
Aisyah merasa iba sama Dwi, namun dia bisa apa. Semua yang terjadi adalah takdir kehidupan. Apapun masalah yang terjadi dengan Dwi seharusnya tidak boleh mempengaruhi kehidupan Aisyah.
Aisyah harus jalan terus, dengan semua cita citanya. Usahanya yang mulai maju, banyak orang mencari produknya. Aisyah berusaha mencari tempat untuk bisa dibuat tempat produksi. Sahabatnya Alea membantu mengenalkan kepada teman temannya yang sama berbisnis di bidang makanan.
Aisyah ketemu sama temannya Alea yang bernama Yusuf. Yusuf yang cukup hamble mampu membuat suana menjadi tidak canggung. Aisyah pun ngobrol sama dia menjadi nyaman. Mereka bertiga ngomong banyak hal, terutama maksud dan tujuan Aisyah yang mencari tempat untuk tempat produksinya. Kebetulan Yusuf ada tempat orang tuanya yang mau disewakan. Merekapun datang melihat lokasinya.
Disinilah mereka, melihat tempat yang mau dipake produksi. Aisyah mengukur tempat tersebut, supaya nanti kalau jadi dikontrak tidak terjadi kesalahan dalam meng lay aut tempat produksinya. Aisyah merasa cocok, selain tempatnya cukup strategis, rumahnya cukup luas.
" Mas berapa saya harus bayar perbulannya " tanya Aisyah tanpa basa basi. Itulah Aisyah yang jarang sekali ber basa basi, Dia selalu bicara to the point. Apa yang ada dihatinya selalu Aisyah utarakan tanpa ada yang ditutupinya. Pribadinya sebenarnya sangat baik. Namun dia tidak pernah bisa menahan apa yang ada dihatinya. Aisyah tidak bisa ber pura pura orangnya.
" Kalau perbulan 3 juta, tempatnya cukup luas dan ada 2 lantai, di atas bisa kamu buat kantor, dan tempat packing. Bawah buat produksi" Jawab Yusuf.
" Duh Mas bagi aku segitu berat bisa Mas kurangi " Ujar Aisyah lagi, Dia merasa belum sanggup kalau 3 juta, dia juga menghitung pemasukannya. Takut kedepannya belum terlihat hasilnya seperti apa. Sekalipun Aisyah masih banyak bisnis yang dia geluti. Aisyah tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Dia orangnya penuh perencanaan dan target. Semua langkahnya hasil pemikiran yang sangat panjang.
" Kamu sanggupnya berapa, untuk Tiga bulan pertama kamu bayar semampu kamu. Nanti setelah pasti kamu bayar 3 juta per bulan. Gimana mau g Syah" ujar Mas Yusuf pada Aisyah. Ada satu harapan buat Yusuf. Soalnya pas pertama ketemu Yusuf sudah ada ketertarikan sama Aisyah.
" Oke saya bayar 2 juta per bulan ya Mas, Biar enak kita bikin surat perjanjian supaya tidak terkena masalah nantinya" Ucap Aisyah. Dia khawatir kedepannya ada masalah. Aisyah orang yang sangat hati hati. Siapapun yang bekerja sama bersama dia. Aisyah selalu bicara di awal tentang baik buruknya, untung ruginya. Sehingga pas disaat Terjadi kesepakan sudah tinggal berjalan dengan enak. Aisyah orangnya sangat jujur. Banyak orang yang suka berbisnis dengan Aisyah.
Singkat cerita semua sudah sepakat dan Aisyah pulang diantar Yusuf sampai didepan gangnya yang masuk ke rumah Aisyah. Dengan kebetulan Dwi dan keluarganya turun juga dari mobil pulang dari tempat Omnya. Dwi terdiam sejenak, dia ada rasa cemburu melihat Aisyah di antar seorang pria lain. Dia g rela Aisyah berjalan dengan laki laki lain. Sementara dianya sendiri sudah punya istri dua. dan masalahnya belum kelar. Tapi dalam hatinya tidak rela melihat Aisyah sama orang lain, Dia tidak siap ditinggalkan Aisyah. Dia masih berharap Aisyah menunggunya. Egois memang. Tapi itulah Dwi Basuki yang selalu memaksakan kehendak kepada Aisyah.
Keluarga Dwi g peduli, Mereka melanjutkan langkahnya untuk kerumahnya. Sementara Dwi masih menatap Aisyah yang lagi pamit ke Mas Yusuf. " Mas makasih ya , udah mau nganter Aisyah. Mau mampir dulu Mas. Aisyah kenalkan sama Ibu Aisyah" ajak Aisyah kepada Mas Yusuf. Dan semua itu tidak luput dari tatapan seorang Dwi Basuki.
