Perjalanan Seorang Gadis Miskin

Perjalanan Seorang Gadis Miskin
Hijrahnya seorang Dwi.


__ADS_3

Aisyah dan Ratiman tetap serumah demi anak anak. Namun Ratiman kadang tidur dikamar anak anaknya. Aisyah yang notabene ngerti agama. Dan dia sebagai seorang guru ngaji. Dan suka mengisi ceramah jika diperlukan.


Harus menghadapi seorang suami yang ilmu agamanya sangat dangkal. Dikasih tau seolah digurui dia tidak mau digurui, sensitif banget.


Ada satu kejadian yang sangat membuat Aisyah ngelus dada, Pada suatu hari Ratiman diminta berjemaah dirumah, saat itu hujan sangat lebat, biasa Ratiman suka ke mesjid. Karena hujan sangat lebat akhirnya Aisyah minta untuk sholat bareng.


Pas sholat bacaan fatihah nya ada yang salah makhrojnya harusnya goiril, dibaca hoiril. Nah Selam sholat Aisyah masih mengikuti. Pas selesai sholat Aisyah bicara " Mas kalau huruf gin jangan diganti menjadi kho nanti bakal merubah artinya, maka sholat kita menjadi tidak syah " kata Aisyah.


Bukannya terima di kasih tau seperti itu malah dia marah dan ngomong yang menyakitkan hati. " Kamu kan yang minta saya jadi imam, apa kamu sengaja nyuruh saya imam supaya kamu bisa ngolok ngolok saya" ujarnya .


Aisyah tidak habis pikir, ko bisa setiap dikasih tau ujungnya marah, dan mesti selalu salah paham, Aisyah jadi serba salah menghadapi seorang suami yang seperti itu.


Aisyah kan biasa bangun jam 3 subuh, selain sholat malam banyak yang Aisyah kerjakan, supaya begitu anak anak mau sekolah, dan suaminya mau ke pabrik semua sudah siap. Padahal dirumah ada Art dan pengasuh. Aisyah untuk urusan masak tetap dia mengerjakannya sendiri.


Menyiapkan pakaian suami dan anak anaknya Aisyah sendiri yang melakukan nya. Dia tidak mau sampai hilang kesempatan untuk melayani Suami dan anaknya. Sekalipun suaminya itu selalu memperlihatkan wajah juteknya.


Yang paling menyebalkan lagi kalau urusan ranjang mesti Aisyah yang menawarkan diri.


Setelah melakukan dia menendang kaki Aisyah sambil melihat seolah jijik sama Aisyah.


Sudah miskin belagu, untung Aisyah sabar, dan Aisyah selalu takut akan Tuhannya. Sehingga Aisyah berusaha dengan keras untuk mengembalikan sifat yang ada dulu dalam diri Ratiman.


Aisyah bukan tidak mau menyerahkan kembali usahanya, Aisyah takut hancur lagi, sudah bersusah susah mengembalikannya. Semua itu tidak mudah, dan yang paling penting mengembalikan kepercayaan pelanggan pelanggan.


Aisyah tidak mau lagi ngambil resiko itu.


Ratiman bekerja di pabrik itu mendapat gaji cukup besar. Dan gajinya dia kirim ke kampung buat biaya Ibu dan saudara saudaranya.


Namun Ratiman tidak pernah bersyukur, yang tadinya miskin sudah diangkat jadi lumayan kaya di kampungnya. Ratiman banyak membeli sawah disana, atas nama Ratiman.


Aisyah membeli sebuah mobil atas nama Ratiman. Supaya Ratiman menjadi percaya diri lagi. Karena Aisyah tidak memungkiri karena bantuan Ratiman juga Aisyah bisa seperti ini. Cuma Ya Ratiman kalau diserahkan pengendaliannya tidak mampu.


Bukan tidak pernah dicoba, sudah berkali kali dan hasilnya menghawatirkan. Pokok permasalahan dia tidak mau mendengar apa yang Aisyah katakan.


Suatu hari Aisyah membeli lagi sebuah rumah , didalam sertifikatnya atas nama Suaminya. Aisyah g jadi masalah yang penting Ratiman tidak neko neko.


Sering sekali Ratiman buat ulah yang bikin Aisyah meradang. Bukan karena cemburu tapi harga diri yang merasa dilukai.


