
Sesuatu yang sudah dimulai sama Ibra harus juga dia selesaikan, terlampau dini jika dia harus berhenti dan menyerah.
Dari hari ke hari Ibra lalui dengan tidak semangat namun dia harus tetap hidup dan berjalan.
Disuatu pagi dia teringat akan obrolannya dengan sahabatnya Sani, dia baru mengingat Sani memberikan secarik kertas, dia cari kertas itu.
Setelah ketemu dia pergi mencari Alamat itu.
Dia masuk dan bertanya pada satpam yang ada disitu.
" Pagi Pak, apa disini masih menerima karyawan?" tanya Ibra.
" Oh, masih Mas silahkan masuk" ucap Satpam itu.
Lalu Ibra pun masuk dan langsung mendatangani seseorang yang sedang duduk disana dan bertanya lagi.
" Pagi Mba apa betul disini ada penerimaan karyawan baru?" tanya Ibra .
" Pagi, betul Mas kebetulan kami lagi membutuhkan seorang supir dan beberapa karyawan bagian packing" jawab si Mba resepsionis itu.
" Saya mau melamar Mba" ucap Ibra.
" Baik boleh saya lihat dulu, nanti saya antar kebagian personalia" ucap si Mbaknya.
" Ini Mba surat lamaran saya" sahut Ibra lagi.
Lamaran Ibra pun dilihat dan Mbak nya yang bernama Arin pun bertanya.
" Mas bisa mengemudi mobil?" tanya Airin lagi.
" Bisa Mba " jawab Ibra lagi.
" Ayo saya Antar ke bagian personalia" sahut Arin lagi.
Ibra pun mengikuti Arin yang berjalan terlebih dahulu ke ruang personalia.
Tok tok tok Arin mengetuk pintu sebelum masuk.
" Masuk ucap orang yang ada didalam"
" Maaf Bu, ada yang mau melamar jadi supir Bu" ucap Arin setelah berhadapan dengan Bu Dina seorang personalia disitu.
" Coba saya lihat dulu CV nya, dan silahkan duduk dulu ya" ucap Ibu Dina.
" Baik Bu" ucap Ibra, dan Arin pun melangkah keluar meninggalkan Ibra bersama personalia.
Ibu Din menatap sebentar pada Ibra lalu bertanya.
" Sebelumnya Anda kerja dimana?"
" Saya punya bengkel kecil " jawab Ibra.
" Lalu kenapa kamu ingin melamar pekerjaan?"
" Bengkel di pegang teman saya, dan saya ingin mencari modal lagi buat memperbesar bengkel tersebut"
" Jadi kamu bekerja disini hanya sementara"
" Tidak Bu, saya akan tetap bekerja, sementara biar bengkel teman saya yang pegang"
__ADS_1
" Baiklah sudah berapa lama kamu bisa mengemudi"
" Sekitar 10 tahun saya bisa mengemudi"
" Apakah kamu punya mobil"
" Tidak, tapi saya punya sim B"
" Baiklah, kamu isi dulu ini ya"
Akhirnya proses wawancara selesai dilanjutkan Ibra mengisi tes berikutnya .
Ibra mampu menyelesaikan tes nya dengan cepat, namun saat dia mau menyerahkan hasil tes dia ketemu seorang wanita yang dia sangat kenal dan dia kagumi.
" Assalamualaikum" ucap Wanita tadi kepada Bu Dina.
" Walaikumsalam, eh Bu Astri silahkan Bu " jawab Bu Dina.
Ibra melihat interaksi Atri dan Bu Dina sedikit heran, sebab yang Ibra tau Astri adalah seorang mahasiswi yang biasa aja dulu.
Ya Ibra mengenal Astri sejak kuliah dulu, Ibra suka pada Astri tapi hanya di pendam, usia mereka hanya beda satu tahun saja lebih tau Ibra.
" Gimana Bu sudah ada kandidat untuk karyawan yang di butuhkan" tanya Astri.
" Sudah Bu, mereka lagi menjalani tes dulu"
" Baiklah, jika mereka sudah selesai dan coba Ibu lihat dulu hasil tes mereka, setelah tersaring baru kasih ke saya ya Bu" ucap Astri.
" Baik bu Astri, silahkan" jawab Ibu Dina
Astri disitu jadi atasannya Bu Dina, Astri jadi seorang konsultan HRD, dimana kantornya itu khusus merekrut karyawan. yang dibutuhkan oleh pabrik pabrik yang ada dibawah naungan kantor Cipta Karya.
Astri selain jadi dosen dan seorang psikolog, dia juga sebagai konsultan HRD. Dia datang ke kantor tersebut seminggu 2 kali.
Ibra mengenang masa lalunya, dia kuliah sambil bekerja, Astri seorang mahasiswi yang cerdas, setiap kali Ibra ketinggalan mata kuliah dia akan meminta bantuan sama Astri.
Ibra pun sempat bekerja sama bersama Astri bekerja di klinik seorang Dosen mereka.