Rahang Dwi mengeras, dadanya sesak menyaksikan itu semua. Dia terus merutuki dirinya yang merasa sangat bodoh melepaskan Aisyah yang semakin bersinar. Jangan sekarang Aisyah sudah menjelma jadi gadis cantik, dulu saja saat Aisyah penuh dengan koreng Dwi selalu menyayanginya. Dwi mencintai Aisyah terlalu besar. Namun nafsunya juga susah dibendung. Antara cinta dan nafsu selalu berperang di hati Dwi dan yang menang hawa nafsunya. Dan apa akhirnya yang dia terima, kesedihan, penyesalan yang terus menerus menggelayutinya.
" Tidak sekarang Aisyah, mungkin lain kali, makasih ya tawarannya. Nanti kita ketemu lagi di lain waktu" jawab Mas Yusuf karena memang dia lagi ada kerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan.
" Iya mas sekali lagi makasih" sahut Aisyah sambil melambaikan tangannya saat Yusuf meninggalkannya.
Aisyahpun pulang kerumahnya dan melanjutkan semua aktifitasnya.
Sementara Dwi berlalu sambil merasakan rasa sesak di dada, Aisyah yang tercinta, Aisyah yang terkasih, Namun Aisyah yang terbuang dalam hidupnya. Sungguh Dwi menangis dalam hati. Menjerit tidak sanggup menyaksikan semua itu.
Sampailah di rumah Dwi keluarga sudah berkumpul. Mereka kembali membahas tentang Mba Fitri istri kedua Ayahnya. Semua bukti tentang perkawinannya sudah didapatkan, penghulu dan saksinya didatangkan supaya tidak terjadi ke salah faham an. Semua terbukti benar, dan anak nya juga terbukti anak dari Bapaknya Dwi.
Karena semua sudah terbukti semua mencoba menerima dengan lapang dada. Namun karena nikah siri akhirnya Istri kedua cuma dikasih apa yang selama ini sudah digeluti dan diurus oleh Mba Fitri serta rumah yang ditempati sama Mba Fitri dan itu juga yang tertulis dalam wasiatnya Bapaknya Dwi.
Semua selesai, Mba Fitri kembali ke rumahnya dengan lega. Tidak dengan Ibu Ninggrum, dia masih merasa sakit hati. Dia sungguh tidak rela dengan apa yang didapat oleh Mba Fitri. Ibunya Dwi berniat dalam hati akan mengambil kembali apa yang dikasih suaminya sama Mba Fitri. Dia sungguh tidak ikhlas.
__ADS_1
Beda dengan Dwi dia kembali mengingat istri pertamanya, dia ingin tau kemana istrinya itu pergi. Dia ingin bertemu dan meminta maaf dengan semua apa yang terjadi sekalipun mau berpisah setidaknya bertemu dulu. Ada rasa yang sangat berdosa telah menyakiti istri yang sangat baik. Dwi yang serakah, Dwi yang tidak mampu menahan hawa nafsu, Dwi yang mudah iba. Semua itu menjadi bumerang buat dirinya.
Sementara ditempat lain Wulan sangat cantik dengan kehamilannya. Dia sudah tidak sedih lagi. Pegawai Kakeknya yang bernama Arman selalu mem bersamain nya, Arman dengan telaten mengajarkan tentang laporan keuangan perkebunan Kakek. Arman selalu ada buat Wulan.
Arman adalah seorang pemuda lulusan IPB.
Dia berumur 29 tahun. Dia bekerja di perkebunan Kakek semenjak lulus dan pulang ke kampungnya. Kakek menawarkan pekerjaan pada Arman untuk mengurus kebunnya. Semenjak itulah Arman mewakili Kakeknya Wulan menangani perkebunan Kakek.
Dan Wulan merasa nyaman dengan Arman selain sabar, Arman sangat baik jarang sekali Arman memperlihatkan emosinya. Arman selalu ada saat Wulan membutuhkannya.
Menit terus berlalu. Waktu pun cepat berlalu tidak terasa kandungan Wulan sudah menginjak 9 bln 2 minggu lagi menurut dokter hpl. Kakek melarang Wulan untuk pergi ke kebun. Namun Wulan tetap pergi dengan alasan Wulan sambil jalan jalan untuk memperlancar kelahirannya nanti.
