang.
Ratiman hanya tersenyum sambil menurunkan barangnya, dan dia masuk kedalam toko untuk mengambil uangnya.
Revan Pun berlalu kembali kerumahnya.
Maksud hati dia ingin membujuk kembali Aisyah supaya mau balik lagi. Eh malah keburu pindah. Jengkel campur kecewa.
Lain Revan lain Dwi, Dwi merasa kecewa dengan istrinya, Dia pergi pagi pagi sengaja ingin mampir ke rumah Aisyah, namun Dwi pun sama harus menelan kekecewaan, Aisyah kembali pergi dari kehidupannya.
Dwi kembali pulang kerumahnya dengan keadaan murka, sampai di dalam rumah, tanpa tedeng aling aling dia menjebak rambut istrinya lalu mendorongnya.
Uci sangat kaget mendapatkan perlakuan itu, Dia menjerit dan balik ingin melawan namun tenaga Dwi yang kesetanan boro boro bisa dilawan malah Dwi menghampiri Uci lagi dan kembali menampar wajah Uci, lalu menendangnya. Sungguh miris nasib Uci.
Para tetangga mendengar keributan itu tidak tinggal diam, kebetulan Pamannya Aisyah adalah menjabat ketua Rw disitu. Dan tetangga Dwi yang paling dekat rumahnya dengan Dwi berlari ke rumah Pamannya Aisyah.
Didatangi Lah rumah Dwi, Uci sudah dalam keadaan kacau mukanya lebam lebam, Ada seorang tetangga yang telpon Polisi.
Namun tanpa disangka tanpa diduga Uci malah membela suaminya dan mengatakan kalau suaminya tidak bersalah. Uci malah menyalahkan dirinya, kalau dirinyalah penyebab kemarahan Dwi.
Tetangga termasuk Bapak ketua RW sangat kecewa sudah berusaha membantu malah yang dibantunya menolak.
Pada Akhirnya mereka pulang ke rumah masing masing. Semenjak itulah ada keributan apapun tiada yang perduli lagi.
Yu ah sekian dulu kisah Dwi dan Aisyah kita lanjut lagi di bab yang akan datang.
Selamat membaca.
__ADS_1
Bersambung