Perjalanan Seorang Gadis Miskin

Perjalanan Seorang Gadis Miskin
Terlalu lelah menanti


__ADS_3

Wulan saat ini hatinya bahagia tidak ada rasa sepi. Orang tuanya datang menjenguk, dan disini orang tuanya ingin memastikan bagaimana dengan niat Wulan selanjutnya. Wulan sudah meninggalkan Dwi satu tahun lamanya. Anaknya sudah lahir berumur 1 bulan. Orang tua Wulan ingin sebuah kepastian. Saat di tanya Wulan menjawab dengan pasti akan berpisah dari Dwi.


Orang tua Wulan setuju dan diurus lah surat perpisahan itu. Tidak terasa waktu cepat berlalu pada akhirnya panggilan sidang pertama datang ke rumah Dwi. Kebetulan Dwi berada di rumah Uci. Surat itu mengabarkan bahwa sidang akan digelar 1 hari lagi. Surat dari pengadilan agama di terima sama bi Lastri, dan disimpan dikamar Dwi. Sementara Dwi tidak pulang pulang ke rumahnya. Alhasil sidang digelar tanpa dirinya datang.


Sidang akan dilanjutkan 2 minggu lagi. Sebenarnya Wulan pengen ketemu sebelum sidang di gelar. Dia mau memberitahu bahwa Wulan sudah punya anak bersama Dwi. Sebab Dwi tidak hadir Wulan sangatlah kecewa. Wulan untuk sementara tinggal di rumah orang tuanya di daerah Budi asih. Wulan sadar sudah tidak ada harapan lagi buatnya untuk bersama suami yang dicintainya. Dwi seolah memilih istri keduanya. Itu pemikiran Wulan. Sehingga Wulan memantapkan niatnya untuk segera melepaskan diri dari hubungan yang tidak sehat ini.


Surat sidang yang ke dua datang, kebetulan Dwi berada dirumahnya bersama keluarganya. Keluarga Dwi lagi berkumpul. Saat surat datang, dan Dwi membacanya Dwi sungguh kaget panggilan sidang ke dua. Dwi tidak merasa mendapat panggilan sidang pertama. Akhirnya Dwi bertanya pada orang yang berada dirumah. Disinilah Dwi baru sadar kalau selama beberapa hari ini Dwi tidak pulang. Saat dia masuk kamar dia melihat amplop coklat di kamarnya. Tanpa dibuka pun Dwi tau apa isinya. Dwi hanya pasrah dengan takdir yang akan dijalaninya. Betul belum ada cinta namun kasih sayang Dwi sama Wulan cukup besar, karena kebaikan serta kesabaran Wulan yang membuat Dwi menyayanginya.


Tidak terasa waktu terus bergulir, hari yang dinantikan pun tiba. Sidang ke dua digelar. Dwi hadir dengan Omnya. Saat Dwi lagi menunggu di ruang tunggu. Tidak lama rombongan keluarga Wulan datang, Dan Wulan membawa Anaknya Alif. Dwi sungguh terpana setahun mereka berpisah keadaan Wulan semakin cantik, kulit yang dulu pucat kini bersinar. Penampilan Wulan berubah. Wulan sudah hijrah. Arman yang membimbing Wulan sehingga Wulan akhirnya mau menutup auratnya. Wulan seakan menjelma kaya bidadari.


Dwi berdiri ingin memeluk istrinya itu. Namun belum juga sampai Orang tua Wulan menghalangi dan melarang Dwi mendekati Wulan. " Sayang apa kabar, sayang kenapa kamu ninggalin aku" tanpa sadar Dwi berbicara seolah dia tidak melakukan kesalahan.


" Wulan baik mas, gimana dengan Mas Dwi. Apa selama di tinggal Wulan mas hidup dengan baik dan bahagia dengan istri kedua Mas" Sahut Wulan.


Deg hati Dwi seolah dipukul oleh godam. Dwi baru sadar apa yang terjadi. " Sayang bisa mas jelaskan boleh kah kita bicara sebentar, kalau perlu cabut tuntutannya ya. Kita perbaiki hubungan kita tanpa harus ada perceraian. Aku janji Adil buat kamu maupun Uci. Toh di agama kita tidak melarang berpoligami" ujar Dwi meminta pada Wulan untuk tidak melanjutkan sidang cerainya.

__ADS_1


" Mas, hubungan kita diawali dengan kesalahan. sebaiknya kita akhiri, kita benahi hidup kita dan kita tata apa yang kemarin berantakan. Jadilah manusia yang lebih baik. Mas dekat kan lah diri mas ke jalan Allah" Sahut Wulan dia berharap Dwi menyadari semua kesalahannya dan kembali ke jalan Allah. Wulan akan pasti bahagia Ayah dari anaknya bisa berubah, sekalipun tidak bisa bersama.


" Wulan tolong beri aku kesempatan kedua dan bantu aku buat memperbaiki diri. Tanpamu hidupku hampa Wulan. Aku sangat menyayangimu. Sekalipun kamu belum bisa memberikan aku anak. Dwi belum tau kalau Wulan sudah punya anak.