Disinilah Wulan meringis kesakitan, Wulan berjalan terlalu jauh. Perutnya kram. Arman dengan panik berusaha menolong Wulan. Tapi Arman bingung dia tidak berani menyentuh Wulan. Wulan bukan muhrimnya.
Arman meminta ibu ibu yang lagi bekerja untuk menolong Wulan.
" Mas ayo angkat Mba Wulan nya, jangan dilihatin saja. Kasian Mba Wulan udah kesakitan begitu" seru ibu pekerja itu.
" Bu maaf saya tidak berani, dia bukan muhrim saya, saya haram menyentuhnya" jawab Arman.
" Astagfirullah, Mas ini darurat, ayo cepat angkat ke mobil dan bawa kerumah sakit " seru ibu itu tadi. Sambil gemes melihat sikap Arman yang kaku.
" Bu tolong ikut satu orang, untuk menemani Mba Wulan Nya" seru Arman lagi.
Akhirnya sampai juga di rumah sakit. " Sus tolong temen saya mau melahirkan " teriak Arman. Dan suster yang dipanggil dengan sigap memanggil rekannya dan membawa belangkar bua Mba Wulan. Wulan pun dibawa ke ruang bersalin secepatnya. Wulan meringis menahan sakit diperutnya yang luar biasa sangat sakit.
" Keluarga Ibu Wulan " ujar dokter yang menangani Wulan. tanpa banyak drama Wulan melahirkan dengan lancar. Wulan bener jadi wanita tangguh tidak cengeng. Dia melahirkan tanpa ditemani suami atau orang tuanya.
" Saya dok " jawab Arman.
" Alahamdulillah pak istri Bapak sudah melahirkan dengan lancar. Anaknya laki laki" ujar dokter lagi sambil mengucapkan selamat sama Arman.
" Maaf dok Mba wulan bukan istri saya tapi dia anak majikan saya. jawab Arman sambil malu malu. Mukanya merah.
" oh maaf Pak, saya pikir istri Bapak " sahut dokternya lagi.
" Gimana Ibu dan anaknya dok, apa mereka sehat keduanya" tanya Arman lagi.
__ADS_1
" Alhamdulillah silahkan kalau Bapak mau lihat sebelum Ibu Wulan dipindahkan ke ruang perawatan" jawab dokter tadi.
Arman masuk ke tempat bersalin tadi Wulan. Dia melihat bayi yang tampan, namun tidak mirip sama sekali Wulan. Bayi Wulan mewarisi wajah Bapaknya. Sementara Dwi belum tau kalau Wulan punya anak. dan sengaja disembunyikan.
Singkat cerita Wulan sudah boleh pulang. Dia pulang dijemput Nenek Kakeknya, Wajah Wulan tambah berseri seri matanya selalu menatap anaknya. Ada sedikit perasaan perih melihat wajah sang anak yang mirip sekali Dwi suaminya. Dia merasa sakit namun dia berusaha tegar dan berniat dalam hatinya untuk berpisah dengan Dwi. Ada pengganti suaminya, itu adalah bayinya yang bisa menghibur lara hatinya.
Sementara di lain tempat seorang laki laki hatinya gundah, merasa terus dihantui rasa bersalah sama Wulan, dia tidak ada semangat untuk bekerja. Dia banyak menghabiskan waktunya diam dikamar sambil menyentuh kembali alkohol, Ya dia Dwi yang selalu lagi da lagi tidak mampu menahan rasa gundahnya. Dan kembali membuat kesalahan lagi.
Di satu sisi Uci istri ke dua Dwi merasa sakit hati karena diabaikan, semenjak menikah Dwi hanya datang satu dua kali saja. Dwi kurang perhatiannya sama anaknya Anggi. Uci memendam benci yang amat sangat sama Wulan dan Aisyah. Uci merasa karena mereka berdua lah Dwi mengabaikannya. Padahal awalnya aja sudah salah. Uci yang buat masalah, tapi seolah dia yang tersakiti, terzalimi.
Itulah peribahasa mengatakan apa yang kita tabur itu yang kita tuai. Namun Uci tidak pernah menyadarinya. Dia terus menyalahkan orang lain. Anggi sudah menginjak 3 tahun, Namun kedekatan sama Ayahnya sangat jarang sekali. Dwi selalu sibuk dengan dirinya dan penyesalannya. Dia tidak pernah menyadari banyak hati yang tersakiti.
