
Keluarga Aisyah saat ini lagi berkumpul di Bandung, semua bahagia sebab semua kendala bisa disingkirkan.
Rangga sudah tidak canggung berada ditengah tengah keluarga Aisyah, dia sudah terbiasa dengan segala kesederhanaan di keluarga Aisyah.
Sekalipun disana ada Art, mereka tetap melakukan pekerjaan rumah bergotong royong, contohnya seperti saat ini, Nuri da Aisyah lagi memasak, Astri lagi beres beres rumah bersama Rangga, Aulia yang mencuci.
Art menjaga Niko, tidak ada yang berpangku tangan semua bergerak, sementara Hasan membabat rumput dihalaman yang sudah cukup tinggi, Ratiman pergi ke Pabrik.
Niko bermain dengan Fauzan diawasi oleh Art. Niko terlihat sangat bahagia.
Di tempat lain Keluarga Reza baru saja berkumpul membahas tentang perusahaan dilanjutkan membahas tentang kemungkinan kemungkinan yang terburuk adalah pembalasan Silvy dan keluarganya.
Sekalipun Reza punya kartu As, tetap kekhawatiran ada. Reza dan Papahnya kembali ke Pabrik. Kakek Arya merasa ada yang kosong setelah Niko dibawa ke Bandung. Terbiasa dengan keberadaannya.
Baru satu hari saja ditinggalkan sudah sangat berat. Apalagi kalau selamanya. Kakek Arya ingin terus bersama cucunya, namun dia tidak bisa melepaskan tanggungjawab begitu saja. Terlalu beresiko seandainya dia serahkan kepada orang lain.
Rangga berencana menempati kantor cabang yang di Bandung, dan semua kendali pengecekan diserahkan kepada Reza, jadi sekarang yang keliling ngecek adalah Reza.
Rangga ditugaskan Ayahnya berkonsentrasi di cabang yang ad di Bandung saja. Sehingga dia tidak usah meninggalkan keluarganya menebus waktu yang dulu hilang buat Niko.
Di sebuah tempat ada seorang wanita yang amarahnya susah dikendalikan, dia marah kepada siapa saja, dia menginginkan seseorang tapi tidak bisa dia dapatkan, dan kehamilannya sungguh mengganggu dirinya.
Ya dia Silvy, dia banyak rencana namun semua gagal, dia bahkan menyuruh seseorang untuk mencelakakan Rangga ternyata Rangga sudah pergi jauh dari Kota Surabaya.
Silvy sangat frustasi, dia ingat akan wajah pelayan itu, dia berusaha mencari alamat pemuda yang telah menghabiskan malam bersamanya , dia tidak bisa menunggu sekarang sudah satu bulan dari waktu itu.
Di satu tempat yang berbeda seorang pemuda terus saja merenung, dia merasa berdosa telah melakukan hal yang dilarang.
Dia terus saja menyesalinya, dia bersujud sambil menangis, dia ingat akan keluarganya.
Pesan Ibunya saat dia mau merantau ke kota Surabaya " Firman sesibuk apapun kamu jangan lupakan ibadahmu" itu selalu terngiang ngiang di telinganya.
Sekarang dia merasa sudah berbuat dosa besar, dia bertaubat dan memohon ampunan pada Yang Maha Kuasa, dia bersimpuh dan berdoa supaya dia beri jalan keluar sebab dia takut hasil perbuatannya kedepannya.
__ADS_1
Di depan pintu kamar kosan Firman berdiri seorang wanita dia berulang kali mengetuk pintu dan mengucapkan salam " Assalamualaikum" ucap wanita itu.
" walaikumsalam" balas Firman.
Firman menyudahi berdoanya dan dia beranjak untuk membukakan pintu, akan tetapi Firman sungguh kaget melihat siapa yang datang padanya.
" Ada apa mba datang kesini?" tanya Firman.
" Aku mau bicara padamu" jawab Silvy sambil menerobos masuk ke kamar kosan Firman.
" Mba tolong ngobrolnya di luar saja, tidak enak sama tetangga" ucap Firman sopan.
" Kenapa harus di luar, saya akan membahas tentang hubungan kita" ucap wanita itu lagi.
" Iya mba tapi hubungan apa ya?" ucap Firman tidak mengerti saat ini Firman tidak Fokus sebab dirinya dalam keadaan yang tidak stabil.
