Perjalanan Seorang Gadis Miskin

Perjalanan Seorang Gadis Miskin
Kebangkitan Rina


__ADS_3

Rina pulang meninggalkan rumah silvy, dia tidak mau merusak hatinya, harus selalu ketemu mantan, dia harus tetap waras dan tidak menjadi stres.


Rina sampailah dirumah orangtuanya, semua menunggunya, sebab mereka khawatir kepada Rina.


" Assalamualaikum, Mah Rina pulang" salam Rina.


" Walaikumsalam, kamu darimana saja, jangan suka membuat mamah khawatir" ucap Ibunya.


" Jangan khawatir aku baik baik saja" ucap Rina.


" Gimana, kamu ketemu saya mantan suami kamu itu?" tanya Ibunya lagi.


" Ketemu tapi aku gak peduli mah" jawab Rina.


" Iya udah kamu sekarang ganti baju, terus makan" kata Ibunya.


Rina tidak banyak bicara lagi, dia berusaha untuk melaksanakan apa yang Ibunya katakan.


Waktu cepat berganti, Rina terus memperbaiki diri, dia bangkit dalam keterpurukannya, dia mau hidup bahagia.


Suatu pagi Rina sudah bersiap kembali mengambil aktivitasnya seperti dulu, dia memulai perannya sebagai wanita karier, dia ambil alih semua usahanya yang dititipkan pada temannya dahulu.


" Pagi, Rina memulai paginya dengan bersinar, dia bahagia sia mampu bangkit dalam sekejap.


Sementara di lain tempat Bram merasa bingung dengan yang sudah terjadi, kakak iparnya sudah tiada, melihat Kakaknya Tio seolah tidak ada gairah hidup.


" Mas, makan dulu, saya udah siapin semuanya" ucap Bram merasa khawatir kepada kakaknya itu.


Sementara Silvy teriak teriak, kadang menangis kadang tertawa, Bram menjadi bingung, apa lagi sambil mukul mukul perutnya, kadang meremasnya.


" Sayang kenapa seperti ini" ucap Bram


" Aku ingin mati saja, aku tidak mau hidup" teriak Silvy.


Silvy terus berteriak, membuat Ayah langsung bangkit, dia sangat sedih, bingung bagaimana menangani anaknya.


Disaat seperti itu datanglah Ibra.


" Assalamualaikum, Pak apa ada orang didalam" ucap Ibra.


" Walaikumsalam" jawab Ayahnya Silvy


" Pak ada apa, ko mba Silvy seperti itu?"


" entahlah, saya juga bingung harus gimana.


" Pak baiknya dibawa dulu ke rumah sakit" ucap Ibra.


" Bener juga kenapa saya tidak kepikiran ya" sahut Ayahnya Silvy.


" Ayo Pak, sata bantu biar cepat ditangani" ucap Ibra lagi.


Akhirnya Silvy dilarikan ke rumah sakit dan ditangani dengan intensif.


Saat seperti itu Ayahnya Silvy minta tolong sama Ibra untuk jangan dulu meninggalkan Silvy, sebab Ayahnya Silvy ada urusan sebentar.

__ADS_1


Ya Ayahnya Silvy mau mencari Rina, sebab dia ingat pembicaraan Rina dengan mendiang istrinya, dia ingin menanyakannya.


Tyo mencoba menelpon Rina dan deringan ke tiga baru ada jawaban.


" Halo" jawan Rina.


" Rin ganggu gak, Saya ada yang ingin bicarakan" kata Tyo.


" Bisa gak kita ketemu"ajak Tyo lagi.


" Mas, maaf tidak bisa sekarang, sebab hari ini baru saja saya mulai kerja lagi" jawab Rina.


" Kamu bisanya kapan?" tanya Tyo lagi.


" Saya bisanya hari minggu" jawab Rina.


"ok kalau begitu, nanti hari minggu saya tunggu ya.


" ok mas" jawab Rina singkat sebab dia merasa gak enak ngobrol sama mantan kaka iparnya itu.


Tyo kembali ke rumah sakit dimana Silvy dirawat, Ibra boleh meninggalkan Silvy, namun Ibra merasa kasihan sama Ayah nya Silvy yang seperti tertekan gitu.


" Biar Pak ,saya disini dulu biar saya bisa temenin Bapak" ucap Ibra.


" Emang kamu todak kerja?" tanya Tyo.


" Saya hari ini ambil cuti, ingin menemani Bapak" ucap Ibra.


" Memang Ibra sengaja datang kerumah Silvy bermaksud menghibur Ayahnya Silvy


" Gak usah berterima kasih pak, semua sudah menjadi tugas sesama manusia untuk saling menghibur dikala ada yang susah" ucap Ibra lagi.


" Iya, kamu sangat baik sekali" ucap Ayahnya Silvy lagi.


Hari terus berlalu, akhirnya hari yang dinanti pun tiba, dan akhirnya merekapun bertemu.


