Perjalanan Seorang Gadis Miskin

Perjalanan Seorang Gadis Miskin
Lelah......


__ADS_3

Aisyah, merasa apa yang akan terjadi kedepannya membuat dia buntu. Hasrat Dwi yang ingin menikahinya membuat dia bener bener puyeng. Masih banyak yang dia inginkan. Semangat dia untuk menggapai mimpinya seakan ada halangan, dia menjadi ciut. Ke depannya dia melangkah merasa berat.


Sementara Dwi hatinya sudah tetep memilih Aisyah untuk jadi pendampingnya. Dwi berusaha mengejar orang yang dicintainya. Tanpa memikirkan perasaan Aisyah sendiri. mungkin bisa dibilang egois. Itu kata yang tepat untuk seorang Dwi basuki.


Aisyah ingin menyerah, namun dia tidak tau langkah mana yang harus diambil, pergolakan batin yang terus menyiksa batin Aisyah. Akhirnya Aisyah memutuskan bertemu dengan sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu. Yuli itulah sahabat Aisyah, dari kecil sampai sekarang Yuli selalu ada. Dan Yuli jugalah saksi perjalanan kisah Aisyah dan Dwi yang cukup pelik.


Disinilah Aisyah sekarang bersama Yuli.


" Syah tumben ngajak bertemu, emang kamu g sibuk?".


" Justru itu Yul, sebenernya ya sibuk, cuma ada sedikit yang selalu mengganggu pikiranku".


"Ada apa gerangan yang menggangu pikiran tuan Putri Aisyah, sehingga memanggil hamba" canda Yuli


" Ih kamu, malah bercanda ,serius ini, kamu masih ingat Dwi kan?.


" Ingatlah, masa lupa, yang paling sayang sama kamu itu kan "


" Iya dia pengen ngajak aku nikah, tapi aku belum siap, orang keluarganya g suka sama aku, karena aku miskin"


"Serius lo, aku pikir cuma candaan, gila aja kita masih umur 18, masih jauh lah untuk nikah" seru Yuli


" Aku harus bagaimana Yul, aku bingung asli, aku bingung banget".


"Kamu udah ngomong sama Ibu kamu belum?".


" Belum Yul, aku mana berani, kan kamu tau jelas jelas ibuku melarang banget, bukan tidak suka dengan Dwi nya, tapi keluarganya".


"Menurut aku sih, mening ngobrol dulu sama ibu kamu, apapun yang terjadi pendapat orang tua itu penting, tau g?".


" Giman caranya, mulainya harus seperti apa. G ada keberanian sedikitpun takut ibu kecewa dan marah".


"Kamu pelan pelan bicara sama Ibu kamu, rayu Ibu kamu supaya g marah. Aku yakin ibu kamu bijak deh. Pasti punya solusi,namanya orang tua selalu ada jalan keluarnya".


" Ok deh nanti aku mau coba bicara sama ibu. Tapi entah kapan, aku ngumpulin dulu keberanian, dan cari waktu yang tepat".


" Aku doa kan kamu lancar, apapun jawabannya mungkin itu yang terbaik buat kamu, percaya deh Allah bersama orang yang selalu sabar".


" Makasih Yul, kamu selalu ada buat aku, sekalipun kamu sibuk kuliah, kamu mau nyempetin waktunya buat aku".


" Kamu kan sahabat aku, jadi jangan sungkan, kalau ada apa apa kamu telpon aku ya"


" Siap Yul, udah siang pulang yu, kasian kamu juga mau kuliah kan".


" iya bentar lagi ada kelas, ya udah aku pulang ya, semoga lancar, Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam, Aamiin, hati hati ya Yul, dan makasih banyak waktunya dan sarannya".


Merekapun berpisah, sedikitnya hati Aisyah sudah sedikit merasa lega. Dia pulang ada tujuan walaupun masih ada keraguan dalam hatinya.


Ditempat yang berbeda Dwi sedang berkumpul sama keluarganya. Teh Wiwin dan Suaminya juga datang. Dwi bermaksud mengutarakan keinginannya. Dwi berusaha menggapai restu orang tua nya.


"Bu, apa ibu udah tau sesuatu tentang Dwi" Teh Wiwin mulai membuka pembicaraan serius.


" Belum, ada apa dengan kamu Wi " tanya Ibunya.


