
Aisyah merasa sangat sedih, tidak ada yang bisa Aisyah perbuat, hanya merenung jawanya kosong, kehilangan ibunya seakan membawa separuh jiwanya. Untung ada Kakak sepupu dan Paman dan Bibinya.
Begitupun Ratiman yang selalu ada buat Aisyah dan anak anaknya. Tidak ketinggalan Dwi yang berusaha mampir buat memberi perhatian sama anak anaknya Aisyah.
Begitu juga Revan seolah penyesalan menyerang hatinya, dia sungguh menyesal telah mengabaikan anaknya, apalagi anak perempuannya. Dari lahir semenjak Aisyah hami anak kedua Revan sudah mulai berubah. Jarang pulang dan tidak pernah sekalipun memberi perhatian sama Aisyah. Pun saat Aisyah melahirkan. Revan tidak ada disisinya.
Sungguh Aisyah yang kuat. Ditinggal suami diselingkuhi Aisyah masih mampu tegar dan mampu berdiri dan berusaha menata hatinya yang sakit tanpa harus berlama lama bersedih dan dia bisa cepat memulihkan hatinya.
Namun beda saat kehilangan Ibunya. Aisyah sangat terpukul dia seolah hilang semangat hidupnya. Kini dia seolah hidup tanpa jiwa. Untung dia masih dikelilingi sama orang orang yang mencintainya.
Revan terus berusaha mendekati anaknya. Mungkin buat Astri Revan sangat sulit untuk mendekati sebab Astri tidak mengenalnya. Yang Astri tau Ratiman lah yang dia kenal dan mampu menggantikan peran seorang Ayah yang hilang.
Hasan akhirnya luluh juga sekalipun masih ada keengganan kepada Revan. Dan Revan bisa membawa Hasan kerumah kontrakannya. Namun apa yang terjadi baru saja dia akan dekat dengan Bapaknya Ibu tirinya sudah membuat Hasan ketakutan.
Adik tirinya Hasan menangis, bukan karena Hasan namun pada dasarnya tidak suka dengan Hasan Ibu tirinya malah mendorong dan memarahi Hasan. Revan saat kejadian tidak ada ditempat. Hasan sampai keluar darah dari hidung. Sebab jatuhnya tersungkur.
Revan datang karena mendengar tangisan Hasan yang begitu keras, dia sontak terkejut melihat Hasan bercucuran darah dari hidung dan dahi. Yang lebih mirisnya bukan dibawa ke rumah sakit malah cuma dilap darahnya. Lukanya ditempel perban pembalut luka. Hidungnya hanya ditahan pake kapas lalu dibawa pulang ke rumah Ibunya Aisyah.
Melihat anaknya terluka Aisyah sungguh murka, baru sekali dibawa malah terluka,
Aisyah tidak habis pikir apa yang sebenarnya Revan lakukan, cara mengasuhnya bagaiman.
Semenjak itulah Aisyah melarang Revan membawanya. Ada kecurigaan dalam diri Aisyah mungkin itu perbuatan istri mudanya.
Aisyah tidak pernah mengijinkan lagi Revan untuk membawa Hasan. Kalau Revan mau bertemu boleh tapi di rumah saja, kalau mau dibawa harus bawa keponakan Aisyah yang sudah cukup umurnya 15 tahun. Ada kekhawatiran Aisyah.
Ujian kembali menerpa Aisyah. Anaknya Astri sakit demam sampai 40 derajat, Aisyah panik lalu menelpon Ratiman. Di Bawalah ke rumah sakit yang terdekat dari rumahnya Ibunya Aisyah. Jam 12 malam Aisyah berada di rumah sakit. Astri harus dirawat sempet kejang saking panasnya.
__ADS_1
Ratiman dengan setia menunggunya. Aisyah beruntung punya asisten yang selalu sigap kapanpun dia butuh. Berita itu nyampai ke telinga Dwi dan Revan.
Ironisnya yang datang lebih dulu ltu Dwi, Dwi dengan cepat datang dan berusaha membantu yang Aisyah butuhkan. Dia bawakan Aisyah makanan kesukaan Aisyah. Usahanya untuk mendekati Aisyah sangat gencar.
Biaya rumah sakit pun dibayarkan lunas oleh Dwi. Dwi tidak lama di rumah sakit setelah beres membayar lunas biaya rumah sakit. Dwi pulang sebab dia masih punya tanggung jawab yang dirumah.
Beda dengan Revan mendapat kabar anaknya masuk rumah sakit, bukan nya cepat datang untuk menengok, dia malah berdebat dengan istrinya. Istrinya melarang untuk datang. Jika nekad datang ke rumah sakit istrinya Revan mengancam akan membawa pergi anaknya ke Batam.
