Perjalanan Seorang Gadis Miskin

Perjalanan Seorang Gadis Miskin
Usaha Dwi


__ADS_3

Dengan mengerahkan segala kemampuannya Dwi berusaha untuk menemukan Aisyah. Dia bener bener datang ke rumah Alea. Dwi berterus terang sama Alea dia sangat mencintai Aisyah.


Alea tetep tidak memberitahu alamat Aisyah.


Sekalipun tau namun Alea tidak mau rumah tangga Dwi sampai hancur.


Di rumah Uci sering sekali mendapatkan kekejaman Dwi, kaya sudah tidak ada rasa, istrinya disiksa lahir batin. Tetangga tidak berani menolong, karena Uci sendiri tidak menolong.


Hari hari pun berlalu satu bulan sudah Dwi mencari Aisyah, dengan kecewa yang mendalam Dwi pergi ke tempat hiburan malam bersama teman temannya.


Dwi selalu melakukan itu bila hatinya selalu tidak mampu melupakan Aisyah.


Sementara ditempat lain Revan marah besar sama Istrinya, karena terbongkar semua kebohongan istrinya yang katanya selalu mengirim uang buat anak anaknya. Sekalipun setelah perceraian belum pernah Istrinya Revan mengirimkan uangnya.


Uangnya habis dipake dia sama anaknya saja.


Memang gajih Revan tidak terlalu besar, namun uang hasil dia kalau ikut job sama Alan kadang cukup besar. Dan Atm nya istrinya yang pegang. Betul Revan dari dulu sangat menyayangi istrinya itu. Sehingga Revan tidak mampu menolak semua permintaan istrinya. Termasuk meminta mengelola keuangan.


Revan marah dan bertanya sama istrinya.


" Dikemanakan uang itu, jatah anak anakku, kau kemana kan sun " teriak Revan. Dia sungguh sangat malu sama Aisyah, Dia pikir dia masih punya hak sama Aisyah dan anak anaknya karena selama ini dia selalu membiayai hidup anak anaknya.


" Mereka tidak berhak dengan uangmu " seru istrinya. Tidak ada rasa takut takutnya. Dia lebih berani daripada suaminya. Dia berdiri dan mendorong tubuh Revan saat Revan berteriak pada Dia.


Terjadilah pertengkaran hebat untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, biasanya Revan yang selalu mengalah dan Revan juga yang membujuk istrinya agar tidak marah lagi. Namun tidak untuk hari ini. Revan bener bener marah.


Revan meninggalkan rumah, dia merasa pusing dengan tingkah istrinya. Revan pergi ke rumah Alan. Dia ingin mengeluarkan kegelisahan hatinya pada adiknya itu.


" Lan kamu ada didalam " seru Revan tanpa mengucapkan salam, dia main masuk aja dan sekarang ada didepan kamar Alan.


" Ada apa van, lo tiba tiba kesini, lan g ada job " tanya Alan keheranan sambil membuka pintu kamarnya.


" Lan aku pengen ngobrol sama kamu boleh " sebenarnya Revan sungkan sama Alan tapi apa mau dikata dia sudah tidak punya siapa siapa lagi. Ibunya sudah tidak ada kabarnya lagi setelah meninggalkan Revan membawa uang hasil penjualan rumah itu.


" Oke lo tunggu sebentar, gua ganti baju dulu ya " ucap Alan sambil berlalu.


Mereka pun ngobrol panjang lebar, Revan mengeluarkan semua unek uneknya sama adiknya itu. Alan hanya bisa menyimak tanpa menyanggahnya dahulu. Dia membiarkan Revan mengeluarkan isi hatinya.

__ADS_1


Revan menyesali semuanya. Dia merasa membuang Aisyah yang sangat baik mandiri, malah memungut istri yang salah. Tidak pernah menghargai suami, sifatnya kasar dan mau menang sendiri.


Ya semua salah Revan sendiri dia begitu memanjakannya sejak dia kecil. Jadilah dia terbentuk jadi gadis yang keras kepala dan manja.


Memang sifat bisa terbentuk gimana orang tuanya mendidiknya dari kecil, Seandainya orang tua mendidik agama dan Tauhid yang kuat buat anaknya sejak kecil. Anak akan tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab dan halus tidak akan temperamen.


Juga sifat sifat orang tua yang mungkin akan menurun kepada anaknya, cuma yang terbesar adalah dari didikan dan lingkungan.


Setelah mendengarkan semuanya barulah Alan bertanya " Van selama ini gue g ngerti sama lo, sebenarnya apa sih yang membuat berubah sama Aisyah" tanya Alan.


" Terus dulu lo sangat memuja Aisyah, lo bucin abis sama Aisyah, kenap sejak kehamilan yang kedua lo malah tega ninggalin Aisyah " lanjut Alan menuntaskan penasarannya.


