
Aisyah merasa tidak nyaman dirumahnya Revan, terlebih keluarga Revan belum ada yang tau kalau Aisyah akhirnya menjadi istrinya Revan. Ingin sekali Aisyah pulang lagi ke rumahnya. Rasa canggung sangat terasa.
Semenjak sampai di rumahnya. Revan pun sama menjadi canggung, serba salah. Mau bicara duluan seolah hilang keberanian untuk memulai.
Akhirnya mereka terdiam tanpa kata, mereka asyik dengan pikiran masing.
" Dek kamu masukan dulu tas kamu ke kamar " akhirnya Revan bicara. Memecah kesunyian.
" Kamarnya yang mana Mas " Tanya Aisyah meragu.
" Sini aku antar " ucap Revan sambil menarik kopernya Aisyah dan tas yang di bawa oleh Aisyah.
" Mas Kita tidur bareng disini " Tanya Aisyah sambil menundukkan kepalanya. Sungguh situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi keduanya.
Mereka bener bener belum saling mengenal. Mereka dipertemukan dan disatukan tanpa rencana. Keduanya belum berpengalaman. Keduanya sama sama orang baik. Tidak pernah namanya bersentuhan dengan lawan jenis. Sekalipun Revan sudah cukup umur. Tapi pengalaman sungguh tidak ada.
" Terserah Ade, kalau misal Ade g nyaman, biar Mas tidur dikamar tamu ya" jawab Revan.
" Mas bolehkah untuk sementara kita tidur terpisah dulu, kita saling mengenal dulu, setelah kita tau masing masing karakter mungkin perasaan akan tumbuh dengan seiringnya waktu" ujar Aisyah.
" Mas setuju de, sungguh Mas juga belum siap " jawab Revan hatinya sedikit plong, sebab kalau dia yang ngomong gitu pasti Aisyah tersinggung, ini yang ngomong Aisyah sendiri. Jadi dia merasa bersyukur. Tanpa harus menyakiti hati Aisyah. Revan sungguh belum siap satu kamar dengan Aisyah. Bukan tidak suka, cuma Revan khawatir dirinya tidak kuat menahan diri sementara Aisyah belum siap itu saja yang dikhawatirkan Revan.
Revan ingin meraih cintanya Aisyah dulu. Revan ingin menyentuh dengan perasaan penuh cinta keduanya. Bukan hanya kewajiban semata, Ingin terjalin dengan indah tanpa ada paksaan keduanya. Sebenarnya tidak sulit untuk mencintai Aisyah. Yang Revan takutkan Aisyahnya yang sulit menerimanya. Sebab semua serba mendadak dan penuh kejutan. Dan hati Aisyah yang dipatahkan 2 kali. Membuat Aisyah kapok untuk menyimpan rasa. Mungkin akan sulit menaklukan hati Aisyah. Revan harus penuh dengan perjuangan.
Dan yang paling menyakitkan Alan adalah cinta masa kecilnya. Yang selalu ditunggu kehadirannya. Walaupun Aisyah suka melihat
dari jauh. Cinta monyet, dan Alan memberi harapan dengan meminangnya. Sungguh Aisyah sangat melambung saat itu. Namun apa yang terjadi ternyata kalau bukan jodoh apa mau dikata Allah tidak berkehendak Aisyah jatuh ke tangan yang salah. Kalau bicara apakah Aisyah mencintai Dwi. Mungkin Dwi adalah cinta pertamanya Aisyah. Namun Aisyah sangat sadar sehingga dia mengalihkan perhatiannya sama Alan.
Bukan Aisyah tidak mau memperjuangkan cintanya. Aisyah lebih menyayangi Ibunya. Aisyah tidak mau Ibunya dihina. Aisyah mengesampingkan perasaannya. Hidup miskin tapi masih punya harga diri. Itulah prinsip hidup Aisyah tidak mau memaksakan kehendaknya. Aisyah tidak akan mengorbankan hidupnya hanya untuk cintanya kepada lawan jenis. Aisyah lebih mencintai Allah dan orang tuanya.
Aisyah ingin hidup tenang tanpa banyak drama percintaan yang menyakitkan. Aisyah sangat sadar siapa dirinya. Maka saat Revan harus jadi suaminya. Aisyah mencoba menerimanya dan mau mengikuti sampai pindah kerumah suaminya.