" Mas sejujurnya, saat aku pergi itu dalam keadaan hamil, dan 2 bulan yang lalu aku melahirkan seorang putra. Aku beri nama Alif dan belum ada nama panjangnya. Karena saat sidang pertama, aku berniat ketemu kamu dan memberitahukan keberadaan anak kamu. Aku mau kamu ngasih nama panjang anak kita" ujar Wulan sambil menahan tangis.


" Wulan, benarkah itu. Aku tidak salah dengar. Mana Wulan mana anakku tolong ketemukan aku dengan nya" seru Dwi sambil meneteskan air mata haru. Dia sungguh tidak menyangka dengan apa yang dia dengar. Antara percaya dan tidak.


Namun sidang akan dimulai baik Dwi atau Wulan dipanggil. Dwi masih berharap ada satu kesempatan lagi. Namun dirinya kalah. dan putusan sidang sudah ketuk palu kalau mulai hari ini Wulan bukan istrinya lagi. Wulan menangis teringat akan anaknya. Dan juga setelah mendengar penjelasan Dwi kenapa dia tidak datang di sidang pertama. Namun sudah terlanjur nasi audah jadi bubur. Semua harus selesai sampai disini jodoh Wulan dan Dwi.


" Pah, beri biarkan aku bertanggung jawab dengan Alif, biaya hidup Alif aku yang akan bertanggung jawab sampai dewasa nanti. Aku ingin menebus kesalahanku yang kemarin, maafkan aku yang penuh dosa ini.


" Baiklah kami orang tua tidak akan menghalangi kamu untuk bertanggung jawab. Dan tidak akan membatasi kamu untuk bertemu anakmu. Tapi Wulan tidak bisa tinggal disini, Wulan tinggal di Pangandaran bersama kakeknya. Wulan bekerja membantu Kakeknya disana. Kalau kamu mau ketemu silahkan kamu datang kapan saja" ujar orang tuanya Wulan. Karena mereka pikir untuk apa menghalangi dan memelihara dendam maka mereka saling memaafkan. Demi Alif Cahaya Basuki.


" Makasih pah, mah, Wulan mau memaafkan aku. Mungkin ke depan kalau mau bertamu aku akan telpon dulu kamu Wulan. Apa nomor nya masih yang dulu" tanya Dwi berharap Wulan tidak menutup akses buat komunikasi.

__ADS_1


Dwi pun pamit pulang karena hari pun sudah mulai malam. Dwi memberikan satu kartu ATM buat Wulan buat kebutuhan Alif. Wulan menerimanya. Sekalipun dia mampu memberikan segala buat Alif. Wulan tidak mau buat orang berdosa. Karena seyogyanya kewajiban Ayah untuk menafkahi anaknya.


Di lain tempat Uci uring uring an karena Dwi belum juga pulang. Uci sungguh posesif. Dia sangat takut Dwi meninggalkannya. Dia berusaha mengambil hati Dwi dengan berbagai cara, termasuk selalu memberi obat supaya Dwi selalu bergairah untuk mencumbunya. Kadang Dwi juga tidak paham dengan dirinya. Setiap kali bertemu dan setelah minum apa yang diberikan oleh Uci. Dwi merasa sangat bersemangat dan bergelora.


Dwi tiba dirumah Uci pukuk 10 malam. Dwi membawa kunci, jadi dia tidak usah repot repot membangunkan orang rumah. Saat Dwi masuk Uci ada di sofa. Uci berpakaian sangat terbuka. Uci langsung menyongsong sang suami, seperti biasa langsung Uci memberi teh hangat yang sudah Uci persiapkan. Akhirnya sekalipun kelelahan hasrat Dwi tidak bisa dibendung, apa lagi dengan Uci yang sengaja berpakaian terbuka. Terjadilah apa yang Uci mau. Semalam hampir tidak tidur karena Dwi terus menggempur Uci, dengan berbagai gaya. Uci bahagia mampu membuat Dwi bertekuk lutut padanya


Di tempat yang berbeda Aisyah lagi menghadapi dua orang berbeda usia sedang melamarnya. Aisyah bukan mau menolak cuma dia belum siap. Ya, Alan yang melamar Aisyah, dia datang bersama Bapaknya. Ibunya Aisyah sangat bahagia karena Ibunya Aisyah tau Aisyah sudah lama mengagumi Alan. Aisyah meminta waktu sama Alan dan Bapaknya untuk memohon sama yang maha kuasa. Aisyah mau melakukan sholat istikharah dulu supaya jawabnya terbaik menurut Allah, Aisyah tidak mau gegabah menentukan masa depannya. Aisyah takut apa yang terjadi pada rumah tangga Dwi terjadi padanya.


Alan pun menyanggupi menunggu sampai Aisyah siap, dan Alan akan menunggu dengan sabar.


Berita dilamarnya Aisyah sama Alan nyampai juga ke telinga Dwi. Dwi sangat marah, Dwi merasa dikhianati sama Alan. Dwi tidak rela Alan menjadi suami Aisyah sampai kapanpun Dwi tidak akan rela melepaskan pujaan hatinya sama siapapun. Dia berencana mau melamar Aisyah, dan mau meminta ijin Uci untuk menikahi Aisyah. Duh dasar orang yang serakah.


Apa jawaban dari Aisyah, tunggu lah bab berikutnya. terimakasih sudah mengikuti kisah ini sampai sejauh ini.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


__ADS_2