" Gue jujur sama lo Lan, awalnya emang gue cinta mati sama Aisyah, malah sampai sekarang cinta itu masih besar, tapi dengan seiringnya waktu gue merasa rendah diri. Aisyah sangat mandiri. Jarang sekali dia meminta bantuan gue suaminya. Baik itu keuangan ataupun waktu dan apapun itu. Aisyah sangat mandiri , dia jarang mengeluh" ujar Dwi sambil menunduk.


" Kalau gue nanya sama dia apa yang bisa gue bantu saat dia butuh bantuan, dia selalu bicara tidak mau menyusahkan gue suaminya" lanjut Revan.


" Malah gue yang sering merepotkan nya, saat gue tidak bisa bayar karyawan karena uang belum cair dari pabrik, Aisyah lah yang membantu " ucap Revan lagi.


" Disitu gue berfikir Aisyah tidak perlu gue, Aisyah sangat mandiri, tapi kalau geu butuh dia, dia dengan sigap untuk menyelesaikan semua masalah gue ".


" Disaat gue dalam titik terendah dengan krisis pd gue , ada telpon dari Ibu "


" Gie emang sayang banget sama adik angkat gue itu, sehingga gue tidak tega menolaknya "


" Dia begitu berbinar, dia sangat bahagia saat tau gue mau menikahinya "


" Gue sungguh tidak sanggup melihat dia kecewa, Gue salah lan tidak bisa tegas sama dia, karena rasa sayang gue lah sehingga jadi gelap mata dan melupakan Aisyah "


" Sebelum gue ngasih tau ,Aisyah sudah tau duluan, dan parahnya lagi Istri dan mamah datang ke rumah Aisyah dan mengatakan semuanya "


" Yang terakhir gue tau kenyataannya, Ibu yang mengusir Aisyah dan anak anak gue " ucap Revan sambil menangis, dia sungguh tidak sanggup membayangkan saat Aisyah diusir dari rumahnya .


" Gue terlalu bodoh menyia nyiakan istri sebaik Aisyah, sekarang anak gue g mengenal gue, sakit lan " adu Revan sama Alan.


" Kalau lo menyesal sekarang perbaiki semua, sekalipun lo ga bisa balik lagi sama Aisyah minimal lo perbaiki hubungan lo sama Aisyah demi anak anak lo, tanpa harus lo balik sama dia, tapi lo harus tetap biayain anak anak Lo" jawab Alan bijak. Sebab Alan tau siapa Aisyah yang kuat pendiriannya. Tidak mungkin Aisyah mau kembali sama pria yang sudah menorehkan luka yang sangat dalam.


" Akan gue coba, Tapi Lan bolehkan Gue minta tolong sama lo ? "tanya Revan lagi.

__ADS_1


" Minta tolong apa ?" Alan balik beratnya.


" Nanti kalau sudah ada job, bagian gue lo tolong potong, lalu lo tolong kirim ke anak anak gue ya" ujar Revan menyudahi semua curhatannya sama adiknya.


Alan menyetujuinya kalau memang demi kebaikan Alan akan membatu, karena Alan pun merasa ikut bertanggung jawab sama Anak anak Aisyah.


Pernah suatu hari Alan mau memberi bantuan sama Aisyah dengan memberi amplop, namun Aisyah dengan tegas menolaknya.


Aisyah malah lebih sering menerima bantuan dari Dwi daripada dari Revan da saudaranya.


Sekarang kita lihat Dwi yang lagi galau ditempat hiburan. Dwi minum banyak sekali.


Dwi diantar pulang temannya, Uci udah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Uci baringkan suaminya. Dia buka sepatunya.


Setelah itu dibiarkan tertidur. Sebab Uci sudah sangat lelah baik fisik juga tubuhnya.


Uci terus merenung, mau dibawa kemana rumah tangganya, kadang dia pengen menyerah saja. Tapi dia mengingat kedua anaknya. Dan cinta dia yang begitu besar.


Dia ingat cara mendapatkan Dwi seperti apa. Makanya dia berusaha mati matian mempertahankan suaminya itu. Sekalipun hatinya tersakiti terus menerus.


Aisyah berusaha bangkit dari rasa sakitnya kehilangan Ibunya, Dia berusaha mengurus kedua anaknya dengan telaten.


Semua urusan pabrik makanannya dikelola oleh Ratiman, Aisyah hanya tau menerima hasilnya saja.


Warung grosirnya diurus sama kakak sepupunya. Aisyah sangat percaya sama saudaranya itu. Dan setiap bulan Aisyah menerima hasilnya.


Kecuali Aisyah ada job merias baru Aisyah akan menitipkan anaknya. Merias tidak terlalu banyak, karena Aisyah membatasi menerima job tersebut.


Waktunya dia habiskan untuk mengurus kedua anaknya.


Yu kita nantikan kisah Aisyah selanjutnya dengan Revan dan Dwi.


Selamat membaca terima kasih atas support dari kakak kakak yang selalu mendukung ku dalam berkarya.


Sampai jumpa di bab berikutnya .


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2