" Ini bu, tapi Ibu janji sama Dwi jangan marah kalau Dwi jujur"


" Ya ngomong dulu, terus apa dulu yang kamu mau omongkan, kalau mengenai Aisyah, Ibu tidak mau denger" ucap Ibunya.


Dwi melongo, dia kaget dengan reaksi ibunya seperti itu. Sebab Dwi merasa belum pernah bicara tentang Aisyah kepada Ibunya, kecuali kepada Kakaknya. Dwi bingung mau melanjutkan niatnya, atau diurungkan, sebab Dwi sangat tau dengan karakter sang Ibu.


" Wi cepet katanya mau ngomong, ayo ngomong dong, jangan malah bengong kaya gitu" ujar Ibunya lagi.


" G bu, itu sebentar lagi kan Dwi semesteran, Dwi udah mau semester 5, jadi niat Dwi mau kerja sambil kuliah" kata Dwi sambil bingung.


" Kan selama ini juga kamu kerja, apanya yang istimewa, orang kamu sudah biasa dari dulu kan kerja sambil sekolah" sahut Ibunya lagi.

__ADS_1


" Wi kerja apalagi yang akan diambil, emang selama ini kurang kerjaan kamu" Ujar Pamannya.


" Bukan begitu om, yang ini menjanjikan, dan cukup besar duitnya".


" Dimana wi, jangan sampai kuliah kamu keteteran, gara gara kerja "


" Baiknya beresin cepat kuliah kamu, baru bisa konsen kerja" Kakak ipar Dwi ikut bicara


" Wi jadi g mau nikah sama Aisyah?" tanya Teh Wiwin mengagetkan semua orang yang ada disitu, sebab dia greget dari tadi Dwi g mau bicara, tapi maksa Kakaknya buat buat jadi saksi.


"Siapa yang mau nikah" seru Ibunya dan Bapaknya serentak.


" Maksud Dwi baru punya niat, bu Dwi cinta sama Aisyah, apa Ibu mau merestui" akhirnya Dwi bicara karena sudah terlanjur basah.


" Apa kamu tidak salah, Aisyah itu gadis miskin, belagu pula. Dia menolak kerja disini lagi, kamu kan tau itu, terus gimana kata orang. Kamu nikah sama bekas pembantu" Marah Ibunya kepada Dwi. Bukan hanya Ibunya Bapak nya pun sama karena marah dan sedikit kaget dengan kata kata anak laki lakinya satu satunya, Bapaknya sampai merasakan sakit di dadanya.


" Sudah Wi jangan mikir yang aneh aneh, banyak orang yang lebih dari Aisyah, yang bisa kamu jadikan istri. Lagian kuliah aja belum rampung" seru Ibunya lagi


" Bu, sudah itu lihat Bapak, kayanya Bapak sakit" seru Kakaknya Dwi


Dwi mendekati Bapaknya, namun Bapaknya menolak, dan mengusir Dwi dari rumah.


" Sebaiknya kamu pergi, kalau mau bikin malu orang tua saja" kata Bapaknya sebelum ambruk.


serentak semua orang kaget dan teriak.


" Cepat panggil dokter, itu yang didepan rumah kita" seri Ibunya sambil panik.


Kakaknya Dwi berlari, kebetulan Pak Dokter mau berangkat ke Klinik.


"Ada apa teh lari lari begitu" Tanya sang dokter.


"Tolong dok, Bapak saya pingsan barusan" sahut kakaknya Dwi.


" Baiklah, Untung saya belum berangkat " ujar sang Dokter lagi, sambil melangkah mengikuti Kakaknya Dwi.


"Walaikumsalam" Mangga Dok masuk, suami saya ada dikamar, masih belum sadar, jawab Ibunya Dwi


" Baik, akan saya periksa, kenapa Bapak bisa pingsan bu" tanya sang dokter lagi.


" Kaget mungkin dok, dan sedikit emosi, jadi Bapak pingsan" ujar Ibunya lagi.


Usai diperiksa, Bapak sadar, dadanya masih terasa sakit. Beliau masih memikirkan si bungsunya, Bapaknya takut Dwi nekat sebab Bapaknya sangat tau karakter anak laki lakinya. Kalau ada kemauan harus diikuti, itu dari kecil hingga sekarang.


"Bu sebaiknya Bapak dirawat, supaya bisa diperiksa dengan intensif, Saya Khawatir ada sesuatu di jantungnya" kata sang Dokter lagi.


