
Aisyah sudah berubah statusnya, walaupun pernikahannya bukan yang diinginkan. Aisyah sangat bingung dan canggung. Di satu sisi dia tau hukum agama. Dia harus taat sama suami. Disisi lain hatinya sangat menolak. Belum bisa menerima.
Revan pun sama dia belum mengenal Aisyah,. Dia sejak kecil tinggal di luar pulau. Dari kecil dia berpisah sama Ayah dan Adiknya. Dia ikut ibunya. Orang tuanya berpisah sejak Revan berumur 7 tahun, sementara Alan berumur 1 tahun, memang umur Alan dan Revan terpaut cukup jauh.
Revan harus bertindak menikahi Aisyah untuk menyelamatkan nama baik keluarganya. Juga keluarga besar Aisyah. Sekarang Revan bingung harus apa dan bagaimana.
Revan dan Aisyah ada didalam kamar, mereka mau mendiskusikan apa yang akan mereka putuskan kedepannya. Karena tidak mungkin terus menerus canggung.
Ibunya Aisyah sakitnya semakin parah. Darahnya naik turun tinggi sekali. Setelah sarapan tadi sempet pingsan. Ibunya Aisyah memang sudah saki sakitan dari dulu. Ditambah persoalan yang kemarin terjadi. Tambah berat beban pikirannya.
Ibunya Aisyah tiba tiba pingsan lagi, sepupu Aisyah yang kebetulan masih ada kaget bukan main. Ibunya Aisyah jatuh dari tempat tidur. Sepupunya Aisyah berteriak.
" Bibi , kenapa bi, bangun bi. Aisyah, Syah tolong, tolong. Ini bibi pingsan " jerit sepupu Aisyah.
" Apa teh, Ibu pingsan " Seru Aisyah sambil berlari menuju kamar ibunya.
" Iya Syah tadi bibi jatuh. Entah bibi mau apa. Tiba tiba terdengar suara ada yang jatuh. Ternyata bibi " ucap sepupunya.
" Ayo dek kita bawa Ibu kerumah sakit. Biar Mas angkat dulu pindahin ke sofa luar kamar biar mudah" Kata Revan suaminya Aisyah.
" Iya mas " Aisyah berkata sambil tidak berhenti menangis. Aisyah sangat cemas. Takut orang tuanya satu satunya kenapa kenapa.
Dengan cepat Revan membawa Ibunya Aisyah ke rumah sakit. Tanpa banyak drama Ibunya Aisyah dibawa ke IGD. Lama mereka menunggu dengan perasaan cemas, Aisyah menangis terus menerus.
" De sabar ya, kita berdoa saja. Memohon sama Allah supaya ibu pulih kembali" ujar Revan sambil memeluk Aisyah istrinya.
" Mas aku takut, aku sungguh takut " sahut Aisyah sambi air matanya menetes terus.
Tidak lama kemudian dokter yang memeriksa ibunya keluar. Dan mengabarkan Ibunya Aisyah sudah sadar. Dan bisa dijenguk. Dan tidak lama dari itu dipindahkan keruangan perawatan.
Dokter mengatakan Ibunya terkena penyakit lambung, juga hipertensi. Untuk tidak struk juga. Alhamdulillah tidak terjadi yang ditakutkan oleh Aisyah.
Dwi mendengar Ibunya Aisyah masuk rumah sakit. Saat itu juga Dwi pergi kesana untuk menjenguk Ibunya Aisyah. Disana Dwi bertemu dengan Revan dan Aisyah. Dwi dengan tidak tau malu langsung mendekat kan diri sama Aisyah dan ingin memeluk Aisyah. Kebiasaan dulu saat Aisyah ada yang buli Dwi lah yang selalu menenangkan. Dwi masih tidak sadar kalau kelakuannya itu menimbulkan kemarahan Revan sebagai suaminya, dan juga keluarga Aisyah.
Revan dengan cepat menghalangi tubuh istrinya. " Mau apa mas, jangan berani mendekat, Aisyah ini istri saya Mas. Atau Mas belum tau ya, kenalkan saya Revan suami dari Aisyah " ucap Revan sambil memandang dengan tatapan yang sangat tajam sama Dwi.
" Oh maaf, saya lupa kalau Aisyah sudah menikah, kebiasaan saya dari dulu kalau Aisyah ada masalah sayalah yang selalu memeluknya "jawab Dwi sekalian memprovokasi, suami Aisyah.