Berkali kali Ratiman berkhianat, ada yang sampai 8 bulan lamanya mereka berhubungan, sementara Aisyah sama sekali tidak tau. Sebenarnya banyak tetangga yang ngasih Info, namun Aisyah tidak menggubrisnya. pada suatu saat ada sebuah kejadian sehingga terbongkar akhirnya penghianatan itu.


Aisyah baru pulang dari ngisi pengajian, dia pulang jam 10 malam. Aisyah langsung masuk aja, dia bawa kunci dan dia tidak mau menganggu penghuni lainnya. Aisyah mendekati kamarnya ko ada yang seolah lagi ngobrol. Aisyah mencoba mendengarkan nya.


Aisyah menangkap sepotong sepotong pembicaraan nya. Jadi Aisyah belum bisa menyimpulkan.


Karena tidak mau berburuk sangka sama Suami, Akhirnya Aisyah memutuskan untuk membuka pintu tersebut. Ratiman kaget dan langsung menutup telpon dengan muka yang tidak jelas untuk digambarkan, entah panik karena ketahuan, atau marah karena merasa terganggu.


Aisyah bertanya " telpon dari siapa mas "


" Dari Janiah " jawab Ratiman, Janiah itu adiknya Ratiman.


" Emang ada apa mas telpon malam malam "


maksud Aisyah bertanya seperti itu takutnya ada berita yang tidak mengenakan di kampung. Malah keterimanya lain. Ratiman langsung marah sambil berkata.


" Emang kalau adikku telpon g boleh, eh denger ya kamu, jangan mentang mentang kamu kaya terus kamu menghina adikku seenaknya " jawab Ratiman sambil keluar dan membanting pintu dengan keras.


Karena sudah larut malam, Aisyah juga sudah lelah sehari tadi terus beraktivitas di luar sampai malam. jadi Aisyah tidak menggubris omongan Ratiman yang sudah biasa kalau ngomong pasti salah paham ujungnya ngomong yang g bener.


Aisyah istirahat saja dan mengunci kamarnya. Sebab Aisyah tau kebiasaan suaminya kalau marah dia akan tidur dikamar Hasan. Jadi Aisyah menguncinya.


Aisyah jadi teringat dengan kejadian tadi saat di tempat pengajian yang Aisyah isi. Dia sangat takjub dengan perubahan Dwi, melihat dari cara berpakaian serta cara dia memperlakukan istrinya Uci. Uci memakai pakaian muslimah, dan Dwi jug memakai baju koko serta pakai peci. Tutur katanya sangat jauh dengan dulu, sangat sopan dan dia tidak berani menatap Aisyah. Dwi menundukkan pandangannya.


Sungguh membuat hati Aisyah sangat terharu, sekalipun tidak bisa bersama namun ada sejumput doa untuk orang yang sudah haram untuk dicintai. Aisyah sangat bahagia melihat perubahan Dwi. Aisyah sudah sangat ikhlas melepas Dwi seutuhnya.


Saat Aisyah lagi melamunkan pertemuan tadi. Tiba tiba pintu diketuk, " Mah buka " teriak Ratiman


Aisyah sambil merasa heran, membuka juga pintunya. Aisyah bingung tiba tiba Ratiman bersujud dikakinya. " Maaf kan aku mah " ujarnya.

__ADS_1


Aisyah keheranan ada apa sebenarnya. sungguh Aisyah tidak mengerti. Aisyah membangunkan Ratiman sambil berkata " Ada apa sebenarnya mas , coba jelaskan sama saya, sebab saya kurang paham dengan apa yang terjadi akhir akhir ini"


" Mah aku sudah banyak menyakitimu, maafkan aku, mulai sekarang aku akan berubah, bantu aku ya, bimbing aku ya " ujarnya lagi.


Aisyah luluh juga dengan kata kata Ratiman seperti tadi. Tapi jangan dikira Aisyah sepolos itu. Aisyah tadi sempet menguping pembicaraan sepotong. Dia tidak akan gegabah untuk langsung ambil tindakan, kebiasaan Aisyah akan menyelidiki dulu.


Aisyah bukan orang yang bodoh langsung menerima semua itu. Tidak semudah itu, tidak mungkin orang berubah hanya hitungan menit. Berubah perlu proses yang panjang. Contohnya Dwi dia berhijrah pasti dengan perjuangan yang panjang. Memang Aisyah sudah lama tidak mendengar beritanya lagi.


Ternyata selama itu Dwi memperdalam ilmu agama, setelah pertemuan di Pangandaran bersama Wulan dan Suaminya.