Malam pun tiba. Pasangan Aisyah dan Revan sedang makan bersama, sambil sekali sekali ngobrol. Untuk saling mengenal lebih dekat.
" De bolehkan kalau di rumah kamu buka saja hijabnya. Mas kan sudah halal untuk melihatnya " ucap Dwi karena penasaran sejak menikah Aisyah tidak pernah menampakan rambutnya. Dulu saat dirumah Aisyah saja tidur hijabnya di pake. Tapi Dwi saat itu belum berani protes. Sekarang dia baru berani protes. Sungguh Revan sangat penasaran dengan penampilan Aisyah tanpa hijab.
" Baik lah Mas nanti Aisyah buka ya, setelah semuanya beres. Tapi Mas bisa menjamin tidak akan ada orang masuk kesini ?" Tanya Aisyah khawatir.
" Yakin de, karena belum banyak yang tau dengan rumah ini termasuk Bapak dan Alan.
" Kenapa Mas Bapak sampai belum tau Mas punya rumah disini?" tanya Aisyah lagi.
" Mas baru beli saat Mas datang kesini. Rencana nya mau dikasih ke Alan untuk hadiah dia menikah dengan ade " jawab Dwi sedikit sendu kalau ingat kepada Adiknya. Bagaimanapun Alan satu satu nya saudara yang dia punya.
" Oh begitu, terus mengenai suratnya Nama Siapa " kepo Aisyah.
__ADS_1
" kemarin mau dipake nama Alan, tapi sejak tau Alan punya rencana tidak baik, dan tau Alan sudah punya anak, terpaksa Mas batalkan. Dan sampai saat ini belum diurus surat suratnya masih di notaris. Rencananya mau dipake nama Ade saja buat hadiah pernikahan dari Mas " ujar Revan lagi.
Aisyah merasa bahagia, Dia merasa dihargai dan disayang sama suami. Ya siapa orangnya yang tidak suka dikasih Rumah. Aisyah bukan orang yang begitu baik banget sehingga menolak rizqy. Aisyah menerima dengan gembira.
Setelah mereka selesai makan Revan mengambil piring dan membereskan semuanya. Aisyah disuruh masuk kamar dan berganti baju serta membuka hijabnya.
Aisyah keluar dengan memakai baju rumahan tanpa hijab. Rambut Aisyah yang panjang sepinggang dah hitam legam dan cukup lebat rambut Aisyah kontras dengan wajah Aisyah yang putih. Revan terpana dengan kecantikan Aisyah, sungguh Revan tidak menyangka Aisyah akan secantik itu. Dia bersyukur mempunyai istri cantik dan masih muda.
Revan melihat Aisyah tanpa berkedip sedikitpun. Sampai Aisyah sudah berada dihadapannya. " Mas, hey kenapa sampai melongo begitu, baru ya lihat cewek cantik" kelakar Aisyah
" Iya, eh bukan gitu..Mas eu eu cu..cuma kaget aja, rambut kamu sungguh bagus, pantes kamu tutup terus. Jawab Revan sambil menahan malu.
" Udah mas jangan bengong kaya gitu ah, entar kesambet " Sahut Aisyah sambil tersenyum. Aisyah seneng juga melihat Revan yang terpesona padanya.
Revan dengan rasa malu akhirnya membalikan badannya menyelesai kan tugas nya tadi. Di bantu sama Aisyah. Setelah itu mereka duduk nonton tv di ruang tamu. Entah bagaimana awalnya mereka seakan sudah tidak kaku lagi. Dan masing masing sudah nyaman saja. Mereka dengan mudah saling bercerita masa lalu mereka. Kadang Aisyah sedih menceritakan asmaranya yang menyakitkan Revan dengan sabar memeluknya. Tanpa mereka sadari mereka sudah semakin dekat.
" Mas tidur yu, saya ngantuk nih " ucap Aisyah sambil menguap.
" Udah sok tidur dulu disini biar nanti kalau ini sudah selesai mas gendong ke kamar" Jawab Revan seolah tidak rela Aisyah tidur dikamar yang terpisah. Ada perasaan yang menyelusup ke dada Revan, hangat rasanya. Hidupnya merasa lebih berwarna setelah adanya Aisyah.
Tidak terasa sebulan sudah Revan dan Aisyah pindah ke rumah itu. Mereka sudah satu kamar. Aisyah yang memintanya. Aisyah takut berdosa juga. Dia faham hak dan kewajiban seorang istri.