" Ya mungkin itu dulu, sekarang Aisyah sudah dewasa dan sudah menikah. Tolong Anda menjaga sikap" Berang Revan.
" Syah, gimana keadaan Ibu, sakit apa ibu?" tanya Dwi kepada Aisyah tanpa memperdulikan Revan suami Aisyah.
" Bener ya Anda itu sungguh tidak tau malu. Tolong hargai saya suami dari Aisyah, silahkan Anda keluar. Sebab Anda tidak dibutuhkan disini.
__ADS_1
Revan menarik tangan Aisyah untuk menjauhi seorang yang tidak tau malu itu. Revan dan Aisyah masuk ke kamar ibunya Aisyah.
" Bu, gimana perasaan ibu, apa ada yang sakit. Dimana yang sakitnya bu" Tanya Aisyah sambil dengan wajah yang sangat cemas.
" Ibu sudah sedikit baikan Syah, kamu g usah cemas ya. Ibu pasti segera sembuh" sahut ibunya Aisyah sambil tersenyum yang dipaksakan.
" Bu, sebaiknya ibu istirahat ya, agar ibu cepet pulih dan bisa cepat pulang" ucap Revan
" Iya nak Revan, nak bolehkan ibu bicara sama nak Revan berdua saja boleh?" kata ibunya Aisyah.
Aisyah paham, lalu Aisyah keluar untuk memberi ruang dan waktu sama ibu dan suaminya.
" Nak Revan, Ibu nitip Aisyah ya, dari kecil Aisyah hidup menderita, sampai saat ini juga Aisyah susah sekali untuk hidup tenang dan bahagia, ada saja yang mengganggu hidupnya Aisyah. Tolong bawa Aisyah dari kota ini, supaya jauh dari Dwi dan keluarganya" pinta Ibunya Aisyah penuh harap.
" Bu kalau bagi saya menjaga Aisyah sudah menjadi kewajiban, dan saya sangat mau membawa Aisyah ke luar kota. Tapi gimana dengan Aisyah apa mau meninggalkan Ibu disini. Atau Ibu mau ikut kami sekalian pindah dari kota ini ?" jawab Revan. Dia tidak yakin Aisyah mau pindah, bisnis Aisyah semua ada di Bandung.
" Nanti masalah Aisyah ibu yang akan bilang sendiri. Tapi kalau untuk ibu, ibu tidak akan meninggalkan rumah peninggalan Ayahnya Aisyah. Ibu mau sampai menutup mata di rumah itu. Terlalu banyak kenangan manis disitu. Ibu mau menjaga dan merawat nya sampai ibu tiada" sahut ibunya Aisyah.
Sementara Revan bicara berdua dikamar rawat ibunya Aisyah. Aisyah keluar kamar, Aisyah tidak menyangka kalau Dwi masih menunggu di situ.
" Syah keadaan ibu giman " Tanya Dwi sambil mau meraih tangan Aisyah.
Aisyah mundur, dan menghindar dari Dwi
" Kak tolong jangan berani menyentuh Aisyah, kita bukan muhrim, Kalau ibu Alhamdulillah baik" jawab Aisyah dengan ketus.
ujar Dwi lagi, Dia masih berusaha membujuk Aisyah, dia berharap untuk bisa kembali pada Aisyah.
" Kak, semua sudah terjadi saya sudah sah menjadi istri Mas Revan baik secara agama juga secara negara. Kakak sebaiknya jangan ganggu lagi saya. Kita sudah masing masing
punya keluarga, sebaiknya Kakak urus istri Kakak apalagi anak kakak yang sudah 2 itu. Jadilah Ayah yang baik untuk anak anaknya" Sahut Aisyah pada Dwi mencoba memberi pengertian terhadap Dwi.
" Syah aku masih cinta sama kamu, aku g bisa hidup jauh dari kamu, aku g bahagia Syah " keluh Dwi sambil menatap Aisyah dengan sendu.
" Kak tolong banget jauhi saya, dosa hukumnya kalau kita seperti ini. Allah sangat melaknat orang berselingkuh, jangan sampai syetan merajai hati Kakak cukup berbuat maksiat dulu, sekarang coba kakak bertaubat" Ujar Aisyah mencoba menyadarkan Dwi yang kekeuh itu.