Sementara Ibunya Dwi tetap berusaha merebut harta yang ada di Mba Fitri dengan berbagai cara. Sekalipun dilarang sama adiknya, dan anak anaknya. Namun keserakahan mendominasi hatinya. Sehingga tidak ada kata bahagia dalam hidupnya. Didalam kamusnya tidak ada kebaikan sama orang lain, yang ada hanya ada iri dan dengki, dia benci orang miskin. Dia anti pati sama mereka orang miskin. Termasuk Aisyah.
Padahal kehidupan Aisyah udah sangat berbeda. Aisyah sudah bisa merenovasi rumah ibunya, Dan bisa membuat warungnya jadi toko grosir yang cukup komplit. Namun pada dasarnya hatinya dengki tetap saja kebencian merajai hatinya pada keluarga Aisyah. Miskin dibenci, maju dicaci. Bagi dia Aisyah hanyalah seonggok sampah yang harus disingkirkan.
Aisyah tidak pernah memikirkan orang lain. Siapa pun yang mau benci sama dia. Aisyah tidak memikirkannya. yang dia pikirkan gimana caranya meneruskan hidup dan terus maju ke depan. Saat dulu serba kekurangan pun Aisyah selalu bersemangat apalagi sekarang dengan kemajuan yang sangat pesat. membuat dia tambah bersemangat.
Usaha Aisyah semakin hari semakin maju. Aisyah sudah mulai memproduksi makanan cemilan yang terbuat dari ikan dan tepung tapioka. Cemilan itu banyak yang suka. Aisyah sudah punya pasar sendiri walaupun banyak saingan tidak menurutkan Aisyah. Aisyah berusaha memperbaiki terus kualitas barangnya yang dia jual.
Kemajuan Aisyah sudah menjadi buah bibir tetangga. Mereka sangat kagum dengan Aisyah yang gigih berusaha dan sampai dititik ini. Namun sangat disayangkan Aisyah belum punya pendamping. Setiap yang datang mencoba melamar Aisyah selalu berakhir dengan penolakan. Tidak sedikit yang datang sama Aisyah sampai sampai Ibunya sedikit risih dengan omongan tetangga.
Pada suatu hari Ibunya Aisyah bertanya pada Aisyah, " Syah siapa yang akan kamu pilih dari sekian banyak yang datang padamu, Ibu sungguh malu sama tetangga. Mereka selalu bertanya siapa calon Aisyah. Ibu harus jawab apa, sementara kamu bilang semua itu teman. Jadi siapa yang menjadi teman dekat kamu Syah" tanya Ibunya panjang lebar. Ibunya Aisyah sangat khawatir. Aisyah tidak sedikitpun memikirkan pendamping, semua dianggap teman.
" Bu, tolong beri waktu Aisyah ya, aku masih muda masih banyak yang ingin aku raih, tolong ibu bersabar. Kalau sudah waktunya Aisyah akan menikah bu" jawab Aisyah supaya menentramkan hati Ibunya.
Aisyah bukan tidak tau, atau tidak peka. Namun Aisyah takut apa yang terjadi dengan kehidupan Dwi. Akan Aisyah alami, melihat Dwi seperti itu ada trauma tersendiri buat Aisyah. Dwi aja yang selalu menyayangi dia, mencintainya mampu berbuat tidak senonoh dengan orang lain tanpa ikatan. Itu yang menjadi ketakutan Aisyah. Makanya Dia tidak pernah berani menerima hubungan serius dengan siapapun untuk saat ini .
Lebih baik sendiri dan menggapai masa depan itu yang Aisyah jalani sekarang, tanpa harus memikirkan pasangan hidup. Aisyah masih muda. Sejak kecil sering mendapat hinaan. Aisyah dewasa ingin membuktikan sama orang yang dulu menghinanya. Dia berusaha keras menggapai semua mimpinya. Dan yah sedikit demi sedikit tercapai.
Saat ini Aisyah sudah menjadi seorang MUA, dia juga punya tempat produksi makanan walau kecil, tapi omzet tiap bulan sudah mencapai 120 juta, belum dia jualan online kosmetik yang semakin laris. Aisyah menjelma menjadi seorang wanita karier. Hari harinya disibukan dengan bekerja.
Aisyah tidak mau lagi jadi yang tercinta, yang tersayang namun terbuang.
Gimana kelanjutannya mari kita nantikan bab berikutnya. Selamat membaca semoga suka wahai para pembaca. Mohon koment nya ya, buat kemajuanku. terimakasih.
B E R S A M B U N G.
__ADS_1
.