Pada suatu malam, Revan belum juga pulang, sementara Aisyah sudah pulang dari jam 4 sore. Aisyah memasak untuk makan malam mereka. Aisyah sudah mempercantik diri. Aisyah sudah berjanji pada dirinya seandainya Revan meminta hak nya malam ini. Aisyah akan memberikannya. Aisyah sudah mulai merasa nyaman dengan Revan yang sangat mengerti Aisyah. Revan yang tidak pernah memaksa. Mata Aisyah terus saja tertuju pada pintu. Dia berharap suaminya cepet datang. Namun yang ditunggu sampai jam menunjukan jam 10 malam belum juga datang. Aisyah sungguh sangat gelisah. Aisyah akhirnya tertidur di sofa.
Jam 12 malam Revan baru pulang. Revan melihat pemandangan yang menyejukkan mata. Istrinya yang cantik sedang tertidur di sofa. Revan bisa menduga Aisyah pasti menunggunya. Diangkat nya Aisyah dibawa ke kamar mereka. Lalu Revan membersihkan dulu dirinya. Revan keluar dulu ke meja makan, sementara Aisyah tidur dengan nyenyak.
" Mas baru pulang, sekarang jam berapa " tanya Aisyah sambil mengucek matanya
" jam 1 dek, udah tidur lagi kasian kamu pasti lelah nunggu Mas pulang, Maaf ya Mas pulang telat tadi ada sedikit masalah di konveksi, dan baterai hp Mas habis lagi, jadi g bisa ngasih kabar ade" ujar Revan panjang lebar.
" Iya mas g papa, cuma saya khawatir saja. Takut ada apa dijalan Mas. Tapi syukurlah sekarang sudah pulang" Sahut Aisyah sambil tersenyum. Sungguh sangat menyejukkan hati.
" Lanjut tidur sayang" Ujar Dwi sambil menarik tubuh Aisyah ke pelukannya.
Aisyah menatap Wajah suaminya. " Mas, mas lelah ya, mau Aisyah pijit g?" Aisyah menawarkan diri untuk memijit suaminya. Aisyah merasa tidak tega melihat wajah kelelahan suaminya.
" G usah sayang , udah kamu tidur aja ya " jawab Revan sambil memeluk Aisyah dan dia memejamkan matanya.
Aisyah pun sama memejamkan matanya, dan akhirnya terdengar dengkuran halus dari mulut Aisyah. Revan membuka kembali matanya. Dia pandangi wajah istri nya itu. Revan selalu melakukan itu sebelum dia tidur. Dia bahagia sekali dikasih istri yang sangat baik. Tidak banyak menuntut dan tidak curiga.
Adzan subuh berkumandang, Aisyah merasa kesiangan biasanya dia bangun jam 3 subuh untuk melaksanakan kebiasaannya tahajud. Hari ini dia kesiangan. Hatinya sungguh menyesal melewatkan kebiasaannya. Dia melihat suaminya sudah tidak ada. Cepet cepet Aisyah bangun dan membersihkan diri lalu melaksanakan sholat subuh. Baru saja dia selesai membaca ayat suci Al' qur'an, suaminya datang. Aisyah langsung menyambutnya dan mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Revan membalas dengan mencium kening istrinya.
" De kita sarapannya diluar yu, sambil olah raga, mumpung kita libur" ajak Revan kepada istrinya.
" Ayo, kebetulan kita udah lama g berjalan jalan pagi " sahut Aisyah.
__ADS_1
" Sebentar aku beres beres rumah sebentar ya" sahut Aisyah lagi.
" Udah ade saja biar Mas yang beres beres ya"
sahut Revan sambil mencuri ciuman kecil bibir istrinya.
" Mas ih, kebiasaan kalau sudah begitu teh " ujar Aisyah sambil memet
rah pipinya.
Kita tinggalkan dulu pasangan yang lagi kasmaran. Kita menuju ke pasangan yang satu lagi yang penuh intrik dan air mata. Siapa lagi kalau bukan pasangan Dwi dan Uci.
