
Ibra mencoba berbicara pada Rina, dan Tyo, dan mengabarkan kalau jenazah harus segera di makamkan.
" Bu maaf jenazah harus segera dimakamkan, tidak baik rasanya menunda nunda pemakaman" ucap Ibra.
" Baiklah, Mas kita harus segera memakamkan jenazah, kasihan kalau ditunda terlalu lama" kata Rina.
" Iya, ayo Rin, maafkan saya yang terlalu terbawa emosi ini" ucap Tyo dan bangkit untuk segera melaksanakan prosesi pemakaman anaknya itu.
Tetangga semua merasa iba dengan Tyo belum lama istrinya meninggal sekarang anaknya.
Namun dengan adanya Rina disisinya membuat dia bisa bangkit dan berdiri untuk pergi ke tempat pemakaman itu.
Acara pemakaman selesai, Tyo enggan rasanya untuk meninggalkan makan anak dan istrinya, dia terdiam dan menangis sambil memeluk nisan kekasih hatinya.
" Sayang, semua telah pergi meninggalkan aku, kini aku sendiri, apa yang harus aku lakukan, haruskah aku ikut bersamamu" ucap Tyo berbicara pada Nisan Istrinya.
Rina merasa prihatin dengan keadaan Tyo yang benar banar terpuruk, hatinya tidak tega melihat itu semua, Rina melangkah dan mensejajarkan diri dengan Tyo.
" Mas, semua telah ditakdirkan seperti ini, Allah menguji hambanya sesuai kemampuan hambanya" ucap Rina.
" Aku yakin mas pasti kuat jangan pernah menyesali kehidupan ini, berjuanglah untuk meneruskan hidup yang lebih baik" ucap Rina lagi.
Tyo melihat ke arah Rina, dan menatap dengan dalam, disana dia melihat suatu kekuatan, Rina talah dihancurkan rumah tangganya, namun dia bisa bangkit dan tidak terpuruk.
" Rin maafkan anakku ya, dosanya terlalu besar padamu" ucap Tyo.
" Mas aku sudah memaafkan segalanya, jangan khawatir aku tidak mendendam sedikitpun" ucap Rina lagi.
" Ayo mas, langit suda mendung, sebentar lagi hujan turun" ucap Rina lagi.
Saat mereka masih bicara, Ibra datang, dia merasa kasihan sama Tyo yang hidup sebatang kara.
" Pak ayo pulang, takut keburu hujan" ajak Ibra.
Tyo merasa masih ada orang orang yang peduli padanya, namun sangat ironis orang orang yang peduli padanya adalah orang orang yang mereka sakiti.
" iya, Ibra makasih kamu masih peduli pada saya" jawab Tyo.
akhirnya merekapun beranjak dari makam tersebut. Sementara ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka saat mereka bicara tadi, hatinya sangat teriris disaat seperti ini seharusnya dia yang menghibur kakaknya, tapi yang terjadi sebaliknya, dia malah menjadi penyebab nestapa ini.
Bram harus menelan kepahitan ini, dulu dia menyia nyiakan istrinya, kini dia tidak bisa lagi jangankan untuk bicara mendekatkan pun dia tidak berani.
" Aku kini yang kesepian, kakakku satu satunya menjauh dariku, istriku sudah aku lepas, silvy yang selama ini ada kini dia meninggalkan aku" ucap Bram dalam hati.
__ADS_1
Dia bicara seorang diri, dan berdiri jauh dari pemakaman tersebut.
Rina mengantar Tyo dan membantu bahu membahu bersama Ibra, dia tidak mau melihat Tyo sampai terpuruk terlalu jauh.
Rina berusaha supaya Tyo tetap tegar, Ibra pun melakukan hal yang sama, dan Ibra mengajak Ibunya untuk membantu Tyo di rumahnya.
Ibunya Ibra yang bernama Yuma setuju, sebab dia merasa Iba dengan Yuma dan Ayah Ibra pun sama yang bernama Asep, mereka sama sama membantu di rumah Tyo.
Hati mereka sangat baik, sehingga Tyo tidak sendiri masih ada orang orang baik yang tulus menolongnya.
" Makasih untuk semuanya, sekali lagi saya mohon maaf jika selama hidupnya Almarhumah membuat kesalahan" pungkas Tyo.
