
Wulan akhirnya memutuskan tinggal bersama Kakeknya di Pangandaran. Wulan ikut mengurus perkebunan Kakeknya. Kebetulan Kakeknya sudah cukup tua, sementara Papahnya Wulan punya usaha sendiri jadi tidak bisa menggantikan Kakeknya. Semua anaknya Kakek Wulan yang jumlah 3 orang itu semua sukses. Mereka semua tinggal di berbagai kota. Papahnya Wulan di Bandung, sementara Paman dan Bibinya di Jakarta.
Setiap harinya Wulan pergi ke perkebunan. Dia cek orang yang kerja, pegawai perkebunan cukup banyak, Kakek juga punya tambak ikan. Wulan akhirnya sedikit demi sedikit bisa melupakan sakit hatinya. Walaupun kalau sudah sampai kamarnya dia tetap mengingat suaminya.
Wulan belum ambil keputusan apapun untuk biduk rumah tangganya. Suatu hari Wulan pusing, dan muntah muntah. Kakek agak panik takut Wulan kenapa kenapa . Kakek membawa Wulan ke klinik karena khawatir Wulan keterusan sakit. Muka Wulan sangat pucat.
Disinilah Wulan disebuah klinik yang ada di Pangandaran.
" Untuk keluarga Ibu Wulan, Perawat memanggil keluarganya Wulan.
" Saya dok Kakeknya Wulan, Gimana cucu saya dok" Tanya Kakeknya Wulan dengan muka cemas.
" Selamat ya Kek Ibu Wulan hamil 12 minggu" ujar Perawat lagi.
Kakek bulan bahagia bukan kepalang, mata Kakek Wulan berkaca kaca, " Alhamdulillah, Ya Allah akhirnya Engkau kasih juga kebahagiaan buat cucu hamba" Kakek berucap dengan rasa syukur. " Boleh saya melihat cucu saya" Tanya Kakek.
" Silahkan Kek " Akhirnya Kakek masuk. Wulan berseri, nampak raut wajah kebahagian terpancar namun disitu juga ada kesedihan .
Wulan dibawa Kakek pulang, setelah mendapatkan obat akhirnya sampai juga di rumah Kakek. Nenek menyambut mereka. Nenek dengan tidak sabar bertanya
" Gimana Kek, Wulan kenapa, masuk angin bukan?" Nenek bertanya dengan tidak sabar, Beliau sangat khawatir dengan cucunya.
" Wulan tidak apa apa, cuma Nenek sebentar lagi akan menimang cicit" jawab Kakek sambil tersenyum kebahagian. Tidak dengan Wulan diraut wajah Wulan tercetak jelas kesedihan. Bukan Wulan tidak bahagia, akan tetapi Wulan teringat akan suaminya yang telah punya istri yang lain.
" Alhamdulillah, akhirnya cucu Nenek hamil juga" sahut Nenek sambil memeluk Wulan.
Tinggalkan dulu keluarga Wulan yang sedang berbahagia. Kita akan melihat bagaiman dengan kehidupan Dwi setelah ditinggal Wulan.
Disinilah Dwi berada disebuah rumah sakit di Bandung. Setalah Adzan subuh, rumah Dwi ramai sekali dipenuhi kepanikan. Bapaknya Dwi pingsan karena serangan jantung, saat dibawa ke rumah sakit kondisinya sudah menghawatirkan. Sudah 2 kali terkena serangan ini yang ke Tiga kalinya.
Semua menunggu dengan tegang. Ibunya Dwi hanya bisa menangis, dipeluk sama Kakaknya Dwi, sementara Dwi dia sangat menyesali karena dia sadar semua terjadi karena ulahnya Dwi. Sebelum Bapaknya Dwi kena serangan jantung, malamnya orang tua Wulan datang ke rumah Dwi dan marah besar mengetahui Wulan pergi dari rumah Dwi. Dan Dwi tidak tau kemana Wulan pergi. Sebenarnya orang tuanya Dwi sudah tau Wulan ada dimana, karena Kakeknya Wulan sudah menghubungi Ayahnya Wulan. Menceritakan masalah Wulan. Kakeknya tidak mau cucunya diduakan . Jadi Kakek menyuruh Ayahnya Wulan mengurus semua masalahnya dan mengambil langkah yang terbaik untuk cucunya itu .
Dwi menyesal, dia sangat terpuruk, semua terjadi begitu cepat. Semalam Bapaknya Dwi tidak bisa tidur. Beliau gelisah mungkin karena tidak bisa tidur akhirnya subuh tiba beliau terkena serangan jantung, akhirnya pingsan. Dengan cepat Dwi melarikan Bapaknya kerumah sakit.