Suami Wulan Lah yang berperan merubah kebiasaan buruk Dwi. Dan merubah pandangan Dwi terhadap cinta yang selama ini dia pendam terhadap Aisyah. Dan sekarang Dwi mencoba mencintai istrinya hanya karena Allah.


Aisyah hanya bisa mendoakan supaya Dwi tetap istiqomah, dan menjadi khusnul khatimah.


Aisyah mencoba membuka percakapan dari hati ke hati bersama Suaminya. Sambil menyelidiki apa sebenarnya rencana Ratiman tersebut.


Pagi pun tiba, Aisyah sudah siap untuk ke Pabrik, Suaminya sudah duluan berangkat untuk mengantar anak anak sekolah.


Sebelum Aisyah berangkat ada suara handphone, tapi suaranya bukan miliknya.


Aisyah kembali melihat yang bersuara itu.


Tadinya Aisyah mencoba mengabaikannya.


Namun suaranya terus berdering, takut penting, akhirnya Aisyah angkat juga.


" Halo, sayang dimana, ini aku udah lama nunggu ditempat biasa, kenapa kamu belum datang juga " ujar suara perempuan di sebrang.


Deg hati Aisyah sedikit tercubit, Ya Tuhan ujian apa lagi ini. Batin Aisyah.


" Mas kenapa diam aja, jawab dong, mas keburu siang nanti butiknya keburu rame loh " ujarnya lagi.


Aisyah merasa tidak kuat harus mendengarkan semua ocehan perempuan itu. Aisyah matikan handphone nya. Tidak lama suara mobil suaminya terdengar tanda orangnya datang.


Ada rasa ingin marah, tapi belum jelas. Namun hati Aisyah sangat sakit, kembali terjadi penghianatan.


" Mah ko kamu belum berangkat " tanya suaminya tanpa mengucapkan salam sambil menyambar handphone ditangan Aisyah.


Disini bisa digaris bawahi ya, bilamana orang berkhianat pasti dia tutupi dengan marah duluan. Sering Aisyah mendapat perlakuan seperti itu.


" Apa hubungannya handphone mu dan kedudukan aku sebagai bos " tukas Aisyah sudah mulai terpancing emosinya.


Tadinya Aisyah tidak akan membahas dulu. sebab Aisyah paginya sudah ditunggu meeting. Akan ada kontrak baru dengan sebuah pabrik yang akan mengembangkan produk yang Aisyah produksi.


" Itu tadi kenapa kamu pegang handphone aku " seru Ratiman.


Sebab waktu tidak memungkinkan untuk berdebat, Aisyah menunda dulu persoalannya. Lebih baik dia cepat pergi ke pabrik biar bisa tepat waktu.


" Oh maaf tadi tidak sengaja handphone mu berbunyi terus jadi mau aku angkat tapi keburu mati " Jawab Aisyah sambil melangkah kakinya untuk menuju Pabrik.


Sesampainya di Pabrik Aisyah menjalankan kewajibannya, semua yang menjadi tugasnya sudah di bereskan nya, sekali pun dirumah tangganya sedang tidak baik baik saja.


Alhamdulillah kontrak sudah ditandatangani sesuai kesepakatan mereka. Waktu Pun bergulir dengan cepat, Aisyah akhirnya pulang juga.


Di rumah Aisyah tidak menemukan mobil suaminya. Aisyah baru ingat akan masalah yang terjadi tadi pagi. Namun Aisyah mencoba untuk berpikir positif dulu. Dia merilekskan tubuhnya yang penat seharian. Dia butuh meng istirahatkan baik tubuhnya juga pikirannya.


Setelah ganti pakaian Aisyah melihat ke kamar anak anak, ternyata mereka lagi menggambar , Astri dan Hasan emang jago gambar mereka mengajari adiknya Aulia.


Ada rasa terharu dihati Aisyah kalau sudah melihat anak anaknya yang selalu ia tinggalkan. Karena terlalu banyak kesibukan.


" Assalamualaikum " sapa Aisyah kepada anak anaknya.


" Walaikumsalam " mereka semua berlari memeluk Aisyah, mereka sangat merindukan Ibunya.


" Lagi belajar apa kalian sayangnya mamah " tanya Aisyah lagi.


" Mah aku lagi belajar gambar diajari oleh teteh asi " Aulia yang menjawab sambil tersenyum senang.

__ADS_1


" Wah bagus banget gambar mu nak, besok mamah belikan krayon baru mau?" ucap Aisyah lagi. Ingin menebus waktunya anak anak yang lalu.