" Apa separah itu, sampai harus dibawa ke Rumah Sakit, tidak bisa dikasih obat saja dok" seru Ibunya Dwi, sebab Ibunya sangat perhitungan mengenai biaya. Sekalipun buat keluarganya, pelit bin medit.


" Supaya lebih tepat dan jelas bu, nanti setalah tau gejalanya, diobati mudah dan tepat, jadi cepet sembuh" sahut dokter lagi.


Dwi tidak banyak bicara, ada penyesalan dalam dirinya, " apa aku lepaskan saja Aisyah yah, demi ketentraman keluargaku" monolog Dwi, sambil berjalan keluar entah mau kemana.


Dilain tempat, Aisyah baru sampai rumahnya, Ibunya sedang nunggu warungnya.


"Assalamualaikum, bu "


"Walaikumsalam" jawab ibunya.


" Bu, udah makan belum, Aisyah bawain nasi padang, Ibu mau" seru Aisyah, dia ingin membuat hati Ibunya seneng dulu, baru dia mau ngomong.


"Kebetulan belum Syah, Ibu nunggu kamu biar makan bareng, jarang kita makan bareng Syah"


" Oh ya udah, ayo bu kita makan, bentar ya Aisyah siapin dulu, Aisyah mau ambil piring dulu ya bu" sahut Aisyah sambil pergi ke dapur buat ambil piring.


Mereka pun makan berdua, Ibunya Aisyah makan dengan lahap, karena memang Mereka jarang sekali makan enak.


" Bu, bolehkan Aisyah minta pendapat ibu" tanya Aisyah.

__ADS_1


" Tentang apa Syah " tanya Ibunya Aisyah.


" Ini bu, tentang Dwi, yang selalu datang kesini, kemarin dia minta Aisyah jadi istrinya".


" Apa syah, g salah, jangan Syah, kalau bisa sama orang lain saja, kita g pantas buat mereka. Kita bakal dihina habis.


" Bu, Aisyah juga pengennya menolak, tapi Ibu tau sediri Dwi kalau punya mau, memaksa. Selama ini Aisyah udah menolaknya. Aisyah juga sudah menghindarinya.


" Terus kita harus gimana Syah, Ibu tetep g ngizinin kamu buat bareng Dwi, Ibu g sanggup kamu harus dihina sama mereka. Syah memang kita Orang miskin, tapi kita masih punya harga diri kan.


Aisyah menjadi sangat dilema, lelah sudah jiwanya, menolak salah, menerima apa lagi, langkah apa yang harus diambil, Perasaannya sangat tersiksa.


Di lain tempat, Dwi pergi ke tempat hiburan, dia minum minuman keras buat melupakan semua masalahnya. Dia tidak mampu menentang keluarganya, tapi dia juga tidak mau kehilangan cintanya.


Teman temannya pada berkumpul ditempat dimana, Dwi lagi minum, ada satu temannya yang mengingatkan.


" Wi udah cukup jangan terlalu banyak, lo udah mabuk berat" ucap temannya.


Namun Dwi tidak mau mendengarnya, dia terus minum sampai bener bener mabuk berat. Dan akhirnya semua temennya mengantar dia pulang. Cuma temennya merasa bingung mau dibawa kemana, temen Dwi g ada yang berani bawa pulang ke rumah Dwi.


Disinilah sekarang berada, saat dia bangun, dia kaget sebab dia tidur ada teman disebelahnya, dan itu wanita.


" Apa yang sudah aku lakukan, terus siapa dia, semalam aku mabuk, tapi siapa yang bawa aku kesini" monolog Dwi dalam hatinya. Dia berusaha menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, dia sangat kaget sebab, dia dalam keadaan polos tidak ada kain sedikitpun menutup tubuhnya. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi, namun tidak ada yang dia ingat.


Sementara teman tidurnya juga terbangun, dia kaget dan menjerit " Wi apa yang sudah kamu lakukan sama aku " jerit Uci, karena dia sadar dia tidak berpakaian, sama sama polos sama seperti Dwi, Uci panik, dia menangis sambil menjambak jambak rambutnya sendiri.


" Ci maaf kan aku, aku juga tidak tau apa yang terjadi, aku tidak ingat. Mana mungkin aku berani berbuat begitu kepada sahabatku sendiri ci". Sahut Dwi lagi.


Dwi bener bingung, dia tidak ingat apa yang terjadi, dia tidak merasakan apapun, cuma pusing di kepalanya yang dia rasakan.