" Mas aku pamit pulang ya, soalnya besok harus bekerja, mas harus bisa jaga diri ya, kalau ada apa apa Mas bisa telpon saya" pamit Rina, sebab dari tadi Ibunya sudah menelpon terus supaya cepat pulang.
Ibunya khawatir kepada Rina, takut Rina kembali pada Suaminya itu.
" Iya Rin sekali lagi makasih ya, hati hati d jalannya " jawab Tyo.
Rina pun berlalu dari sana, dan sekarang giliran Ibra yang juga akan pamit kepada Tyo sebab dia juga punya tanggung jawab yang tidak bisa di tinggalkan.
" Pak, saya juga pamit pulang, saya besok harus masuk kerja" pamit Ibra.
" Iya, makasih nak, kamu sungguh mulia hati mu" jawab Tyo terharu.
Sementara dilain tempat Reja sedang merenung, dia dapat kabar Silvy meninggal merasa bersalah juga, bagaimanapun mereka pernah ada hubungan baik, Reja tidak menyangka semua terjadi begitu cepat.
" Yah, apa tang harus Reza lakukan untuk menolong Pak Tyo, sebab aku merasa bersalah melihat keadaan Pak Tyo itu.
" Coba kamu temui beliau, dan kamu minta maaf juga tawarkan bantuan" ucap Arya.
" Baiklah besok aku akan menemuinya" jawab Reza lagi.
Reza merasa dia menjadi orang jahat, sudah menghancurkan kehidupan seorang manusia lain.
Hari yang ditunggu datang, Reza datang ke rumah Tyo.
" Assalamualaikum" ucap Reza.
" Walaikumsalam, ucap seseorang yang ada didalam rumah.
" Pak Tyo ada bu" tanya Reza pada Yuma.
" Ada Pak, mari silahkan masuk" jawab Yuma sambil mempersilahkan Reza masuk.
__ADS_1
" Tunggu sebentar, saya akan memanggil Bapak" ucap Yuma.
Yuma masuk kedalam dan mengetuk pintu kamar Tyo.
" Pak, maaf ada tamu diluar" ucap Yuma.
Tyo membuka pintu dan terlihat Yuma masih berdiri di hadapannya.
" Seorang laki kali Pak, masih sangat muda" ucap Yuma lagi.
" Baiklah suruh tunggu sebentar, saya akan ganti baju dulu.
Tyo keluar ke ruang tamu, dia berusaha tetap tegar dan mampu menghadapi semua rintangan di hidupnya.
" Eh maaf Nak Reza menunggu lama" ucap Tyo basa basi.
" Belum Paka, sata baru saja datang" ucap Reza.
Tyo duduk berhadapan dengan Reza, Tyo mengenal siapa Reza, Tyo berusaha bersikap biasa aja supaya tidak terlihat menyedihkan.
" Pak, saya minta maaf yang sebesar besarnya pada Bapak" ucap Reza.
" Sudah tidak ada yang perlu dimaafkan, semua terjadi mungkin takdir yang harus saya jalani, jangan merasa bersalah " ucap Tyo bijak.
" Bapak kedepannya ada rencana apa, siapa tau saya bisa membantunya" ucap Reza.
" Kebetulan sekali Nak Reza menawarkan, bisakah saham saya Nak Reza beli" ucap Tyo.
" Baiklah Pak, memang Bapak mau usaha apa" tanya Reza paham dengan kondisi Tyo.
" Saya mau buka usaha kecil kecilan, mungkin saya harus mulai dari awal lagi" ucap Tyo.
Setelah terjadi kesepakatan akhirnya Reza pamit pulang dan dia akan menyelesaikan semuanya sesegera mungkin.
Tyo kembali kedalam, pas dia melihat Yuma dan Asep sedang bercengkrama, Tuo menatap mereka dengan perasaan yang sangat dalam.
Mereka hidup sederhana, tapi mereka masih bisa tersenyum dan bahagia.
Tyo menjadi termotivasi dengan melihat Yuma dan Suaminya, dia bertekad untuk maju kembali.
Saat seperti itu dia tiba tiba teringat akan Rina, entah kenapa akhir akhir ini dia selalu teringat Rina.
Kebaikan serta kesabaran Rina yang berhasil mencuri perhatian Tyo.
__ADS_1