Perjalanan Seorang Gadis Miskin

Perjalanan Seorang Gadis Miskin
Harapan seorang Dwi


__ADS_3

Aisyah tidak mampu menjawab pertanyaan Dwi. Aisyah mencari cara untuk kabur dari Dwi, untung disaat yang tepat Kakaknya Dwi datang memanggil. Saat itulah kesempatan untuk Aisyah pergi.


Aisyahpun dengan cepat langsung meninggalkan tempat pernikahan.


Dia sudah g sabar sampai dirumahnya.


Aisyah membersihkan diri dan melakukan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Dwi setelah tadi masuk ke dalam sebentar, dia keluar lagi dia pikir Aisyah akan menunggunya. Ternyata Aisyah sudah tidak ada ditempatnya.


Dengan perasaan yang sangat kecewa dia masuk kembali dan ngajak keluarganya pilang. Dwi ingin cepat sampai rumah dan Dwi mau mencari tau dimana Aisyah berada.


Kebetulan dua hari setelah acara itu, kakaknya Aisyah telepon, mengabarkan kalau Ibunya kembali masuk rumah sakit. Aisyah langsung datang ke rumah sakit itu.


Ibunya Aisyah tampak lemas dan pucat, Ibu Aisyah terlalu memikirkan tentang nasib Aisyah yang selalu mendapat masalah dalam hidupnya.


" Bu, kenapa sampai drop lagi, jangan terlalu banyak pikiran ya"


" Gimana g mikirin, kamu sendiri terus menerus dapat masalah "


" Namanya ujian hidup bu, jangan terlalu dipikirkan. Toh semua manusia pasti dikasih ujian, cuman ujiannya beda beda "


Kakak sepupu Aisyah ijin pulang, sebab anak anak Aisyah dititip di Ratiman, takut ke malam an . " Syah teteh pulang dulu ya, kasihan Astri dan Hasan "


" Iya teh biar saya yang nunggu Ibu, nitip ya anak anak, kalau Hasan besok sekolah, minta dianter Ratiman saja"


" Iya Syah , sekarang teteh pulang ya, Assalamualaikum "


" Walaikumsalam " ujar Aisyah sambil masuk ke kamar sang Ibu.


Ibunya Aisyah memang selalu kepikiran , sehingga Aisyah kadang kewalahan. Kalau Ibunya sering sekali masuk rumah sakit.


Aisyah berusaha untuk tidak membicarakan semua masalahnya pada Ibunya. Namun sang Ibu sangat peka sehingga apa yang menimpa anaknya sudah pasti kerasa, dan selalu dipikirkan.


Sementara dirumah Dwi anaknya Dwi kejang kejang terpaksa dibawa malam itu juga kerumah sakit.


Setelah sampai dirumah sakit, langsung dimasukan ke I G D. Setelah diperiksa ternyata ada infeksi di tenggorokannya.


selesai diperiksa Anaknya Dwi dibawa keruang perawatan. Uci menangis terus karena sangat khawatir. Sementara Dwi mengurus Administrasi dulu.


Bertepatan Dwi diruang administrasi, Aisyahpun sama baru beres membayar biaya rumah sakit ibunya. Tampa diduga oleh keduanya. Kembali mereka dipertemukan.


Dwi kaget begitupun Aisyah tidak bisa dipungkiri oleh keduanya perasaan itu masih bertahta dalam hati mereka. Sekuat apa melupakan semakin besar cinta mereka.


Namun cinta mereka menjadi cinta terlarang karena Dwi mempunyai seorang istri dan 3 orang anak.


" Syah siapa yang sakit " Tanya Dwi pada Aisyah ada sedikit kekhawatiran kalau anak Aisyah yang sakit.

__ADS_1


" Ibu Kak, biasa penyakit Ibu kambuh, terlalu banyak yang dipikirin jadi Ibu sering drop " jawab Aisyah, lalu Aisyah pun bertanya pada Dwi.


" Kak, kakak ngapain disini, jangan katakan Kakak menguntit saya" Aisyah kepedean.


" Ah kamu tau aja " canda Dwi. Ada rasa senang dalam hati Dwi.


" Yang bener kak, emang kakak tau dari siapa kalau saya disini " ujar Aisyah lagi.


" bercanda Syah, anakku yang pertama tadi kejang kejang, jadi ya terpaksa langsung dibawa kesini, eh taunya ada kamu disini. Mungkin jodoh ya Syah kita" ujar Dwi sambil menampilkan senyum yang terbaik dan termanis.


Ada sedikit rasa bahagia di hati Aisyah, namun dengan cepat Aisyah menghapusnya.


Aisyah tidak boleh berharap apapun. " lupakan lupakan "kata Aisyah dalam hati.


" Syah, aku kesana dulu ya, nanti aku jenguk ibu kamu "


" ok, siap, Saya juga udah selesai juga "


Merekapun berpisah, mereka menuju ruang masing masing.


Setelah dikasih obat dan diinfus Anaknya Dwi bisa sadar dan mulai membaik. Uci sudah tidak menangis lagi, cuma dalam hatinya dia ingat si kecil.