" Mau mah belinya 3 ya, buat aku ,buat teteh asi, juga buat aa hasan " jawab Aulia lagi sambil bersorak bergembira.


Tidak lama handphonenya berbunyi sebuah notifikasi, ada yang mengirim sebuah vidio.


Aisyah mengabaikannya dulu, dia butuh waktu bersama anak anak, " Kalian udah pada makan belum?" tanya Aisyah lagi.


" Sudah mah tadi sama Ayam goreng upin ipin " kali ini yang menjawab Hasan dan Astri.


" Wah enak dong, itu kan kesukaan kalian ya ?" ucap Aisyah lagi.


Aisyah menemani mereka sampai mereka pada tidur. Aisyah membetulkan tidur mereka.


Dan Aisyah minta tolong supirnya untuk mengangkat Hasan ke kamarnya, sebab Hasan sudah cukup berat Aisyah tidak kuat menggendongnya.


Setelah anak anak dipastikan tidur dengan nyaman, Aisyah baru kembali ke kamarnya.


Dan coba melihat vidio itu. Sungguh hatinya sakit lagi dan lagi terjadi.


Sebuah penghianatan tidak bisa dibiarkan Aisyah akan tumpas ke akar akarnya. Seandainya Ratiman mau memilih dengan perempuan itu Aisyah tidak akan melarangnya. Yang penting bukan dia yang berkhianat.


Coba bayangkan cinta belum tumbuh, rasa itu masih terkunci satu nama sekalipun Aisyah mencoba dengan keras menghilangkannya dan mencoba mencintai suaminya. Namun apa yang Aisyah terima sebuah penghianatan


dan bukan sekali, berkali kali.


Aisyah hanya menunduk pedih, Aisyah mengambil air wudhu, dia melakukan sholat dan memohon sama Yang Maha Kuasa untuk memberi jalan yang terbaik untuk rumah tangganya.


Air mata Aisyah tidak bisa dibendung lagi. Sakit hati yang sangat dalam, luka yang dulu saja belum kering datang lagi luka yang baru.


Aisyah sangat ingin marah, memaki suaminya. Namun Aisyah sadar bahwa dengan melakukan itu bukan menyelesaikan persoalannya.


Aisyah mencoba menelpon orang yang tadi pagi telpon, sama Aisyah nomornya sudah di save ke dalam hp nya.


" Assalamualaikum " ucap yang di sebrang sanah.


" Walaikumsalam" jawab Aisyah.


" Dengan siapa ya " tanya orang itu juga.


" Maaf ibu kalau boleh tau, benarkah ini yang namanya Fur F ' " tanya Aisyah sesuai nama yang tertera di kontak suaminya.


" Bukan bu, ini nomor Fitri, saya Ibunya " jawab wanita yang di sebrang tadi.


" Oh maaf saya salah, ibu bolehkah saya bertanya apakah Mas Ratiman sedang ada dirumah ibu " tanya Aisyah hati hati.


" Oh iya, kebetulan Ratiman tunangan anak saya, baru saja melangsungkan pertunangan " jawab si ibunya dengan antusias.


" eh sebentar ini dengan siapa ya, saya lupa nanya saking bahagianya " tanya si ibunya itu


" Saya adik dari Mas Ratiman, tapi kenapa ya bu Mas Ratiman tunangan tidak ngasih tau saya " tanya Aisyah.


" Oh kurang tau ya, dia datang bersama kakaknya " jawab si Ibu tadi.


Deg hati Aisyah sangat mencelos. Aisyah limbung.


" Baik bu terimakasih infonya " Aisyah meng akhiri telepon nya tanpa menunggu jawaban.


Sakit hati Aisyah. Apa langkah yang harus dia ambil. Aisyah menangis, rapuh lemah yang kini dirasakan Aisyah dikhianati berkali kali sehingga membuat Aisyah menjadi beku.


Aisyah menatap kosong ke depan. Pandangannya kosong. Jiwanya seolah pergi meninggalkannya. Air mata telah kering. Hati Aisyah benar benar hancur. Entah harus menyalahkan siapa. Mungkin dirinya yang tidak pantas dicintai.


Sudah dulu ya pembaca sampai di bab berikutnya.


Tunggu saja gimana perjalan Aisyah berikutnya.


I LOVE YOU.

__ADS_1


para pembaca saya menulis ini sambil berurai air mata, sebab harus membuka memori lama yang sangat menyakitkan. Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi pembaca semuanya.


Terimakasih akan semua dukungan nya.


__ADS_2