" Tolong Syah kasih tau aku, gimana caranya melupakanmu, Aku sakit Syah, Aku hancur, sangat hancur" desah Dwi dengan dada rasanya sungguh sesak dibuatnya.
" Kak cinta tidak usah memiliki, melihat orang yang kita cintai harusnya kita ikut bahagia, mencintai yang paling tinggi itu mengikhlaskannya dia hidup bahagia. Saya akan selalu berdoa untuk kebahagiaan Kakak dan rumah tangganya, permisi Aisyah mau ke mushola dulu" Pamit Aisyah untuk menghindari Dwi dan untuk melaksanakan sholat duha, yang rutin Aisyah lakukan.
Akhirnya dengan berat hati Dwi meninggalkan rumah sakit, hatinya sungguh sakit, dia tidak sanggup melihat Aisyah dimiliki orang lain. Cintanya sangatlah besar dan dalam. Dia pergi g tentu tujuan. Dalam pikirannya dia terus mencari cara gimana caranya bisa kembali memiliki Aisyah. Aisyah satu satunya perempuan yang tidak Dwi sentuh. Dwi sangat menjaga Aisyah. Saking cintanya dia tidak mau merusak Aisyah. Sungguh cinta sejati.
Selesai sholat Aisyah kembali ke kamar Ibunya, " Bu ada apa, sampai ibu mau ngomong berdua sama Mas Revan, Aisyah jadi penasaran" ucap Aisyah sambil duduk dipinggir ranjang pasien.
__ADS_1
"Syah mau kah kamu ikut suamimu, sekarang kamu sudah jadi seorang istri, kemanapun suamimu pergi kamu wajib mengikutinya" ucap ibunya Aisyah
" InsyaAllah Bu, tapi Ibu ikut juga ya" jawab Aisyah.
" Syah bukan ibu tidak mau ikut, Ibu g mau meninggalkan rumah peninggalan Bapakmu" ujar Ibunya Aisyah lagi.
" Tapi bu, Aisyah g mau pisah sama ibu" sahut Aisyah sambil matanya berkaca kaca. Sungguh dia tidak bisa membayangkan jauh dari Ibunya. Apalagi kondisi Ibunya yang sakit sakitan itu
" Tenang de, kita tidak usah pindah terburu buru juga, tunggu ibu sembuh ya" bujuk Revan suami Aisyah.
Ditempat yang lain ada seorang perempuan yang terus menerus menangis, dia tidak terima suaminya terus mengejar cinta pertamanya, ya dia Uci. Dia merasa terabaikan, tubuhnya bersama dia, hatinya jauh di tempat lain. Dwi memang pulang ke rumah Uci, namun dia pulang dalam keadaan sangat kacau. Uci tidak terima, udah segala usaha ditempuh untuk meluluhkan hati suaminya. Sekalipun Dwi bergairah dan mau berhubungan dengan Uci, disebabkan oleh Uci yang selalu memberi obat.
Seandainya normal, Dwi tidak mau menyentuh Uci, kecuali dia mabuk itupun kalau Dwi mencapai puncak yang disebut nama Aisyah.
Uci sungguh merana dan sakit hati. namun karena cinta yang sangat besar dia tidak berani berbuat apa apa. Dia tidak mampu marah, karena pernah sekali waktu Uci protes Dwi langsung melayangkan tangannya, sampai Uci babak belur. Dari situ Uci tidak pernah berani lagi protes. Apa yang dilakukan Dwi Uci membiarkannya.
Ada juga saatnya Dwi seakan menumpahkan kasih sayang kepada Uci dan anaknya. Tapi sedikit saja Uci buat kesalahan tangannya langsung melayang, malah kaki pun ikut beraksi. Pernah sekali waktu Dwi pulang tengah malam, kondisi Dwi sedang mabuk, Uci terbangun dari tidurnya. Buru buru Uci membuka pintunya. Saat itu Dwi langsung meminta dibikinin Mie instan, Uci langsung bikin. Saat mau dikasih posisi Dwi udah tertidur. Uci mana berani membangunkan. Uci kembali ikut tidur.
Namun apa yang terjadi, pas Dwi bangun melihat Uci lagi tertidur dan melihat Mie nya sudah dingin. Tanpa aba aba Dwi berteriak dan menendang Uci sampai jatuh dari tempat tidur. Yang bisa Uci lakukan cuma menangis. Dia tidak sanggup membantah, serba salah hidup Uci.