Uci dilema di satu sisi Anggi sedang sakit butuh ibunya, disisi yang lain Ibu mertuanya butuh dia juga bayinya. Anggi g mau ditinggal Ibunya. Terpaksa Dwi telpon , Kakaknya untuk nitip Ibunya juga anaknya.


Berbeda yang terjadi dikamar Ibunya Aisyah.


"Ibu, bangun bu jangan tinggalin Aisyah "


itu rintihan Aisyah.


Aisyah cepet manggil dokter, Dokter berdatangan ada beberapa orang, kebetulan Ibunya Aisyah ditangani oleh 3 dokter.


Setelah diperiksa akhirnya tidak lama dokter keluar, " keluarga bu Nurma" seru dokter.


" Saya bu " jawab Aisyah dengan wajah sangat panik.


" Maafkan kami, kami sudah berusaha, namun Allah lebih sayang pada Ibu " ucap dokter tersebut.


Aisyah meluruh ke lantai, dunia seakan menjadi sangat gelap.


Disaat yang tepat Dwi datang menangkap badan Aisyah yang mau ambruk.


" Ada apa Syah " tanya Dwi sambil dia menduga jangan jangan Ibunya Aisyah.


" Ibu Kak, Ibu g mau bangun lagi " racau Aisyah setelah mengatakan itu Aisyah bener bener pingsan.


Dwi mengangkat tubuh Aisyah dan ditidurkan disebuah tempat tidur pasien yang kosong.

__ADS_1


Dwi dengan sigap menelpon tetangga Aisyah untuk menyampai berita duka kepada keluarga Aisyah.


Dwi juga yang mengurus semua sampai kepulangan jenazah Ibunya Aisyah.


Kakak sepupunya Aisyah juga berdatangan, mereka tidak percaya, karena sebelumya udah Vi call sama mereka menanyakan cucunya, Dan menitipkannya.


Berarti kata kata itu adalah kata kata perpisahan. Mereka sungguh Syok, Ibunya Aisyah meninggal saat Asiyah mengurus administrasi.


Aisyah merasa sangat sedih, Ibunya yang selalu bersamanya baik suka ataupun duka, makan g makan tetep mereka bersama. Namun sejak Aisyah menikah dengan Revan Aisyah jadi jarang ke rumah Ibunya.


Mungkin ibunya Aisyah kesepian, sehingga sering sakit.


Jenazah sudah beres, mau dibawa pulang sama keluarganya, cuma mereka harus nunggu Aisyah sadar. Dan akhirnya Aisyah sadar juga.


Aisyah kembali menangis, Dwi ada disisinya.


Dwi berusaha membuat tenang Aisyah.Namun Aisyah bukan tenang malah semakin berdosa. Dia menyalahkan diri sendiri.


Sebab merasa terlalu lama meninggalkan Ibunya. Tidak ada lagi senyum di wajah Aisyah, Hanya air mata kesedihan.


Ratiman juga datang, Aisyah dibawa sama Ratiman pake mobil Aisyah. Dwi dan yang lainnya ada yang ikut ke mobil ambulan. Ada yang ikut ke mobil Dwi.


Para tetangga dengan sigap menyiapkan segalanya. Pokonya semua terselesaikan dengan cepat. Aisyah turun dari mobil malah jatuh pingsan lagi.


Ratiman tidak berani menyentuh Aisyah, namun beda dengan Dwi, dia langsung tanpa pikir panjang langsung menggendong Aisyah ke dalam rumah. Aisyah ditidurkan dikamar Ibunya Aisyah.


Akhirnya semua selesai, Ibunya Aisyah selesai dimakamkan, Aisyah tidak bisa ikut ke makam kondisinya tidak memungkinkan.


Aisyah sungguh sangat terpukul, dia tidak menyangka obrolan yang kemarin adalah wasiat baginya. Namun haruskah wasiat Ibunya Aisyah jalankan.


Ya Ibunya meminta Aisyah pindah lagi ke rumah ibunya, Ibunya ingin Aisyah dekat dengan saudara yang lain, masih ada paman juga bibi dan sepupunya disana.


Walau tidak satu rumah tapi masih berdekatan.


Aisyah memeluk anak anaknya. Hasan ikut menangis karena dia sudah cukup ngerti. Hasan sangat dekat dengan neneknya.


Revan datang bersama Alan setelah mendengar berita itu. Revan turut bela sungkawa. Aisyah hanya diam tidak merespon apapun.


Aisyah hanya peduli sama anaknya. Ya anak Aisyah sudah berusia 1 tahun, yang pertama sudah 5 tahun jarak mereka 4 tahun.


Revan mencoba meraih anaknya, Namun anak anaknya Aisyah malah berlari ke pelukan Ratiman, Sebab Astri dari bayi diurus sama Ratiman jadi dia tidak mengenal Revan sama sekali.


Hasan juga sama, dia tidak mau disentuh sama Revan, Ada kebencian dalam diri Hasan terhadap Ayahnya.


Gimana kelanjutannya kisah Dwi dan Aisyah.


kita tunggu bab berikutnya selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2