" Masa kamu lupa, setelah menikmati tubuh saya, lantas kamu mau pergi begitu saja" ucap wanita tersebut.
" Maaf mba bukankah mba yang mengusir saya ya?" ucap Firman lagi .
Firman adalah seorang mahasisiwa berprestasi, namun dia harus kuliah sambil kerja untuk menyambung hidupnya di kota itu.
Firman selalu berusaha kerja apa saja. Dan saat itu Firman diajak temannya untuk jadi pelayan di hotel dimana acara pernikahan Rangga di gelar. Namun nahas bagi Firman harus berakhir di ranjang bersama wanita yang umurnya jauh dengannya.
" Eh kamu, jangan mau berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab ya" ucap Silvy berharap dia bisa menjerat Firman.
" Mba bagaimana saya mau bertangungjawab yang dirugikan disini saya, karena perbuatan Mba saya kena imbasnya, seharusnya Mba sebelum kesini mba berpikir dulu, bahkan saya bisa menuntut Mba dengan perbuatan yang tidak menyenangkan terhadap saya, saya hanya tinggal meminta semua bukti yang Pak Reza simpan" ucap Firman.
Mungkin Silvy memandang Firman adalah hanya seorang pelayan yang bodoh. Ternyata dia salah, Firman pemuda yang cerdas, dia bisa kuliah dengan jalur prestasi, bukan kaleng kaleng.
" Kamu pokoknya harus bertanggung jawab saat ini saya sedang hamil" ucap Silvy lagi, doa tidak bisa lagi menutupi maksud dia yang sebenarnya.
" Berapa bulan Mba sudah hamil?" tanya Firman.
__ADS_1
" Aku sudah hamil 2 bulan" jawaban bodoh Silvy membuat rugi dirinya.
" Mba ingat gak, waktu kita melakukannya itu tanggal berapa bulan berapa, saya yakin Mba bukan wanita yang bodoh atau menolak lupa" jawaban Firman yang menohok.
" Mba pikir saya mau saja Mba bodohi, Mba saya tau saya ini mahasiswa kedokteran, dan saya tahu persis kalau wanita berhubungan dan masih virgin dia dihitung dari mulai berhubungan, tetapi jika kaya Mba yang sudah longgar sebab Mba terlalu sering melakukannya itu dihitung dari terakhir haid" ucap Firman lagi.
" Kamu jangan sembarangan bicara, saya benar benar hamil anak kamu" Silvy berteriak.
Dia sengaja melakukan itu supaya para tetangga dengar.
Banar saja ada beberapa tetangga yang menghampiri Firman, " Ada apa Firman?" tanya tetangga itu.
" Ini pak ada seorang yang mau mencoba menipu saya" jawab Firman.
" Mana Firman orangnya biar kita seret ke rumah Pak RT" ucap tetangga Firman.
Para tetangga tau Firman itu pemuda yang sangat baik, seorang mahasiswa kedokteran, dan pekerja keras, dua selalu berada di mesjid bila ada waktu luang.
Tidak akan mungkin orang sebaik Firman tiba tiba menghamili orang.
Para tetangga akhirnya membawa Silvy ke rumah Pak Rt dan disitu dia diadili, Firman berbicara jujur semua kejadian dia katakan semuanya, tidak ada kebohongan sekalipun dia malu, namun dia punya prinsip kalau kebenaran harus ditegakkan.
Sudah pasti disini para tetangga dan Pak Rt percaya pada ucapan Firman, sebagaimana Firman kesehariannya sangat baik dan tidak pernah berbohong sedikitpun.
Silvy dibuat malu, dan jika terus membuat onar di tempat itu, Silvy diancam akan diarak oleh masyarakat disitu.
Akhirnya diapun pergi dari situ sebab dia juga tidak mungkin mempertahankan argumennya sementara memang dia yang salah.
Silvy diusir oleh warga setempat, dan silvy termasuk orang yang mukanya di tandai oleh warga setempat takut suatu hari membuat onar lagi pada salah satu warganya.
Silvy pulang dengan tangan kosong, dia merasa sangat frustasi tidak ada lagi orang yang bisa di kambing hitamkan.
Akhirnya dia menelpon Pamannya yang selama ini berperan besar atas kehancurannya saat ini.
__ADS_1
Seandainya dulu Pamannya tidak memaksa dia untuk berhubungan dia tidak mungkin seliar itu.