Pernah Ayahnya Uci meminta Uci pulang saja. Dan disuruh cerai saja. Orang tua mana yang ridho anaknya disakiti terus. Tapi karena rasa cinta Uci yang begitu besar makanya dia rela diperlakukan seperti itu.
Dwi sebenarnya pria baik kalau dia dalam keadaan normal. Kalau alkohol sudah merasukinya Dwi berubah menjadi iblis yang sangat menakutkan. Disini salah Uci juga yang selalu memberi suaminya obat, sabu dak sebagainya. Uci banyak uang sehingga dia mampu beli hal yang seperti itu. Dan semua itu merugikan Uci sendiri. Merubah sosok Dwi jadi jahat. Mungkin itu yang harus diterima Uci sebab dan akibat.
Kita lanjut dengan cerita Wulan. Tidak terasa anak Wulan sudah berumur 5 bulan. Lagi lucu lucunya. Sementara Wulan terus berubah lebih baik. Wulan rajin pergi ko pondok pesantren, semua usahanya diserahkan sama Arman. Kakeknya mendukung dengan keinginan Wulan untuk memperdalam ilmu agama.
Wulan berubah menjelma jadi sosok yang tidak tersentuh. Dia sangat menjaga marwahnya. Wulan selalu hati hati bila ketemu lawan jenis. Termasuk Arman, Wulan sedikit demi sedikit melupakan sakit hatinya. Dia ingin selalu dekat dengan orang orang baik. Dia tidak tertarik lagi dengan asmara. Dia sudah trauma dengan namanya pernikahan.
Wulan sedikit demi sedikit menjauh juga dari Arman. Wulan tidak mau terlalu dekat dengan Arman. Wulan berfikir Arman terlalu baik untuk Wulan. Arman sosok yang sangat baik, pemuda yang bertanggung jawab. Maka dari itu Wulan sadar kalau dia sungguh tidak pantas dengan Arman.
Sebaliknya dengan Arman semakin kesini semakin mengagumi sosok Wulan. Arman tidak berani menyatakan perasaannya. Dia merasa canggung, malu, segan kalau mengharapkan cucu bosnya sendiri.
Arman tau, Wulan menjauhinya. Arman sadar siapa dia, maka dari itu Arman tidak memaksakan perasaannya. Arman hanya mencintai dalam diam. Cinta tidak usah memiliki itu prinsip Arman.
Balik lagi dengan Aisyah. Ibunya Aisyah sudah bisa dibawa pulang. Sudah dinyatakan sembuh. Aisyah meminta sepupunya tinggal bersama Ibunya. Aisyah hari ini mau ikut ke suaminya tapi bukan ke luar kota, masih di kota Bandung. Cuma beda daerah. Kebetulan Revan punya rumah didekat tempat produksi punya Aisyah. Makanya Aisyah dengan senang hati mengikuti Ibunya.
Selain masih satu kota sama Ibunya, Aisyah masih bisa meneruskan bisnisnya.
Aisyah sampai saat ini masih gadis. Revan belum berani menyentuh Aisyah. Begitupun Aisyah masih ada rasa takut untuk memulai.
Akhirnya Aisyah sampai juga di rumah Revan. Aisyah masuk dan duduk di sofa karena dia merasa lelah. Akhir akhir ini dia kurang tidur karena terlalu banyak pikiran. Dia bener bener merasakan lelah, apa yang dia alami semua mengejutkan. Sampai saat ini Aisyah masih belum bisa percaya dan hatinya masih tidak terima.
Revan pun sama dia tidak menyangka dengan semua apa yang terjadi, Revan mencoba berdamai dengan dirinya. Revan belum menemui kelurganya. Dan belum menceritakan kalau dia jadi pengantin pengganti nya Alan. Revan sungguh bingung. Ada rasa khawatir takut orang tuanya tidak mau menerima Aisyah. Sebab hasutan Dwi yang sangat merugikan Aisyah. Revan pun sempet ragu. Namun setelah mengenal Aisyah beberapa minggu. Revan tidak percaya dengan omongan Dwi.
__ADS_1
Gimana kelanjutannya....nantikan bab berikutnya.
Bersambung.....