" Dengan keluarga Bapak Shobirin " seru Perawat.
" Semua berdiri dan melangkah mendekati dokter yang baru saja keluar dari IGD yang baru menangani Bapaknya Dwi. " Gimana dok dengan Bapak saya" Dwi dan Kakaknya kompak bertanya.
" Maaf Ibu dan semuanya kami sudah semaksimal mungkin tetapi pasien sudah tidak ada sebelum sampai kesini. Bapak sudah tidak ada sekitar 1/4 jam yang lalu. Itu menurut perkiraan kami" Ucap Dokter.
Dwi dan semua keluarganya menangis dan Ibunya tidak sanggup nahan sesak di dadanya. Dia pun pingsan karena merasa tidak sanggup mendengar berita tersebut. Untung Dwi dengan sigap menangkap tubuh Ibunya jadi tidak sempat jatuh. Di bawalah Ibunya untuk di istirahatkan sementara waktu. Sementara waktu Kakak ipar Dwi cepat bertindak mengurus semuanya supaya jenazah, segera bisa dibawa pulang dan segera dikebumikan.
__ADS_1
Dwi menelpon semua keluarganya, baik yang ada di Kota Bandung dan yang ada di luar kota. Keluarga Dwi keluarga besar. Dia berasal dari keluarga Ningrat. Maka dari itu Dwi tidak boleh sembarangan berhubungan dengan wanita. Setelah semua dikabari. Pada akhirnya jenazah bisa dibawa pulang juga.
Ibunya sudah sadar. Namun air matanya tidak berhenti menetes. Dia sangat menyesal sebab diakhir hidupnya Bapaknya Dwi sering banget dimarahin sama Ibunya Dwi, bila Bapaknya Dwi minta berobat ke rumah sakit. Ibunya Dwi terlalu pelit, untuk berobat suaminya saja tidak mau mengeluarkan. uang inilah akibatnya. Penyesalan datang setelah suaminya bener bener pergi meninggalkannya.
Kabar duka juga akhirnya sampai ke Aisyah dan Ibunya. Aisyah ikut bersedih. Sebab sudah dari kecil Aisyah suka main disitu dan bekerja juga. Setidaknya hatinya mengingat kebaikan Bapaknya Dwi. Walaupun setelah Aisyah dewasa Bapaknya Dwi menolak Aisyah untuk di nikah sama Dwi. Aisyah ikut bareng tetangga yang lain bertakziah ke rumah duka. Tidak banyak kata Yang Aisyah ucapkan, didalam hatinya cukup mendoakan.
Karena Dwi masih terpukul dengan kepergian Bapaknya, juga kepergian Wulan. Sementara Uci belum bisa hadir karena keluarga Dwi g mau jadi tambah kacau dan malu sama tetangga.
Dwi melihat Aisyah diantara pelayat. Dwi merasa ingin mendekat kepada Aisyah dan berkeluh kesah sama Aisyah. Ada kerinduan dalam tatapannya. Cintanya sangat besar sehingga tidak mampu menghapusnya begitu saja. Sekalipun sudah berbagai cara untuk melupakan Aisyah. Tidak ada yang mampu mengganti posisi Aisyah di hati Dwi mau Wulan atau pun Uci sama sama tidak bisa menggantikan posisi Aisyah di hati Dwi.
Tatapan Dwi kepada Aisyah yang syarat dengan luka dan rindu. Jadi perhatian Om nya Dwi. Beliau merasa sangat berdosa sam ponakan nya tersebut. Melihat luka itu membuat sesak hati Om nya Dwi. Menyesal sungguh hati Om nya Dwi. Namun semuanya tidak bisa dikembalikan. Semua sudah terlanjur terjadi kalau pun sekarang mau menyetujui Aisyah untuk menikah dengan Dwi akan banyak hati yang terluka.
Aisyah menyadari dari tadi Dwi menatapnya. Aisyah tidak berani menengok ke arah Dwi, Aisyah khawatir akan goyah, dan timbul lagi rasa iba. Aisyah menjaga hatinya supaya tidak merasakan sakit lagi. Aisyah dengan terburu buru pamit pulang, supaya tidak terlalu lama membuat Dwi tersiksa. Aisyah sadar dengan Cintanya Dwi yang tidak pernah pudar sedikit pun kepada dia. Dari tatapan Dwi terlihat cinta dan rindu.