Uci menangis sejadi jadinya, Dwi mengamuk saat tau Aisyah pindah, Dwi sungguh kehilangan Aisyah. Dwi tidak mampu menghilangkan cintanya, dia tidak bisa mengikhlaskan Aisyah. Semua yang ada di kamarnya dihancurkan nya. Uci merasa tidak berguna. Sungguh suaminya tidak pernah bisa menghargainya, anaknya pun terabaikan. Uci tidak minta banyak sedikit saja Dwi menghargai keberadaan Uci. Mungkin Uci g akan terlalu sedih. Cintanya Uci kepada Dwi menghancurkan nya. Begitupun sama cintanya Dwi kepada Aisyah menghancurkan Dwi sendiri. Mereka berdua sama sama saling menyakiti karena rasa cinta yang dipaksakan. Tidak ada ketulusan. Inilah yang terjadi kehancuran keduanya.
Siapa yang harus disalahkan... tidak ada, seharusnya keduanya sadar kalau cinta tidak bisa dipaksakan.
Dwi meraung sendiri. Begitupun Uci dia menangis dikamar sebelahnya. Sementara anaknya Uci titipkan ke orang tuanya. Uci khawatir dengan kelakuan Dwi akan merusak mental anaknya.
Karena Uci merasa sudah tidak tahan, akhirnya uci datang ke rumah Pamannya Dwi. Untuk meminta pertolongan, Uci ingin menyelamatkan rumah tangganya. Namun apa yang didapat malah uci mendapatkan pelecehan dari sepupunya Dwi yaitu anak pamannya Dwi, Yang bernama Wowo.
Wowo sudah lama jatuh hati sama Uci, namun Uci malah mencintai Dwi. Uci dibohongi, Wowo dengan akal bulusnya mengajak Uci ke tempat Ayahnya bertugas. Tapi sebelum sampai ke tempat yang dituju. Uci diajak dulu ke suatu tempat, gedung kosong yang sudah rusak. Uci dibujuk dan dijanjikan sama Wowo bakal bantu Uci untuk membujuk Dwi.
Disinilah mereka melakukan kemaksiatan, Dasar Uci yang sudah lama tidak menerima sentuhan suami yang sebenernya. Uci terlena juga dengan perlakuan Wowo yang sangat memujanya. Uci dibuat melayang, tidak lupa Wowo memakai pengaman. Wowo juga tidak mau sampai Uci hamil berabe urusannya. Uci sangat menikmati sentuhan sentuhan dari Wowo. Begitupun Wowo sungguh sangat menikmati tubuh Uci yang sangat seksi.
" Ayo mas terus sungguh enak sekali "
" Uh ah Mas dicepetin aku sudah mau sampai " itu racau Uci. Baru kali ini dia merasa di cintai. Dibuat terbuai oleh lawan jenis.
akhirnya mereka sampai ke puncak. Tidak ada penyesalan pun sedikitpun. Mungkin karena hati Uci yang sudah kebas akhirnya dia menyerah kalah, dan jatuh ke pelukan pria lain.
Hari terus berganti. Dwi yang tidak tau kelakuan Uci merasa ada sedikit aneh dengan tingkah istrinya. Yang selalu pergi tanpa pamit padanya. Uci mengabaikan nya. Dwi baru merasa kehilangan saat Uci sudah tidak peduli lagi padanya. Uci tidak lagi mengganggap penting kehadiran Dwi dirumahnya. Uci berpaling hati karena sudah sangat lelah mengharapkan cintanya Dwi.
Dwi menunggu Uci pulang, Dia baru sadar kalau dia butuh anak dan istrinya. Ada perasaan berdosa telah mengabaikan mereka. saat ini dia yang terabaikan. Anaknya selalu Uci titipkan ke orang tuanya. Uci enjoy dengan dunianya. Uci semakin terperosok ke lembah yang paling dalam.
Disini Uci di suatu tempat penginapan bersama Wowo, mereka berdua sambil mengkonsumsi barang haram mereka melakukan hal yang tidak senonoh. Mereka tidak ingat akan dosa. Mereka menikmati hidupnya yang penuh dengan kemaksiatan. Uci sudah tidak peduli dengan anaknya.
Dwi menunggu, menanti hal yang g pasti, istrinya yang diharapkan pulang malah lagi asyik dengan sepupunya. hancur semuanya.
Nantikan kisah selanjutnya
Bagaimanakah nasib rumah tangga Dwi bisakah diperbaiki atau sebaliknya.
Kita nantikan kelanjutannya di bab berikutnya
selamat membaca.......Bersambung
__ADS_1
.
gai