" Rin bolehkah saya bertanya?" tanya Tyo.


"Silahkan Mas, kalau misal.saya tau jawabannya saya akan jawab, tapi maaf jika tidak tau maaf " jawab Rina.


" Masalah waktu kamu ngobrol berdua sama mba mu itu bisa saya tau ngomongin apa?" tanya Tyo lagi.


Tyo sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan istrinya saat itu.


" Mas saya bingung kalau harus menjawab yang itu, sebab Mba punya permintaan yang sangat tidak mungkin saya lakukan" ucap Rina.


" Memang minta apa Rin?" tanya Tyo lagi tambah penasaran.


" Mas, mba minta saya menikah sama Mas" akhirnya Rina pun menjawabnya sebab sia juga tidak enak kalau terus menyimpan rahasia ini.


" Ya, dari beberapa hari memang Mba mu terus meminta untuk Mas selalu menjaga kamu" ucap Tyo.


" Tapi Mas maafkan saya, saya bukan tidak mau melaksanakan amanahnya Mba, tapi saya tidak ingin terjatuh lagi dalam keterpurukan" ucap Rina.


" Iya Mas paham, kamu baru saja menderita, tidak mungkin kamu mau berhubungan lagi sama keluarga ku Rin" ucap Tyo lagi.

__ADS_1


" Sekali lagi aku minta maaf" ucap Rina.


" Tidak usah minta maaf, hiduplah lebih baik, jangan kamu paksakan apa yang tidak ingin apa kamu lakukan" ucap Tyo bijak.


" Makasih Mas atas pengertiannya" pungkas Rina.


" Gak masalah gak perlu kamu terimakasih, saya tidak melakukan apa apa" ucap Tyo lagi.


Saat mereka lagi berbicara tiba tiba, ada telpon dari rumah sakit yang mengabarkan tentang Silvy.


Tyo dan Rina akhirnya pergi dan berpisah, Tyo menuju rumah sakit, sementara Rina kembali ke rumah.


Sampai di rumah sakit Tyo dikejutkan dengan apa yang terjadi sama Silvy mengalami keguguran dan dia harus melakukan operasi saat itu juga.


Tyo menelpon Ibra, bukan menelpon Bram, dia masih marah sama adiknya, dia tidak ingin Silvi menikah dengan adiknya.


Silvy dioperasi cukup lama, setelah sekian lama, keluarlah seorang dokter yang sudah berhasil mengoperasi Silvy.


Namun ada berita yang membuat hati Tuo begitu sakit Silvy tidak selamat sebab Silvy mengalami pendarahan hebat.


" Maafkan kami Pak, kami sudah berusaha namun Allah berkehendak lain" ucap Dokter tersebut dengan wajah sendu.


" Pasien mengalami pendarahan sangat hebat" ucap Dokter lagi.


" Apa dok, apa yang saya dengar itu salah kan dok" ucap Ayahnya Silvy.


" Maafkan kami pak, kami sudah berusaha semaksimal.mungkin" ucap Dokternya lagi.


Tyo seolah tidak mampu menopang badannya, akhirnya dia terduduk lemas.


Ibra datang dan sangat kaget mendengar berita yang sangat mengejutkan itu.


Akhirnya Ibra menolong Ayahnya Silvy untuk mengurus jenazah Silvy, Tyo benar benar terpukul, hidupnya terasa sangat hancur. Semua disebabkan oleh adiknya.


Setelah semua selesai maka jenazah Silvy Pun akhirnya dibawa ke rumah duka.


Rina mendengar berita itu sungguh sangat kaget, dia tidak menyangka dengan keponakannya itu, Rina sudah ikhlas melepas suaminya buat Silvy, namun semua tidak sesuai dengan yang diinginkan manusia.


Kini Silvy sudah ada dalam keabadian, Bram tertunduk lemas, hidupnya seolah tidak berarti lagi, Tyo marah dan mengusir adiknya itu.


Saat terjadi perdebatan itu, datanglah Rina melerainya.


" Mas, jangan begini, semua sudah takdir, Mas harus lebih sabar lagi" ucap Rina berusaha meredam amarah Tyo.


" Rina, dia penyebab kehancuranku, semua sebab dia, aku harus kehilangan semua" ucap Tyo putus asa.


Bram yang melihat kehancuran kakaknya sangat menyesal, dia pun sama kehilangan semuanya, hidupnya seolah hancur lebur.


Rina memapah Tyo ke dalam kamarnya, dan mencoba menenangkannya, sementara jenazah Silvy harus segera dikebumikan.


" Maaf Mas jam berapa mau dilaksankan pemakamannya" tanya salah satu warga pada Ibra.


" Sebentar ya Pak, kita tunggu Ayahnya jenazah untuk keluar, dia masih sangat syok" ucap Ibra


Lalu Ibra berusaha masuk ke dalam kamar, dan bicara pada Rina juga Tyo. Sementara Bram ada di sudut ruangan dia tidak berdaya.

__ADS_1


__ADS_2