Aisyah sungguh ikut merasakan kesedihan Dwi. Sebab dari kecil mereka bersama, Aisyah tau persis luka hati seorang Dwi. Dwi begitu dekat Bapaknya dari pada Ibunya. Sekalipun Bapaknya ikut melarang juga. Akan tetapi Bapaknya Dwi selalu memenuhi apa yang Dwi mau. Bapaknya sangat menyayangi Dwi.
Singkat cerita Bapaknya Dwi selesai dimakamkan. Semua keluarga dan tetangga sudah kembali ke rumah masing masing. Di rumah Keluarga Dwi berkumpul semua kerabat baik dekat ataupun jauh. Orang tuanya Wulan pun datang, termasuk orang tuanya Uci. Tidak ada drama dengan pertemuan mereka karena keluarga Wulan sadar tidak baik membahas masalah ditempat orang yang sedang berduka.
Kembali pada Wulan, siang tadi Ayahnya telpon mengabarkan kalau mertuanya sudah tiada. Wulan menangis, karena Wulan sangat menyayangi mertuanya itu, selama Ayahnya Dwi sakit Wulan Lah yang mengurusnya. Ibunya jarang ada dirumah. selalu banyak bergaul dengan gang sosialitanya. Sehingga suaminya terabaikan. Wulan ingin sekali ke Bandung, namun Kakeknya melarang, khawatir dengan kandungan Wulan yang masih rawan. Sehingga Wulan cukup menangis didalam kamarnya. Wulan bersujud sama Allah dan memohon ampunannya. Wulan sadar sudah lama melupakan Tuhannya. Dia berdoa dengan khusu, dengan cucuran air mata penyesalan.
Tidak beda dengan keadaan Wulan, Uci pun sama. Dia menangis dalam sesal. Namun semua sudah terjadi, dia begitu mencintai suaminya. Apapun akan dilakukan asal dia tetap berada disisi Dwi. Dia ingin memeluk Dwi yang sedang dalam duka yang mendalam, tapi apa daya dia tidak mampu melakukannya. Dia terhalang oleh statusnya yang menjadi istri siri Dwi.
Disaat semua berduka ada seorang tamu datang. Mereka semua tidak mengenal wanita tersebut. Dia membawa anak berusia 10 tahun. Dia datang sambil menangis. Om nya Dwi datang menyambut dan bertanya.
" Saya mau ketemu Ibu Ninggrum "
" Kalau boleh tau Ibu siapanya Ibu Ninggrum Kakak saya "
" Boleh kah saya ketemu dulu, baru saya akan bicara siapa saya"
" Baiklah Mangga Ibu masuk dulu, kebetulan sekali kami sedang berduka"
" Boleh saya bertanya "
" Silahkan Ibu mau nanya apa"
" Apakah betul Pak Sobirin sudan tiada " tanya wanita itu sambil menitikkan air mata"
" Betul bu, baru saja selesai di makam kan"
" Oh iya sebentar saya panggil dulu Kakak saya " ujar Omnya Dwi sambil berlalu untuk memanggil Kakaknya.
__ADS_1
Ibunya Dwi datang dengan mata bengkak karena dari tadi tidak berhenti menangis. Namun dia tidak boleh mengabaikan tamu.
" Mba kenalkan saya Fitri "
" Saya Ninggrum, ada perlu apa mencari saya, karena saya merasa tidak mengenal dek Fitri" sahut Ibunya Dwi.
" Maaf sebelumnya mungkin mba akan kaget setelah ini, saya tidak bisa bicara semuanya. Sebaiknya bacalah surat ini. Didalam surat itu mba akan tau siapa saya sebenarnya" ujar wanita tersebut
Surat diambil oleh Om nya Dwi dan dibaca dengan seksama. Awalnya tidak ada yang aneh di awal surat, akan tetapi dipertengahan surat Om nya Dwi mengeratkan giginya dan mukanya menunjukan kemurkaan.
Didalam surat tersebut mengatakan kalau Fitri itu istri kedua Bapaknya Dwi, dan anak yang berumur 10 tahun itu adiknya Dwi. Semua keluarga sungguh Syok, terlebih Ibunya Dwi langsung jatuh pingsan. Sungguh dia tidak menyangka dengan kejadian ini. Semua secara tiba tiba, duka belum juga pergi, masalah baru datang menyapa. Apa ini karma dari Aisyah yang selalu mereka hina dan dizalimi.
Dwi tidak bisa menerima berita itu. Om Dwi berusaha mencari bukti kebenaran berita itu.Om Dwi bertindak supaya Mba Fitri diamankan dulu. Mba fitri di bawa ke rumah kerabatnya Bapaknya Dwi, Ditakutkan kalau masih disitu bertahan. Ibunya Dwi semakin murka.