Uci adalah sahabat Dwi semenjak Kelas 1 SMA, dia sangat dekat, tapi Dwi tidak punya perasaan sama Uci, Dwi menganggap bener bener sahabat tidak lebih, lain dengan Uci sendiri yang sudah menaruh hati kepada Dwi sejak pertama bertemu, Uci sangat terpesona dengan Dwi, apalagi Dwi yang sangat cerdas.


"Pokoknya kamu harus bertanggung jawab wi, aku g mau kehilangan masa depan, kamu hancurkan masa depan ku, dengan cara memperkosa aku" jerit Uci lagi.


Dwi panik, satu masalah belum kelar, timbul masalah baru lagi, Dia bener frustasi menghadapi semuanya, Dwi mencoba berfikir jernih, namun apa yang terjadi dengan Uci dia tidak tega, kalau bener dia menghancurkan masa depan Uci, tapi dia merasa tidak melakukan, dia sama sekali tidak menyadarinya.


" Wi aku tau kamu g pernah cinta sama aku, tapi g gini juga kamu perlakukan aku. Wi aku minta nikahin aku, aku g mau sampai kejadian ini menghancurkan hidupku, apa yang ku jaga selama ini sudah hancur" Uci berucap dengan terisak.


" Iya ci aku juga g mungkin lepas tanggung jawab sama kamu, tapi kamu tau sediri aku cinta mati sama Aisyah, apa jadinya kalau aku nikah sama kamu" sahut Dwi.


" g papa Wi kita nikah siri aja, yang penting kamu tanggung jawab, masalah Aisyah kamu masih bisa ko nikah sama dia" lanjut Uci


" Ngaco kamu mana bisa seperti itu, Aku g mau nyakitin Aisyah, seandainya aku nikahin kamu, aku g mungkin nikahin Aisyah. Mungkin ini jalan yang terbaik buatku dan Aisyah.


Selama ini Dwi dan Aisyah banyak sekali kendalanya, Dwi dan Aisyah tidak mampu menyatukan dua hati yang saling mencintai.


Mereka harus menyerah kepada keadaan.


" Wi kalau boleh jujur sama kamu, aku sayang banget sama kamu, aku cinta sama kamu, sejak kita bertemu" ucap Uci. Dia tidak mau lagi memendam perasaannya. Sudah lama dia menantikan momen ini.


" Tapi aku tidak cinta kamu, kamu tau sendiri siapa yang aku cinta, memang aku sayang sama kamu, tapi hanya sebagai sahabat saja tidak lebih" jawab Dwi " Lagian kamu kan punya pacar, gimana nanti pacar kamu kalau tau kamu nikah sama aku" ucap Dwi lagi.


" Aku baru putus kemarin, makanya aku pergi ke tempat hiburan, untuk menghibur hatiku yang baru putus cinta, tapi pas bangun malah sudah seperti ini sama kamu" sahut uci lagi.


Uci mendekat kepada Dwi, mereka sama sama polos, Uci memeluk Dwi dari pinggir, Dwi laki laki normal. Didekati seperti itu hasratnya muncul , entah siapa yang memulai, tanpa aba aba merekapun melakukan kembali yang seharusnya tidak mereka lakukan. Mereka melupakan luka dengan berbuat maksiat. Mereka tidak sadar akan ada apa didepannya.


" Ci, g usah nikah aja ya, kita berhubungan diam diam, nanti kalau kamu hamil, baru kita nikah, ternyata berhubungan dengan sadar sungguh nikmat ya" ucap Dwi sambil memeluk dan mengecup bibir Uci.


Karena cintanya Uci sama Dwi akhirnya uci menyetujui usulan Dwi yang penting Uci bisa selalu bersama Dwi setiap waktu.


Dwi seolah lupa sejenak dengan cintanya, setelah terhibur oleh Uci


Semenjak itu Dwi dan Uci kerap berhubungan badan tanpa ikatan, tubuh Uci sudah menjadi candunya, sedikit demi sedikit Aisyah terlupakan. Sekarang yang ada dipikirannya hanya berhubungan dengan Uci di ranjang.


Dwi sudah terlalu jauh melangkah, dia terperosok terlalu dalam, dia lupakan cintanya, dia mengejar kesenangan dunia.


Gimana kelanjutan kisah Aisyah, akan sakit hati kah Aisyah, Atau malah Aisyah bahagia bisa terlepas dari Dwi.

__ADS_1


Selamat membaca, sampai di bab yang selanjutnya......Bersambung


__ADS_2