Namun tidak lama sebab Astri kembali kuliah melanjutkan S2 nya, sementara Ibra keluar untuk mendirikan bengkelnya sendiri.
Ibra bermaksud sama seperti Astri ingin melanjutkan S 2 nya namun Ibra yang pintar pintar amat jadi dua terpaksa bekerja untuk membiayai Ibunya.
Ibra tersentak kaget dari lamunan saat Bu Dina bicara padanya.
" Apa kamu sudah selesai?"
" Sudah Bu"
" Kenapa kamu bengong seperti itu?"
" Bu kalau tidak salah yang tadi itu seperti wanita yang saya kenal dulu saat saya kuliah"
" Oh, itu Bu Astri dia Konsultan disini, sebentar lagi kamu bakal ketemu langsung sama Bu Astri" ucap Bu Dina tersenyum penuh arti.
" Baik bu" jawab Ibra singkat.
" Bu Dina memeriksa sebentar hasil tesnya Ibra dan tidak berapa lama Ibra kembali dipanggil oleh Bu Dina.
" Mas, ini hasil tesnya sekalian bawa ke sana, anda masuk terus ke ruangan yang ada tulisan nama Bu Astri ya" ucap Bu Dina.
__ADS_1
" Baik bu" jawab Ibra dan pergi melangkah meninggalkan Bu Dina menuju ruangan yang
dimaksud oleh Bu Dina.
Setelah sampai di ruangan tersebut Ibra mengetuk pintu.
Tok tok tok.
" Masuk" ucap orang yang didalam.
Ibra pun masuk, dan menyerahkan hasil tesnya.
Astri menerima sambil mata masih fokus pada laptopnya.
Pas Astri melihat Ibra dia sungguh kaget sebab dia sangat mengenal Ibra dan cukup dekat, Astri sering membantu seorang Ibra dalam menyelesaikan kuliahnya.
Mereka dua orang yang merasa ada kesamaan nasib padahal sungguh berbeda sebab Astri seorang anak pengusaha Aisyah.
Namun Astri dikenal sederhana dan tidak pernah memperlihatkan siapa dirinya.
Jadi Ibra tidak tau Astri yang sebenarnya.
Astri hanya bengong saat melihat Ibra sebab dia kaget, Ibra berubah, dulu putih bersih dan ganteng, sekarang lebih dekil dan mukanya kusut tidak bercahaya.
" Astagfirullah, kamu Bra, kenapa kamu ada disini?" tanya Astri kaget.
" Astri kan, kamu bener bener hebat" ucap Ibra.
" Siapa lagi coba, ini aku mentor mu" sahut Astri
Ibra tertawa dia sejenak melupakan masalah hidupnya.
" Bra coba kamu tutup dulu pintunya, gak enak kita ngobrol seperti ini" ucap Astri khawatir.
Ibra berdiri dan menutup pintu.
" Coba cerita sampai sampai kamu terdampar kesini" canda Astri.
Ya begitulah mereka kalau sudah ketemu penuh canda dan tawa. Astri yang tadi terlihat sangat berwibawa kini ketemu sahabatnya malah tidak terlihat lagi Ibu Astri yang tadi saat dia pertama datang.
Akhirnya Ibra pun bercerita tentang hidupnya.
Astri sungguh kaget, dia sangat tau siapa Silvy yang dulu hampir saja menghancurkan pernikahannya.
Astri merenung sejenak dia merasa prihatin dengan nasib Ibra, namun profesional diperlukan disini.
Dan Astri tetap menjalankan sesuai prosedur perusahaan. Jika dia diterima ya karena dia latak bukan karena dia kenal dengan seorang Astri.
Setelah mendengar maslah Ibra yang membelenggu seorang Ibra, Astri melanjutkan tugasnya, dia melihat hasil tes nya seorang Ibra.
" Bra kamu kenapa melamarnya jadi supir, tidak yang lain saja?" tanya Astri.
" Tadi saat saya bertanya sama yang didepan katanya hanya butuh supir dan beberapa karyawan untuk packing saja" jawab Ibra.
" Memang itu buat satu pabrik, dan ada lowongan lagi buat beberapa pabrik memang baru Bu Dian saja yang saya kasih tau" ucap Astri panjang lebar menjelaskan pada Ibra.
" Apa aku layak, jadi sesuatu yang pabrik itu butuhkan?" tanya Ibra rada minder.
" Coba aja, kamu akan saya rekomendasikan jadi seorang supervisor disebuah pabrik yang baru berdiri beberapa bulan" ucap Astri lagi.
__ADS_1
Dan pada akhirnya Ibra harus menunggu beberapa hari keputusan Astri mau bicara duku sama yang punya pabrik.
Ibra pun pamit pulang dia pulang dengan membawa satu harapan yang pasti kedepannya dia tidak akan diremehkan lagi seandainya dia bisa bekerja dengan satu jabatan yang lumayan.