" Maaf mba sebaiknya Mba Fitri dan putranya ikut dulu uwa nya Dwi dulu. Besok kita bicara lagi, saya janji semua besok akan saya selesaikan"
" Baik pak saya permisi dulu, saya mau ikut Uwa dulu " Dan Fitri pun pergi dari rumahnya Dwi. Dia sedih sebenarnya karena suaminya yang sudah hampir setahun tidak pernah datang. Tiba tiba khabar meninggal. Itulah kenapa dia nekad datang ke rumah Keluarganya Dwi. Selama ini dia menjadi istri kedua yang sangat sabar. Pernikahannya sudah berjalan 12 tahun. Sebab Bapaknya Dwi sakit sakitan dalam Setahun ini, makanya dia g pernah datang lagi ke rumah Mba Fitri. Walaupun nafkah selalu dipenuhi. Sebab Bapaknya Dwi sangat mencintai istri keduanya tersebut.
Bapaknya Dwi bertahan dengan Ibunya Dwi bukan karena Cinta tapi karena malu sama anak anak nya yang sudah pada dewasa, dan beliau sudah punya cucu. Terpaksa Bapaknya Dwi bertahan sekalipun banyak kecewa sama Ibunya Dwi. Dikarenakan Ibunya Dwi lebih kaya dari pada Bapaknya Dwi. Namun Bapaknya Dwi sebenarnya punya usaha yang tidak diketahui oleh Ibunya Dwi. Ya hasil dari usaha itulah yang selalu mengalir kepada istri mudanya. Yang tau akan usahanya hanya istri mudanya. Dan dikelola juga sama istri mudanya.
Sebenernya masalah materi sungguh mba Fitri tidak kekurangan sekalipun tidak dibagi warisan oleh Bapaknya Dwi. Karena Konveksi yang dikelolanya sudah dipersiapkan Bapaknya Dwi buat Mba Fitri dan anaknya. Konveksinya cukup maju, Sebenernya mereka hidup tidak jauh hanya beda kampung saja. Kepintaran Bapaknya Dwi lah sehingga tidak tercium oleh keluarga Dwi.
Selama setahun Mba fitri tau kalau suaminya sakit, Mba Fitri tidak mau menemuinya di rumah Dwi karena saking mencintai suaminya, dan menghargainya. Mba Fitri sangat patuh sama suaminya. Dan akhirnya sampai juga berita duka itu ke telinganya. Para tetangga saling berbicara kalau Bapak sobirin meninggal. Luruh semua kekuatan batinnya yang selama ini dia tahan.
Sampai akhirnya dia putuskan untuk mendatangi rumah madunya. Dan mengenalkan diri juga Anaknya. Yang dipikiran Mba fitri anaknya perlu mengenal saudaranya, sebab surat wasiat dari suaminya. Seandainya dia tiada maka sampaikanlah surat ini pada keluarganya.
Masih dirumah keluarga Dwi, mereka lagi mengadakan tahlil buat mendiang, para tetangga sibuk membantu menyiapkan semuanya. Tahlilan hari pertama sudah dilaksankan, semua para tetangga dan kerabat sudah kembali kerumah masing masing.
Tinggallah keluarga inti, Dwi bicara sama Omnya " Om sebenarnya siapa mba Fitri itu, dan anaknya ko mirip Bapak" tanya Dwi sambil dia menduga duga dalam hatinya.
" Kamu harus sabar ya menerima semua ini, sekalipun kecewa kamu harus menerima dengan lapang dada. Itu tadi istri kedua Bapak kamu Wi, dan tadi yang dibawanya anaknya, disurat yang ditulis Bapak kamu. Beliau meminta kamu mau menerima adik kamu, sebab dia tidak punya saudara yang lain. Ibunya anak yatim piatu, Ibunya anak tersebut sebatang kara" Om menjelaskan dengan panjang lebar.
Dwi tidak mampu berkata apa apa. Karena dia pun sama melakukannya hal itu punya anak dari istri kedua. Maka dari itu Dwi hanya tertunduk tidak bisa ngomong apapun.
" Tidak Om saya tidak mau menerima, bisa aja dia penipu, kenapa Om langsung percaya begitu saja" teriak kakaknya Dwi tidak terima begitu saja.
" Nanti Om akan mencari bukti dulu kalian tenangkan diri dulu. Sekarang kalian istirahat, toh dari tadi kalian belum istirahat, Om janji besok bakal ada jawaban yang pasti. Om minta siapkan mental apapun jawabannya.
Giman kelanjutan cerita ini....
bersambung
__ADS_1
,
"