Akhirnya Revan tidak pergi dia hanya menyesali lagi dan lagi. Sakit yang dia rasakan hatinya seolah beku dengan mengalami ini semua.
Ayah Revan tiba tiba jatuh dari kamar mandi dan langsung meninggal. Yang pertama dikabarin Aisyah bukan Revan. Alan malah telpon Aisyah. Posisi Aisyah yang berada dirumah sakit tidak memungkinkan untuk datang. Astri tidak bisa ditinggalkan.
Yang paling parah Ayahnya saja meninggal istrinya Revan seolah tidak peduli. Dia sulit untuk diajak pergi ke rumah Bapaknya Revan.
Akhirnya Revan pergi sendiri ke rumah Bapaknya. Disitu alan sedang menangis ditemani istrinya. Revan memang tidak terlalu dekat dengan Bapaknya. Minimal dia ber empati. Namun yang terlihat dari raut mukanya Revan lurus lurus saja. entah terbuat daru apa hatinya sehingga tidak tersentuh dengan kepergian Bapaknya yang mendadak.
Sangat kebetulan Astri sudah diperbolehkan pulang. Akhirnya Aisyah bisa menyempatkan diri bertakziah ke rumah Alan. Revan masih ada disitu, termasuk Dwi. Alan datang menyambut Aisyah, begitupun Dwi dan Revan begitu antusias melihat kedatangan Aisyah.
Aisyah datang diantar oleh Ratiman, kebetulan Ratiman masih mencari parkir karena rumah Alana masuk gang sehingga agak sulit untuk parkir. Aisyah pergi duluan ke rumah Alan. Mereka pikir Aisyah datang seorang diri, sehingga mereka menyambut Aisyah.
Saat Aisyah mengucapkan belasungkawa sambil mengatupkan kedua tangan didepan dadanya. Ratiman mengucapkan salam " Assalamualaikum " ucap Ratiman
" Walaikumsalam " serempak yang ada disitu menjawab salam Ratiman.
Dwi sontak kaget dan merasa jengkel lagi dan lagi harus ada Ratiman yang selalu menggagalkan usaha dia untuk mendekati Aisyah. Begitupun dengan Revan dengan raut jengkel Revan pergi menjauh seolah Ratiman itu bakteri yang harus dihindarinya.
Kecuali Alan yang menyambut Ratiman dan bersalaman, setelah ngobrol sebentar Aisyah dan Ratiman undur diri karena Aisyah tidak bisa meninggalkan Astri lebih lama karena baru pulang dari rumah sakit.
__ADS_1
Alan memakluminya, dan meminta maaf belum sempat menjenguk ponakannya tersebut.
Namun berbeda dengan Dwi dan Revan, mereka berusaha menahan Aisyah. Dwi pura pura nanya tentang keadaan Astri dan berusaha mengajak Aisyah pulang bareng. Namun Aisyah menolak secara halus.
Berbeda dengan sifat Revan, dia malah bicara yang tidak tidak.
" Dek, kamu kok pulang kenapa kamu tidak bisa menghargai mertuamu " ujar Revan.
" Seharusnya kamu disini, bukan kamu cepet cepat pulang, dan kamu terus sama dia, emang kamu ada hubungan apa sama dia, sehingga kemanapun harus ada dia " kata Revan yang diselimuti rasa cemburu yang berlebihan.
" Mas maaf banget anakku baru sembuh, saya juga mengusahakan meluangkan waktu buat kesini, saking saya menghargai Bapak "
jawab Aisyah dengan tenang.
Aisyah tidak mau kepancing sedikitpun dengan provokasi Revan.
Saudara Alan yang hadir disitu malah mencibir Revan sambil berkata " kok g ngaca ya, Bagus Aisyah masih datang ke Mantan nya, nah ini yang mantu aslinya mana?" gunjing mereka.
Memang keluarga Alan tidak menyukai sifat istrinya Revan yang sekarang. Selain semena mena dia tidak pernah menghargai keluarga Alan yang dari Bapaknya. Berbeda dengan Aisyah sekalipun pernah tidak disukai oleh Bapaknya Alan namun dengan seiringnya waktu keluarga Alan menyayanginya.
Begitulah kehidupan Aisyah dibenci karena status menjadi orang miskin, banyak orang merendahkannya. Namun disaat Aisyah maju pun tidak sedikit yang menggunjingnya.
Itulah manusia kalau sudah diliputi rasa dengki hatinya. Semua apa yang terjadi dengan Asiyah mereka tetap memandangnya dengan kebencian.
Nah pembaca kita teruskan ya cerita Aisyah di bab berikutnya. Selamat membaca semoga menjadi pelajaran kisah ini. Ambil manfaatnya, semoga keberkahan selalu menyertai para pembaca semua, Aamiin.
Selamat membaca, bersambung.
__ADS_1